Membangun Jaringan Perdagangan

Handoko Widagdo – Solo


Sudah menjadi opini umum bahwa keturunan Cina di Indonesia adalah para pedagang. Bahkan yang lebih ekstrim, keturunan Cina di Indonesia hanya peduli kepada bisnis saja, tidak mempunyai rasa sosial, apalagi rasa kebangsaan. Tulisan ini tidak hendak akan membahas kebenaran dari opini tersebut. Sebab sudah banyak buku yang membicarakannya, baik yang mendukung opini maupun yang menyanggahnya. Jadi, tulisan ini sekali lagi hanya akan melihat sisi baik dari pengembangan bisnis keturunan Cina di Indonesia, khususnya dari segi pembangunan jaringan perdagangan.

Chinese_Merchants_at_BantenDalam membuat tulisan ini, penulis memadukan berbagai sumber. Sumber utama dari tulisan ini adalah buku “Tionghoa Indonesia Dalam Krisis” karangan Charles A. Coppel, Pustaka Sinar Harapan, 1994, dan “Hoakiau di Indonesia´karangan Pramoedya Anata Toer, Garba Budaya, cetakan IV 1999. Dua buku ini dipilih karena mempunyai cara pandang yang agak berbeda dalam melihat kiprah keturunan Cina di Indonesia. Dua buku ini terutama membantu penulis untuk memberi latar belakang sejarah keturunan Cina di Indonesia dan segala persoalannya. Selain dari sumber tertulis, penulis juga menyertakan hasil pengamatan selama penulis melakukan perjalanan-perjalanan ke berbagai propinsi di Indonesia. Dan, tentu saja pengalaman penulis sendiri sebagai keturunan Cina yang dibesarkan dalam keluarga pedagang kecil di desa di pinggir hutan.

Sejarah ‘bisnis’ keturunan Cina di Indonesia

Keberadaan keturunan Cina di Indonesia sudah ada jauh sebelum Indonesia lahir. Coppel menjelaskan bahwa pada tahun 1930, lebih dari 43 persen (keturunan Cina) termasuk dari generasi ketiga (Coppel, hal. 22). Kehadiran keturunan Cina sebagai perantau, sama halnya dengan para keturunan Arab dan India di Indonesia.

oei-tiong-ham

Foto 1: Raja Gula Oei Tiong Ham, Orang Terkaya di Asia pada masanya

Sejarah keturunan Cina di Indonesia selalu dikaitkan dengan kehandalan mereka dalam membangun jaringan perdagangan. Sensus-sensus yang dilakukan sejak dari jaman Belanda dimaksudkan untuk melihat penyebaran (baca: jaringan perdagangan) keturunan Cina dan pekerjaan yang mereka lakukan. Sebagai misal, … bahwa dalam tahun 1890, di sebagian dari 30.000 desa Jawa terdapat penduduk Tionghoa. … pemusatan orang Tionghoa yang terbesar di pedesaan terjadi di Sumatra… (Coppel hal. 28). Hal ini membuktikan –terlepas dari sentimen politik- bahwa jaringan perdagangan keturunan Cina di Indonesia adalah solid dan patut untuk dipelajari.

Bukti lain yang bisa menguatkan bahwa jaringan perdagangan mereka kuat adalah keputusan-keputusan politik yang bersangkutan dengan keturunan Cina. Keputusan-keputusan politik sejak jaman Belanda selalu dikaitkan juga dengan ‘ketakutan’ terhadap penyebaran (baca: jaringan perdagangan) keturunan Cina yang ‘menguasai’ perdagangan. Contoh keputusan politik yang lain adalah adanya PP 10 tahun 1959, yang salah satu intinya melarang para keturunan Cina untuk mempunyai bisnis di pedesaan. Bukti lain yang tak bisa diabaikan begitu saja adalah bahwa hampir semua kerusuhan yang menyangkut keturunan Cina selalu dilatar belakangi sentimen bahwa keturunan Cina menguasai perekonomian Indonesia. Korban kerusuhan terbesar adalah toko-toko dan pusat-pusat bisnis Cina. Dari berbagai benturan yang dialami, ternyata jaringan perdagangan keturunan Cina tetap eksis.

