Better I’m Here, Talk Wid U More Nice Lor

By : EQ – Di mana-mana

" Aku bukan  orang Jawa, aku juga bukan Sunda…..aku bukan orang Aceh, aku juga bukan Ambon……..Aku bukan Cina, aku juga bukan Arab, aku bukan kiri, aku juga bukan kanan, aku bukan hijau, aku juga bukan merah……aku hanya merasa, aku orang Indonesia saja, aku hanya merasa, aku orang Indonesia…… saja….”. dst.

Tahu lagu ini ? lagunya Dewa ( album Laskar Cinta, judulnya : Indonesia Saja), saya suka mendengarkan lagu ini kalau sedang menulis atau belajar……

Lagu ini bagus, menurut saya, lagu yang menunjukkan bahwa kita ini manusia ( Indonesia ), tanpa adanya masalah dengan perbedaan suku, bangsa, warna kulit, ideology, religi…apapun itu.

Dulu, masalah ras dan etnis seringkali menjadi masalah. Saya ingat, di Jogja, waktu itu, nama-nama toko yang menggunakan bahasa asing harus di-Indonesiakan. Seperti misalnya toko kertas “ Champion “ menjadi “Kampiun “. Lha kalau di teliti, sebenarnya Kampiun juga bukan bahasa Indonesia, meskipun atinya sama-sama “ pemenang”. Lantas ada lagi sebuah rumah makan kuno yang memasang papan nama dengan karakter huruf Cina, saya lupa apa bunyinya, rumah makan itu memang menyediakan berbagai masakan Cina yang terkenal lezat, di samping masakan lainnya. Papan nama tersebut kemudian diganti dengan papan nama bertuliskan “Rumah Makan Cirebon “. Entah mengapa kok jadi “ Cirebon”. Mungkin pemiliknya berasal dari Cirebon, saya kurang tahu. Yang jelas sup kepitingnya sangat enak.

Bukan itu saja, pada masa Orde Baru, etnis Cina mengalami perlakuan yang sangat tidak adil. Banyak batasan-batasan yang diberikan. Banyak sentimen-sentimen yang terjadi. Padahal mereka, baik warga etnis Cina “ asli” maupun kaum peranakan, adalah Warga Indonesia yang sebenar-sebenarnya, tapi toh masih juga dibedakan. Bahkan banyak nama-nama Cina yang harus diubah menjadi “nama Indonesia “, seperti nama saya.

Saya tidak bermaksud membuka luka lama, ataupun mengungkit kisah lalu tentang ketidakadilan ras. Hanya saja, beberapa hari yang lalu, seorang teman dari Singapura datang. Dia seorang Cina, warga negara Indonesia, tapi sudah 20 tahun tinggal di Singapura dan rupanya sudah melupakan bahasa Indonesia, gaya bahasanya totok Singlish. Akibatnya ketika kami berkumpul dengan teman-teman yang lain, dia menjadi “ aneh “, sebab yang lain adalah, bule-bule, wong landa, yang tentu saja berbahasa Inggris dengan bagus, kemudian saya, yang juga tidak medok Jawa, lalu adalagi satu orang teman Indonesia-Cina, tapi bahasa Inggrisnya juga bagus. Saya ingat beberapa kali teman Indonesia saya menahan senyum ketika teman Singapura saya berbicara panjang lebar dengan aksen Singlish-nya. Dan rupanya teman Singapura ini menyadari kondisi tersebut. Akibatnya dia kemudian mengeluh pada saya : “What’s wrong with my language ma?”

Saya sih bilang “nothing wrong”, lalu saya coba uraikan bla bla bla…

Jaman sekarang masalah perbedaan ras sudah tidak lagi menjadi masalah besar, meskipun kadang-kadang masih terasa agak mengganggu. Di Jogja, di mana segala macam suku, ras dan bangsa berkumpul jadi satu, perbedaan itu hampir tidak tampak. Bedanya hanya pada cara “berbisnis “. Ini satu contoh soal yang lain lagi. Saat itu sudah menjelang malam, sekitar pukul 7. 30 malam, ketika saya masuk ke sebuah salon milik tetangga yang orang Jawa, bersama teman saya. Kami sama-sama hendak creambath. Salon tutup jam 9 malam ( begitu yang tertera pada papan nama ). Namun kemudian kami di tolak, alasannya sudah terlalu malam untuk creambath, salon sudah hampir di tutup, karena sang pemilik salon yang mau nyuci, pembantunya pulang kampung. Sebel nggak sih mendapat alasan seperti itu? Akhirnya kami pindah ke salon lain, “salon cina”, dan msekipun kami datang sudah jam 8 malam, kami berdua masih di perlakukan dengan baik dan benar. Sepanjang jalan, teman saya ngomel panjang pendek. Saya hanya diam saja, separo membenarkan separo lagi “pasrah”. Habis, memang begitu kenyataannya.

