Menanti Fajar Menyingsing

Syanti – Sri Lanka

“……The whole problem here is not between the Tamil people and the Sinhala people or Muslim people. They are still live very much in harmony and don’t forget a very large number of Tamil people live in the Western Province and the Central Province and elsewhere, they get on perfectly well with their brothers and sisters of other communities. This is not people’s problem at all. It’s not civil war……..”

LTTE mengklaim bagian utara dan timur Sri Lanka sebagai tanah air mereka. LTTE menuntut sepertiga bagian dari negara Sri Lanka untuk suku Tamil yang populasinya kurang dari 20% penduduk Sri Lanka.

LTTE mengusir suku Sinhala dan Muslim dari daerah yang berhasil mereka rebut dari pemerintah Sri Lanka dengan cara kekerasan. Apabila mereka berhasil mendirikan negara sendiri, LTTE mempunyai idea untuk memindahkan seluruh suku Tamil ke daerah utara dan timur Sri Lanka.

Untuk merealisasi cita-citanya tersebut, LTTE melakukan segala cara dalam mencari dana untuk berperang melawan pemerintah Sri Lanka. LTTE melakukan tindakan kriminil dengan menyeludupkan obat-obat terlarang seperti heroin, pemalsuan credit card dan sebagainya. Suku Tamil baik yang berada di Sri Lanka maupun luar negri diharuskan membantu mereka dengan memberikan sumbangan baik secara sukarela maupun dengan paksaan.

Suku Tamil yang berada di luar negeri bila menolak untuk membantu LTTE, keselamatan keluarga mereka yang berada di Sri Lanka akan mendapat banyak kesulitan. Demikian juga suku Tamil yang berada di Sri Lanka mereka diharuskan menyumbangkan harta mereka, selain itu banyak anak-anak mereka yang masih di bawah umur,diambil secara paksa bahkan diculik untuk bergabung dengan LTTE. Apabila orangtuanya menolak LTTE dengan tidak segan-segan membunuh mereka. LTTE mempunyai banyak Child soldiers yang banyak dikecam oleh dunia international

Suku Tamil, terutama yang berdomisili di daerah utara dan timur Sri Lanka, pada pertamanya mereka mendukung LTTE, yang menjanjikan sebuah negara yang merdeka dengan janji kehidupan yang lebih baik. Tetapi pada kenyataannya setelah mereka menunggu lebih dari 20 tahun apa yang dijanjikan tidak pernah menjadi kenyataan, semua hanya bagaikan “Fatamorgana”.

Mereka harus hidup dengan keadaan tidak menentu, segala tindak tanduk mereka selalui dicurigai oleh pemerintah Sri Lanka. Begitu banyak pengorbanan yang harus mereka berikan, sementara keluarga para pemimpin LTTE hidup dalam kecukupan bahkan luxury. Sebagai contoh anak-anak dari Velupilai Prabhakaran bisa mengecap pendidikan di luar negri. Begitu juga mereka yang berada d luar negri sebagai perwakilan LTTE (untuk mengumpulkan dana dan menyeludupkan senjata ke Sri Lanka) mereka hidup dalam kemewahan.

Sementara itu pemerintah Sri Lanka berusaha sekuat tenaga, untuk menciptakan kedamaian di negerinya. Berbagai usaha ditempuh untuk berdamai dengan LTTE.

-Juli 1985, adalah peace talk yang pertama antara LTTE dan pemerintah Sri Lanka.
Dimana dalam pertemuan ini LTTE menuntut untuk mendirikan negara terpisah di bagian utara dan timur Sri Lanka. Permintaan tersebut dengan tegas ditolak oleh pemerintah Sri Lanka.
Pertemuan ini tidak menghasilkan perdamaian di Sri Lanka.