Faktor-faktor Pendukung Berkembangnya Jaringan Perdagangan Keturunan Cina

Mengapa mereka bisa sampai mempunyai jaringan perdagangan yang demikian solid? Berikut adalah beberapa catatan yang penulis duga sebagai penyebab terbangunnya jaringan perdagangan tersebut.

Mentalitas Bangsa Perantau

Sebagai bangsa perantau, keturunan Cina di Indonesia mempunyai mentalitas untuk berhasil. Hal ini tidak berbeda dengan bangsa/suku lain yang juga perantau. Mentalitas untuk berhasil ini diakibatkan oleh keinginan untuk membuktikan kepada bangsa/suku yang ditinggalkannya bahwa keputusan untuk meninggalkan tempat asal mereka (yang biasanya lebih miskin) adalah keputusan yang tepat. Bukti bahwa mentalitas untuk berhasil ini bisa dilihat dari orang Minang perantau yang membangun rumah-rumah indah di desanya masing-masing. Para perantau Wonogiri dan Gunung Kidul yang mencarter bus-bus mewah setiap lebaran, persatuan pedagang sate dari Klego, Boyolali, di Jakarta yang selalu mengundang kepala desa dan Camat untuk merayakan halal bi’halal di Taman Mini dengan memberi fasilitas tiket pesawat pulang pergi bagi kepala desa dan camat sekeluarga.

Mentalitas untuk berhasil ini juga terbangun karena sebagai perantau, mereka merasa tidak mempunyai dukungan yang cukup di tempat barunya. Mereka merasa harus berjuang lebih gigih supaya bisa melindungi dirinya dan keluarganya di tempat baru. Contoh kasus di bawah ini menunjukkan kebenaran dari pendapat di atas

Pada tahun 1934 A Cong (bukan nama sebenarnya) datang bersama keluarganya ke Indonesia dari Cina. A Cong dan keluarga berkeputusan untuk meninggalkan desanya karena bencana kelaparan yang melanda desanya. Pada saat itu A Cong berumur 12 tahun. Mereka meninggalkan desa secara berombongan dengan menggunakan perahu tongkang. A Cong sendiri berangkat bersama dengan bapak angkatnya A Cong, ibu angkatnya A Cong, dan seorang adik tiri laki-laki. Mereka mendarat di pelabuhan Semarang.

Karena sulitnya mencari kehidupan di Semarang, keluarga A Cong bersedia untuk pindah ke Yogyakarta untuk membantu salah satu keluarga Cina dari desa yang sama. Karena kehidupan keluarganya tidak kunjung membaik, A Cong muda memilih untuk pindah ke kota S. Di kota S, A Cong mengerjakan pekerjaan apa saja untuk mencari makan. Suatu hari ia melihat bahwa para pejalan kaki di jalan utama Kota S suka sekali membeli makanan kecil. Selepas kerja siang hari, A Cong mencoba untuk menjajakan kacang goreng di sepanjang jalan utama Kota S. Ternyata dagangan A Cong laris. Untuk mengembangkan dagangannya, A Cong berketetapan untuk membagi penghasilannya sebagai berikut: 20% untuk makan, 30% untuk ditabung, dan 50% untuk investasi. Jika rugi, ia puasa.

Setelah merasa bahwa modalnya cukup, A Cong membuka tenda warung makan. Ia memilih menu tardisional Kota S, yaitu GUDEG. Berdasarkan pengamatannya pada para priyayi dan pedagang batik di kota S, A Cong tahu bahwa mereka suka sekali dengan Gudeg. Mula-mula hanya seekor ayam dan 6 butir telor yang dijajakannya. Dia olah sendiri semua makanan tersebut. Pelajaran memasak gudeg didapatnya pada saat ia tinggal di Yogya, dari pembantu rumah tangga keluarga yang menampungnya. Tenda warung makannya sengaja dipilih di dekat taman hiburan rakyat di kota tersebut. Pilihan untuk membuka warung gudeg ternyata tepat. Ini terbukti dari berkembangnya usaha tersebut.

