Oase di Tengah Gurun Beton

Alexa – Jakarta

Sop Buah2

Bagi para Baltyrans yang sedang menjalankan ibadah puasa, gimana nih setelah dua minggu berpuasa. Seperasaan enggak dengan saya? Kalau sekarang melihat makanan dan minuman yang lazis-lazis udah enggak kalap lagi. Rasanya lambung kita makin mengecil ya- makan sedikit aja dah kenyang.

Demikian juga yang terjadi di rumah – semangkuk sop buah ini cukup mengganjal dahaga tiga anakku saat berbuka puasa di rumah. Malah jadi makin akrab karena si kakak menyuapi adik-adiknya. (gambar sop buah). Cerita di atas hanya sekedar intermezzo bagi cerita inti di bawah ini.

Beginilah ceritaku tenang seorang manusia muda yang berjuang untuk hidup di Jakarta:

Salah satu rumah yang berada dalam kompleks perumahan yang sama dengan rumahku merupakan markas suatu organisasi veteran eks pejuang kemerdekaan RI. Organisasi ini cukup baik pengelolaannya: dengan bermodal dua buah benteng eks Belanda yang mereka kuasai di Solo dan Surabaya yang kemudian mereka jual akhirnya mereka memiliki dana yang lebih dari cukup .

Para pengurusnya yang sudah sepuh ini (antar 70 s/d 80 tahunan) ini sudah melek dunia Pasar Modal sejak lama. Dan dana hasil penjualan benteng itu mereka taruh di instrument reksadana dan menghasilkan pengembangan hingga berlipat ganda setelah beberapa tahun sehingga mereka bisa membeli rumah itu (dari harga beli Rp.800 juta sekarang nilai pasarnya sudah mencapai Rp. 3 Milyaran), sisa dana diputar dalam beberapa instrument keuangan untuk kegiatan operasional organisasi serta memberikan tunjangan bagi para anggotanya. Salah satu instrumen yang dipilih adalah yang aku tawarkan jadi aku termasuk sering datang ke rumah itu.

Wawan

Ada seorang pemuda yang menjadi pesuruh di kantor itu. Dengan ramah dia akan segera menyediakan minum begitu aku muncul di situ. Berusia di awal 20 tahun, berbadan tinggi kurus dan berwajah cukup tampan – dia selalu berjalan dengan tegap dan langkahnya berirama menandakan rasa percaya diri yang tinggi. Penampilannyapun sesuai trend anak muda masa kini dan selalu mengantongi HPnya. Cuman sayang kulihat matanya selalu sembab dan berkantong. Aku pernah menggoda penampilannya yang trendi tapi karyawan-karyawan lain langsung menukas bahwa semua yang dikenakan si Wawan (nama pemuda itu) adalah made in STEKPI (yang aku tulis dalam cerita disini berjudul BERDOSA DI HARI MINGGU) yang artinya pada kisaran harga yang murah-meriah. (gambar Wawan)

Sampai suatu malam – aku pulang kantor larut malam dan melihat beberapa anak kecil mungkin di bawah 12 tahun masing-masing menyampirkan karung di pundaknya berkeliaran di tempat sampah yang berada di seberang jalan dari suatu gerobak roti bakar. Entah kenapa hatiku jadi merasa belas melihat anak-anak itu dan aku memutuskan untuk membelikan mereka roti bakar. Segera aku memesan beberapa potong roti bakar dan saat menunggu pesananku itu ada Wawan yang langsung menghampiriku. (gambar gerobak roti)

“Mbak Alexa” ,

Lho Wawan ngapain malam-malam gini ke roti bakar?, tanyaku.

“Kerja mbak.”

Si bapak pemilik angkringan roti bakar mengiyakan seraya memperkenalkan diri bahwa mereka semua masih bersaudara. Angkringan roti bakar ini digelar malam hari (dari waktu Magrib sampai dengan Jam 02 pagi – selama puasa bahkan sampai masuk waktu Subuh sekalian melayani yang akan sahur). Selain menjual roti bakar, angkringan itu juga menyediakan bubur ayam, pisang bakar dan mie instant rebus. Pembeli silih berganti datang baik untuk bersantap di angkringan maupun untuk dibungkus dan dibawa pulang. (tentative- roti bakar, bubur ayam).

