Ramadhan, Bulan Silaturrahim

Saw – Bandung 

Satu lagi tentang hikmah Ramadhan. Bagi ummat Islam, iming-iming pahala yang berlimpah pada setiap kebaikan yang dilakukan merupakan motivator tersendiri untuk memaksimalkan amal. Namun, ternyata semua amalan Ramadhan kita bisa terabaikan apabila kita tidak sanggup menjalin silaturrahim dengan orangtua, keluarga, saudara maupun sesama.
 
Di setiap jelang Ramadhan, Malaikat Jibril selalu berdoa kepada Alloh SWT sebanyak 3 kali. Ya Alloh, abaikanlah puasa ummat Muhammad SAW :
1.       Bila seorang anak belum meminta maaf kepada kedua orangtuanya (jika masih ada)
2.       Bila suami/istri belum bisa saling memaafkan.
3.       Bila ia belum berma’af-ma’afan dengan saudara-saudaranya.
4.       Bila ia belum berma’af-ma’afan dengan tetangga terdekatnya.
Dan Rasululloh SAW pun mengamininya sebanyak 3 kali.
 
Sahabat Baltyra yang berbahagia…
 
Mulia sekali hikmah yang bisa kita petik.
 
Sebaiknya, sebelum Ramadhan kita bisa ‘sungkem’, mohon maaf kepada kedua orang tua. Minta agar kesalahan kita di ma’afkan sekaligus minta agar kita senantiasa disertakan dalam do’a-do’a makbulnya di bulan Ramadhan ini.
 
Bagaimanapun, sebagai seorang anak pastilah akan lebih banyak khilafnya pada orangtua, meski sekedar menggores tipis pada perasaannya. Dan yang lebih utama, keberkahan do’anya, itulah yang kita harapkan. Jika kita tidak bisa mengunjunginya, bukankah sarana telekomunikasi sekarang bukan lagi kendala?
 
Bagaimana jika orangtua sudah tiada? Kewajiban anak adalah mendo’akannya. Mungkin inilah yang melatarbelakangi kebiasaan ziarah kubur menjelang Ramadhan. Banyak ummat Islam melakukannya sembari berdo’a di dekat kubur orangtuanya.
 
Sebetulnya berdo’a untuk kedua orangtua yang sudah tiada tidak harus datang ke kuburnya. Ini bisa dilakukan di mana saja. Namun dengan ziarah kubur memang terasa lebih kuat dzikrul mautnya (mengingat kematian). Ziarah kubur dianjurkan dengan catatan tidak ada pemujaan pada kubur, tidak dalam rangka minta doa pada yang dikubur (karena justru mereka mengharapkan do’a kita), tidak melakukan sesajen-sesajen dan tindakan-tindakan lain yang bisa menjerumuskan kita pada perbuatan syirik.
 
Berkaitan dengan hubungan suami isri, hendaknya jika ada perselisihan bisa didamaikan dengan harapan bisa mendapatkan berkah Ramadhan. Jika tidak ada perselisihan, alangkah senangnya jika menjadikan Ramadhan sebagai momentum menumbuhsuburkan cinta dan kasih sayang antar keduanya sehingga benar-benar bisa mendapatkan keberkahan Ramadhan berupa sakinah, mawaddah wa rahmah.
 
Lebih jauh lagi, saudara-saudara juga memiliki hak atas kemuliaan Ramadhan ini. Saling mema’afkan dengan saling mengunjungi atau saling menelepon merupakan keutamaan bagi makbulnya segala ibadah Ramadhan kita. Melepas segala ganjalan hati, mengurai segala kesalahan diri.
 
Tak perlu merasa paling benar  jika kita pernah berselisih, karena yang lebih utama adalah yang menyambung tali silaturrahim dan yang tercela adalah yang memutuskannya. Menyambung yang pernah terputus dijanjikan kemuliaan di sisi-Nya. Dan bukankah silaturrahim memang memperpanjang usia dan membukakan banyak pintu rizki-Nya?
 
Sementara tetangga adalah jangkauan 40 rumah mengelilingi rumah kita. Pada mereka kewajiban untuk memelihara silarurrahim, karena kedudukan tetangga sangatlah penting di mata Alloh dan Rosul-Nya.
 
“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. (H.R. Bukhari)
 
Makin baik perlakuan seseorang kepada tetangganya, berarti itu pertanda semakin kuat keimanannya. Sebaliknya, semakin buruk interaksi seseorang dengan tetangganya maka itu merupakan salah satu indikasi kelemahan imannya. Maka tak berlebihan jika pernah dinyatakan bahwa tidaklah beriman seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dengan keberadaannya. 
 
Oleh karena itu, tidaklah bijak jika alasan tembok yang tinggi, waktu yang sempit, jarak yang jauh, menjadikan kita tak peduli pada tetangga. Moment Ramadhan bisa kita jadikan sebagai sarana untuk kembali mengenal dan menjalin silaturrahim dengan tetangga kita.
 
Berkunjung dari rumah ke rumah sekedar bersalaman, saling mendo’akan dan mema’afkan terasa lebih menyenangkan. Bahkan dengan tetangga yang bukan muslim pun hak-hak mereka sama. Tak ada alasan karena perbedaan keyakinan menjadikan sekat dalam bertetangga. Begitulah Rasulullah SAW mengajarkan.
 
dreamstimefree_1495147
 
Sahabat Baltyra di manapun berada …
 
Begitulah Islam mengajarkan kasih sayang, merentang ikatan dari yang terdekat hingga yang terjauh. Memuliakan bagi yang menyambung silaturrahim dan mencela siapapun yang memutuskannya. Banyak moment-moment yang menjadikan silaturrahim sebagai pintu diterimanya amalan, termasuk Ramadhan.
 
Tanpa silaturrahim, ternyata ibadah puasa kita bisa diabaikan oleh Alloh SWT.
Maka, apa pulakah yang menghalangi kita untuk bersegera meminta ma’af? Tentang khilaf yang kita sengaja maupun yang tidak sengaja. Membersihkan potensi dosa, baik yang kentara ataupun tidak. Adakala menyadari kita bisa salah itu lebih mulia dari pada merasa bahwa orang lain yang salah.
 
Wallohu a’lam bish showwab. 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.