Pada saat ini A Cong telah memiliki restoran yang megah di Kota S. Cabang dari restoran ini telah ada di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Denpasar, Yogyakarta. Pengelola bisnis restoran dipilihnya dari keluarganya. (diceritakan oleh A Cong kepada penulis)

Dari kisah nyata di atas, dapat ditarik pelajaran bahwa A Cong yang datang tanpa modal, tanpa teman, terpacu untuk berusaha menghidupi dirinya. Rasa takut akan mati, digunakannya untuk memotivasi dirinya mengembangkan diri. Motivasi semacam ini bukan hanya milik para keturunan Cina. Pengalaman pengusaha mie ayam di Jakarta yang berasal dari Wonogiri juga merupakan contoh yang setara.

Preparing Herbs 1910

Foto 2: Chinese Pharmacists Preparing Herbs for Medicine

Hal ketiga yang menarik adalah adanya kesetia-keluargaan. Sebagai bangsa perantau, keturunan Cina mempunyai rasa kesetia-keluargaan yang tinggi. Rasa kesetia-keluargaan ini tidak saja dalam arti keluarga secara sempit, tapi juga dalam arti sebagai sesama asal. Mentalitas kesetia-keluargaan ini dipakai oleh keturunan Cina untuk mengembangkan bisnisnya. Karena mempunyai nilai yang sama, yaitu kesetia-keluargaan, maka bisnis mereka bisa dibangun atas kepercayaan. Bisnis yang dibangun dengan kepercayaan ini menyebabkan prosesnya tidak berbelit-belit. Contoh di bawah ini adalah bukti bagaimana keturunan Cina memakai mentalitas ini untuk membangun jaringan perdagangan:

Namanya Beni (bukan nama sebenarnya). Lahir di Waingapu. Orang tuanya, emak engkongnya lahir di Waingapu. Papa dan mama engkongnya datang langsung ke Waingapu dari Cina. Istrinya cina Waingapu. Dua anaknya lahir di Waingapu. Ia membangun Hotel Berlian (bukan nama sebenarnya) 10 tahun yang lalu. Saudara-saudaranya ada yang membuka toko kelontong, agen sepeda motor, dan ada juga yang membuka rumah makan.

Sopir yang mengantarku dari Waingapu ke Waikabubak adalah sopir hotel. Ia bercerita bahwa kira-kira tahun 30-an, banyak orang Cina yang datang ke Waingapu berjualan tembakau dan minuman ramuan cina. Minuman ini dibuat dari nira yang disuling dan ditambahkan ginseng dan ramuan lain. Mereka menyebutnya ramuan Cina. Dalam berdagang, mereka sering dengan cara imbal beli. Orang Cina membawa tembakau dan minuman Cina, orang Sumba memberinya kelapa, gaharu dan cendana. Kadang-kadang ada orang Sumba yang berhutang kepada cina-cina tersebut. Mereka membayar hutangnya dengan kebun kelapa. Itulah sejarahnya orang cina mempunyai tanah di Waingapu. Tapi itu hanya cerita Pak Sopir.

Kini mereka tidak lagi berjualan ‘hanya’ tembakau dan minuman. Di Waikabubak, seperti juga di Waingapu, hampir semua toko dan hotel dimiliki oleh orang Cina. Mereka saling bersaudara. Cina di Waingapu mempunyai saudara di Waikabubak. Persaudaraan ini bisa disebabkan karena mereka sekandung, atau karena hubungan kawin-mawin. Selain berbisnis toko dan hotel, mereka juga menyediakan mobil-mobil untuk turis dan orang lain yang membutuhkan alat transportasi. Mereka membeli Panther di Surabaya atau Jakarta dan disewakan kepada mereka yang membutuhkan. (Persinggahan Sumba, Waingapu, Waikabubak, 15-22 Mei 2001, Widagdo, H. unpublished).

Mereka datang bersama, saling kawin diantara mereka, salah satunya adalah untuk kepentingan bisnis atau sebaliknya. Mentalitas semacam ini tidak hanya dimiliki oleh keturunan Cina. Pembantu rumah tangga di keluarga orang asing di Jakarta dan Yogya dikuasai oleh keluarga-keluarga dari Gunung Kidul. Penjual bakso dan mie ayam di Jakarta dikuasai oleh orang-orang Wonogiri. Usaha pangkas rambut dan sate ayam, dikuasai oleh orang Madura.

