Dome of the Rock (‘n Roll)

Iwan Satyanegara Kamah – Indonesia

SERIAL RAMADHAN BALTYRA – HARMONI ISLAM – BARAT

KETURUNAN NABI MUHAMMAD DI EROPA (11)

"Dome of the Rock (‘n Roll )" 

BANYAK kalangan, termasuk Anda yang membaca tulisan ini merasa seperti garuk-garuk kepala, membayangkan hubungan antara keturunan Nabi Muhammad dengan bangsawan Eropa. Bingung mungkin. Kok, bisa-bisanya keturunan Nabi Muhammad sampai kesasar ke Eropa? Emangnya, kekuasaan Islam sampai ke London? Atau bercokol ke Kopenhagen ataupun beribukota di Berlin atau Moskow pernah menjadi pusat Islam? Oh… tidak sejauh itu.

 
Kalau membayangkan raja-raja di kawasan Timur Tengah, masih punya hubungan darah dengan Nabi Muhammad, mungkin bisa dipahami meski hampir sebagian besar dari mereka bukan keturunan Nabi. Lha ini, bisa-bisanya menyebut Ratu Elizabeth II dari Inggris punya hubungan darah dengan Nabi Muhammad?
 
Kekuasaan Islam di benua Eropa hanya mentok sampai seputar Spanyol dan Portugal, yang diperintah oleh dinasti Ummayah, yaitu para sepupu jauh Nabi Muhammad.  Pernah sih, mereka mau coba-coba masuk lebih dalam lagi sampai ke utara Spanyol, yaitu Prancis, tapi gagal karena dihalau oleh Raja Charles Martel di kota Poitier, Prancis selatan tahun 732. Akhirnya, dinasti Ummayah hanya bercokol di semanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) dari tahun 711, dihitung ketika Panglima militer Ummayah (ketika masih berkuasa di Siria), Thariq bin Ziyad menaklukkan Gibraltar. Kekuasaan Islam berakhir hingga tahun 1492 saat Raja Ferdinand dan Ratu Isabella masuk ke kota Alhambra, sekaligus mengakhiri kekuasaan Islam di sana selama 800 tahun!
 
Setelah kekuasaan Islam yang dibawa oleh Ummayah hancur di Spanyol, benua Eropa relatif bersih dari pengaruh kekuatan Islam. Keadaan itu tidak berlangsung lama. Sisi timur Eropa, mulai ketakutan dengan munculnya kekuatan Islam yang baru dan menakutkan, yaitu Kerajaan Ottoman dari Turki. Kerajaan ini berpusat di kota Istanbul, yang merupakan sebuah dinasti turun menurun selama 700 tahun berkuasa. Mereka mendesak kekuatan Eropa dan menguasainya selama berabad-abad separuh benua itu dengan kenangan manis dan pedih.
 
Makanya, banyak sekali bekas pengaruh Islam di daratan Eropa belahan timur, terutama di kawasan Eropa Timur (Slavia).
 
Turki Ottoman sangat bertanggung jawab atas melekatnya pengaruh Islam di Eropa. Jangan heran suka ada orang bule Eropa beragama Islam (sejak lahir dan turun menurun), dan itu pasti dia orang Bosnia (dulunya disebut orang Yugoslavia). Kawasan Balkan (Yugoslavia dan sekitarnya) adalah daerah kekuasaan Turki berabad-abad.
 
Orang Serbia memiliki kenangan pahit atas kekuasaan Turki yang mengoyak rasa nasionalisme mereka. Makanya mereka membenci orang-orang Bosnia yang beragama Islam dan membantainya dengan keji di tahun 1990an. Bahkan negara Albania yang pada tahun 1969 sewaktu masih dikuasai komunis, pernah mendeklarasikan sebagai “negara ateis pertama di dunia”.
 
Ternyata penduduknya 90 persen beragama Islam. Kok bisa? Ya dari pengaruh Turki selama berabad-abad di sana. Kini Albania (tetangga negara-negara pecahan Yugoslavia) menjadi negara anggota Organisasi Konperensi Islam (OKI) dan satu-satunya negara Eropa yang berpenduduk Islam terbesar dalam persentasi dan juga negeri paling terkebelakang dalam segala hal di Eropa.
 
Selama Turki Ottoman berkuasa (dalam bahasa Arab atau Turki, namanya Usmani diambil dari nama pendiri dinasti ini, Usman. Namun lidah Eropa yang cadel menyebutnya Ottoman), diabadikan oleh komponis Wolfgang Mozart dengan karyanya “Rondo alla turca”. Turca disini artinya Turki. Bahkan cerita-cerita seperti Baron von Munchausen, menceritakan kekhalifahan Turki Ottoman.
 
