Joko Kewer in Memoriam

By EQ—Di Sebuah Perempatan

( Minggu pagi, 2009-8-9 ) 

Subuh, jam 5 : 05 pagi, saya terbangun. Alarm berbunyi. Ketika tangan saya meraih handphone untuk mematikannya, ada gambar surat berwarna biru menyala kedip-kedip. Semalam memang saya silent. Kebiasaan yang saya lakukan jika saya dalam kondisi sakit. Saat ini kondisi saya memang sedang kurang sehat. Ada 3 sms dan 3 missed calls. Isi smsnya hampir sama:” Berita duka. Telah meninggal dunia teman kami, Joko Kewer, saat ini kami masih di ruang jenazah rumah sakit dokter Sarjito.”

Saya yang masih setengah mengantuk mencoba membaca ulang sms tersebut. Inti bacaannya sama. Joko Kewer meninggal ! Ya Tuhan ! Semalam saya memang ingin sekali keluar, nongkrong di angkringan mak’e, Malioboro, setelah sekian lama saya tidak kongkow-kongkow di sana. Saya juga ngangen-angen ( bahasa Indonesianya apa ya ? I am thinking of…deeply ) teman-teman lama, termasuk Joko Kewer. Ah…..

Kalau bulan lalu dunia berduka atas kematian King of Pop, Michael Jackson, di susul sebagain masyarakat Indonesia yang kehilangan Mbah Surip serta tokoh teater Indonesia, W.S Rendra, maka hari ini, Minggu 2009, Agustus tanggal 9, komunitas angkringan mak’e Malioboro kehilangan salah satu anaknya, salah satu anggota seniornya. Joko Kewer memang tidak terkenal seperti Michael Jackson, Mbah Surip maupun W.S Rendra, tapi bagi komunitas angkringan mak’e, Joko Kewer cukup di kenal.

Dia bukan jagoan, bukan preman kasar, juga bukan orang penting. Saya pun tidak begitu tahu banyak tentang teman saya satu ini. Bagi saya, Joko Kewer adalah pelindung saya pada masa-masa awal “ karier” saya di lingkungan komunitas angkringan mak’e . Joko yang selalu menjaga saya dari anak-anak yang mabuk dan reseh. Joko yang selalu menemani saya begadang sampai pagi, jika yang lainnya memilih untuk pulang atau pindah ke tempat lain.

Joko orang pertama yang mengenalkan saya pada AMB ( anggur merah + bir ), satu-satunya minuman beralkohol a la anak jalanan yang bisa saya terima, meskipun kemudian saya memutuskan untuk tidak minum minuman beralkohol di jalan. Tidak hanya saya yang menerima kebaikan dan perlindungan Joko Kewer, namun juga sejumlah anak-anak perempuan yang menjadi anggota komunitas angkringan mak’e. beberapa diantaranya malah sering “merepotkan “ Joko, jika mabuk.

Ya ya ya, mabuk memang menjadi pemandangan yang lazim di jalanan pada waktu malam. Tapi Joko Kewer selalu bisa mengatasinya. Joko Kewer pula yang pernah mencegah saya untuk tidak memukuli salah satu anak yang mengganggu saya. Joko Kewer adalah tipe teman yang setia dan pelindung. Jenis anak muda yang mudah memaafkan kesalahan orang lain dan tetap tersenyum meskipun hatinya di sakiti. Dia bukan pendendam, hatinya baik dan mudah kasihan, meskipun kadang-kadang juga bisa bersikap tegas, namun tidak kasar. Joko Kewer adalah salah satu teman yang bisa meredakan emosi saya, jika saya marah karena di ganggu orang di Malioboro. Satu kelemahan terbesar Joko Kewer, adalah keakrabannya dengan alkohol.

clip_image002

Joko Kewer ( lingkaran kuning ) yang sedang asyik meramu AMB. Indro di sebelah kanannya 

Ah, saya terlalu banyak bicara soal Joko Kewer. Siapa sih Joko Kewer ini sebenarnya ? Nama aslinya Joko Kurniawan. Masih muda, umur baru kira-kira 25 tahunan, masih kuliah dan hampir wisuda, bahkan berencana menikah sehabis Lebaran tahun ini. Sederhana dan tidak banyak tingkah. Ketika saya menyebut bahwa Joko Kewer adalah pelindung saya di Malioboro, pasti akan terbayangkan perawakan yang kekar dan bertattoo, atau setidaknya kelihatan sangar…..tapi tidak sama sekali.