Chinese Pharmacist 1910

Foto 3: Chinese Pharmacist in his shop

Pendidikan kewira-usahaan di keluarga

Dua budaya penting yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini hubungannya dengan pendidikan kewira-usahaan adalah (1) budaya tahun baru imlek, dan (2) budaya pelibatan seluruh keluarga (termasuk anak-anak) dalam pelaksanaan bisnis.

Budaya untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga pada saat tahun baru imlek adalah salah satu kebiasaan masyarakat keturunan Cina. Walaupun saat ini telah tergantikan dengan perayaan lain, seperti Natal, Tahun Baru, atau Lebaran.

Pada perayaan imlek, kakek saya selalu memberi modal yang sama kepada semua cucunya. Modal itu dipakai untuk bermain kartu sepanjang malam imlek. Cucu yang paling banyak menang akan diberi angpao yang paling besar. Budaya ini, selain sisi negatifnya, merangsang para anak keturunan Cina untuk mengambil resiko bisnis. Ini pendidikan kewira-usahaan.

China Town Semarang 01

Foto 4: China Town Semarang Circa 1920

Budaya kedua yang penting dalam penumbuhan kewira-usahaan adalah pelibatan seluruh anggota keluarga dalam berbisnis. Pada saat saya masih kecil, kira-kira umur lima tahun, saya sudah diwajibkan untuk menjaga toko. Saya harus memanggil ibu saya, yang saat itu memasak atau sedang mengemas barang dagangan, jika ada pembeli yang datang. Tugas pertama saya adalah hanya memanggil ibu atau bapak jika ada pembeli.

Pada saat saya sudah mengenal angka, ibu dan bapak saya mulai memberitahu harga-harga barang yang dijual di toko. “Jika tidak tahu tanya, ya.” kata ibu saya. Tanggung jawab saya bertambah untuk langsung menjual barang-barang yang saya tahu harganya. Untuk semua pekerjaan yang saya lakukan, saya mendapatkan imbalan dalam bentuk uang saku. Pada saat ayah saya berbelanja, saya selalu diajak ikut serta. Mula-mula saya hanya bermain-main dengan anak pemilik toko dimana ayah saya belanja. Lama-lama saya mulai dipercaya untuk melakukan order dan mengambil barang. Pola ini secara tidak langsung membangun jaringan antar generasi yang telah terbangun sebelumnya. Sayangnya saya tidak berbakat jadi pedagang.

Satu lagi yang saya amati dalam keluarga saya adalah adanya pemisahan pengelolaan toko dengan pengelolaan keluarga. Bapak saya harus membayar jika mengambil rokok dari toko. Demikian juga ibu saya harus membayar jika mengambil gula atau beras. Saya harus membayar dengan uang saku saya jika saya ingin mendapat permen dari toko. Prinsip-prinsip ini mengajarkan kewira-usahaan kepada keturunan Cina sejak dari kecil.

Pendidikan kewira-usahaan di keluarga juga bukan monopoli keturunan Cina. Jika kita membaca bukunya Hasan Raid (Pergumulan Seorang Muslim Komunis) kita tahu bahwa di kalangan orang Minang pun budaya ini ada.

Sejarah Berpihak Kepada Keturunan Cina

Dua hal penting yang perlu kita soroti dalam peranan sejarah dalam membantu perkembangan bisnis orang Cina di Indonesia adalah keputusan Belanda untuk membedakan keturunan Cina dari para pribumi, dan keputusan orde baru untuk membatasi keterlibatan keturunan Cina untuk berkarya di bidang-bidang di luar perdagangan.

Coppel, 1994 menyatakan bahwa:

Sebuah citra serumpun bahwa orang Tionghoa itu mendominasi atau menguasai ekonomi Indonesia adalah lebih sulit, kalau tidak mungkin untuk mendokumentasikannya. Pijakan yang awal dan kukuh yang dicapai oleh orang Tionghoa itu di bidang perdagangan perantara dan peminjaman uang merupakan akibat langsung dari kebijakan Belanda mengenai penyerahan sebagian dari bermacam-macam monopoli kepada orang Tionghoa perorangan. (hal. 49).

