Agar Puasa Kita Diterima

Saw – Bandung

Sahabat Baltyra…

Memasuki bulan Ramadhan ini, ada amalan khas yang hanya dilakukan di siang hari, yaitu puasa.
 
Dalam kamus besar bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta, puasa berarti tidak makan dan tidak minum secara sengaja. Secara ta’rif syar’I puasa (shoum) berarti menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang diharamkan dari terbit fajar/bukan terbit matahari (subuh) sampai dengan terbenamnya matahari (maghrib). 
 
Sebagai ibadah yang langsung diperuntukkan bagi Alloh, maka puasa pun memiliki adab-adabnya. Karena bagi sebagian orang, puasa bukanlah hal yang susah. Sekedar menahan diri dari makan, minum, syahwat badani, dalam waktu yang sudah ditentukan, banyak orang sanggup melakukannya. Tapi beribadah puasa dengan segela kesempurnaannya, ternyata tidaklah mudah. 
 
Rosulullah SAW pernah mengabarkan bahwasannya akan banyak sekali ummatnya yang ketika melakukan ibadah puasa tidaklah mendapat pahala sedikitpun dari puasanya. Padahal sebagaimana kita ketahui, pahala puasa sangat berlimpah. Hikmahnya pun begitu terasa.
 
Nah, mengapa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaganya saja?
 
Sebuah riwayat hadist disampaikan :
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan ‘zur’ (dusta, umpat, fitnah, dan segenap perkataan yang mengundang kemarahan Alloh, dan bersengketa membuat onar) dan tiada meninggalkan pekerjaan itu dan berbuat jahil, maka tak ada hajat Alloh dia meninggalkan makan dan minumnya (H.R. Bukhari) 
 
Dalam banyak riwayat yang lainnya ditegaskan sekali, bahwa puasa seseorang akan tak memiliki arti apa-apa di mata Alloh dikarenakan :
 
1. Berdusta
Dusta di sini terlepas dari segala macam alasannya. Karena dusta yang dibolehkan hanya karena tiga alasan yaitu : dalam rangka mendamaikan suami/istri yang sedang bertengkar, dalam keadaan terancam jiwa dan raganya, dan demi keselamatan orang yang dalam perlindungannya.
 
Maka selain yang tiga hal tersebut, kejujuran adalah keutamaan. Meski pahit, karena kebenaran pasti akan membawa kenikmatan, maka tak apalah jika kepahitan yang harus kita telan di awalnya.
 
 
2. Menfitnah, namimah (adu domba)
Ini masih berkaitan dengan syahwat lisan. Jika masih saja hobby mengadu domba, menfitnah, maka seperti apapun dia melakukan ibadah puasa, semuanya akan tertolak.
 
Sering kita mendengar kalimat “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Masuk akal, karena fitnah tak akan berhenti hingga ajal seseorang menjemput. Pembicaraan itu akan terus mengalir, meski yang dibicarakan sudah tiada. Lain hal dengan pembunuhan. Dalam Islam ada hukum qishash, di mana pembunuh harus mendapatkan ganjaran yang setimpal. Bisa dengan cara dibunuh lagi, bisa dengan cara pembayaran denda kepada ahli waris. Tentu semuanya harus melalui mekanisme hukum yang berlaku. Dengan demikian matarantai pembunuhan bisa diputus.
 
Fitnah, sangat sulit diluruskan kembali. Jika pun ada klarifikasi, belum tentu hati-hati yang sudah tergeser akan bisa kembali ke tempat semula. Inilah kejamnya fitnah. Maka, orang yang berpuasa tidaklah sepantasnya melakukan perbuatan ini.
 
 
3.Ghibah
Ghibah berarti membicarakan aib seseorang, dimana apa yang dibicarakan adalah kebenaran. Jika seseorang itu mendengar apa yang dibicarakan tentang dirinya, maka dia pasti tidak akan senang. Jadi, ghibah atau menggunjing, itu juga hal yang paling harus dijauhi. Karena perbuatan ini diibaratkan sebagai aktifitas ‘memakan bangkai saudaranya sendiri’.
 
Sesuatu yang menjijikkan. Ingat, ghibah adalah membicarakan kebenaran yang tidak disukai oleh seseorang yang dibicarakan. Jika ternyata yang dibicarakan itu tidak benar, maka dia telah terjerumus pada fitnah.  Semuanya bukanlah perbuatan yang menyenangkan.
 
Sering juga kita ada pada kondisi harus membicarakan keburukan orang lain dalam rangka menyelesaian masalah. Kalau untuk kepentingan seperti ini, masih bisa dibenarkan. Hanya saja, tidak dibolehkan alasan ini dibuat-buiat sekedar mencari pembenaran. Sampai sejauh mana pembicaraan keburukan orang lain bisa dibenarkan? Sebetulnya hati nurani bisa menjawabnya, yaitu bahwa ketika sudah ada kenikmatan waktu membicarakan orang lain, saat itulah wilayah ghibah sudah diinjak. Segeralah istighfar, menjauh dari pembicaraan-pembicaraan itu untuk bisa meraih keutamaan puasa. 
 
Sahabat Baltyra…
 
Bukan berarti ketika kita khilaf melakukan hal-hal yang tercela tersebut otomatis puasa kita batal. Kemudian, ya sudah… lebih baik berbuka sekalian. Tentu bukanlah seperti itu adanya. Kondisi ideal memang dituntut bagi kesempurnaan amal, tapi setidaknya kepatuhan kita dalam menjalankan ibadah puasa sudah merupakan indikasi ketaatan.
 
Mengenai diterima atau tidak, biarlah itu menjadi kewenangan mutlaq Alloh SWT.
 
Walaupun jangan sampai kemudian amalan kita hanyalah sekedar menggugurkan kewajiban saja. Terlalu sayang…

Semoga amalan puasa kita bisa tercatat sebagai keutamaan. Amiin.
 
puasa

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.