Pesta Keluarga

Kornelya – NY

Semua pasti pernah mengadakan hajatan atau pesta dalam keluarga, baik secara kecil-kecilan seperti buat kekahan, ulang tahun anak yang hanya mengundang teman dekatnya, atau pesta meriah seperti acara sunatan, tunangan, dan pernikahan. Hakekatnya, orang mengadakan pesta selain sebagai ungkapan syukur, juga untuk menjalin keakraban keluarga, kerabat, tetangga atau kenalan. Orang tua mengadakan pesta ultah untuk membahagiakan anak. Anakku sudah merencanakan hadiah ulang tahun berikutnya, sehari setelah pesta ulang berlalu. Pesta pernikahan digelar, juga untuk memberi tahu kepada kalayak, bahwa Bapak/Ibu “Soon To Be Free” akan menikahkan putri tunggalnya “Pesolek”…, dengan putra sulung dari Bapak Ibu “Happy” bernama “Finally He Married”. Turut mengundang: Keluara besar …….

Berdasarkan pengamatan atas undangan yang diterima, petualangan menghadiri pesta dari kelas pakaian bebas, atau yang beraturan tak tertulis yang mengatakan bawalah segenggang beras bila datang, sampai yang mencantumkan dress code, ditambah pakai RSVP, hajatan keluarga ini fungsi sosialnya sudah bergeser, kebahagian keluarga inti (immediate family) bukan menjadi prioritas utama.

Menyenangkan/pamer sahabat, collega kerja, kenalan yang “berprestise” apalagi bila punya jabatan menjadi pertimbangan utama. Dan tak jarang angpao yang akan didapat menjadi perhitungan.Mungkin ada Baltyers yang punya pengalaman seperti yang saya alami. Kita mulai dari penulisan undangan: Kadang kita temui, yang turut mengundang adalah orang yang tidak punya ikatan darah keluarga dengan yang punya hajatan, setelah itu jabatannya pun ikut disebut.

Saat menikah, ada yang tega-teganya ayah kandung masih hidup tetapi memilih figure terkenal sebagai wali nikah. Lokasi pesta nikah, bagi Baltyer yang di Jakarta, lokasi pernikahan tidak menjadi masalah. Tetapi bagi orang daerah hal ini sangat penting. Entah untuk pertimbangan ekonomi, waktu, atau kemudahan colleague untuk menghadiri, kenyamanan orang tua, atau sanak saudara sama sekali tidak dipertimbangkan.

Sebagai contoh, kedua mempelai berasal dari daerah yang sama, kedua orang tua masih hidup dan secara financial calon mempelai mampu menikah didaerah asal. Demi kenyamanan mereka sendiri, dipilihlah tempat pesta di Jakarta dengan biaya min Rp.30jt, atau bahkan dihotel mewah, dan mendatangkan orang tua yang sudah sepuh. Syukur-syukur bila dibiayai.

Bila memiliki orang tua yang sudah terbiasa naik escalator/lift pesta di gedung bertingkat tidak jadi masalah. Beberapa tahun lalu teman dekat saya mengadakan pesta pernikahannya di Grand Hyatt Jakarta. Sambil menunggu acara, aku ajak ibunya jalan-jalan ke Sogo, selagi di Sogo kami ditelp supaya bertemu di lantai satu hotel. Temanku sangat marah karena saya membiarkan ibunya menenteng sandal saat naik escalator.

Belum lagi pada saat acara pesta, bapa /ibunya cengar-cengir basa-basi pada orang yang menyalami namun sama sekali mereka tak kenal. Sementara kerabat lainnya yang didatangkan dari kampung walaupun sudah mengenakan pakaian terbaik menurut mereka, berdiri di pojok menyaksikan gemerlapnya tetamuan. Pada kesempatan pulang kampung kemarin, saya juga sempat mengikut pernikahan sepupu. Kali keanehan lain yang saya temui, struktur pengaturan tempat duduknya memprioritaskan pejabat. Saat mereka datang, MC mengucapkan selamat datang, kepada bapak… (nama dan jabatannya disebut).

Tulisan ini tidak berlaku bagi kalangan borju, ini hanya sekedar refleksi tentang makna pesta keluarga yang sudah bergeser hakekat dan maknanya di mata orang kampung.

clip_image002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.