-Juli 1987. Perjanjian kerja sama antara pemerintah Sri Lanka dan India untuk menciptakan perdamaian dengan LTTE. Pemerintah India mengirimkan tentaranya untuk melucuti senjata LTTE, yang notabene mendapat latihan militer di India. Tetapi ternyata usaha inipun gagal, tentara India ditarik dari Sri Lanka pada th 1990. Dan pada bulan Mei 1991 Rajiv Gandhi mati terbunuh oleh LTTE yang mengirimkan wanita suide bomb pada saat Rajiv Gandhi mengadakan kampanye di daerah Tamil Nadu.

-April 1989 – June 1990. Pemerintah Sri Lanka mengadakan pembicaraan langsung dengan LTTE, untuk mencari penyelesaian damai dengan LTTE.

-February 1990, President Premadasa yang sedang berkuasa pada saat itu, berusaha mengadakan pembicaraan dengan LTTE untuk menciptakan perdamaian . Tetapi pembicaraan inipun gagal, dikarenakan pada pertemuan tersebut kedua belah pihak mempersejatakan diri.
President Premadasa ini pun mati terbunuh oleh bomb bunuh diri LTTE pada tgal 1 Mei 1993.

-Oktober 1994. President Chandrika Bandainaike Kumarutunga, yang baru berkuasa mengadakan peace talk dengan LTTE. Pembicaraan damai inipun mengalami kegagalan tampa mengasilkan apa-apa. Kegagalan ini dilanjutkan dengan perang antara LTTE dan tentara pemerintah Sri Lanka, dimana pemerintah Sri Lanka berhasil membebaskan kota Jaffna yang merupakan pusat LTTE. Hal tersebut membuat perang terus berlangsung dibagian utara dan timur Sri Lanka hingga th 2001.

-Desember 2001
, kedua belah pihak mengadakan perjanjian damai . Di mana pada waktu itu diadakan pemilihan umum di Sri Lanka yang disusul dengan pergantian pemerintahan.

-Februari 2002, dicapai Cease Fire Agreement yang diperantarai oleh pemerintah Norwegia sebagai mediator. Tetapi selama masa gencatan senjata ini., banyak terjadi pelanggaran dari kedua belah pihak terutama oleh LTTE dimana LTTE banyak mengadakan serangan dan bomb bunuh diri….selama masa gencatan senjata ini banyak penduduk sipil maupun tokoh politik yang dibunuh oleh LTTE.

-Januari 2008. Perjanjian gencatan senjata atau Cease Fire Agreement diakhiri oleh pemerintah Sri Lanka.

Pemerintah Sri Lanka berusaha menarik sympathy dunia international, dengan tindakan LTTE yang brutal….hal tersebut mebuahkan hasil. Sampai May 2007 sebanyak 37 negara menyatakan bahwa LTTE adalah organisasi terrorist. Termasuk America, British dan Uni Europa, mereka berjanji untuk menghentikan aktivitas LTTE dalam mengumpulkan dana di negaranya masing-masing.

Keadaan ini membuat suku Tamil di Sri Lanka dihadapkan konflik yang sangat pelik, apabila mereka memihak pada pemerintah Sri Lanka, banyak di antara mereka yang anak-anak dan sanak familinya menjadi anggota LTTE baik yang secara sukarela maupun dengan terpaksa …….

Tetapi untuk tetap berpihak pada LTTE pun mereka sudah merasa lelah, mereka sangat menderita hidup tanpa ketentuan yang pasti, sementara LTTE bertindak sangat kejam kepada siapa saja yang tidak menuruti…

Enough is enough……..sudah cukup pemerintah Sri Lanka bersabar dengan LTTE, setiap kali LTTE merasa dalam keadaan lemah mereka mengajukan perjanjian gencatan senjata…….pada saat itu sebetulnya LTTE memperkuat dirinya. Apabila LTTE sudah merasa kuat, mereka kembali melakukan tindakan terror.

Di bawah pimpinan president Mahinda Rajapaksa, tentara Sri Lanka melakukan tindakan offensive dan berhasil merebut kembali setiap daerah yang telah dikuasai oleh LTTE.