Masalah perbedaan ada di mana-mana, beberapa teman ada yang masih suka risih dengan sebutan-sebutan yang kadang kurang sreg, meski di Jogja sekalipun, sementara saya sendiri sebenarnya sering komplain dengan orang Jogja yang klemar-klemer, kalau bicara suka plinthat-plinthut, sering nggampangke , alon-alaon waton ( ora ) kelakon, nggah-nggih ora kepanggih ( lihat glossary di bawah ).

Namun sebenarnya bagi saya sih baik-baik saja. Dan buat saya, campur aduk atau bukan ya tidak ada bedanya. Kadang saya bangga juga lho jadi "orang keturunan". Rasanya jadi lain dari pada yang lain ( dalam hal positif ). Dulu waktu masih sekolah sd, smp sampai sma, teman saya yang Chinese juga banyak, dan mereka juga tidak bisa ngomong bahasa Cina. Ya, bener kata orang, kita emang tidak bisa memilih di lahirkan di mana dan sebagai apa ( wah kalau bisa milih, saya mending milih di jadikan Mulan deh, Mulan yang putri itu lho, bukan Mulan Jameela), tapi setidaknya kita harus bersyukur no matter what.

Soal diskriminasi, sering lho saya dapat teman baru lewat internet, yang kemudian kalau tahu saya punya darah Cina, mereka terus bilang : "ooo…Cina ya" kemudian off, tidak ngomong lagi ( mereka orang Indonesia lho ), kadang-kadang dulu ada yang mengatakan pada saya : " ah dasar loe, kompeni " (mamah (alm.) keturunan Solo-Belanda-Cina), nah khan, saya sempat bingung juga dulunya, lha saya ini apa sebenarnya, Cina bukan, Belanda bukan, Indonesia juga tidak jelas…… tapi pada akhirnya saya sih adem aja, EGP ! I am international person, Global Citizen kalau mengikuti istilah sang Buto Ijo JC.

Sekarang teman-teman saya yang orang Singapura lumayan banyak juga. Beberapa diantara mereka lebih suka memanggil nama Cina saya, kemudian kalau mereka bertanya : " r u speak Chinese ?" saya bilang saja “no “, dari pada malu-malu’in, karena kemapuan saya berbahasa Cina sangat sedikit dan jelek banget. Tapi mereka juga tidak pernah gimana-gimana gitu……ya terus nyrocos menggunakan bahasa Inggris. Malah ada satu teman yang dengan manisnya menawarkan untuk mengajari bahasa Mandarin kepada saya. Saya sih ok saja. Yang lucu kalau chating, sering ada yang menggunakan gaya bahasa antara Cina-Inggris, for example nih:

" u got diner ma ? "
" not yet la, not hungry "
lain lagi :
" u must take a rest lor, later u will get sick leh "

Lainnya :

" no class meh, today ? "

" waa, u got a good day leh, i envy u lor "

" was’up le ? "

" better im here lo, talk wid u more nice lor "

etc, etc dst dst……kadang-kadang saya juga suka geli sendiri dan akhirnya ikut terbawa juga. Tapi kalau bicara langsung memang tidak sih, meskipun di lingkungan saya banyak teman-teman Cina, Malaysia dan Singapura yang gaya bicaranya juga seperti itu, tapi Inggris saya tetep Inggris Amerikano, hehheeee……

Saya sendiri pada akhirnya juga merasa bahwa saya harus belajar bahasa Mandari, bukan kenapa-kenapa, asyik saja kalau bisa bicara dengan bahasa yang sama-sama bisa di pahami. Dulu pernah saya di ajak dinner mantan cowok saya yang orang Cina-Hong Kong. Wah, semeja isinya orang Cina semua, ada orang Koreanya juga, tapi fasih bicara bahasa Mandarin, bahkan ada juga yang fasih bahasa Cantonese ( kata mantan saya lho, saya mana ngerti ).

Lha saya khan cuma jadi bego sendiri. Sama sekali tidak paham dengan apa yang mereka obrolkan, mereka bisa ketawa ngakak, bisa serius……yang saya lakukan pada akhirnya ya cuma nyemal-nyemil makanan yang ada di situ ( buanyaaak byanget jenisnya ) plus bete abis. Pengalaman itu membuat saya bertekat bulat belajar bahasa Mandarin, meskipun ya setengah mati susahnya.

