Weekend Wife

Rina S – Bogor

Pengalaman saat jadi week end wife, dua tahun lalu.
 
Holding the handMenikah tapi bertemu dan berkumpul dengan suami hanya pada akhir pekan?
Sepertinya  kini bukan hal yang aneh ya. Perubahan jaman memang bukan hanya memunculkan teknologi baru yang makin canggih dan memberi kemudahan dalam nenjalani hidup. Dampak lainnya pola dan gaya hidup. Saya ingat, jauh (kalau gak salah saat masih sekolah) sebelum saya menikah  mama saya kerap bilang, dalam kontek percakapan berbeda, yang intinya jika telah menikah perempuan itu harus ikut dan nurut suami. Dibawa merantau kemanapun ya harus mau. Malah beberapa budaya di daerah tertentu jika suaminya mati harus turut mati (membakar diri) atau memotong salah satu bagian tubuh.
 
Tapi pendapat mama berubah setelah saya menikahi seorang pria yang berlainan kota dan bekerja di kota yang tidak sama dengan kota di mana saya tinggal dan bekerja. Malah mama bersikeras, aku sebaiknya tidak ikut suami sebelum mendapat pekerjaan yang jelas di sana. Dan terkuak kekhawatiran yang selama ini disembunyikannya. Katanya, ia tidak mau aku mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Setelah menikah mama keluar kerja dengan alasan ikut suami (pindah ke lain kota) dan menjadi ibu rumah tangga. Tak lama bapak kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Untuk beberapa waktu ekonomi keluarga hancur dan hanya sedikit yang bisa dilakukan mama karena harus mengurus tiga anak yang masih kecil-kecil.  Mama berandai-andai, kalau saja dulu ia tidak keluar kerja mungkin keadaannya akan lebih baik. Walaupun pada akhirnya kami bisa keluar dari situasi itu tetap saja kenangan buruk itu sepertinya menghantui mama. Katanya, itu juga salah satu menyekolahkan aku tinggi-tinggi, biar bisa mandiri, tidak bergantung pada suami.Akhirnya aku menuruti saran mama, pertimbangannya tentu saja bukan karena takut seperti yang mama alami, tapi karena aku memang ingin dan membutuhkan pekerjaan agar bisa membantu orang tua.
 
Singkat cerita, suamiku setuju kami tinggal terpisah untuk sementara. Jadilah aku tetap di Bandung sementara suamiku di Jakarta dan kami bertemu seminggu sekali. Kadang aku yang ke Jakarta atau sebaliknya. Jika kami sama-sama kelelahan atau mau sedikit hemat, kami bertemu dua minggu sekali. Tapi itu jarang terjadi, mana tahan…he…he… Yang pasti, saya selalu tak sabar untuk segera sampai di akhir pekan ketika saya mengunjungi suami di Jakarta atau dia menemui saya di Bandung. Ada sedikit rasa sakit ketika rindu ini menggebu, mungkin ini katanya orang bahwa cinta tidak bisa dipisahkan dari rasa sakit. Entah itu sakit karena rindu atau rindu yang menjadi benci. Kadang ada rasa sedih dan bersalah setiap kali membayangkan suami saya membuat sarapan dan makan malam sendiri jika dia sudah bosan dan jenuh dengan makanan yang dibelinya di fast food atau warung nasi.
 
Btw, model rumah tangga yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Model rumah tangga yang kata salah seorang temanku lagi trend. Tentu saja aku kaget dengan istilah ‘trend’ yang dia gunakan. Lalu teman  ini menunjuk contoh orang-orang di sekeliling kami entah itu tetangga, teman kuliah, teman kantor atau relasi kami yang menjalankan kehidupan rumah tangganya seperti yang aku jalani. Ehm, saya teringat senior ditempat saya bekerja dulu, yang biasa saya panggil Bu Ida. Sudah menikah selama delapan tahun dan dikaruniai dua anak dan  mengaku masih belum bisa memastikan sampai kapan dia akan bertemu suaminya hanya diakhir pekan. Karena untuk mengatakan selamanya alias sampai pensiun, waktu yang terentang terlalu jauh. Sejujurnya, ia berharap ada keajaiban yang membuatnya bisa berkumpul dalam satu rumah dengan suaminya. Keberatan Bu Ida untuk ikut suami karena statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Ia sudah diangkat menjadi pns saat masih dalam masa penjajakan dengan calon suaminya yang juga teman kuliahnya. Mereka menikah setelah calon suaminya bekerja di Tangerang. Bagaimana pun ia merasa berat jika harus mengorbankan status pnsnya apalagi setelah kehadiran dua orang anak. Terpikir untuk mutasi tapi bagaimana dengan kondisi lingkungan yang belum tentu bisa diterima anak-anaknya dan ia sendiri. Entah itu kondisi cuaca atau kultur sosial. 
 
