Indonesia Tanah Air Beta

Syanti – Sri Lanka

Dada saya terasa bergetar, hati ini merasa begitu terharu , seperti ada sesuatu yang meluap-luap keluar semua terasa mengharu biru dan tidak dapat saya gambarkan dengan kata-kata.

Pada waktu saya menyanyikan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya.

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku, Indonesia tanah airku …….”

Perasaan saya menjadi bercampur aduk, saya merasa begitu bangga sebagai orang Indonesia, saya merasa belum dapat memberikan apa-apa untuk Indonesia, “ Apakah yang sudah saya berikan pada tanah air Indonesia?” tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benak saya.

Setelah kami semua peserta upacara selesai menyanyikan lagu Indonesia raya, kemudian disusul dengan menyanyikan lagu Indonesia Tanah air Beta.

 

”Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya…………Di sana tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua sampai menutup mata”

Pada waktu sampai pada bait tersebut, tanpa terasa saya meneteskan air mata . Saya tidak perduli dengan peserta upacara lainnya yang berdiri di kiri kanan saya, kata-kata dari lagu itu menimbulkan rasa kerinduan yang dalam kepada Indonesia tanah air kita. Saya bertanya di dalam hati……..”Apakah saya akan menutup mata di sana di Indonesia ?”

Indonesiaku

Mungkin kedengarannya sangat janggal, kenapa harus bertanya seperti itu! Tetapi itulah kenyataannya.

Hal ini terjadi pada waktu pertama kali saya mengikuti upacara hari kemerdekaan Republic Indonesia di KBRI Colombo.

Lagu tersebut sesungguhnya sudah sering saya dengar dan nyanyikan, ratusan kali bahkan mungkin ribuan kami. Terutama pada waktu saya duduk di sekolah menengah pertama(SMP) selain lagu Indonesia raya dan lagu-lagu kebangsaan lainnya, seperti Nyiur hijau, Rayuan Pulau Kelapa dan lainnya.

Terutama menjelang 17 Agustus dalam menyambut perayaan hari ulang tahun kemerdekaan kita, biasanya saya dan teman-teman sekolah sibuk mengikuti berbagai macam perlombaan, seperti koor, membaca puisi(deklamasi) , gerak jalan dan sebagainya.

Setibanya di rumah setelah selesai upacara, saya berjanji pada diri saya, untuk melakukan sesuatu untuk bangsa dan negara saya Indonesia, sesuai dengan kemampuan saya.

Saya menyadari saya tidak dapat memberikan banyak untuk Indonesia, tetapi saya berusaha memberikan yang terbaik.

Untuk membuktikan cinta saya kepada Indonesia, yaitu dengan berusaha untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia, terutama di rumah kami sendiri.

Putri kami, si Kecil yang waktu itu baru berusia tiga tahun tetap saya ajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Karena saya menyadari diusianya yang masih dini kalau tidak saya ajak berbahasa Indonesia, dia akan melupakan bahasa ibunya.

Saya tidak ingin si Kecil melupakan asal usulnya, bahwa di dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia walaupun ayahnya Sri Lanka.

Pada aktu si Kecil sudah mulai belajar membaca dan menulis, saya mengajarkan dia bagaimana menulis dan membaca bahasa Indonesia.

Dengan cara setiap saya menulis surat kepada keluarga kami di Indonesia, si Kecil saya suruh untuk menulis beberapa kalimat bahasa Indonesia, hanya sekedar menulis “Apa kabar? “ untuk kakek dan neneknya.

Si Kecil selalu saya ajak mengikuti kegiatan di KBRI, sehingga si Kecil, bisa menyanyikan lagu Indonesia raya, si Kecil dapat menari tarian Indonesia…….bahkan pada kesempatan “Talent Contes” di sekolahnya si Kecil, menarikan tarian Jawa, yang menarik perhatian para penonton.

Setiap kali berlibur ke Indonesia putri kami si Kecil masih dapat berkomunikasi dengan keluarga besar kami di Indonesia, terutama dengan kakek dan neneknya yang notabene tidak dapat berbahasa Inggris.

Si Kecil selalu dengan bangga berkata kepada setiap orang yang baru dikenalnya,

“My father is Sri lankan but my mother is Indonesian !”

Apabila mereka bertanya ,

“So you are Sri lankan or Indonesian ?”

Maka si kecil akan menjawab dengan lucu,

“I am Indonesian…….because my mother is Indonesian, and I was came out from my mother stomach “

Tentu saja jawaban si Kecil mengundang tawa mereka, saya sering merasa terharu dengan jawaban si Kecil yang lucu tersebut.Karena itu membuktikan bahwa si Kecil mengetahui bahwa dia masih mempunyai darah Indonesia.

Sekarang si Kecil telah bertumbuh menjadi seorang gadis,dia tetap fasih berbahasa Indonesia.

Selain itu, pada setiap kesempatan saya selalu berusaha memperkenalkan Indonesia, dengan mengenakan sarung kebaya atau baju batik, pada upacara-upacara resmi di kantor suami saya.

Penampilan saya tersebut selalu menarik perhatian dan mereka akan bertanya akan nationality saya, maka sayapun akan dengan bangga berkata “I am Indonesian!”

Pier

Saya menyadari belum banyak yang bisa saya berikan untuk tanah air saya Indonesia, tetapi saya telah berusaha memberikan yang terbaik . Walaupun Sembilan belas tahun sudah saya meninggalkan Indonesia, tetapi saya tetap mencintai Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Indonesia raya merdeka-merdeka……hiduplah Indonesia raya

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya……

Untuk Indonesia raya……..!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.