Kehadiran Islam di Eropa yang dibawa oleh Turki ini selama berabad-abad, sangat tidak disukai dan ditakuti oleh sebagian orang Eropa. Mereka berusaha menghalaunya dengan segala kekuatan, hingga akhirnya berhasil. Negara-negara yang dijajah Turki Ottoman seperti Austria, ingin sekali melumatkan kekuatan Turki. Mereka membuat simbol kebencian dengan cara ingin memakannya. Dibuatlah roti mentega (a buttery flaky bread) berbentuk bulan sabit (crescent) yang menjadi simbol kejayaan Turki Ottoman. Roti itu mereka namakan ‘croissant’. Jadi kalau mereka memakan roti croissant, mereka berkhayal melumatkan habis-habisan kekuatan Islam. “’Ta makan kau Islam, biar lumat”, kata orang Eropa. Hmmm…lezaaat!
 
Tetapi sepak terjang kekuasaan Islam di Eropa yang dibawa oleh Ottoman Empires ini, tidak dibahas disini, karena dinasti in tidak mempunyai hubungan darah dengan Nabi Muhammad. Mungkin saja ada keturunan Nabi Muhammad yang kawin dengan anggota dinasti ini. Ini sangat mungkin sekali untuk rentang waktu 700 tahun kekuasaan dinasti tersebut.
 
Dengan demikian, masuknya para keturunan Nabi Muhammad ke Eropa, bisa dijelaskan melalui kekuasaan dinasti Ummayah yang berkuasa selama 800 tahun di Spanyol dan Portugal. Meski sudah diceritakan sebelumnya, bahwa pada awal berdirinya dinasti Ummayah, mereka sangat bermusuhan dengan para keturunan Nabi Muhammad. Menurut Muawiyah I, pendiri dinasti Ummayah ini, kekhalifahan atau kekuasaan Islam setelah Nabi Muhammad yang diteruskan oleh Abu Bakar, Umar bin Chattab, Usman bin Affan dan Ali bin Thalib (menantu Nabi), harus dilanjutkan oleh dia sendiri dan keturunannya. Dan dia punya kemampuan untuk itu.
 
Nah, kehebatan Muawiyah I (sepupu ketiga, satu kali keturunan dari Nabi Muhammad) yang mengambil tampuk kepemimpinan kekuasaan Islam dari Ali bin Thalib, berjalan langgeng dengan penuh darah dan penderitaan yang dirasakan oleh pengikut Ali bin Abi Thalib. Menurut pengikut Ali, atau keturunan Nabi Muhammad, setelah Ali wafat dibunuh sebagai khalifah, kekuasaannya harus berlanjut ke anak, cucu dan turunannya, yang juga turunan Nabi Muhammad. Ali menikahi Fatimah, putri Nabi Muhammad dan satu-satu anak Nabi yang hidup dan menurunkan keturunannya sampai detik ini.
 
“Biarin aja Muawiyah yang culas mengambil tongkat estafet kekhalifahan. Kita bikin sendiri aja”, begitu kira-kira reaksi para keturunan Nabi Muhammad atas kecurangan Muawiyah. Menurut pemikiran mereka, yang berhak meneruskan kekhalifahan adalah hanya keturunan atau keluarga Nabi Muhammad. Mereka tetap meneruskan sendiri tongkat estafet kekhalifahan, meski Muawiyah I sudah menjadi khalifah meneruskan Ali bin Abi Thalib. Orang-orang atau kaum yang hanya mengakui tongkat kekhalifahan atau kekuasaan Islam harus dipegang oleh keturunan langsung Nabi Muhammad ini, disebut kelompok Syiah.
 
Pada tulisan serial mendatang akan diceritakan, bahwa kekhalifahan Islam berdasarkan keturunan Nabi Muhammad masih berlangsung hingga detik ini. Mereka menganggap hanya mereka yang punya validity (keabsahan) memegang tampuk pimpinan umat Islam. Meskipun mereka tidak lagi punya kekuasaan politik atau militer selayaknya sebuah negara atau kekhalifahan. Mereka itu disebut kaum Syiah Ismailiyah, yang hanya memerintah berdasarkan spiritual saja. Anehnya, kekhalifahan ini justru  bermarkas di Eropa! Serta satu-satunya bangsawan Eropa yang beragama Islam.
 
Nah, Muawiyah yang bergelar Khalifah Muawiyah I tidak mau ambil pusing dengan urusan internal para keturunan Nabi Muhammad. “Biarkan mereka membuat dinasti sendiri”, begitu pendirian Muawiyah I. “Yang penting kekuasaan Islam, sekarang ada di tanganku dan keturunanku”. Maka berjayalah kekhalifahan (Caliphate) dari Muawiyah I dengan mendirikan dinasti Ummayah. Kekuasaannya makin gemilang dan sangat represif kepada keturunan Nabi Muhammad.  Namun kekuasaan dinasti ini hanya berlangsung dari tahun 661 hingga 750. Selama itu hanya ada 13 orang yang menjadi khalifah dalam rentang waktu lebih 90 tahun itu. Mereka adalah anak, cucu, sepupu, keponakan dari Muawiyah I.
 
