Angela Bennet Wannabe

Alexa – Jakarta

Membaca tulisan Lida tentang Teman-Teman Maya jadi tertarik mengintrospeksi diri sendiri. Awalnya sih aku bukan termasuk orang yang tertarik untuk berteman via dunia maya, bahkan sampai detik ini aku tidak punya account di Facebook. Memang dari dulu punya alamat email tapi itu lebih merupakan kebutuhan untuk berkomunikasi dengan cepat dengan orang-orang yang sudah dikenal.

Sekali-kalinya bikin blog di situs pertemananpun memakai nama pembantuku yang bukan gue banget geetu…isinya curhat abis mengenai situasiku yang waktu itu rasanya punya masalah paling berat se dunia. Maunya menjadikan blog itu sebagai diary on line lho koq malah banyak yang menyapa – akhirnya blog itu aku tinggalin tapi bingung juga sampai sekarang masih banyak yang main ke blog itu padahal enggak pernah diupdate.

Kenapa ya waktu itu tidak tertarik buat cari teman di dunia maya?

Hem mungkin karena di dunia nyata temanku banyak banget. Bekerja di suatu bank dengan karyawan 8.000 orang dimana posisiku membutuhkan hubungan antar bagian/departemen yang intense. Di sini kita harus pandai-pandai bergaul sebab biarpun sudah ada Standard Operation Procedure – tetap saja yang mengurus semuanya adalah manusia dan manusianya itu harus mengurus masalah yang sama dari semua cabang di semua wilayah paling tidak se Jakarta. Sewaktu di Regional Jakarta Selatan di mana aku memulai karir rasanya semua sudah seperti keluarga – ngurus apa-apa gampang.

Nah waktu pindah ke Regional Jakarta Pusat yang juga merupakan Head Office itu aku harus kembali ke titik nol karena tidak ada yang kukenal – pas-pasan dipeganginnya cabang sampah pula. Sebenarnya waktu itu sepertinya skenarionya adalah siap mengkambing hitamkan pendatang-pendatang baru (alias ngambil dari region lain) disuruh benahin cabang sampah dalam satu tahun jika gagal cabang ditutup dan izin dikembalikan ke BI. Cabang itu sudah lima tahun berjalan, neraca masih merah padahal yang in-charge sudah ganti tiga orang yang di tempat lain merupakan bintang.

Selalu ada hikmah dibalik kesulitan bukan? Ternyata dengan posisiku itu tiap orang menaruh belas kasih..sesama teman satu posisi tidak ada yang menganggap aku saingan sementara ke teman-teman lain di departemen terkait bersikap siap mendukung dengan pol-polan. Padahal departemen head-departemen headnya itu terkenal jutek dan strict lho- julukannya aja dah serem-serem kalau enggak kepala Lapas-lah, kepala KGB lah ada pula Mujahidin ( muka jahat hati dingin ) maupun Nenek Lampir.

Dengan dukungan merekalah akhirnya aku bisa membuat Cabang yang menjadi tanggunganku meraup untung yang signifikan sementara cabang-cabang lain mengalami zero growth karena waktu itu situasi perekonomian Indonesia makin memburuk.

Dan bagaimanakah aku bisa menaklukkan hati para departemen head itu? Sederhana banget-aku cukup memperkenalkan diri dengan tampang memelas (bibir maju dua centi mata dikedip-kedip persis seperti bocah mau mewek…hikz) seraya mengingatkan mereka bahwa cabang yang kuhandle itu sudah terkenal jeleknya jadi aku membutuhkan segenap dukungan dari mereka. Dan terus terang dukungan dalam bentuk real itu harus tiap hari ada – nah tiap hari pula aku menitipkan makanan kecil bagi mereka: cuman sekotak combro, getuk betawi yang legit dan unik (getuknya parut dan pewarnanya gula jawa – rasanya tidak ada di pasaran umum) dagangan penduduk sekitar.

Dan luluhlah hati si Kepala Lapas, Kepala KGB, Mujahidin atau Nenek Lampir dukungan 200% diberikan – aku sendiri sempat terkenal dengan julukan si Ratu Combro: persahabatanku makin melebar dan bahkan mendalam.

Begitu kinerja cabang itu bisa diangkat dan bahkan memenangkan beberapa penghargaan maka makin gampang aku minta macam-macam ke para pimpinan. Yang terutama kuminta saat itu adalah kenaikan pangkat, kesejahteraan dan status anak buah – begitu permintaanku dikabulkan lha semua satpam, supir, CS dan teller kok jadi kenal aku. Sampai sekarang tiap aku masuk ke cabang manapun dari bank itu selalu ada yang mengenaliku.

Lex n Bocah

Di luar urusan berteman di tempat kerja – teman-temanku adalah dari dunia lama. Sampai sekarang aku masih bersahabat dengan teman SD, SMP, SMA dan kuliah; rasanya benar-benar kami tumbuh dalam suka dan duka bersama. Aku bahkan telah menuliskan mengenai ini dalam rangkaian tulisan mengenai persahabatan yang melebar dan mendalam.