Btw, buat saya pribadi, be ur self, what ever u are lah, no matter what. Berbeda itu tidak selalu jelek kok, kadang dengan perbedaan, orang jadi bisa saling memahami dengan lebih baik, at least berusaha untuk saling understand dengan lebih baik. Kalau semua orang sama, apa bukannya malah membosankan ?

Ya begitulah, Bhineka Tunggal Ika lor…..

Dan jangan lupa, bahwa di Indonesia sendiri terdapat 538 bahasa etnis yang tercatat secara resmi, mohon di baca sekali lagi : yang tercatat secara resmi, artinya masih banyak kemungkinan-kemungkinan lebih dari 538 bahasa etnis/ daerah, sebab sebuah catatan resmi, meskipun berdasarkan riset, belum tentu mampu mencapai seluruh etnis yang ada di Indonesia, mengingat betapa homogennya penduduk Indonesia.

Di kampus saya, kenekaragaman itu terlihat dengan jelas pada saat-saat tertentu. Di mana orang-orang Padang berkumpul, mereka akan bicara dalam bahasa Padang, saat orang-orang Sunda bertemu, mereka akan ngobrol dalam bahasa Sunda, begitu pula ketika orang-orang Jawa Timur berjumpa, meskipun sama-sama berbahasa Jawa, tapi aksen Jawa Timur yang kental akan tetap menyertai setiap patah kata yang terucap.

Meskipun ketika beberapa orang dari berbagai daerah bertemu, bahasa Indonesialah yang digunakan sebagai bahasa pemersatu Nusantara. Namun sebagian teman dari daerah lain banyak pula yang cukup fasih berbicara dalam bahasa Jawa, karena mereka tinggal cukup lama di Jogja. Sewaktu saya kuliah di Korea, hal serupa juga terjadi. Di kampus, maupun di dormitory, ketika orang-orang Vietnam bertemu, bahasa Vietnamlah yang akan di pakai sebagai bahasa percakapan, begitu pula jika orang-orang Cina, baik asli maupun Cina Malaysia berjumpa, maka bahasa Mandarinlah yang dipakai.

Kamar saya di huni oleh 4 orang termasuk saya, dua orang warga Thailand, satu teman lagi warga Malaysia namun dia Cina. Memang kami menggunakan bahsa Inggris, Korea atau campuran keduanya ( kami menyebut dengan istilah Konglish ), namun tak jarang ke dua teman yang Thailand sering rasan-rasan dan ngobrol berdua dalam bahasa Thailand, meskipun di dalam kamar kami sedang belajar bersama. Yang seru apabila orang Indonesia saling bertemu, maka akan terjadi percakapan dalam banyak bahasa daerah. Bahasa pemersatu kami adalah bahasa Korea dan Inggris, tentu saja.

clip_image002

Nice Company—We Are One !

Saya punya pengalaman yang seru dan lucu. Suatu kali saya pergi ke Pusan, daerah pantai di Korea Selatan. Di sana saya bertemu dengan dua orang teman, keduanya orang Korea. Yang lucu adalah ketika kami duduk semeja, menyantap makanan dan minum soju bersama, sebut saja teman saya adalah si A dan si B, dengan si A saya bicara dalam bahasa Konglish ( Korea-Inggris ), dengan si B yang mengerti bahasa Indonesia, saya bicara dalam bahasa Indonesia, sedang si A dan si B saling bicara dalam bahasa Korea, sementara itu jika saya dan si B sedang ngobrol, kami harus menterjemahkannya ke dalam bahasa Korea atau Inggris, sedang jika si A dan si B bicara dalam bahasa Korea menggunakan dialek Pusan ( sedikit berbeda dengan bahasa Korea saya yang asli dialek Seoul ), maka harus di terjemahkan pula. Ruwet tapi percakapan berjalan dengan seru dan gayeng, dari jam 8 malam sampai pagi !