Muawiyah I adalah sepupu ketiga satu kali keturunan dari Nabi Muhammad (third cousin once removed). Dia juga keponakan dari Khalifah Usman bin Affan (menantu Nabi). Lalu kenapa cuma 90 tahun dinasti Ummayah berkuasa? Karena pada tahun 750 terjadi puncak perlawanan para penentang dan oposisi kekuasaan Ummayah. Terutama dari musuh bebuyutannya, yaitu kelompok-kelompok orang saleh yang menjadi keturunan Nabi Muhammad di Madinah, serta orang-orang Persia yang kecewa dan sakit hati.
 
Mereka berhasil menumbangkan kekuasaan Ummayah dan mendudukan keturunan Abbas (paman Nabi) menjadi penguasa baru di sebuah negeri yang maha luas, dari India barat hingga Prancis selatan. Ibukota pun mereka pindahkan dari Damaskus ke kota Baghdad (Irak). Sejak itu berdirilah negara yang bernama Abbasiyah yang diperintah oleh para keturunan paman Nabi Muhammad. Lalu kemana keturunan Ummayah? Dikejar-kejar, dibantai atau dihabisi.
 
Ada seorang keturunan dari dinasti Ummayah, yaitu Abdurrahman, yang berhasil lolos dari kejaran para klan Abbasiyah. Dia adalah putra Khalifah Hakam II, yaitu khalifah terakhir dari dinasti Ummayah di Siria. Abdurahman ini melarikan ke Spanyol, sebuah daerah yang sudah ditaklukan dan dikuasai oleh Ummayah. Kok dinasti Abbasiyah diam saja? Karena daerah Spanyol terlalu jauh untuk dikendalikan dengan baik. Nah, si Abdurrahman ini mendirikan ke-emir-an (Emirate) di Spanyol dan mendapat kemerdekaan penuh dari Abbasiyah. Dia pun menuruskan pemerintahan dinasti Ummayah yang dihancurkan oleh dinasti Abbasiyah di Siria. Lambat laun semakin besar kekuasaannya dan mencapai puncaknya ketika dinasti Ummayah beribukota di Cordova.
 
Dalam masa pemerintahan dinasti Ummayah ini, apalagi setelah dinasti ini sirna di Spanyol tahun 1031, banyak berkuasa negeri-negeri kecil yang diperintah oleh para keturunan Nabi Muhammad. Kok bisa sih? Para keturunan Nabi itu berasal dari Afrika Utara. Setelah kejatuhan dinasti Ummayah di Spanyol, banyak daerah-daerah kecil diperintah oleh dinasti-dinasti tertentu (pretty kingdoms), atau disebut “reyes de taifa” atau  kerajaan-kerajaan kecil. Diantara dinasti-dinasti kecil itu ada dinasti yang memang keturunan langsung Nabi Muhammad. Nah, dari sinilah bisa dijelaskan bagaimana para keturuan Nabi Muhammad bisa mengalir darahnya pada bangsawan Eropa.
 
Membicarakan masalah pertalian darah seperti merangkai sebuah benang kusut. Sebagai contoh, lihatlah Barack Hussein Obama. Dia presiden AS, kelahiran Hawaii, tapi berkarya di Ilinois. Bapaknya orang Kenya, bapak tirinya orang Jawa. Dia punya masa kecil di Jakarta. Sepupunya ada di Lampung atau di Belanda. Iparnya warga Kanada keturuan Cina asal Malaysia. Nah… itu baru seorang Barack Obama yang rentang waktunya hanya 40 tahunan. Bagaimana dengan Nabi Muhammad yang sudah berusia 1500 tahun? Pikir sendiri carut marutnya dalam hal pertalian darah.
 
Setiap individu membawa darah dari nenek moyangnya, lalu bercampur melalui perkawinan dengan orang yang berlainan darah dan berjauhan tempat. Seperti carut marut dengan hangar bingar dalam sebuah ruangan. Saya menyebutnya seperti Dome of the Rock ‘n Roll. Plesetan dari Dome of the Rock, sebuah bangunan megah yang menjadi icon kota suci tiga agama besar di Jerusalem (Al Quds, kata orang Arab, yang berarti suci). Di dalamnya hanya ada bebatuan, bukan mesjid atau Masjid al Aqsa yang sering disalah aritkan oleh banyak orang. Dome of the Rock dibangun oleh Khalifah Ummayah Umar bin Abdul Aziz, di sebuah lokasi yang dipercaya sebagai tempat Nabi Muhammad menuju ke langit. Orang Yahudi menyebut bekas Kuil Sulaiman atau di atas Bukit Muria.
 
menara kudus 1
 
Di tanah Jawa, kemegahan Dome of the Rock dan kesucian kota Jerusalem (Al Quds), diabadikan dengan baik oleh para penyebar agama Islam. Sunan Kudus begitu tergila-gila dengan kota Jerusalem, sehingga tempat dia bercokol lama di namakan Kudus, yang berarti suci dalam bahasa Arab, Al Quds. Lalu gunung tempat dia dimakamkan pun dinamakan Gunung Muria, yang diambil dari nama bukit Muria, lokasi Dome of the Rock. Kudus kini menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang namanya berasal dari bahasa Arab. (bersambung) 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.