Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Aku dan Temanku

Friday, 11 September 2009

Viewed 1384 times, 1 times today | 11 Comments |

Aimee – Bangka 

Awal Maret 2003

Hari ini pertama kali aku bekerja di perusahaan ini berkat bantuan seorang teman. Peraturan utama di perusahaan ini. Anak baru diajak ngider, dikenalin satu persatu ke seantero kantor. Untung gak sampai ke pabrik-pabriknya. Mampus saja kalo harus ngenalin diri ke semua penghuni kantor, di mana tatapan menghujam pengen tau tentang kita.

Paling berkesan hanya kenalan dengan satu orang, sebut saja namanya Emi. Asli, kagak ada bagusnya dia. Udah kecil, mungil, tanpa senyum, kata-katanya judes sekali. Rasanya gak penting sekali berkenalan dengannya. Awal peristiwa gak enak itu begini, aku kenalan dengan salah satu pegawai.

Dia bertanya padaku “orang asli mana?”
“Bangka”, jawabku.
“oh..itu tuh si Emi kasir juga orang Bangka, masuk aja ke ruangannya, kali aja kalian kenal”

Berhubung pengen sekali kenal teman sepulau, aku pergi saja. Sekali masuk ke ruangannya yang sempit, aku gak bisa ngeh satu mana orangnya, karena di ruangan itu ada tiga orang wanita. Mereka satu departemen tampaknya.

“hmm…yang namanya Emi yang mana ya, saya Aimee. Karyawan baru di sini”

Dua wanita yang lain sontak menunjuk ke satu makhluk mungil di pojokan. “tuh” .

Dia mendongak : ”ada apa anak baru cari gue, kalo mau ngasih nomor rekening buat gaji mesti bulan ke 3, u kan anak baru, gaji bulan percobaan itu cash”.

Astaga..makan apa aku semalam, hari pertama ketemu makhluk jutek begini. Alih-alih kenalan, udah disembur begini dengan kata-kata gak sedap.

“oh gak..kata si itu, kamu orang Bangka ya, saya juga. Saya dari sungailiat, kamu?” (dalam bahasa Bangka tentu!)

“oh Bangka juga, nama gue Emi ya udah gue lagi sibuk, ntar ajah ya” (dalam bahasa jakarte dengan elu elu – gue gue).

Sepertinya kehadiranku tak disambut manis seperti harapanku bisa haha hihi dengan teman se daerah se nasib se penanggungan. Lha dia aja make bahasa daerah sendiri ogah. Gak ngerti juga apa udah gak bisa atau emang tidak mau. Lihat monas kelamaan kali, jadi gak bisa bahasa daerah lagi..hihi..

Aku mundur teratur dari ruangannya, terus terang dari kejadian itu aku kurang simpatik padanya. Agak malas meladeni dia, walau semua keperluan gaji, uang lembur, uang cuti mens mesti diambil ke dia. Penghitungan keterlambatan sudah berapa menit pun, biasanya dia yang tau, karena komputernya yang terhubung dengan mesin scanning sidik jari. Namun aku agak malas berhubungan dengannya. Kalo bisa menghindar, aku akan menghindar.

Sekitar bulan Juli tahun 2005

Kami mendapatkan seorang tambahan karyawan baru di departemen ku. Sebut namanya Yuni. Anaknya manis, mungil juga, tidak terlalu cantik, kalem, dan sekali lagi se daerah dengan ku. Tentu aku senang sekali, apalagi dia satu daerah dengan almarhum mama ku. Dia juga kenal dengan paman dan sepupu ku. Hal ini ku ketahui setelah aku berbincang dengannya.

Dengan Yuni, aku begitu akrab karena mungkin kami sama-sama satu level dan berasal dari daerah yang sama dan berada di departemen yang sama. Seringkali ada kiriman dari Bangka ku bagi dengannya, begitu juga kalau mendapatkan baju sample dari kakak ku, yang kecil sizenya pun aku minta buat dikasih ke Yuni. Karena memang badan Yuni kecil mungil.

Aku merasa sangat cocok dengannya. Seperti soulmate, makan bersama, pulang bersama, curhat apa saja, dan yang jelas kami se iya sekata.

September 2007

Supervisor kami mengajukan berhenti kerja. Anaknya tidak ada yang menjaga. Tentu saja pengunduran dirinya membuat departemen kami sedikit goncang, karena otomatis di antara Yuni, Aku dan Ani, harus ada yang menggantikan posisi tersebut. Dan tentu saja akan ada tambahan anak baru untuk mengganti posisi salah satu dari kami nanti.

Rapat kecil diadakan, dan keputusan manager dan pimpinan perusahaan. Aku menjadi penggantinya. Walau sesungguhnya aku tidak ingin karena aku merasa Ani bekerja lebih lama dari ku, terus aku seakan punya pemikiran pastilah hubungan persahabatan kami bertiga di departemen menjadi terasa lain.

Awalnya mereka biasa saja terhadap ku, dan aku pun berhati-hati memperlakukan mereka. Berharap tak ada konflik yang bisa merusak stabilitas departemen.

