Flea Market

Kornelya – USA

flea marketFlea market dalam bahasa Indonesianya mungkin pasar loak. Di sana tempat menjual/beli barang baru dan bekas (your trash, others treasure) dengan harga miring. Lokasinya bisa di pinggir jalan, pantai, gedung atau lapangan luas.

Antara bulan Mei sampai Oktober setiap akhir pekan hampir di setiap sudut kota di Amerika diadakan Flea market, Tag sale sampai Fine art & craft fair.

Terimbas oleh krisis ekonomi Amerika, perusahaan kecil saya yang tadinya hanya menjual hand craft made in Indonesia untuk boutique tertentu dan kalangan terbatas, tahun ini mulai merambah pasar mingguan ini. Betapa tidak, pelanggan saya yang dulunya tidak permasalahkan harga, sekarang mulai memperhitungkan setiap sen yang mereka belanjakan, mereka jadi bawel dan kikir.

Berbeda dengan Fine arts & craft fair, Pasar Loak dan Tag sale tidak punya tanggung jawab hukum berupa return policy , you buy it “as it”. Lokasi menjadi penentu berhasil tidaknya jualan di Flea market. Hal ini bisa terlihat dari harga meja/ stand yang berkisar dari harga U$35 s/d U$600/hari untuk daerah New York dan Connecticut. Penjual biasanya menggantikan price tag, sesuai lokasi atau harga meja.

Keamanan dan ijin menjadi tanggung jawab penyelenggara. Bulan Mei lalu setelah ujian semester berakhir saya langsung memulai petualangan flea market . Lokasi pertama di daerah Sommers Westchester NY Flea Market diadakan oleh PTA (Parent Teacher Asociation) dengan populasi kelas menengah ke atas.

flea

Gadis kecilku ikut menjadi kasir, barang kerajinanku berupa perak, mote, bakul dan tenun ikat, miniature binatang laris bak kacang goreng, angklung kecilku yang dipakai untuk menarik massapun ikut terjual. Dasar emak-emak mata duitan. Setiap pelanggan berlalu, dengan kemampuan berhitungnya yang terbatas anakku langsung ngumpet di kolong meja menghitung uang.

Terdengar suara gembiranya, “Mama, sudah $700”. Kemudian bila ada lagi barang yang terjual dia langsung berhitung di depan pembeli 700+20 = 720, dst.

Hari berikutnya, saya mulai menarik barang dagangan dari butik/gift shop yang tidak terjual untuk selanjutnya dijual di flea market berikutnya. Suamiku selalu mempertanyakan keberhasilan jualanku, “barang laku, tetapi volume barang yang dibawa pulang tidak berkurang”, ya ia, karena selain penjual saya ini juga pembeli yang baik.

Dari sepatu, tas, mainan anak sampai furniture (meja antique) kubeli. Berjualan cara ini tidak selalu menghasilkan uang, dengan pricy commodity saya yang terbilang bagus, karena hujan saya pernah mendapatkan hanya $150 sepanjang hari 9 – 5 , dengan biaya stand U$50. Sayangnya semangat jualan kaki lima ku ini di bulan Juli harus terhenti, karena jadwal liburan kami ke Indonesia.

Sebagai upah sebelum liburan kubelikan kamera digital kecil buat kasirku untuk belajar memotret. Saya menurunkan tulisan ini, sebagai gambaran sederhana, bahwa wanita Indonesia yang menikah dengan orang asing, bukan hanya parasit, numpang hidup enak. Kami juga ikut mengatur ekonomi rumah tangga, memangkas bila perlu memusnahkan kebiasaan mereka menggunakan kartu kredit. Mengatur perputaran uang, investasi dan yang tak kalah penting membantu yang di kampung tanpa harus kehilangan muka. La wong uangku dewe.

Salam…

Ilustrasi: http://blog.nj.com http://www.world2do.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.