Joko Kewer berpostur kurus, tipis, tinggi tidak lebih dari 170, tinggi normal orang Jawa. Wajahnya pucat, kulitnya sawo matang dan tidak mempunyai tattoo sama sekali. Ada beberapa piercing di telinganya. Dia di beri nama panggilan tambahan KEWER di belakang nama panggilan aslinya, adalah karena kebiasaannya kewer hampir tiap malam. “Kewer” artinya mabuk dalam bahasa Jawa. Ada beberapa Joko di komunitas mak’e, dan rata-rata doyan mabuk, tapi Joko Kewer tidak pernah tidak mabuk. Hanya saja mabuknya mabuk sopan, tidak reseh, tidak muntah-muntah, bahkan seringkali menjadi lucu dan sangat baik hati terhadap siapapun. Di angkringan mak’e dia memang terkenal sebagai “Ahlinya mencairkan uang “ artinya mengubah uang menjadi benda cair ( anggur merah dan campurannya ). Dia punya pasangan kekal di komunitas mak’e, namanya Indro. Ke duanya adalah pasangan tak terpisahkan.

Begitulah, syahdan malam itu, tadi malam, beberapa teman lama tiba-tiba berkumpul di angkringan mak’e minus saya, karena aya masih terkapar, bedrest beberapa hari gara-gara komplikasi sempurna antara tekanan darah dan gula darah yang ngedrop secara berjama’ah. Seperti biasa, konon ceritanya, Joko Kewer, Indro dan beberapa teman lain berkumpul dan bermalam minggu. Tak ada yang berusaha memaksa saya untuk keluar, karena berita teparnya saya sudah sampai di angkringan mak’e sejak saya mulai sakit ( sebelum saya bedrest, saya sempat tabrakan juga, tapi ringan dan tidak terlalu parah….huh ! my bad days is not ending yet !!! ).

clip_image004

Joko yang selalu tersenyum, diantara kami, komunitas angkringan mak’e 

Pagi itu, menurut cerita, Joko dan Indro bermaksud ke Shelter, sebuah tempat untuk bermain billyard, sambil membawa botol anggur mereka yang terakhir, di belikan salah satu anak Vespa Club yang kebetulan malam itu juga sedang mangkal di sekitar angkringan mak’e di Malioboro. Tak ada yang terlalu memperhatikan kepergian mereka berdua. Hal yang sangat biasa. Sampai kemudian, menjelang jam 4 pagi, handphone salah seorang teman mendapat panggilan dari nomer hanphone Indro. Awalnya juga dianggap biasa, namun ketika yang bicara di seberang sana mengaku sebagai polisi, meskipun sempat ngeyel, Fian si penerima telpon, panik dan kaget juga ketika sang polisi menegaskan bahwa dia benar-benar polisi dan berita kejadiannya adalah benar. Salah seorang teman korban di minta datang ke TKP untuk pembuktian. Kata Fian, polisi tidak menyebutkan adanya kematian.

Kemudian, setelah kepanikan mereda, salah satu sahabat saya, bernama Tera ( semua nama yang saya sebutkan adalah bukan palsu. Semua asli, untuk memudahkan pencerita mengatur jalan jalan cerita dan memudahkan pembaca untuk merunut kisah, meskipun kisah ini kisah nyata, asli ! ), ya, Tera bersama salah seorang anak Vespa Club segera melaju ke TKP, namun ternyata korban sudah di bawa ke Rumah Sakit Bethesda, yang terdekat dengan lokasi TKP. Dari Bethesda di dapat keterangan bahwa korban sudah di pindah ke RSUP Sarjito. Tera mendapat informasi singkat dari tukang parkir, bahwa salah satu korban dalam keadaan meninggal.

Begitulah, pada akhirnya hampir semua anak-anak yang masih tersisa di angkringan mak’e, termasuk mak’e dan pak’e datang ke ruang Jenazah RSUP Sarjito. Berita segera di sebar melalui sms. Kepada keluarga korban, teman-teman korban, termasuk saya, yang kata Tera adalah orang pertama yang di kabari setelah keluarga Joko Kewer. Tera mengambil alih semua urusan dengan ketenangan yang cukup mengagumkan, meskipun ketika saya datang, dan usai menengok jenazah, tak urung kami menangis bersama berangkulan selama beberapa menit. Tera adalah orang terakhir yang bercanda dengan Joko Kewer sebelum Joko Kewer pergi bersama Indro. Sementara itu Indro sendiri sempat shock, namun luka-lukanya tidak parah dan memungkinkan dia untuk membantu Tera mengurus ini itu, dibantu beberapa teman lain, yang segara berdatangan begitu berita tersebar. Kesetiakawanan ini sungguh mengharukan.

Saya sendiri datang agak terlambat. Jam 8 pagi baru bisa sampai ke Rumah Sakit, karena harus menunggu adik saya untuk mengantar. Saya belum sanggup naik motor sendiri. Jarak rumah saya dengan RSUP Sarjito cukup jauh bagi saya yang masih belum sehat, hanya karena Joko Kewer meninggal, maka saya memaksakan diri untuk pergi pagi itu juga. Joko Kewer berasal dari Salatiga, di Jogja dia menempuh kuliah di sebuah universitas swasta. Saya melihat tunangannya. Dia cukup tabah untuk tidak pingsan melihat kondisi Joko Kewer.

