Keluar Negeri, ENGLISH PLEASE!

Bagong Julianto – Sekayu, Sumsel

Ke luar negeri, saat ini bukan hal yang mengagumkan lagi bagi beberapa staff group perkebunan. Paling sering ke Malaysia, mampir Singapura. Sebagian kecil ke Muangthai atau China. Hal yang utama dipersiapkan adalah kecakapan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Apa boleh buat, tak semuanya bisa mencapai target minimal. Akibatnya, resiko tanggung sendiri. Di samping itu, hal-hal asing lainnya (di negeri asing) tidak selalu dibekalberitahukan, learning by doing, lakukan dan pelajari sendiri! Yang terjadi lebih sering adalah trial and error karena do it by yourself in a way you think you are right. Wis…
 
1.      Selamat Pak: Bapak Jadi Sekretaris Konperensi!
Beberapa staff mendapat tugas untuk ikut konperensi kelapa sawit internasional di Kuala Lumpur. Beberapa minggu sebelumnya kursus singkat English sudah dijalani. Sekarang saatnya praktek dengan para penutur yang memang cas cis cus English tiap hari, walau jelas mereka ini adalah bangsa Melayu serumpun. Saat registrasi, tiba-tiba terdengar announcement: ” Ladies and gentlemen, may your bla bla bla………. Mr AM blab bla bla…….. to Secretary of the Committee bla bla bla….. thank you.”
 
Seorang kolega, si A,  yang merasa tahu, merasa bertanggung jawab dan merasa berbangga langsung beritahukan kepada kolega lain. “Lhah, hebat kita! Itu tadi diumumkan Pak AM dilantik jadi Sekretaris Komite. Kalian dengar tadi, paham ‘kan?!” Kolega yang lain pada mengangguk dan pasti ikut pula berbangga. Tak ada yang meragukan. Pak AM sudah senior dan yang infokan tadi, si A, juga kawan dekatnya. ”Yuk kita cari Pak AM sambil ucapkan selamat yuk ?!”, sambung si A. Akhirnya 6 orang staff pada celingukan di antara ratusan tamu. Cukup waktu, akhirnya Pak AM berhasil dijumpai.
 
Langsung saja pada berebutan sodorkan tangan: ”Selamat ya Pak”, ”Hebat Pak, mudah-mudahan lancar ya Pak!”, ”Selamat ya Pak atas penunjukkan Bapak jadi Sekretaris!”. Pak AM, wajahnya tampak bingung! ”Kenapa kalian ini?!”, sambil menegang wajah, pandangan Pak AM mengarah ke si A. ”Tapi Pak, Bapak diumumkan jadi Sekretaris ’kan?!”, kali ini si A berwajah bloon memelas bertanya ke Pak AM. ”Itulah kalian! Geblekghkghh nggak nambah-nambah! Sok teu pula! Orang saya lapor ke Panitia kalau saya kehilangan tas, kalian pula ributkan saya jadi Sekretaris! Dasar gemblung! Enyah kalian!”……
 
2.      Behave, Would You Like, Please. 
Staff yang dikirim adalah para manager yang berasal dari lokasi kebun Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Sudah terlambat untuk menyesali fakta bahwa kesempatan yang ada dulu untuk belajar English telah disia-siakan berlalu begitu saja. Umurpun sudah merangkak ke arah pembatasan kapasitas penerimaaan otak terhadap logika bahasa asing. Pun begitu, tata krama conversation singkat tetap diajarkan. Sekali ini si B dan tiga kawannya jalan-jalan sore ke mall depan hotel selepas konperensi.
 
Capek berjalan kesana sini di dalam mall, tiba saatnya panggilan alam buang air kecil. Sekalian praktek conversation, begitulah niat si B. Tiga yang lain, ngikut saja. Sadar diri. “Excuse me, Sir. Where is the toilet location?”, tanya si B pada seseorang anak muda berseragam. Dalam pandangan si B dan kawan-kawan, itu adalah kalimat yang sopan dan berbudaya halus.  “Mau kencing Pak?!”, balas tanya si anak muda. Wis, buyar konsentrasi semuanya! Si B dari Medan, si anak mudapun ternyata dari Binjai!
 
3.      Your Phone Pak, Please?! 
Di Jawa ada pameo: “Wong bodho ngono dipangan wong pinter”, arti kalimat ini “Orang bodoh itu jadi makanan orang pintar”, maknanya adalah orang bodoh itu akan selalu jadi permainan atau jadi korban oleh orang pintar. Pandai dan bijaksanalah, itu pesan moralnya!.
 
Cilakanya pameo Jawa ini dialami oleh kolega seorang Batak di Kuala Lumpur yang dilakukan oleh seorang asing berwajah India!. Saat rehat siang, selepas makan siang sang kolega menyepi ke smoking area. Seorang peserta konperensi yang berwajah India tiba-tiba mengakrabi. Si India cas cis cus, si kawan sadar diri lebih sering “Yes, yes, yes. I see, I see, I see. I know, I know, I know dan Pardon me, Excuse me, Pardon me”. Sampai satu saat, si India terima panggilan, nada panggil HPnya berdering. Si India menjauh sekejap. “You know, a friend of me bla bla bla help me bla bla bla just now bla bla bla……… call him back bla bla bla. Your phone Pak, please”, kata si India.
 
Terpesona oleh sopan santun dan penampilan necis si India, sang kolega pinjamkan HPnya, seri terbaru merk N seharga 50 % lebih gaji sebulannya. Kembali sang kolega menikmati racun nikotin. Waktu berlalu. Si India hilang. HP barupun ikut melayang!
 
4.      Kere, Karena Tidak Sadar Diri Kalau Kaya.
Perjalanan dinas ke luar negeri tentu ada aturan dan pedoman tersendiri. Termasuk nilai hak atas uang hotel, uang saku dan ataupun uang makan yang biasanya dihitung secara dollar US. Entah kenapa saat itu uang makan memang ada batasan sesuai standard masing-masing grade staff/golongan staff namun klaim berdasar nilai realisasi yang dimakan.
 
Namun jika melebihi standard maka kelebihannya ditanggung sendiri dan jika di bawah standard maka selisihnyapun tidak bisa ditagih. Itu peraturan. Simple dan mudah diikuti semestinya. Seorang kolega Sumatera selalu berbekal kalkulator saku. Transaksi apapun, selalu diputuskan setelah pencet tekan kalkulator tersebut. Pun begitu setiap makan, pencet tekan dulu, baru pesan. Hebatnya, tabiat ini menular pada seorang kolega Kalimantan. Berdua mereka jadinya kompak.
 
Satu siang, seorang kolega Sulawesi pergoki keduanya lagi mbongkar ngaduk kotak sampah plastik di luar samping restoran Padang di sebuah food court Mall Kuala Lumpur. Tragis. Mereka lagi cari bill yang sesuai jatah standard makan hari itu. Yang barusan dimakan tadi masih di bawah standard!
 
Sampun…… Suwun….. (BGJ, 0909)
 
bahasa inggris ancur bahasa indonesia
  
 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.