Pangeran Charles Jadi Juru Kunci Kuburan

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

SERIAL RAMADHAN BALTYRA – HARMONI ISLAM – BARAT

KETURUNAN NABI MOHAMMAD DI EROPA (14)

Pangeran Charles jadi juru kunci kuburan 

TIDAK banyak orang yang bisa memiliki cara berpikir jernih dan jujur tentang hubungan Islam dan barat. Dalam dunia Islam dan barat, orang-orang yang berpikir sejuk dan obyektif melihat perseteruan antara Islam dan barat sangat langka. “Barang mahal!”, kata sebagian orang.  Kebanyakan punya cara berpikir yang sangat sederhana, bahkan kelewat sederhana. Bila ingin menyebutnya, mereka berpandangan hitam putih dalam melihat hubungan kedua peradaban tersebut. Tidak ada wilayah abu-abu bagi mereka.
 
Di dunia barat, ada seorang tokoh yang punya cara pandang positif terhadap Islam. Bahkan cara berpikirnya seperti seorang cendekiawan Islam, seperti dia buktikan ketika datang ke Indonesia beberapa hari menjelang usianya ke 60 bulan November 2008.
 
Orang ini memang memiliki intelektualitas tinggi untuk menilai segala sesuatu yang berada di luar dunianya secara jernih. Dia kini sedang menanti jabatan paling terhormat dan terpandang dalam peradaban dunia barat, Raja Inggris Raya.
 
young Prince Charles
Ketika berumur 4 tahun dia sudah berhak atas sebuah tahta yang berusia lebih 1000 tahun. Di usianya yang ke 61 tahun ini, dia akan termasuk menjadi raja Inggris tertua dalam sejarah, meski hal itu belum terwujud.  Dia adalah Pangeran Charles, putra mahkota Kerajaan Inggris.
 
Hubungan Islam dan barat telah diwarnai dengan indah oleh komentar, pendapat, pidato dan pemikiran Pangeran Charles.
 
“Di negeri muslim, umat kristiani dilindungi dengan baik dan dihargai hak-haknya”, katanya memuji negeri Yordania sewaktu berbicara pada misa mengenang wafat Raja Hussein di Katedral St. Paul, London bulan Juli 1999. Pangeran Charles juga ikut merayakan 50 Tahun Aga Khan IV menjadi imam Syiah Islamiliyah (golongan dalam Islam Syiah).
 
Dia meresmikan dan mendukung pembukaan Muslim Centre di Mesjid East London dan merayakan 800 tahun filsuf Jamaluddin Rumi pada November 2007. Dan yang lebih monumental ketika dia berbicara indahnya hubungan Islam dan Barat di Sheldonian Theatre, Oxford pada Oktober 1993.
 
prince_charles
Pada pidato itu dia menceritakan bagaimana dia bertemu serta memohon kepada Jenderal Norman Schwarzskopf pada bulan November 1990 di Riyadh, Saudi Arabia. Tujuannya meminta sang jenderal untuk tidak merusak tempat-tempat suci kaum Syiah di Irak, bila serangan terhadap Irak dilakukan untuk mengusir negeri itu dari pendudukan atas negara tetangganya, Kuwait. Schwarzskopf adalah panglima tertinggi dalam operasi militer untuk penyerangan itu.
 
Tempat-tempat suci golongan Syiah sangat banyak di Irak, karena sebagian masyarakatnya terdiri dari golongan Syiah. Di negeri 1001 malam itu banyak sekali makam para Imam Dua Belas yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad. Dari 12 imam yang dipercaya kaum Syiah sebagai orang suci, khalifah atau imam, 6 makam di antara mereka memang berada di Irak.
 
Makam Imam pertama Ali bin Abi Thalib (menantu Nabi Muhammad) ada di Najaf. Lalu makam Imam ketiga Hussein (cucu Nabi yang dipenggal oleh khalifah dinasti Ummayah) di Kerbala. Juga ada makam imam ketujuh Musa Kasim (keturunan ke 7 Nabi) dan cucunya yaitu Imam ke sembilan Muhammad Jawad (keturunan ke 9 Nabi), keduanya di kota Kazimiyyah, Irak. Serta makam Imam kesepuluh Ali Naqi (keturunan ke 10 Nabi) dan putranya yaitu Imam ke sebelas Hasan Asykari (keturunan ke 11 Nabi), yang dua-duanya dimakamkan di Samarra, Irak.
 
Semua makam-makam tersebut adalah makam para keturunan Nabi Muhammad, sekaligus imam suci golongan Syiah. Itulah tempat suci yang ingin dijaga oleh Pangeran Charles, agar bila terjadi perang hancur-hancuran antara sekutu yang dipimpin Amerika Serikat melawan Irak, tidak hancur terkena bom yang destruktif. Permintaan Charles dikabulkan dan dikerjakan dengan baik oleh Schwarzkopf.
 
Sang pangeran memang punya pengertian dan pemahaman yang cantik untuk sebuah pengertian yang mewakili dunia barat terhadap Islam. Dia datang kedua kalinya ke Indonesia bulan November 2008 (pertama tahun 1989) untuk sebuah kunjungan memajukan lingkungan hidup.
 
Namun kedatangannya lebih dibanyak disorot sebagai harmonisasi antara barat dan Islam.
 
Kenapa?
 
Karena Pangeran Charles sangat terkenal pemikirannya dalam hal ini. Dia banyak memberi pernyataan tentang hal itu daripada soal lingkungan hidup. Dia pun datang mengunjungi Mesjid Istiqlal, yang menjadikan dia sebagai pemimpin barat kedua yang datang ke tempat itu setelah Presiden AS Bill Clinton tahun 1994.
 
Kelak bila ia jadi Raja Inggris, dia akan memakai gelar resmi, "Charles the Third, by
the Grace of God, of the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland and of Her other Realms and Territories Queen, Head of the Commonwealth, Defender of the Faith".
 
Di tanah Jawa, gelar ini mirip seperti gelar raja Mataram Islam seperti Sultan Jogjakarta sekarang (juga Susuhunan Surakarta hanya diganti namanya saja), yaitu Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Dasa”.
 
Jadi, baik raja-raja Eropa maupun raja-raja di tanah Jawa, harus punya gelar sebagai “pelindung agama”.
 
prince-charles
 
Di kerajaan Mataram Islam, gelarnya ‘Sayidin Panatagama Khalifatullah’. Kelak ketika Pangeran Charles menjadi Raja Charles III, dia akan mendapat gelar resmi sebagai pengayom kepercayaan, ‘Defender of the Faith’. Maksudnya pelindung agama dan sekaligus (ex officio) kepala geraja Anglikan, gereja resmi di Inggris.
 
Nah, masalahnya apakah Charles akan menyandang gelar ‘Defender of the Faith’? Karena agama yang dianut rakyat Inggris bukan hanya Anglikan seperti waktu-waktu dulu, tetapi banyak agama dan kepercayaan. Apalagi agama nomor dua di kerajaan Inggris adalah Islam. (bersambung)

 

16 Comments to "Pangeran Charles Jadi Juru Kunci Kuburan"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 December, 2012 at 20:35

    Selamat Jalan Jenderal Norman Schwarzskopf. Jenderal bukan pahlawan kamindan tidak berjasa bagi Indonesia. Tetapi setidaknya sudah berbuat baik mengusir monster Saddam Hussein dan tidak merusak makam-makan suci Islam dan tempat ibadah. Justru si Saddam yang merusak.

    Norman bukan pahlawan Indonesia. Tapi dia jenderal yang baik.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.