Jadi jelaslah disini bahwa kebijakan Belanda untuk menggolongkan warga keturunan Cina sebagai warga kelas dua, dan terpisah dari pribumi, menyebabkan mereka menjadi kelompok ekslusif yang dipakai oleh Belanda untuk melakukan monopoli tertentu. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan jaringan perdagangan keturunan Cina di Indonesia. Pendapat berbeda disampaikan oleh Pramoedya, bahwa sesungguhnya kebijakan Belanda tersebut bukanlah faktor yang cukup penting. Mengingat bahwa bisnis keturunan Cina sudah ada sejak sebelum kebijakan tersebut ada. Argumen Pram ini dituliskan dalam surat ke-empat “Kedudukan Sosial Hoakiau Diperoleh dari Perkembangan Sosial Historis Yang Panjang” (hal. 111-146). Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kebijakan Belanda tersebut mempunyai pengaruh yang besar dalam perkembangan jaringan perdagangan keturunan Cina di Indonesia.

Pekodjan Semarang01

Foto 5: Pekodjan Semarang Circa 1910

Berlatar belakang tragedi nasional G 30 S, tahun 1965, peranan politik keturunan Cina di Indonesia menurun. “Kegagalan percobaan kudeta tanggal 1 Oktober 1965 memungkinkan serangan terbuka dilancarkan terhadap …golongan Tionghoa (Coppel, hal 319). Sejak saat itu secara sistematis, peranan keturunan Cina di Indonesia oleh Orde Baru diarahkan kepada pembangunan ekonomi saja. Partisipasi keturunan Cina di bidang lain, seperti politik, pegawai negeri, angkatan bersenjata dibatasi. Kondisi yang demikian membuat potensi keturunan Cina yang ada hanya diarahkan untuk mengembangkan bisnis saja. Itulah yang menyebabkan pada masa Orde Baru, bisnis keturunan Cina berkembang pesat. Perkembangan bisnis ini tidak terlepas dari kolusi dengan para pejabat pada saat itu.

Langkah-langkah Membangun Jaringan Perdagangan

Pengalaman keturunan Cina di Indonesia membangun jaringan perdagangan, terlepas dari keberpihakan sejarah, bisa disederhanakan sebagai berikut:

  1. Mengenal produk yang bisa dijual dengan mudah. Pengalaman Cina di Sumba seperti cerita di atas, atau A Cong berjualan gudeg adalah pengenalan akan produk yang akan dijual dengan baik. Pada mula pengembangan jaringan perdagangan, orang Cina tidak mulai dengan produksi. Tetapi mulai dengan menjual barang yang sudah ada.
  2. Menjual produk sambil memupuk modal usaha dan melakukan inovasi. Contoh kesuksesan A Cong adalah contoh nyata dari pola ini.
  3. Mencari peluang wilayah pemasaran baru dengan memanfaatkan koneksi keluarga. Dari wawancara yang penulis lakukan di pulau-pulau timur Indonesia, semua Cina yang membuka toko atau usaha, mempunyai keluarga di Surabaya atau Malang. Rata-rata dari mereka adalah anak atau keponakan dari para pengusaha di Surabaya atau Malang. Hampir semua barang yang mereka perdagangkan berasal dari keluarganya di Surabaya atau Malang dan sebaliknya. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa jaringan pemasaran mereka kembangkan dengan perintisan oleh anggota keluarga ke wilayah-wilayah baru.

Kesimpulan

Dari diskusi di atas penulis menyimpulkan bahwa keberhasilan keturunan Cina di Indonesia dalam membangun jaringan perdagangan adalah:

  1. Adanya mentalitas perantau yang mempunyai ciri-ciri: ingin berhasil, perasaan kesendirian, dan kesetia-keluargaan membuat etos kerja mereka tinggi.
  2. Pendidikan kewira-usahaan yang ditanamkan sejak kecil dalam keluarga, baik secara budaya maupun dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Keberpihakan sejarah karena posisinya yang unik di Indonesia.
Pustaka

Coppel, Charles A. 1994. Tionghoa Indonesia dalam Krisis. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta

Pramoedya Ananta Toer. 1960. Hoakiau di Indonesia, Garba Budaya. (cetakan keempat, 1999). Jakarta

Raid, Hasan. 2001. Otobiografi Hasan Raid, Pergumulan Seorang Muslim Komunis, Teplok. Jakarta

Widagdo, Handoko. 2001. Persinggahan Sumba, Waingapu-Waikabubak, 15-22 Mei 2001. unpublished

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.