We are the World

Iwan Satyanegara Kamah – Indonesia

SERIAL RAMADHAN BALTYRA – HARMONI ISLAM – BARAT

Keturunan Nabi Muhammad di Eropa (18)

We are the World

KETURUNAN Nabi Muhammad sangat unik dan paling menarik dibicarakan dan dibahas untuk mencari sebuah pertalian budaya, darah atau asal usul. Ada kebanggaan juga beban bagi seseorang bila dalam darahnya mengalir darah “biru” atau darah dari tokoh terkenal. “Saya masih keturunan Joko Tingkir” atau “mBah saya masih masih hubungan darah sama Pangeran Diponegoro”, mungkin juga “Wah, saya nggak ada hubungannya dengan tokoh itu meski nama saya sama”. Begitu sekilas komentar yang sering terdengar ketika orang ditanya tentang asal usulnya, atau dipersoalkan hubungan darah antar dia dengan seseorang.

Pada akhir tahun 1960an, tentu akan menjadi beban psikologis bila seseorang harus menyandang nama keluarga Aidit. Meskipun dia masih sepupu, adik atau kakak, ataupun keponakan tokoh tersebut. Orang Eropa akan menghentikan sejenak perhatiannya, bila ia membaca atau menemukan seseorang yang bernama, misalnya, Gunther Hitler. “Jangan-jangan dia apanya Hitler?” Nama bisa menjadi beban bila dikaitkan dengan hubungan darah atau pertalian keluarga melalui perkawinan atau memang pertautan darah.
 
Di tanah Batak, banyak orang yang memiliki nama berbau Anglo-Saxon, seperti David Washington Napitupulu. Atau John Kennedy Simamora. “Dia apanya George Washington?” Atau “apanya Presiden Kennedy?” Ya, pasti bukan apa-apanya. Namun orang suka mengait-aitkannya. Alasannya, tokoh tersebut sudah mendunia dan timbul kebanggaan untuk bisa berhubungan darah dengannya.
 
Beberapa waktu lampau, banyak orang terutama wanita, ingin sekali mendapatkan darah Pangeran Charles yang mendonorkan darahnya. Mereka berebut bisa dialiri darah sang pangeran ke dalam tubuhnya. Di dalam darahnya tentu mengalir sepersekian ratus darah dari Henry VIII, Richard the Lionhearted, Raja John, Ratu Victoria, dan tokoh-tokoh dunia lainnya . “Siapa tahu bisa ketularan ngetopnya”.
 
Di Indonesia, ada kajian yang menarik yang belum pernah dibicarakan dalam hal genealogi. Misalnya ketika kita membicarakan tentang keturunan, misalnya, Sultan Agung, raja Jawa yang berkuasa pada abad 16. Secara silsilah keturunannya dapat dilacak dan diuji dengan analisa sejarah yang tepat, terutama untuk keturunannya yang menjadi raja. Hanya dari seorang Sultan Agung saja, kita akan menemukan empat wangsa atau keluarga besar. Misalnya wangsa Pakubuwono, Hamengkubuwono, Mangkunegaran dan Pakulamanan.
 
Belum lagi jika dimasukkan wangsa Amangkuratan, yang memang berhak untuk itu. Setiap wangsa ini beranak pinak sampai ribuan orang yang tersebar seantero dunia. Bahkan dalam masing-masing wangsa, lahir lagi beberapa keluarga besar yang mengelompok dan terorganisir secara rapih. Nah, itu baru seorang Sultan Agung yang sifatnya masih lokal dan berusia baru sekitar 300 tahun. Lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad yang sudah berlangsung 1500 tahun? Lebih rumit, ribet, unik dan banyak timbul pertanyaan.
 
Nabi Muhammad nyaris tidak punya keturunan sama sekali, bila putri satu-satunya yang bernama Fatima meninggal sebelum menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Untunglah Fatima dikarunia anak yang tumbuh besar dewasa serta memiliki keturunan. Itupun hanya dua orang, yaitu Hasan dan Hussein dari 5 orang anaknya yang tidak memberikan keturunan. Keduanya cucu Nabi Muhammad. Namun ada sedikit yang perlu diketahui, bahwa keturunan Ali belum tentu menjadi keturunan Nabi Muhammad, karena Ali juga menikah dengan wanita lain selain Fatima, karena kematian istrinya itu. Tapi sebaliknya setiap keturunan Nabi pasti keturunan Ali, karena Ali adalah menantu Nabi.
 
Dari Hasan dan Hussei lahir banyak keturunan. Hasan lebih banyak memberi ilustrasi silsiah yang menakjubkan, terutama yang bermukim di barat dan akhirnya bertautan darah dengan mereka. Dari Hussein melahirkan para Imam Dua Belas yang terkenal dan dipuja golongan Syiah juga menurunkan para iman Syiah Ismailiyah yang telah diceritakan sebelumnya. Belum lagi keluarga-keluarga kecil yang merantau ke Hadramaut dan akhirnya menyebar ke Indonesia, yang telah dibahas pada tulisan terdahulu.
 
Dari Hasan muncul banyak dinasti atau keluarga. Sebut saja dinasti Zaidiyah di Tabaristan, para syarif di Maroko, Sus, lalu wangsa atau bani Qatadah dan Fulaytah yang bermukim awal di Mekkah, Saudi Arabia. Kemudian ada Bani Salih di Ghana, Afrika, keluarga Sulaymaniyah di Yaman dan Mekkah. Serta keluarga Sulaymaniyah yang ada di negara-negara Afrika utara, dan ada juga yang ada di Mekkah dan Yaman. Lalu ada dinasti Hammudiyah di Malaga, Spanyol serta dinasti Abbadiyah di Seville. Keduanya berkuasa  di Spanyol saat Islam masih berjaya di sana selama 800 tahun. Mereka berkuasa setelah dinasti Ummayah runtuh tahun 1031 di Spanyol.
 
Bagaimana dengan tokoh perseorangan? Apakah masih ada yang menjadi keturunan Nabi Muhammad. Oh banyak. Sebut saja Raja Muhammad VI atau dengan panggilan M6 yang menjadi raja Maroko saat ini. Lalu penguasa Iran sekarang yang memakai serban hitam dan bersendi pada ajaran Islam Syiah, seperti Ayatullah Khomeini. Seterusnya ada Raja Abdullah II dari Yordania. Ada juga Aga Khan III yang pernah penjadi ketua Liga Bangsa-Bangsa, cikal bakal PBB kelak, serta Pangeran Sadruddin Khan yang juga paman dari Aga Khan IV. Pangeran Sadruddin mengepalai UNCHR (badan PBB yang mengurusi pengungsi) cukup lama dan memberikan sumbangsih untuk badan dunia tersebut. Belum lagi orang per orang yang tersebar di belahan bumi tanpa saling mengenal satu dengan lain.
 
dreamstimefree_2058249Meskipun terpisah-pisah di belahan dunia, keturunan Nabi Muhammad bisa saling menyayangi, juga bisa saling membenci karena mempertahankan sebuah kepentingan. (bersambung)
 
 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.