Lain waktu, lain tempat, saya mengalami hal yang sama lucunya, saat itu di alun-alun selatan Jogja, saya dan 2 orang teman, satu cewek Solo, masih saudara, satu lagi cowok cakep asal Pontianak, sedang duduk-duduk menikmati malam hari yang cerah, ketika kemudian kami diganggu oleh seorang anak pengemis yang sangat cerewet, untuk mengatasinya, kami kemudian bicara dalam 3 bahasa berbeda, namun-seolah-olah-nyambung. Saya menggunakan bahasa Korea, si cewek Solo berbahasa Inggris, sedang teman cowok Pontianak menggunakan bahasa Mandarin. Dan cara tersebut sangat manjur. Sambil mengomel panjang pendek, pengemis cerewet tersebut berlalu. Ketika kami bertiga saling menanyakan apa artinya bahasa yang kami ucapkan, kami jadi ngakak bersama, sebab artinya mirip, yaitu : “ Kamu ngomong apa sih ? aku tidak tahu artinya” , hahhahaha……..

Saya senang berada di antara teman-teman yang bicara dalam bahasa Nasional maupun bahasa daerah yang beraneka ragam tersebut, kemudian secara bercanda saya mencoba menyambung dalam gaya bahasa dan patah kata yang mirip, meskipun sebenarnya tidak ada artinya sama sekali, lucu dan seru dan tidak ada yang tersinggung, bahkan kemudian mereka akan mengajari saya beberapa patah kata dalam bahasa mereka. Kita akan menjadi kaya dengan menerima banyak perbedaan. Hidup akan menjadi lebih berwarna dan indah, ketika kita bisa memahami atau bahkan jika sekedar mengetahui, banyak keragaman di sekitar kita.

Benar apa yang dikatakan bahwa “ bahasa adalah pintu dunia”.

Dengan mengenal dan mengerti suatu bahasa, maka kita akan mengenal kebudayaan yang bersangkutan. Kebudayaan berkenaan dengan kemanusiaan.

clip_image004

"Hidup ini punya punya sejuta warna, tak hanya hitam putih, begitu adanya…apa yang kamu yakini sebagai sebuah kebenaran, mungkin bukanlah sebuah kebenaran buat yag lainnya, shine on, shine on……..listen in harmony for the best future, shine on shine on, live in harmony….buat harmoni, biar bumi ini…..jadi lebih indah…..untuk anak kita……dst"   Song by Dewa, Album : Laskar Cinta, Judul : Shine On

Salam ^^v

Glossary :

1. Bule : Penyebutan orang Jawa terhadap orang-orang asing berkulit putih, seperti orang Amerika dan Eropa.

2. Wong Landa : Penyebutan orang Jawa terhadap orang-orang asing berkulit putih. Asal mula katanya adalah Belanda, menjadi Landa ( baca : Londo ). Berasal dari kebiasaan jaman dulu, ketika jaman penjajahan Belanda, di mana setiap orang asing yang berkulit putih diasumsikan sebagai orang Belanda.

3. klemar-klemer : serba lambat, pelan-pelan dalam melakukan sesuatu, membuat orang lain menjadi tidak sabar, lelet.

4. kalau bicara suka plinthat-plinthut : kalau bicara hampir seperti tidak jujur, berputar-putar tapi jarang sampai pada tujuan dengan tepat dan cepat, bicara tidak jelas maksudnya, mirip dengan arti kata plin-plan.

5. sering nggampangke : dari asal kata “gampang” yang artinya mudah. Jadi nggampangke bisa berarti menyepelekan, meremehkan sesuatu, mengganggap mudah persoalan namun tidak sanggup menyelesaikannya dengan baik, kemudian mengabaikan begitu saja.

6. alon-alon waton ( ora ) kelakon : pelan-pelan asal ( tidak ) kesampaian maksudnya. Alon-alon waton ( ora ) kelakon nyaris menjadi trademark orang Jawa ( khususnya Jogja ), di mana sebenarnya mengandung arti bahwa orang itu tidak perlu terlalu tergesa-gesa, yang penting hati-hati namun pada akhirnya akan sampai juga, namun kemudian menjadi semacam slogan ejekan bahwa orang Jawa ( Jogja ) adalah orang-orang yang serba lambat, terlalu santai dan tidak memiliki etos kerja yang bagus ( maksudnya mau bilang malas ).

7. nggah-nggih ora kepanggih : artinya adalah iya-iya tapi tidak. Maksudnya hanya ngomong iya-iya saja, namun tidak menjalankannya, tidak ada hasil nyata, hanya alasan saja

8. Rasan-rasan : dua orang atau lebih melakukan percakapan yang sifatnya agak private, kadang-kadang hanya untuk kalangan sendiri. Tidak selalu membicarakan orang lain atau membicarakan hal-hal yang buruk, namun lebih kepada bersifat personil, karena yang terlibat dalam pembicaraan saling tahu dengan baik topik yang dibicarakan.

9. Gayeng : lebih dari sekedar seru.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.