Cara Orang Cina Berganti/Memilih(kan) Nama

Handoko Widagdo – Solo


Note Redaksi: seperti biasa di setiap weekend, ditayangkan ulang artikel lama. Dan artikel tayang ulang ini dipilih karena masih dalam suasana perayaan Tahun Baru Imlek.


Ada berbagai cara keturunan Cina di Indonesia mengganti/memilih(kan) nama. Pemilihan nama tersebut, baik karena ganti nama maupun memberi nama kepada anak-anaknya ternyata ada polanya. Berdasarkan pola tersebut saya berprasangka bahwa keturunan Cina di Indonesia berubah-ubah orientasi/kiblatnya.

Pada awalnya ada kompromi untuk memilih nama Indonesia tetapi masih ‘mambu cino’. Kemudian ada juga yang mengidentifikasi dirinya sepenuhnya menjadi Indonesia. Tapi sejak 80-an sampai sekarang, keturunan Cina lebih banyak berkiblat ke barat dalam memilih nama.

Sejak 27 Desember 1966, keturunan Cina di Indonesia ‘diminta’ untuk berganti nama. Peraturan ganti nama tersebut tertuang dalam Keputusan Presidium Kabinet Ampera No 127/U/Kep—12/1966 tentang ‘Peraturan ganti nama bagi warga negara Indonesia jang memakai nama Tjina,’ yang ditanda tangani oleh Djenderal T.N.I Soeharto, sebagai Ketua Presidium.

Saat itu umurku belum genap 3 tahun. Adikku bahkan baru berumur beberapa bulan, sebab dia lahir pada bulan November 1966. Jadi aku tidak tahu bahwa namaku diganti. Saat itu adalah tahun 1967. Papaku pergi ke Pengadilan Negeri untuk mendaftarkan pergantian mana. Nama-nama yang diganti, seperti tertera dalam akte ganti nama yang masih aku simpan, adalah nama papaku, nama mamaku, namaku dan nama adikku. Sementara engkongku juga berangkat ke Pengadilan Negeri dan mendaftarkan pergantian nama pada hari yang sama dengan papaku. Di akte ganti nama engkongku, terdaftar nama engkong dan emak.

Sejak SMP, entah mengapa, saya tertarik untuk mengamati nama-nama Cina yang mati dan keluarganya di surat kabar. Awalnya saya selalu mengikuti nama-nama yang muncul dalam berita duka Harian Suara Merdeka Semarang. Kini aku lebih sering mengamati nama-nama yang muncul di berita duka Kompas dan Solopos. Berikut adalah analisis terhadap pola ganti nama dan penamaan etnis Cina di Indonesia. Dari pengamatan yang aku lakukan secara amatiran, aku bisa menyimpulkan bahwa ada beberapa pola penggantian nama dan pemberian nama bagi keturunan Cina di Indonesia:

1. Mendekatkan nama Cinanya dengan nama Indonesianya

Orang Cina di Indonesia biasanya memakai nama dengan tiga suku kata. Suku kata pertama adalah nama marganya, suku kata kedua adalah nama keluarganya, dan suku kata terakhir adalah namanya yang sebenarnya. Misalnya Tan Bun Siong. Tan adalah nama marga, Bun adalah nama keluarga (biasanya semua anak laki-laki dalam keluarga ini akan mempunyai nama tengah yang sama, yaitu Bun) dan Siong adalah nama dia yang sebenarnya. Contoh lainnya adalah Lie Ay Tjuk. Lie adalah nama marga, Ay adalah nama keluarga (di mana semua anak perempuan dalam keluarga ini bernama tengah Ay), dan Tjuk adalah nama dia yang sebenarnya.

Foto Oei Tiong Ham (property of: www.semarang.nl)

Banyak sekali saya temui nama-nama yang mengindonesiakan nama marganya, seperti berikut: Tan menjadi Tantular atau Tanoto. Tjie jadi Ciputra. Liem jadi Halim atau Salim. Sie menjadi Sindunata. Oei menjadi Wijaya atau Winata. Pang menjadi Pangestu. Wong menjadi Wongso, dan sebagainya.

Penggantian dengan cara mendekatkan dengan nama Indonesia juga terjadi pada nama sesungguhnya, atau nama belakang. Tek Wan, menjadi Wantono. Bun Han, menjadi Handoyo. Kiem Hiat menjadi Yatmanto. Ay Lan menjadi Lanny, Kiem Sian menjadi Sianti, dan seterusnya. Jadi Tan Tek Wan menjadi Wantono Tanoto. Lie Ay Lan menjadi Lanny Limanto. Liem Swie Sian menjadi Sianti Halim, dan seterusnya-dan seterusnya.

Nama-nama ini umum saya temukan dari nama-nama Cina yang lahir sebelum tahun 1966 sampai dengan akhir 1970-an.

2. Mencari nama Jawa yang punya makna

Selain berganti nama dengan cara mendekatkan nama Cinanya dengan nama Indonesia, kebanyakan orang Cina berganti nama dengan memilih nama Jawa yang mempunyai makna tertentu, dan saat itu umum dipakai. Misalnya Adji Brotokusumo, sama sekali tidak dipilih karena dekat nama Cinanya. Pilihan nama ini murni memperhatikan makna dari namanya. Adji berarti bernilai. Broto artinya keluarga besar (clan) kusuma artinya ningrat. Jadi Adji Brotokusumo berarti seorang yang sangat berharga dari keluarga besar dari priyayi ternama. Arief Budiman adalah contoh lainnya. Nama ini juga dipilih karena maknanya. Nama Arief Budiman menunjukkan sifat orang tersebut yang arif dan budiman. Nama cinanya sama sekali tidak mirip dengan ucapan Arief Budiman. Nama yang lebih poluler seperti Joko, Bambang, Agus, Endang, Dewi, Niniek juga sangat lazim dipakai oleh mereka yang lahir antara tahun 1960 sampai akhir 1970-an.