Kecelakaan tersebut adalah sebuah kecelakaan tunggal. Joko yang berboncengan dengan Indro, melaju dengan kecepatan ( sangat ) tinggi di jalan raya yang pasti sepi ( sekitar antara jam 3- 4 pagi ) menabrak cone oranye penanda marka jalan. Biasanya cone tersebut terbuat dari plastik, namun ternyata cone yang di tabrak tersebut diisi dengan beton semen. Bisa saya bayangkan kejadian tragis tersebut. Helm dan kepala Joko sama-sama pecah., kata Indro, setelah dia bisa mennguasai diri, Joko meninggal di lokasi kejadian, sesaat sebelum Indro sendiri kemudian pingsan, lebih karena shock, bukan karena luka-lukanya.

Ah, Joko, Joko…..saya jadi ingat, beberapa kali saya menolak ajakannya untuk ke Shelter, karena di Jogja, seorang gadis bermain billyard di tempat umum seperti itu masih dinilai negative, apalagi saya bertattoo…..jadi saya memilih untuk tidak memasuki tempat-tempat “rawan” semacam itu. Saya juga menolak adonan AMB yang beberapa kali di sodorkan kepada saya beberapa bulan yang lalu, ketika saya bertemu untuk yang terakhir kalinya. Biasanya saya memang hanya mau minum AMB hasil adonan Joko Kewer, bukan orang lain, namun sejak saya memutuskan untuk berhenti minum di jalan dan berhenti merokok, saya tidak menerima minuman beralkohol adonan siapapun, termasuk Joko Kewer.

Joko…betapa singkat waktu yang di berikan Tuhan kepadamu. Dan betapa sedihnya karena banyak hal yang sebenarnya bisa kamu lakukan, terpaksa harus berhenti pagi tadi. Wisudamu, malam pengantinmu, pekerjaan yang menantimu……

Masih akan ada lagikah kehidupan yang bisa menggantikan semua dan memperbaiki keadaan ? percayakah kau pada kehidupan setelah kehidupan ? reinkarnasi ? Ah..Joko Kewer sahabat baikku, percaya atau tidak percaya pada reinkarnasi, namun sungguh sayang, kamu telah mensia-siakan hidupmu yang singkat ini. Atau barangkali harus di syukuri, bukan di sesali…bahwa Tuhan hanya memberimu waktu yang hanya sebentar, supaya kamu tidak menjadi tambah rusak dan mawut, tidak menjadi tambah sengasara hidupmu…..ya barangkali, Tuhan sangat mengasihimu Joko, sebagaimana kami sayang padamu dan Tuhan sayang pada kami semua. Tuhan sudah membebaskanmu dari kesengsaraan di masa masa mendatang,

Tuhan menyelamatkanmu dari masa-masamu yang mungkin akan menjadi lebih gelap dari sekarang, Tuhan menghentikanmu dari kebiasaan kewer….Tuhan memberikan pelajaran pada kita semua. Sebuah jeweran yang cukup pedas di telinga kami. Apapun itu, selamat jalan Joko Kewer…hati-hati di tempat yang baru, jangan nakal dan kewer lagi di sana……jangan merepotkan para malaikat. Kamu tetap dalam ingatanku sebagai Joko Kewer yang setia melindungi aku di Malioboro, di angkringan mak’e………….sebuah pesan singkat tersirat dari kematian Joko Kewer, bahwa hidup bukan untuk disia-siakan, atau Tuhan akan menghentikannya sebelum semuanya menjadi semakin tidak baik bagi diri sendiri dan orang lain, bahwa mengisi hidup tidak lebih mudah dari pada menghamburkan usia dan waktu.

Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah menjemput Joko Kewer saat ini, sebelum semuanya menjadi lebih buruk baginya, dan bagi siapapun juga.

clip_image006

Joko Kewer, terakhir kali saya bertemu dengannya dalam keadaan hidup 

Jenazah Joko Kewer di bawa pulang ke Salatiga dengan ambulance RSUP pagi tadi dengan ditemani oleh Indro, tunangannya, dan salah dua dari teman kami. Keluarganya masih sibuk berurusan dengan polisi dan unit gawat darurat di RSUP. Saya menyempatkan diri untuk minum teh panas dengan Tera di warung dekat RSUP, ngobrol soal kejadian tersebut, kemudian pulang. Tera mengantar saya pulang ke rumah. Saya masih harus istirahat, dan Tera juga tentu saja harus istirahat setelah semua kejadian tadi.

Saya termenung. Dan tergugah untuk menuliskan ini…sekedar sharing, meringankan beban yang tiba-tiba membuat saya merasa begitu lelah….ah…..

Sebait puisi mampir di benak saya :

WE REAL COOL

The Pool Players

Seven at Golden Shovel

(poem by Gwendolyn Brooks, 1950 )

 

We real cool. We Left the school.

We Lurk late.

We Strike Straight.

We Sing sin.

We Thin gin.

We Jazz june.

We Die soon

Jogjakarta, dalam kenangan sedih atas meninggalnya seorang teman baik, 2009/ 08/ 09.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.