Century, Rasa Keadilan, Dan Kisah Penyelamatan

Junanto Herdiawan – Indonesia

Ketika ada dana masyarakat berjumlah triliunan rupiah digunakan untuk menyelamatkan satu bank, rasa keadilan mulai tergugah.
 
Benarkah langkah penyelamatan itu? Pendapat pun mulai mengait-ngaitkan dana yang besar tersebut dengan pengandaian-pengandaian. Seandainya dana itu digunakan untuk pendidikan, penanggulangan bencana, dan lain sebagainya, tentu lebih bermanfaat.
 
Kisruh soal Bank Century demikian pula adanya. Istilah “penyelamatan” kemudian menjadi salah kaprah dalam simpang siur wacana publik. Urusan tekhnis penyelamatan berbuntut pada isu politik dan kepentingan penguasa. Apa sebenarnya yang terjadi di balik penyelamatan Bank Century?
 
century-demo-nasabah
Bank Century memang menyimpan segudang cerita tentang kejahatan. Di balik aksi penyelamatan itu, ada kisah kelam yang harus dipisahkan. Robert Tantular, sang pemilik yang tentu tidak ada kaitannya dengan Empu Tantular, kini mendekam di penjara karena kejahatan yang dilakukan manajemennya.
 
Secara diam-diam, manajemen Bank Century sejak lama melakukan praktik-praktik kejahatan yang amat busuk. Beberapa praktik yang dilakukan antara lain adalah surat berharga senilai 11 juta dollar AS yang tak bisa dicairkan, letter of credit (L/C) fiktif senilai 100 juta dollar AS, pemalsuan bank note senilai 18 juta dollar AS, serta beberapa kredit fiktif lainnya bernilai jutaan dollar AS.
 
Pertanyaannya, apabila memang sudah diindikasikan melakukan kejahatan, mengapa Bank Century tidak ditutup saja? Permasalahan tentu tidak semudah membalik telapak tangan karena kasus ini memuncak justru pada kuartal IV-2008, persis saat badai krisis global datang menghempas dunia.
 
Saat itu, pasar keuangan dunia berada dalam kondisi gawat darurat sejak dibangkrutkannya Lehman Brothers pada 15 September 2008. Kepanikan besar melanda seluruh dunia. Kita melihat suku bunga dollar di pasar keuangan internasional naik hampir empat kali lipat karena semua bank menghentikan transaksi pinjam meminjam karena kekhawatiran akan ada kebangkrutan susulan. Kurs, saham, dan obligasi sejumlah negara amblas.
 
 bank century
 
Di Indonesia, kepanikan serupa terjadi di pasar keuangan. Terlepas dari permasalahan yang terjadi di balik Bank Century, kondisi ekonomi Indonesia saat itu dalam keadaan gawat darurat. Di saat itu, Bank Century menghadapi “sakratul maut”. Pilihannya adalah menutup bank itu atau menyelamatkannya. Beberapa parameter tentu perlu dipertimbangkan pada saat itu.
 
Apabila melihat pada dampaknya di sektor riil dan jumlah nasabahnya, Bank Century sebenarnya termasuk ke dalam low impact bank. Jumlah nasabahnya pun hanya 65.000 orang. Artinya, apabila ada permasalahan, menutup bank ini memiliki dampak kecil ke sektor riil dan nasabah.
 
Namun hal itu hanyalah satu parameter dalam mempertimbangkan penutupan suatu bank. Beberapa parameter lain perlu menjadi pertimbangan, khususnya apabila melihat apakah penutupan bank itu membawa “risiko sistemik”. Sebuah risiko yang membawa dampak pada terjadinya instabilitas di pasar keuangan.
 
Parameter pertama adalah melihat bagaimana dampak penutupan Bank Century pada bank lain. Dilihat dari parameter itu, Bank Indonesia memandang imbasnya sangat besar. Data pada waktu itu menunjukkan bahwa ada beberapa bank yang memiliki eksposur besar di Bank Century.
 
Artinya, dana bank-bank tersebut akan “nyangkut” di Bank Century melalui fasilitas Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Jika Bank Century ditutup, dana tersebut langsung “nyangkut”. Beberapa bank akan mengalami masalah likuiditas. Akibatnya, rasio kecukupan modalnya (CAR) akan anjlok. Kalau CAR suatu bank anjlok, bank tersebut langsung masuk ICU, atau pengawasan khusus BI. Masalah tidak berhenti di situ, karena efeknya akan berantai ke bank-bank lainnya.
 