Nama saya, misalnya, adalah nama dengan tipe ini. Kakek saya memilihkan nama Handoko (yang artinya banteng) adalah karena dia pendukung Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan tidak sama sekali karena nama Cina saya Han. Engkongku berharap diriku bisa sekuat banteng. Widagdo juga bukan berasal dari marga Oi. Sebab saya bukan bermarga Oei. Widagdo diambil dari nama teman ayah saya yang adalah seorang Jaksa yang saat itu membantu menguruskan proses pergantian nama kami di Pengadilan Negeri.

3. Memakai nama-nama Barat/Kristiani

Meski tidak terlalu lazim digunakan oleh mereka yang lahir sebelum tahun 1980, nama-nama barat dan kristiani banyak dipakai oleh keturunan Cina. Nama seperti Sophie, David, Stephanie, Jason, Albert, Robert, Alfons, Rico, Suzan, Anne, dan lain-lain mendominasi nama-nama keturunan Cina yang lahir tahun 1980 sampai saat ini. Nama-nama tersebut tidak selalu berarti nama baptis. (Kebanyakan orang Kristen atau Katholik, saat babtis mendapat tambahan nama kristiani; seperti Markus, Matius, Abraham, Maria Goretti, Vincensius, Darius, dsb). Nama-nama barat/kristiani tersebut sudah dipilihkan oleh orangtuanya sejak lahir.

Generasi yang lahir 1980-an sampai sekarang sering mempertahankan nama marga yang sudah diindonesiakan di belakang nama depannya yang barat. Misalnya Alfons Tantular. Debbie Tanoto. Atau memakai nama bapaknya yang sudah Indonesia, tapi bukan nama marga, seperti berikut bapaknya Handoyo (Liem Bun Han) anaknya bernama Maggie Handoyo dan Robbie Handoyo.

Mengapa mereka memberi nama anak-anak mereka yang lahir 1980- sampai sekarang dengan nama-nama barat? Mengapa tidak melanjutkan kedua model penamaan yang sudah ada? Alasan yang bisa saya kemukanan disini adalah bahwa proses ‘menjadi Indonesia’ melalui nama telah gagal dan Barat menjadi orientasi bagi keturunan Cina pada tahun 1980-an sampai sekarang.

Dapat disimpulkan bahwa pada periode 1966 sampai akhir 1970-an, keturunan Cina mencoba mengasosiasikan dirinya dengan Indonesia tanpa melepaskan kecinaannya. Saya berpraduga bahwa keturunan Cina mencoba ‘belajar’ menjadi orang Indonesia namun berupaya memelihara ‘akar’ cinanya. Namun proses belajar dalam kondisi tertekan ini ternyata tidak berhasil.

Perubahan penamaan sejak awal 1980 menunjukkan bahwa tekanan politik saat Orde Baru membuat mereka berpaling kepada Barat. Sebab nama barat bisa diterima oleh orang Indonesia, meski berbeda sama sekali dengan nama-nama yang lazim dipakai oleh orang Indonesia.

Namun apa yang saya ungkapkan diatas adalah hasil pengamatan secara amatiran. Bukan berasal dari sebuah kajian ilmiah. Hanya sebuah refleksi diri sebagai KASNO (bekas Cino). Semoga ada pihak yang berminat untuk meneliti lebih mendalam hubungan antara penamaan dan orientasi/kiblat keturunan Cina di Indonesia.


About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

41 Comments to "Cara Orang Cina Berganti/Memilih(kan) Nama"

  1. N. Adisusanto  21 October, 2019 at 15:34

    Saya Tionghoa-Jawa, tapi akte kelahiran saya dicatatkan berdasarkan stbld 1933:74 jo.
    stbld 1936:607 yg mana adalah aturan catatan sipil bagi golongan Indonesia Kristen. Hal itu karena akte perkawinan ortu saya dicatatkan bds stbld yg sama. Ortu sy mmg berusaha menghilangkan ketionghoaannya krn aturan diskriminatif yg masih berlaku di DIY yg melarang WNI keturunan punya tanah hak milik.
    Bicara soal marga, marga sy adalah “Tan”. Saat ganti nama, kakek saya memilih (dan memilihkan) nama “Adisusanto” yg asalnya dari nama kecilnya, yaitu “Soesanto”. Kakek saya ini darah jawanya memang lebih banyak, tapi punya nama tionghoa dan marga dari garis ayah.
    Sy sgt menyayangkan aturan” diskriminatif dari pemerintah, yg mana mencerminkan dukungan terhadap tindakan diskriminasi di tengah masyarakat. Bahkan aturan diskriminatif di DIY masih berlaku walaupun sdh banyak upaya yg dilakukan kaum tionghoa. Aturan ganti nama yg berasal dr jaman orba juga sgt tdk rasional, krn tdk ada aturan yg menganjurkan perubahan nama bagi keturunan India, Arab, dan bahkan Belanda(!) dan tentu aturan ini masih mempunyai dampaknya hingga skrng, yaitu semakin hilangnya nama tionghoa di Indonesia. Tentu ini tidak adil dan rasional. Semoga penghapusan diskriminasi etnis yg digaung”kan menjadi kenyataan secara sepenuhnya.
    Salam,
    N. Adisusanto

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.