Jadi Bapak? Bapak e’ Si Thukmis

Bagong Julianto – Sekayu, Sumsel

Sam-sam, Kandis Riau, 1987

mustache-thumb4983440Jadi Bapak?!. Menjadi Bapak! Ini adalah peran yang didapat. Lakon yang dijalani!
Sebutan yang diucapkan karena pekerjaan. Pertama dipanggil Bapak, semasa on the job training, kayaknya merasa wagu atau janggal. Lhah, lajang kecil precil ‘kok dipanggil Bapak.
Petuah yang diberikan oleh Training Manager adalah bahwa secara kedinasan panggilan
“Bapak” itu adalah penegas penekan. Dalam lingkup proyek yang padat karya padat modal
(dan padat masalah), maka rentang kendali yang luas mesti diputus seperti Bapak mengarahkan,
memaksa, membimbing anak-anaknya. Boleh juga sesekali rembugan, atau sumbang saran.
 
1. Menjadi Bapak, Memaksakan Rasa
WK, adalah Mandor Domestik yang ‘ngurusi tetek bengek sarana perumahan: air, listrik dan
kebersihan secara umum. Urusan tetek bengek ini nano-nano banyak ragam banyak rasa.
Soal bengek, pastinya semua nolak. Urusan yang satu lagi di depannya: kalau nolak berarti
lajang tak tahu diri nolak rejeki! Sosok lajang Kartosuro ini berwajah lonjong dagu datar tegas,
tinggi ramping berisi atletis berdada bidang, rambut agak keriting, ramah dan bikin
kleper-kleper banyak cewek proyek. Baik yang konon janmud/janda muda, maupun yang
gadis kinyis-kinyis. Baik yang dari transmigrasi maupun yang anak boru Tapanuli pun Jadel van
Medan dan sekitarnya. Jadel adalah Jawa Deli, yaitu wong Jawa kelahiran Deli yang biasanya
adalah keturunan para pekerja kebun sejak jaman sebelum republik berdiri, jaman colonial.
 
Usianya tiga tahun di bawah saya. Sebetulnya saya lebih pantas kalau dia panggil “Mas”,
tapi kesopanan proyek kebon, apa boleh buat, jadilah saya “Pak” baginya. Jadi Bapak!!
Saat peralihan tempat tinggal dari mess ke perumahan, WK mesti pindah dan lepas pula fasilitas
makannya, saya melihat gelagat WK yang kayaknya lain ke A. Tapi sebetulnya si A, salah satu
juru masak di mess, juga bertingkah atau bereaksi lebih aktif ke WK. Haa, asmara proyek, kayaknya.
 
Secara dinas, mestinya WK harus mengalokasi waktu yang lebih banyak di perumahan, gak
sliweran nguplek-uplek tetek bengek sekitar mess, terutama seputaran jam makan siang dan
makan malam. Saya cepat mengkonfirmasi. WK ‘ngaku: “Demi sumatera tengah Pak!”, katanya.
Mengamankan perut! Haaa, demi lancarnya jadwal makan, apa boleh buat, pura-pura mencinta
agar dapat  makan gratis jatah si A di mess! Berbagi! Gak peduli si A ini secara postur dan
penampakan keragaan pasti gak sebanding seimbang dengan si WK, konon pula janda berusia
dua tahun lebih tua dengan satu anak di kampung!
 
2. Thukmis, Dipaksa Merasa
Lhah, rupanya WK ini termasuk golongan thukmis. Banyak saja yang mengakses, diakses, melayani
dan dilayaninya. Cewek, tentu saja yang kinyis-kinyis. Mungkin harus sebegitulah suasana perasmaraan seputar proyek tengah hutan. ‘Wiss. Jadinya saya berpendapat, (untuk sementara waktu saat itu), bahwa ada udang ada bakwan, ada thukmis karena memang ada yang mau dithukmisi secara sengaja gak sengaja atau sadar maupun tidak sadar. Thukmis adalah akronim bathuk klimis, dahi licin berkilat.
 
Satu idiom Jawa yang merujuk pada sifat keplayboyan seorang laki-laki, pantang melihat cewek cantik langsung pasang aksi tebar pesona. Pasang jaring halus! Ikan, setiap yang bersisik. Libas saja! Pantang lihat ikan! Kipas, libas saja! Setiap yang bersisik pasti ikan. Pantang lihat cewek cantik!. Lhah, kalau ini idiom khas Medan dan seputarnya.
 