Lain lagi cerita Ari, teman kerja suami. Merasa tidak ada peningkatan karir dan salary yang significant di perusahaan tempatnya bekerja di Jakarta, ia memutuskan mencoba nasib di sebuah perusahaan oil di Kalimantan. Hal ini otomatis membuatnya meninggalkan istrinya di Jakarta (bekerja di Jakarta) dan harus puas bertemu setiap 2 minggu. Tapi menunggu weekend belum seberapa, ada juga rekan kerja senior saya yang merelakan suaminya bekerja di Amerika dan harus bertemu tiap semester alias perenam bulan. Mungkin ada ratusan atau lebih pasangan yang menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini.
 
Faktor ekonomi tentu bukan segala-galanya ketika seorang perempuan memutuskan tetap bekerja, walaupun faktor ini tidak bisa di abaikan terlebih di jaman yang serba mahal ini termasuk untuk hal urgent seperti pendidikan anak-anak. Motif lain yang mendasari perempuan bekerja mungkin keinginan mengamalkan ilmu yang dimilikinya (seperti profesi dokter atau bidan), membantu membangun masyarakat (pekerja social), membantu keluarga, dll.
Ada juga yang menilai ini terjadi sebagai imbas gaya hidup yang konsumeristis, mengejar rejeki bukan karena tuntutan hidup tapi tuntutan gaya hidup. Karena toh  rejeki Allah swt yang dibagikan pada setiap orang tak bisa diukur dan dihitung dengan logika matematis. Mungkin salah satu dari kita pernah mendengar cerita sukses dari orang yang latar belakang keluarganya ‘pas-pasan’ jika dilihat dari faktor ekonomi. Istrinya hanya seorang ibu rumah tangga tidak berpenghasilan. Suaminya seorang guru sekolah negeri tapi mampu menyekolahkan kedua anaknya sampai perguruan tinggi. Jika di  hitung dengan logika matematika sederhana, keluarga ini tak akan mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi. Itulah kebesaran Allah swt. Percaya atau tidak Dialah sebaik-sebaiknya konsultan keuangan
 
Saya setuju dengan pendapat bahwa rejeki diatur yang di Atas, tapi jika kita punya keahlian kenapa tidak dimanfaatkan dengan maksimal untuk menjemput rejeki. Karena kalau uang di dompet pas-pas an bikin deg-deg an, khawatir dan was-was. Benar gak? Seperti sebuah pepatah, uang bukan segalanya tapi bisa jadi segalanya. Tapi semuanya kembali pada niat. Bekerja untuk menjemput rejeki dan mencukupi kebutuhan (kalau lebih berarti bonus) atau menumpuk rejeki sebanyak-banyaknya? Tentunya hanya hati kecil kita masing-masing yang tahu.
 
 separate couple
 
Kembali ke istilah week end husband/wife, saya tetap keberatan jika model rumah tangga ini dikatakan ‘trend’. Karena untuk bisa bertahan dengan keadaan seperti itu dibutuhkan komitmen, kepercayaan dan pengertian yang lebih besar. Lha wong yang saban hari ketemu dan serumah saja bisa selingkuh apalagi jauhan? Logikanya kan begitu. Pengorbanan lainnya tenaga dan finansial. Saya ingat, waktu bulan-bulan pertama pasca nikah, saya dan suami ketemu tiap minggu. Lama-lama badan terasa rontok dan  tabungan yang makin berkurang. Karena jika sudah bertemu rasanya gak enak kalau tidak pergi jalan-jalan dan keliling kota. Maklum, Jakarta hal kota baru untuk saya, begitupun Bandung untuk suami. 
Dan yang tak kalah penting dari semua itu adalah komunikasi setiap saat walaupun sekedar sms, ‘sedang apa?’. Untungnya saat berperan sebagai week end wife pulsa telpon selular sudah murah, malah sangat murah. Tentu saja tulisan ini  tidak dimuati pesan sponsor, toh sekarang hampir semua operator hp memasang tarif super murah. Komunikasi pada akhirnya bukan sekedar melepas rindu. Dari situ saya menjadi kenal dan tahu banyak karakter dan sifat suami walaupun tidak setiap hari bersama.
 
Di balik duka dan perjuangan (maaf kalau pilihan bahasanya lebay…he…he..) menjadi week end wife, sukanya tentu saja adalah saat akhirnya kami bertemu di akhir pekan dan melepas rindu. Saat itu saya merasa seperti itulah rasanya rindu dan melepas rindu. Tapi setelah kami serumah (tepat usia pernikahan 8 bulan saya keterima kerja di Bogor dan kini usia pernikahan saya genap 3 tahun) ternyata rasa rindu dan melepas rindu terasa kurang gregetnya di banding saat kami harus bertemu seminggu sekali. Hal itu juga ternyata dirasakan suami. Well, ini bukan berarti kami ingin kembali menjadi week end wife atau week end husband tapi pelajarannya, kadang diperlukan jeda – ruang dan atau waktu – untuk menumbuhkan, melanggengkan atau menakar rasa rindu.
 
Salam,
Rina S

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.