Di Bibirmu Masih Menyisa Ciumanku Pertama

Vera Ernawati – Jakarta

Ini adalah kisah. Tentang seorang anak lelaki. Berambut panjang. Berkaki jenjang. Kakak kelas di sekolah menengah atas. Mencintai alam. Ulung mendaki gunung, juga pandai berhitung. Seribu bunga Adelweis tumbuh di matanya yang kelam. Ia lelaki harum hutan. Jati.

Dan, padanya aku tlah jatuh hati.

Lima belas tahun yang lalu. Jati dengan tas ransel di pundak, berjalan sendiri di lorong kelas yang sepi. Mataku menangkap sosoknya yang tinggi. Kami berhadap-hadapan. Ketika mendekat, aku tak berani menatap. Ia melewatiku, berlalu. Ada harum hutan menyisa di belakangku.

Diam-diam aku belajar bergincu.

Suatu siang di teras kantor yayasan sekolah. Aku duduk bersila. “Boleh pinjam pena?” Ada suara di samping telinga. Aku menoleh. Terhenyak mendapati wajahnya memenuhi penglihatan. Jantungku berdegup tak karuan. Kukeluarkan pena, kuberikan padanya. “Aku pinjam dulu, nanti kamu ambil di kelasku,” ucapnya sambil berlalu.

Ada senyum di ujung bibirku yang belum kuberi gincu.

Dua hari berlalu. Penaku masih padanya. Aku tak berani datang meminta. Kunikmati saja hari-hariku dengan nyanyian rindu. Jati, Jati, oh Jati. Harum hutanmu memenuhi hati. Kau tlah mencuri pelangi milik si perempuan pembuat puisi. Seorang temannya datang menghampiri, “Jati menunggumu.” Hatiku seketika bertalu-talu.

Ada rasa tumbuh ketika aku mengenakan rok abu-abu.

Jati berdiri di depan kelasnya. Ia menungguku. Lantas tertawa mendapatiku tergugu diam membisu. Kemudian ia menunjuk mejanya. Tanda untuk mengambil sendiri pena. Aku tahu, ia tengah menggoda. Satu kelas memandang langkahku lemas tak bertenaga.

Pena kudapat. Namaku pun ia dapat.

First_loveKunjungan cinta dimulai. Setiap pagi Jati menungguku di depan gerbang sekolah. Jam istirahat ia menemuiku di kelas. Pulang sekolah aku selalu berada di dekatnya. Aku mulai menyukai hal-hal kecil pada Jati. Senyumannya. Tatapan matanya yang sendu. Gelaknya. Kebiasaannya membetulkan letak topi. Gerak tangan ketika menyimpul tali. Aku terpesona pada goresan penanya yang rapi.

Aku suka harum hutan meruap tiap kali berdekatan dengannya.

Rasanya seperti ada di antara pohon-pohon Jati. Harumnya memenuhi rongga hati. Seperti selimut baru dicuci. Diambil keluar dari toko laundry. Mungkin rasanya seperti es krim coklat Woody. Manis. Manis. Manis. Atau seperti membaca sajak cinta Sapardi. Usai membacanya selalu buatku tertegun. Sama seperti …

Melihat merahnya kelopak mawar di kebun.

Satu tahun berlalu. Tahun ajaran berakhir. Kami pun berpisah di ambang pintu sekolah. Jati melanjutkan pendidikan, dan memilih perguruan tinggi di luar kota Jakarta. Kami tak bisa lagi bersama-sama. “Aku akan kirim surat,” begitu janjinya.

Sepenggal janji Jati kusimpan dalam hati.

Setelah itu hari-hariku jadi sepi. Aku kehilangan Jati. Sendiri meyelimuti. Tak ada harum hutan. Tak ada senyuman menawan. Tak ada genggaman tangan buatku merasa aman. Tak ada Jati. Kini aku menyendiri, menahan sepi.

Hingga surat pertamanya datang menghampiri.

Membaca jalinan katanya buatku bahagia. Ia menceritakan hari-hari di perguruan tinggi. Bergabung kelompok pencinta alam. Bertemu teman-teman baru. Tinggal sendiri dan mandiri. Bahagia membacanya. Bahagia yang menetap dan tak kunjung tanggal.

Suratnya kusimpan rapi dalam kotak di lemari.

Semakin lama suratnya berkurang. Hatiku merana. Sepi merajalela. Rindu makin menepi. Sedih makin menjadi. Aku kerap menangis bila teringat padanya. Satu dua anak lelaki coba mendekat. Berupaya mencuri hati si perempuan pembuat puisi agar terpikat. Tapi, semua kuminta pergi, tak ingin mengkhianati Jati.

Bila rindu tak tahu diri, kubuka kotak surat Jati di lemari.

Matahari pagi masih hangat. Aku kayuh dayung menyusuri telaga lambat-lambat. Memandang awan di langit. Membiarkan kulit tertimpa sinarnya yang menggigit. Begitu sampai di seberang, aku turun dari sampan. Berjalan di jalan setapak, jalan rerumputan yang tersibak. Aku hirup penuh-penuh wangi bunga liar. Buang jauh-jauh lelaki harum hutan dari pikiran. (Surat terakhir, Jati tlah menemukan telaga lain.)


 

 

 

 

 

 

 

Lima belas tahun tlah berlalu. Di bibirmu masih menyisa ciumanku pertama.*

*Sajak Cinta, Sapardi Djoko Damono

About Vera Ernawati

tiga satu perempuan senang mengikat kenangan dengan cara menuliskannya

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.