Thukmis lihat ikan bersisik. Lain istilah namun sama makna. Haaa, thukmis ternyata ada di mana-mana, minimal di Jawa dan di Medan!. Selalu si WK ini menang bersaing dengan para pemuda proyek dalam mengakses ke seseorang cewek. Atau memang si cewek itu sendiri yang memenangkan dirinya dengan menggaet sekaligus digaet WK. Antar sana-sini. Putar-putar naik turun persis dermolem komedi putar. Main sana-sini. Ada saja yang dilaporkannya ke Bapaknya, lebih banyak lagi yang ditanyakan oleh Bapaknya. Haa! Gak tahu apa saya dibohonginya, atau sekedar mengarang cerita.
 
Tapi kayaknya tidak, mungkin dilebihkan sedikit serta dibumbui di sana-sini. Banyak aksinya setelah saya konfirmasi ke pihak ketiga memang benar adanya. Sepeda motor dinas saya, sebuah Honda GL-K1 selalu dipinjamnya untuk nglincir ngalor-ngidul. ”Awas jangan main-main di sadel sepeda motor, sial nanti!”, pesan saya.
 
”Gak ’lah Pak! Paling nyenggol sikit, di atas pipa minyak Texcal pasti lebih anget Pak!”, jawabnya!
Semprul amoh, kurang asem! Lokasi kami memang dibelah raksasa minyak Amerika. Jaringan pipa itu
berisi minyak dan malam hari hingga jam sepuluh terkadang hangat pipa masih terasa. Sepeda motor itu hanya sarana bagi dia untuk berasyik-masyuk romansa kilat di tempat-tempat sepi. ”Tahu batas saya Pak!”.
 
Semprul lagi!! ”Maksudmu?”, tanya saya. ”Main atas, main sekwilda Pak! Sekitar wilayah dada!”.
”Gombal amoh!”, (kain hancur rusak), umpat saya lagi! Saat itu dia diminta mengantar satu orang
gebetannya, yang pasti bukan si A, ke Pondok Divisi Satu. Dari Mess lebih kurang sepuluh kilometer.
Pulang balik mestinya dua jam santai. Pinjam sepeda motor jam setengah delapan malam, pulangnya
setengah satu dinihari. Haaa: ”Berhenti di pipa Texcal, Pak!”, lapornya. Kruntelan!. Semprul gombal amoh!!
 
3. Ketanggor, Kena Batu.
 
wartegSebulan sekali, bersama si WK, saya servis sepeda motor ke Duri. Makan siangnya gonta-ganti lokasi sampai akhirnya dapatlah warung Arema sebagai langganan tetap. Warung ini dimiliki oleh  Mas J arek Malang, ngakunya bekas marinir. Tegap dengan perut mulai bundar buncit, rambut cepak, kulit sawo matang menjelang coklat hitam, kekar berkumis lebat  melintang, seneng pakai kaos basket yukensi memamerkan lengan gempalnya! Soto ayam dan nasi rawonnya cukup nyamleng. Tapi lebih nyamleng lagi karena di situ ada si Sri. Gadis tujuhbelasan tahun pelayan semok manis, rambut hitam gelombang angandham-andhami sebahu lebih sedikit, berlesung pipit mata berbinar, yang diakui sebagai sedulur/famili oleh Mas J, pemilik warung.
 
Haa, sebagai thukmis gagah, tak butuh waktu lama bagi si WK untuk bikin kleper-kleper si Sri. ”Awas, hati-hati kau!! Duri bukan wilayah kita, gak bisa kau seenak udelmu tebar jaring!”, pesan saya. Nekad!. Tetap ngeyel si Thukmis satu ini!. Sejak itu ada saja alasan WK untuk pinjam sepeda motor ke Duri. ”Serius?!”, tanya saya. ”Masih penjajagan Pak!”, balasnya. Pun begitu saya senang akhirnya si WK pilih calon tetap. Bagaimanapun si Sri paling sepadan dengannya dibanding yang lain. Minimal paling ayu manis.
 
Satu sore, dan hari kerja, bukan malam minggu, si WK secara serius minta dikawani ke Duri. ”Kenapa? Ada apa?”, tanya saya. ”Penting Pak! Pokoknya saya hanya andalkan Bapak saja!”, jawabnya. ”Tapi apa? Seberapa penting?”, tanya saya lagi. 

 

”Nanti saja saya cerita Pak! Sekali ini, tolong saya Pak! Serius, Pak!”, jawabnya memohon.
 