Parameter lain yang menjadikan Bank Century sistemik pada waktu itu, adalah imbasnya ke pasar modal, baik pada saham maupun obligasi. Belum lagi menghitung imbasnya pada sistem pembayaran antar bank, dan ditambah “trauma” masyarakat apabila mendengar sebuah bank “ditutup”.
 
Kondisi ekonomi saat itu sungguh berada dalam posisi clear and present danger. Sistem keuangan Indonesia saat itu mengalami tekanan hebat. Kepercayaan publik terhadap perbankan merosot drastis. Hal itu dapat dilihat pada dana perbankan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang biasanya mencapai Rp 200 triliun, tiba-tiba menyusut hingga “hanya” Rp 89 triliun. Itu artinya, masyarakat beramai-ramai menarik dananya dari perbankan dalam jumlah besar. Untuk menutupi kebutuhan itu, perbankan mencairkan dana mereka di SBI.
 
Indikator kepanikan masyarakat juga dilihat dari anjloknya dana deposito masyarakat di bank. Menyikapi penarikan ini, bank melakukan perang suku bunga, guna menghindari penarikan lebih lanjut. Di Pasar Uang Antar Bank (PUAB), bank-bank besar mulai menahan dana dan enggan saling meminjamkan pada bank yang membutuhkan. Akibatnya, bank kecil dan menengah mengalami kesulitan likuiditas.
 
Kondisi pasar uang saat itu, sungguh amat tegang.
 
Di sisi lain, ada indikator risiko gagal kredit yang dinamakan CDS (Credit Default Swap). Ini adalah indikator yang berlaku internasional untuk melihat risiko kegagalan suatu negara dalam membayar kewajibannya. Makin tinggi indeksnya, makin tinggi risikonya. Saat itu, CDS Indonesia melonjak dari angka 200 basis point (bps) menjadi 1400 bps. Risiko gagal Indonesia saat itu sungguh tinggi. Hal ini kemudian diikuti oleh penarikan dana asing yang mencapai sekitar 6 miliar dollar AS. Nilai tukar rupiah pun ikut tertekan. Masyarakat makin resah dan panik. Sebagian menarik simpanannya dan menukar ke dollar.
 
Penutupan bank, dalam kontekstualisasi keadaan seperti di atas, akan menyebabkan kondisi semakin tidak terkendali. Masyarakat merosot kepercayaannya pada bank. Trauma penutupan 16 bank di tahun 1998 masih jelas membayang dan menjadikan mereka gelisah.
 
Dari sisi ini, diperlukan sebuah professional judgement, atau executive decision yang berani. Tentu dengan segala risikonya. Bank Century pun diselamatkan. 
Kisah penyelamatan adalah satu hal. Ia diputuskan dalam sebuah kondisi dan pertimbangan. Namun hal ini tidak menutup bahwa kejahatan perbankan boleh dilupakan begitu saja.
 
Penggunaan dana penyelamatan yang membengkak perlu diselidiki hingga tuntas. Penyelewengan tentu perlu diusut. Oleh karena itu, langkah BPK untuk menuntaskan audit investigatif terhadap dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh Bank Century, ataupun permasalahan dalam penyimpangan pengucuran dana, perlu dilakukan secara serius.
 
Di sini kita perlu melihat secara proporsional antara langkah penyelamatan, pengawasan, dan kejahatan. Kebijakan penyelamatan, adalah sebuah langkah yang berani dan dinilai tepat untuk menghindari kegagalan lebih besar pada sistem keuangan Indonesia. Apabila kasus Bank Century ini muncul di saat tidak ada krisis, tentu penangannnya akan berbeda. Oleh karenanya, apabila dalam pelaksanaan penyelamatan itu terdapat penyimpangan, ataupun kejahatan pada perbankan, maka yang perlu diusut tuntas adalah kejahatannya, dan bukan pada kebijakan penyelamatannya.
 
Mudah-mudahan kita bisa berpikir jernih dalam melihat kasus Bank Century. Mudah-mudahan kita tidak terseret pada diskusi semantik tentang risiko sistemik, apalagi isu-isu politis yang membelokkan isu teknis.
 
Salam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.