Begitu banyak temanku di dunia nyata belum lagi ngurusin keluarga di rumah sampai kadang-kadang aku merasa butuh waktu sendiri. Jalan-jalan sendiri di mall – ngopi-ngopi sambil baca majalah di kafe sendirian merupakan kemewahan bagiku. Lha lagi jegrek duduk – ditegur eks teman kuliah trus kita ngobrol sampe si pelayan ngangkat kursi-kursi ke atas meja karena tuh kafe mau tutup termasuk sering lho.

the netMakanya aku langsung takjub banget lihat film The Net dengan tokohnya Angela Bennet. Si tokoh hidup sebagai programmer yang bekerja di rumah dan tidak punya pergaulan lain. Liku-liku hidupnya yang ternyata mengerikan: bagiku seru banget…inilah yang pada akhirnya mendasariku melirik dunia IT bahkan menularkannya pada anakku.

Aku baru memasuki pergaulan di dunia maya suatu hari di bulan Desember 2008 saat suatu hari membaca Koki di Kompas.com. Waktu itu ada masalah di kantor (sudah keluar dari bank) dan rasanya ingin meneriakkan pada dunia – kecurangan dan ketidakadilan yang terjadi. Kirim tulisan kesitu dan besoknya sudah ditayangkan – dan ngerasa lega banget dalam waktu singkat sudah hit 5000 pembaca berarti ada 5000 orang yang sudah tahu masalahku.

Di situlah seorang JC dan seorang Lindacheang menyapaku dan sampai sekarang selalu setia menyapa tulisanku.

Disitu pula aku bisa puas membuka lembar-lembar hidupku yang tidak putih, yang berwarna-warni bahkan yang hitam. En thank God biarpun aib yang kusodorkan tidak pernah aku menerima komen negatif.

Akhirnya terjadilah pembrangusan Koki oleh sang Induk hingga kita terdampar pada suatu gubuk darurat. Dan kembali ada hikmah menyapa,bukankah saat itu kita malah menjadi makin dekat bahkan aku jadi saling bertegur sapa via imel pribadi dengan beberapa individu.

Berawal dari friksi di antara kami tapi aku langsung berinsiatif membereskan masalah yang ada dan di situlah aku mulai merasakan dalamnya (depth) berhubungan secara dunia maya. Lucu juga mas-mas yang tinggal di belahan dunia lain dan selama ini mungkin dikenal dingin-dingin aja ternyata langsung cerita secara daleem banget. Hem ternyata lewat mesin komputer dan teknologi informasi mampu mendekatkan jarak dan hati ya.

Pergaulan makin diperluas dan makin diperdalam hingga bahkan bisa lho dengan beberapa teman mayaku itu kami menangis bersama; buatku ini penting karena kalau tertawa kita bisa kapan saja dan dengan siapa saja nah kalau nangis bersama berarti harus seperasaan dan sepikiran. Yang anehnya baru-baru ini bukan di rumah ini aku merasakan suatu sentuhan perubahan pada tulisanku padahal itu sudah tayang beberapa hari. Seperti biasa aku sering menulis updating situasiku pada kolom komen – maka kutuliskan perasaanku akan perubahan itu.

Setelah itu aku browsing ke tempat-tempat lain dan saat aku balik ke tulisanku itu tiba-tiba saja airmataku sudah berlinang-linang. Aku sebenarnya heran sebab aku tidak menulis sesuatu yang emosional di sana. Aku tuliskan lagi mengenai linangan air mataku dan pergi membaca tulisan baru – ternyata dari orang itu yang memang sedang menangis. Akh aku jadi bergidik – aku dan dia ternyata menangis bersama: melalui gelombang ultrasonik yang kasat mata ternyata pikiran dan perasaan kami menyatu.

Ada juga teman mayaku yang akrab banget – selain nangis dan ketawa bersama, kita juga pernah diem-dieman berapa hari gitu. Bahkan dia pernah pingsan gara-gara tek tok kami –tapi enggak tau juga pingsan beneran apa enggak. Habis di imel dia nulis dengan huruf kecil banget ..”masih semafut”, lha emang bisa apa orang pingsan nulis imel (kqkqkq).

Begitulah ternyata pergaulan dari dunia maya juga bisa sangat dalam dan sama sekali beda dengan hidup dari Angela Bennet yang kering. Tapi sampai saat ini aku masih menyenangi prinsip yang aku anut saat ini yakni cukup jumpa dengan teman dunia maya di dunia maya. Aku percaya walaupun kita tak pernah bersua ujud tapi hati kita menyatu.

Mudah-mudahan ini bisa jadi jawab bagi ajakan-ajakan Kopdar teman-teman; mungkin suatu saat aku merubah pendirian…who knows. Yang jelas saat ini aku masih ingin seperti Harry Lukman bilang : “Berjalan dengan bebas di depan hidungmu tanpa kau kenali”

Salam…
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.