Suku Tamil yang berada di daerah kekuasaan LTTE, melarikan diri dari LTTE dan menyebrang ke daerah yang dikuasai oleh pemerintah…..mereka meninggalkan tempat tinggal dan harta mereka. Walaupun untuk itu mereka harus menghadapi LTTE yang beusaha menahan kepergian mereka….mereka dijadikan human shield oleh LTTE. Penduduk yang berusaha untuk melarikan diri banyak yang ditembaki oleh LTTE dan mereka banyak yang terluka terkena ranjau yang ditanam oleh LTTE.

Akhirnya pemerintah Sri Lanka berhasil membebaskan seluruh suku Tamil yang berada dibawah kekuasaan LTTE dam berhasil mengambil kembali tanah yang selama ini dukuasai oleh LTTE dan berhasil membunuh pemimpin LTTE Velupilai Prabhakaran…..kemenangan berada dipihak pemerintah Sri Lanka.

Tetapi semua ini masih belum berakhir, masih banyak yang harus diselesaikan oleh pemerintah Sri Lanka, belum lagi tekanan dari dunia luar yang secara terselubung pro LTTE. Banyak media asing yang memberitakan keadaan suku Tamil yang menderita luka-luka dan fasilitas dikamp-kamp pengungsi yang tidak memadai………

So what?

Apakah mereka mengharapkan pemerintah Sri Lanka menyediakan fasilitas hotel berbintang lima untuk para pengungsi suku Tamil yang ratusan ribu orang ? Apakah mereka mengharapkan rumah sakit yang memadai untuk menampung ribuan orang yang terluka dalam waktu bersamaan?

Untuk memberi makan ratusan ribu orang sekaligus dan mengobati mereka yang terluka, tentunya tidak semudah orang mebalikan telapak tangannya. Dan semua penderitaan suku Tamil tersebut, yang notabene disebabkan oleh LTTE sendiri yang menjanjikan negara yang merdeka untuk suku Tamil, tetapi dengan tidak segan-segan secara kejam melukai dan membunuh mereka.

Pemerintah Sri Lanka berusaha memberikan yang terbaik untuk suku Tamil tersebut yang disebut sebagai Internal Displace Persons, tentunya sesuai dengan kemampuan yang ada.
Banyak yang mengkritik kebijaksanaan pemerintah Sri Lanka, yang tidak memberi kesempatan perwakilan asing dan organisasi non government (NGO) untuk memasuki kamp-kamp tempat IDP ditampung.

Mereka menuduh pemerintah Sri Lanka memperlakukan IDP ini dengan kurang manusiawi dan berusaha untuk menutupi keadaan IDP menderita karena fasilitas yang buruk.

Sebetulnya kebijakan pemerintah Sri Lanka…..adalah karena banyak diantara IDP tersebut kader-kader LTTE dan banyak mereka yang berkedok NGO dan sebagainya, yang sebetulnya pro LTTE berusaha untuk menyeludupkan kader-kader LTTE keluar dari kamp tersebut untuk membentuk group LTTE yang baru.

Salahkah apabila pemerintah Sri Lanka mengambil kebijaksanaan tersebut….untuk menciptakan kedamaian didalam negerinya sendiri ?

Pemerintah Sri Lanka sekarang berusaha untuk membersihkan daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh LTTE dari segala macam ranjau yang sengaja ditanam oleh LTTE……..bila daerah tersebut telah bersih, maka penduduk suku Tamil yang sekarang menjadi IDP dapat kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing.

Masih banyak yang harus diselesaikan oleh pemerintah Sri Lanka untuk mewujudkan negara kesatuan yang damai untuk seluruh rakyat Sri Lanka, baik suku Sinhalese, Tamil, Muslim dan Burger.
“Let forgive, and forget the past !” untuk menciptakan negara yang damai dan aman.itulah seruan dari President Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa.

Bagaikan menanti fajar menyingsing !……….. semoga apa yang dicita-citakan oleh pemerintah Sri Lanka dpat berhasil, walaupun untuk itu masih membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.

colombo-sri-lanka

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.