Arthur Ashe

seorang Pemain Tenis Legendaris Afro Amerika

Mpek DuL – Holland

clip_image002

Dilahirkan di Richmond, Virginia pada tanggal 10 Juli 1943.

Negara bagian Virginia adalah saat itu merupakan salah satu Negara bagian yang sangat rasistis di selatan di mana hitam dan putih hidup terpisah.

Dia adalah seorang pemain tennis Afro Amerika pertama yang berhasil memenangkan pertandingan piala Wimbledon di Inggris pada tahun 1975. Dengan kemenangannya ini dia berhasil menjadi teladan bagi kaum pemuda Afro Amerika lainnya, karena tennis adalah sport yang biasanya pada umumnya sampai saat itu hanya dilakukan oleh orang2 kaya di kalangan masyarakat bule. Meskipun dia sangat anti rasistis, namun dia tidak pernah menonjolkan diri dan mebanggakan diri sebagai seorang nasionalistis “hitam” seperti rekan2 olaharagawan hitam Amerika Serikat lainnya pada saat Olympic games 1968 di Mexico City. Tahun 1968 dia meraih gelar US Open, tahun 1970 Australian Open, dan tahun 1975 Wimbledon.

Di samping itu. dia salah satu pendiri dunia tennis professional yang begitu besar sekali pengaruhnya di dunia tennis di AS.

Pada tahun 1969 dia tidak diperkenankan ikut pertandingan South African Open karena kulitnya yang hitam, sehingga dia dengan sukses dapat mem boikot negara ini.

clip_image004

Mulai tahun 1979 dia mendapatkan gangguan jantung dan harus menjalani operasi sehingga tahun 1980 dia mengundurkan diri dari dunia tennis dan menjadi reporter dari Time Magazine.

Sampai 1983 dia menjalani beberapa kali operasi jantung yang diakibatkan karena sport yang sangat intensif ini. Akibat dari salah satu tranfusi darah pada saat operasi ini, dia terkena virus HIV, karena saat itu darah untuk transfusi masih belum diperiksa adanya virus HIV.

Demi menghindari publikasi dan agar keluarganya tidak menjadi sorotan media, dia merahasiakan sakitnya ini sampai 8 April 1992. Akhirnya dia sendirilah yang juga mengumumkan sakitnya sendiri. Sejak itu dia sangat aktif menyumbangkan tenaganya untuk kesejahteraan para penderita AIDS dan mendirikan yayasan yang bernama “Arthur Ashe Institute for Urban Health”, sehingga dia diberi gelar “sportman of the year”

Pada tanggal 6 Februari 1993 dia meninggal dunia dalam usia 49 tahun akibat dari komplikasi yg disebabkan oleh AIDS.

Patungnya sekarang dapat dilihat di galeri para pahlawan dari perang saudara yang berlangsung dari 1861-1865 di mana ibukota Richmond saat itu juga merupakan ibukota dari Republik Confederasi perbudakan.

Di seluruh dunia dan terutama di kalangan dunia tennis ia sangat dikagumi dan dihargai di seluruh dunia.

Ketika dia menerima surat dari salah seorang penggemarnya yang bertanya: “Mengapa Tuhan memberikan kamu penyakit seburuk ini?”

clip_image006Kemudian Arthur Ashe membalas suratnya dengan kata-kata yang begitu mengagumkan sekali : “Di dunia ini ada 50 juta anak-anak yang mulai belajar tennis, 5 juta yang belajar tennis secara rutin, 500.000 orang belajar secara profesional, 50.000 orang mengikuti pertandingan tenis, 5.000 di antaranya berhasil ke Grand Slam, 50 orang yang berhasil ke Turnamen Wimbledon, 4 orang yang ke semi final, 2 orang yang berhasil ke babak Final, dan akhirnya hanya ada SATU pemenangnya.

Ketika saya merayakan kemenangan dan memegang Piala Wimbledon, SAYA JUGA TIDAK PERNAH BERTANYA KEPADA TUHAN: “MENGAPA SAYA TUHAN?"

Dan hari ini walaupun saya sakit, SAYA TIDAK SEHARUSNYA BERTANYA KEPADA TUHAN, “MENGAPA SAYA?”

Kata-kata ini menunjukkan betapa besarnya kepribadian Arthur Ashe, seorang pemain tennis “hitam” dari Amerika Serikat di mana sampai saat ini rasisme masih tetap hidup, meski secara resminya negara ini menamakan negara yang “paling bebas dan paling demokratis“ di dunia.

Banyak sekali orang2 Afro Amerika yang begitu besar peranannya di AS yang membuat negara ini menjadi salah satu negara yang besar di dunia ini seperti Martin Luther King, Michael Jordan, Mohammed Ali (Casius Clay).

Saat Barack Obama mencalonkan diri menjadi presiden “hitam” pertama dari AS juga mendapat banyak kritik dan hinaan, tetapi dia yang baru enam bulan menjadi presiden dari AS telah membuktikan prestasinya yang begitu tinggi dan jauh lebih dari George Bush yang menjadi presiden selama delapan tahun dan tidak berprestasi, nihil, bahkan membawa AS kejurang krisis mondial.

(Translated by Mpek DuL from different sources)

Yes we can ! Sure they can better: Kind hearts are more than coronets.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.