Dengan sedikit tanda tanya dan segumpal rasa penasaran, selepas makan malam dipercepat kami
meluncur ke Duri. Ngebut 45 menit. Sesampai di Duri: “Beli roti dulu Pak!”, pinta si Thukmis. Lhah,
biskuit kaleng khong-guan itu makin menohok rasa penasaran saya. ”Nglamar ini? Pakai peningset
roti biskuit?”, saya menebak sekenanya.
 
WK hanya senyum pringas-pringis saja. Saya makin gak sabar lagi untuk mendapat penjelasan WK. Menjelang masuk ke gang/jalan ke rumah orang tua si Sri, kami berhenti. WK beri penjelasan. ”Nggak ‘nglamar Pak!” Lhah, bukan nglamar ternyata!
 
Jadi?! ”Tolong sampaikan ke orangtua si Sri, bahwa kami belum ada niatan serius, masih berkawan
dan penjajagan ‘gitu?!”, pinta si Thukmis. ”Maksudmu yang pasti gimana?”, tanya saya. ”Kemaren
orangtua si Sri minta kepastian saya, Pak! Kami ’kan baru kenal tiga bulan?!”, jelas WK.
 
Masih butuh waktu lagi rupanya. Tiga bulan kenal, minta dinikahi?! Serangan kilatkah ini?! Jangan-jangan orang tua si Sri juga gak yakin pada sekwilda saja?! Mungkin bupati mulai terlibat juga?!
Haa, bupati: buka paha tinggi-tinggi?! Semprul amoh!! Malam itu menjadi malam yang paling
mendebarkan bagi kami.
 
Terutama saya. Seumur-umur belum pernah ’nglamar atau bicara agak serius menjurus perjodohan perkelaminan. Seumur-umur belum pernah menghadapi orangtua seseorang gadis yang berharap anaknya bakal diseriusi, lhah malahan diberitahu sekedar berkawan saja.
 
Sri, ternyata bukan keponakan mas Arema. Orangtua si Sri asli Pacitan Jawa Timur. Pekerja
tebang hutan. Pekerja keras. Terbiasa hidup keras apa adanya. Kami menghadapi sekitar 9 orang
dewasa yang saling mencecar dengan tanya lugas khas Jawa Timuran. Harus bloko suto, bicara jujur
tapi mesti diayun sedikit ngalor-ngidul. Semula alot. ’Sekarang berkawan dahulu, nanti siapapun
gak tahu bagaimana akhirnya’, itu misinya. ’Pokoknya belum sanggup nikah sekarang’, lhah ini misi utamanya.
 
Dengan diawali serahkan lihat KTP dan name tag berlogo perusahaan, saya menjalankan misi tersebut. Selalu tahan napas, atur dan jangan memancing atau terpancing emosi atau kata-kata bersayap. ”Ban serep?!”. ”Pergi sana-sini, gembos sana-sini!”. “Tambal sulam!” ”Seperti inikah pengakuan dan perlakuan pemuda Solo?!”  ”Katanya wong alus, sopan santun?!” ”Mana buktinya?!” Itu beberapa patah kata dan kalimat yang mesti kami terima dengan lapang hati. Juga senyum setengah kecut. Akhirnya misi selesai dan berhasil, setidaknya untuk sementara waktu dan menurut pendapat saya. Jam sepuluh malam kami pamit. Sekali itu, baju dan celana saya gobyos basah kuyup oleh keringat.
 
Saya gak tahu mesti marah atau apapun ke WK. Mangkel bin gondok lagi! Gak cukup sekedar gombal amoh, semprul atau kurang asem! Kami saling diam, saya yang diam. Sekilas, justru saya lihat si Thukmis senyum simpul!

 

Saya sudah niatkan untuk gak lagi sebegitu saja mudahnya menuruti mengikuti kemauan si WK Thukmis Solo Kartosuro ini!.Gak semudah itu mau jadi Bapaknya!  Haa, akhirnya toh saya harus berterima kasih juga ke WK. Bagaimanapun, belajar hidup berkehidupan tidak selalu harus dari hal-hal yang lurus saja.
 
Tak lamapun setelah itu si WK balik habis ke Solo Kartosuro. Tunangannya, seorang guru SMP Negeri
tak sabar lagi menunggu untuk segera dinikahi! Cukup satu tahun lebih sedikit bagi si WK cari
pengalaman merantau di hutan Riau. Semprul lagi thukmis itu!! Pelabuhannya telah terbangun
rupanya! Menanti untuk disinggahi dan dilabuhi permanen!
 
Semoga bahagia!!.
 
Sampun…. Suwunnnn ….. (Bagong JL, SKY, edit 0109)                

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.