Pada siang hari sampai jam 09 malam si Bapak dan saudara-saudaranya termasuk Wawan (usai jam kerja di organisasi veteran) juga berjualan aneka masakan Chinese Food. Sudah tahunan kedua outlet mereka beroperasi dan selama ini sudah mendapat response positif dari pembeli. Bahkan warung mie mereka pernah dijadikan tempat shooting film FTV salah satu stasiun televisi swasta ( gambar outlet bakmi oleh).

Roti bakar pesananku sudah selesai dan kuberikan pada anak-anak pemulung itu yang diterima dengan senang hati oleh mereka. Tak ada ucapan terimakasih terlontar dari mulut mereka sehingga naluri keibuanku langsung muncul..

”Nak, kalau ada yang memberi sesuatu harus mengucap terimakasih ya.”

Dengan tersipu-sipu mereka mengucapkan terimakasih dan mulai menikmati roti bakar itu. Seperti seorang ulama pernah menasehatkan..

”Jika kita memberi sesuatu atau menolong seseorang –jangan harapkan rasa terimakasih atau balas budi dari orang itu. Kembalikan semua ke Allah – dan biarlah Allah yang membalas kebaikan kita karena sebaik-baiknya ganjaran maka tentunya yang dari Allah, bukan?”

Aku tidak bermaksud menuntut rasa terimakasih dari bocah-bocah pemulung itu tapi kepada anak-anak yang masih kecil itu aku sekedar ingin mengajarkan suatu adab atau cara bersopan santun yang mungkin tidak pernah diajarkan orangtuanya.

Wawan3

Aku masih duduk dan ngobrol dengan Wawan dan saudara-saudaranya. Rupanya mereka berasal dari Boyolali- Jawa Tengah dan keluarga mereka ada di sana. Makanya tiap menjelang Lebaran mereka akan tutup selama dua minggu untuk merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung.

Bapak yang memiliki kedua bisnis ini termasuk yang sangat memperhatikan pengelolaan keuangan mereka sehingga si Bapak sudah memiliki rumah, sawah dan ternak di kampung. Dia juga selalu membimbing saudara-saudaranya yang masih muda dalam menginvestasikan pendapatan mereka sehingga si Wawan di kampung sudah memiliki delapan ekor kambing.

Malam makin larut – akupun melangkah pulang ditemani Wawan, kami melewati bocah-bocah pemulung yang sudah lelap tertidur di emperan bangunan ATM. Setiap hari umumnya Wawan baru bisa tidur jam 03 pagi dan esoknya jam 07 pagi sudah harus merapikan kantor. No wonder matanya sembab dan berkantung begitu. Tapi kerja belum selesai – mereka masih menyimpan obsesi untuk memiliki berbagai asset yang akan ditanamkan di kampungnya. Tentunya mereka tidak bermimpi mempunyai asset bak konglomerat atau bahkan koruptor yang sanggup menghimpun asset bernilai triliunan. Cukuplah sepetak sawah, beberapa ekor kambing dan sapi. Sepeda motor terbaru sudah lebih dari cukup dan tak terbayangkan tuk membeli sebuah mobil SUV terbaru.

Manusia Gerobak2

Menyenangkan bukan masih banyak orang yang bekerja siang malam secara halal untuk menjemput rezeki mereka. Sosok anak-anak pemulung yang merupakan rombongan manusia gerobak yang membanjiri Jakarta saat Ramadhan dan Wawan sekaligus menepis anggapan bahwa orang-orang Indonesia itu pemalas dan anak muda cuman bisa hura-hura, narkoba dan pergaulan bebas. Bekerja siang malam rela dilakoninya tanpa sempat menyentuh dunia haha-hihi. Tidak salah jika kusebut Wawan – Oase di Tengah gurun beton Jakarta. (gambar manusia gerobak).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *