Asal mula 11 dan 23

Saw – Bandung 

Hallo Sahabat Baltyra, …
 
Tak terasa, Ramadhan sudah memasuki paruh ke dua. 
 
Hari-hari berlalu dengan agenda Ramadhan dari puasa, sholat taraweh, tadarrus dan lain-lain. Tentu bagi sahabat Baltyra yang beragama Islam, perlu introspeksi diri, apakah target-target ibadah sudah terpenuhi? Hmm, … semisal sholat tarawehnya tidak bolong-bolong?
 
Berbicara tentang sholat taraweh, saya teringat oleh tingkah polah saya jaman kanak-kanak dulu, selalu menghindari masjid yang sholat tarawehnya sampai 23 rekaat. Seingat saya, sewaktu SMA pernah saya ‘terjebak’ di sebuah masjid dekat rumah kost. Ternyata masjid tersebut menyelenggarakan sholat taraweh sampai 23 rekaat. Sungguh tidak nyaman, selain juga muncul perasaan bahwa saya bukan kelompok mereka.
 
Hahaha… Betapa piciknya saya waktu itu.
 
shalat
 
Sahabat Baltyra, …
 
Berbicara bilangan yang berbeda dalam melaksanakan sholat taraweh, ternyata semua itu ada alasannya. Kisahnya bermula sejak Rasulullah Muhammad SAW masih ada.
 
Syahdan, …
 
Ketika malam Ramadhan, Umar Bin Khaththab menjumpai Nabi Muhammad sedang sholat taraweh, tapi jumlah rekaatnya tidak seperti biasanya. Biasanya Rasulullah SAW mendirikan sholat Taraweh sebanyak 11 rekaat bersama para sahabat. Tapi, yang dijumpai Umar ternyata bilangannya lebih banyak, yaitu 23 rekaat. Tentu Umar heran dan bertanya.
 
Rasulullah SAW menjawab, bahwa ini adalah kekhususan. Beliau mewanti-wanti Umar untuk tidak melaksanakannya. Dan selama Rasulullah SAW hidup, memang tidak pernah dilaksanakan sholat taraweh dalam jumlah 23 rekaat tersebut.
 
Sampailah kemudian masa kekhalifahan Umar Bin Khaththab. Ketika itu Umar melihat banyak orang lanjut usia dan anak-anak yang mengikuti sholat taraweh dalam kondisi kepayahan. Terlihat mereka sangat keberatan dengan ibadah sholat tarawehnya yang 11 rekaat. Umar berpikir, bahwa ini tidak benar. Bagaimanapun syari’at Islam bukan untuk memberatkan ummatnya. Maka Khalifah Umar bin Khaththab berijtihat (berpikir untuk mengambil jalan terbaik bagi permasalahan yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi). Akhirnya Umar pun menghimbau untuk kalangan yang keberatan dengan 11 rekaat untuk menyelenggarakan sholat taraweh sebanyak 23 rekaat. Lho, … kok malah lebih banyak? Bukankah 11 berarti lebih ringan daripada 23 ?
 
Inipun ada kisahnya …
 
Sholat Taraweh adalah sholat sunnah di malam hari yang khusus di malam Ramadhan. Dari asal kata, Taraweh berarti ‘bersantai-santai’. Artinya tidak diburu-buru. Dilaksanakan dalam keadaan yang lapang. Pada jaman Nabi, sholat taraweh memang dilakukan semalam suntuk. Jumlah 11 rekaat itu dilakukan dengan santai, dua rekaat kemudian istirahat. Setelah cape’nya hilang, mereka bangkit lagi untuk sholat kembali. Lho, sebegitu cape’kah sholat yang cuma 2 rekaat itu, hingga dibutuhkan istirahat segala?
 
Sahabat Baltyra, …
 
Pada jaman Nabi, sholat itu bacaan suratnya panjang-panjang. Sekali berdiri bisa berjam-jam. Satu Rekaat bisa satu juz surat dibacakan. (satu juz setara dengan ¾ jam membaca Alqur’an dengan kecepatan seseorang yang sudah lancar dan fasih membacanya). Tak heran jika dalam satu bulan mereka bisa khatam berkali-kali. (AL-Qur’an terdiri atas 30 juz). Maka, masuk akal jika sesudah sholat para sahabat Nabi bersantai-santai dahulu, menghilangkan penat dengan menyantap makanan yang biasanya berlimpah disajikan di malam Ramadhan.
 
Maka, ketika Umar berijtihat dengan bilangan 23 rekaat tadi, beliau berasumsi demikian : bahwa lama berdirinya dikurangi, dengan membaca surat yang pendek-pendek (terdapat pada juz ke tigapuluh). Namun agar standart minimal pencapaian membaca qur’an bagi seorang muslim terpenuhi, maka bilangan rekaatnya ditambahkan menjadi 23. Toh Rosulullah SAW pernah melakukannya juga.
 
Idealnya, mau yang 11 rekaat atau 23 rekaat, ada standart minimal bagi jumlah bacaan Qur’annya, yaitu satu juz semalam. Perlu diketahui, bagi seorang muslim sangat dianjurkan membaca Al-Qur’an minimal sehari satu juz. (sebulan khatam). Namun tidak dibenarkan mengkhatamkannya kurang dari 3 hari. Artinya, sebulan satu kali khatam itu sudah standart minimal. (duh…, jadi malu sama diri sendiri. Bahkan yang minimal pun belum tentu bisa terpenuhi. Hiks…)
 
Begitulah, masa berlalu hingga sampailah pada generasi kita. Terdapat pergeseran kebiasaan ummat Islam yang sama sekali berbeda dari apa yang telah Rasulullah dan para sahabat contohkan. Kini, yang 23 rekaat mengejar waktu dengan gerakan yang super cepat, hingga gerakan ruku’, sujud dan duduknya tidak tuma’ninah (berhenti sebentar) lagi. Bacaan suratnya benar-benar yang super pendek.
 
Sementara yang 11 rekaat, tidak mau ketinggalan. Meskipun agak santai, tetapi jatah surat yang di 23 rekaat diembat. Yang harusnya mereka membaca surat-surat yang panjang dengan berdiri yang lama, ternyata tetap saja surat-surat yang pendek yang dibacanya. Akhirnya, mau yang 11 rekaat ataupun 23 rekaat, dimulai dalam waktu yang sama, bubarnya juga bersama-sama. Hahaha…
 
Apakah kemudian sholat mereka tidak sah? Oh, … jika berbicara tentang sah dan tidaknya, selama rukun dan syarat sholat terpenuhi ya tidak masalah. Di sini saya hanya ingin memberikan gambaran sholat taraweh di jaman Nabi dan mengapa muncul bilangan rekaat yang berbeda.
 
Jadi, mau memilih yang 11 atau 23, semuanya tidak ada masalah. Semuanya ada tuntunannya, dan yang penting paham mengapa memilihnya. Bukan sekedar ikut-ikutan, bukan sekedar asal menjalankan. Segolongan orang yang sukanya ikut-ikutan, tak mau memahami sisi keilmuannya, biasanya mereka sangat sensitive. Jika ada yang berbeda, langsung bersikap ekstrim. Bahwa yang berbeda bukanlah golongan kita.
 
Bayangkan, pada banyak hal, dalam satu agama saja bisa bermacam perbedaan dalam penafsiran. Apalagi dengan yang berbeda agama. Jika masih ada yang bersikap ekstrim, merasa paling benar, bisa dipastikan, mereka adalah golongan orang-orang yang tak suka menuntut ilmu.
 
Wallohu a’lam bish showwab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.