Puisi Biru Hitam

Sophie's Note :

Teruntuk seorang sahabat di sana..

Walaupun langit runtuh dikau tetap yang terbaik..

Hanya saja perjalanan kita berbeda..

Hanya ini yang dapat kupersembahkan untukmu..

Selamat Ulang Tahun..

Di usiamu yang ke 4 semakin berkibar..

dreamstimefree_1515593

Puisi By Sekar

Aku ingat ketika…
Langit masih cerah dan biru
Tawa canda menggenapi bahagia
 
Namun…
Mimpi buruk menghalau kenangan
Mengingatkan bahwa
Langit tak lagi seindah dulu
Rumah tak lagi ramah
 
Pedihnya menikam jantung
Ketika di kejauhan
Suara tawa digantikan oleh…
Lenguhan orgasme penuh birahi
Bau parfum murahan
Bercampur ciuman penuh nafsu kotor
 
Argh…,
Rumah itu melukai hatiku
Membuatku melangkah mencari
Tempat yang nyaman
Untuk sekedar berdendang
Dan berbagi kisah
 
Argh…,
Rumah itu menjadi semakin gerah
Memerihkan jantung
Membuat kami bergandeng tangan
Mengayun kaki menuju
Tempat yang sejuk
Untuk sekedar bertukar tawa
 
Argh…,
Kami saling mengusap air mata
Meringankan beban
Membalut luka tersayat
Kami melangkah pergi
Menuju tempat tenang
Untuk sekedar berbagi mimpi
 
Argh……
 
 
Note:
Puisi dibuat oleh Sekar yang didikte-kan melalui kabel telepon kepada Lembayung sang juru ketik. Sekar mempercayakan Lembayung untuk berperan serta dengan memberi judul puisi ini, tetapi kemudian malah mengacaukannya. (Ups… sorry Sekar….hihihi…) Puisi ini diusahakan untuk bisa mewakili berbagai rasa dan pikiran dari manusia-manusia letih yang masih berani bermimpi mimpi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.