Aku tak tau bagaimana mulanya, namun perlahan sepertinya Yuni yang tadinya akrab dengan ku menjadi agak sedikit pemberontak. Semisal, jika ada lembur, dia langsung mengajukan lembur tanpa berdiskusi dengan ku, atau jika ada pekerjaan bermasalah dia akan jalan sendiri menyelesaikannya dengan departemen lain. Dan ketika tidak terselesaikan, sehingga muncul di meeting bulanan kepala divisi. Aku kelabakan karena sama sekali tak tau jika di belakang ku Yuni bergerak sendiri.

Aku bilang padanya secara pelan pelan.

“Yun, jika ada masalah pekerjaan tolong kasih tau aku. Biar aku saja yang selesaikan dengan kepala divisi yang lain, kamu jalan sendiri begini, takutnya nanti jika ada meeting lagi lagi aku tidak tau. Kau kerjakan intern saja. Hubungan antar divisi biar aku yang kerjakan”

“ok” jawabnya hanya pendek begitu saja.

Esok-esoknya kulihat ia semakin menjauhi ku, dan aku tak mengerti kenapa seluruh departemen diatas kami seakan memusuhi ku. Ani masih bersikap netral walau kuakui ia tak mau lagi makan bersama ku. Mereka makan bersama divisi atas. Aku makan di meja sendiri bersama karyawan baru, Eli. Dan kadang aku menyambangi divisi lain. Sekedar mencari teman, jika Eli ternyata makan di luar atau cuti.

Ujung dari semakin menjauhnya Yuni dari ku, adalah dari sikapnya yang tak pernah meminta ijin dari ku. Satu peristiwa yang ku yakini sebagai pemantik retaknya hubungan kami adalah suatu sore.

“Yun, mau pulang? Mobil jemputan udah tinggal satu”
“oh gak…aku di jemput si mas” jawabnya
“Oke deh, met berkencan ya” jawab ku masih biasa saja.

Besok aku dipanggil sama manager.

“Aimee, kamu tidak membantu pekerjaan Yuni dan Ani kah?”
“hmm..kenapa memangnya Bu? Setau saya jika ada hal yang tidak bisa mereka selesaikan aku sudah minta mereka untuk minta bantuan ku”

“Begini, kemaren si Yuni lembur sampe malam, dan pulang nebeng dengan mobil divisi lain. Kalau kerjaan banyak kamu sebagai kepala harus bantu, jangan anak buah lembur sendiri” kata manager ku

“setau saya dia tidak lembur kemarin Bu, sepengetahuan saya katanya mau dijemput pacarnya” jawab ku lagi.
“hmmm…saya tidak tau. Pokoknya tadi dia minta tanda tangan form lemburannya. Berarti kamu sudah tau” jawab manager ku lagi
“lain kali kamu perhatikan mereka, kalo mau lembur jangan mendadak. Ikut menebeng mobil divisi lain tidak bagus, karena kita harusnya booking mobil sendiri jika departemen kita ada yang mau lembur. Lagian jika tidak banyak kerjaan kamu, kamu turun tangan bantu”.

Aku hanya bisa mengelus dada, Yuni sampai seperti ini kah kamu menjauhi ku. Sampai harus mencelakai aku di hadapan manager. Membuat aku tidak punya muka.

Beberapa hari sudah lewat sejak kejadian itu. Saat Yuni meminta tanda tangan ku untuk form lemburnya . Aku langsung memintanya untuk ke ruang meeting. Tak lupa ku minta bantuan Mega untuk menjadi saksi dari isi pembicaraan kami. Selain menjadi saksi, Mega juga berfungsi sebagai penengah jika pembicaraan kami tak menemui titik temu. Mega dan tiga orang lainnya memang dibentuk perusahaan sebagai orang tengah di departemen kami. Departemen lain juga ada. Kebetulan saja departemen besar kami punya empat orang penengah. Salah satunya Mega yang menurut ku tidak bakal memihak.

“Yun, semalam bukannya kamu bilang ke aku kalo kamu mau di jemput mas mu?” tanya ku padanya.
“oh iya…tapi jam setengah tujuh mas telpon, katanya gak bisa jemput dan sudah malam. Aku langsung lembur aja, lagian sudah tidak ada angkot” jawabnya dengan lugas.

Aku berpikir, aduh Yun…kok gak merasa bersalah gitu ngomongnya. Atau minimal minta maaf sama aku , kenapa harus nunggu sampe beberapa hari.

“Yun, bukan aku marah sama kamu karena kamu lembur, tapi tolong perhatikan image aku di mata manager. Seakan aku gak bantu kerjaan kamu dan Ani. Sehingga kalian lembur kek gini aku pun gak tau. Aku udah nunggu kamu ngomong selama beberapa hari ini, tapi kamu harus nunggu sampai hari minta tanda tangan baru kamu ngomong”

“iya aku minta maaf” katanya lagi.

“Ok…jgn diulangi lagi. Tolong kerjasamanya ya” jawab ku.

Aku merasa pembicaraan di ruang meeting ini sudah clear, Mega pun puas karena tak ada debat berarti antara kami. Jadi dia gak perlu repot repot menceramahi kami.

Ternyata dugaan aku dan Mega salah, Yuni makin diam dan menjauhi aku. Semua pekerjaan dia selesaikan sendiri dan makin tidak menghargai aku sebagai kepala divisi. Dan seakan akan entah datang dari mana, aku merasa Yuni membentuk geng yang menjauhi ku. Aku merasakan kesendirian dan merasa sebagai the outsider di kantor.

Akhirnya pada bulan maret 2008 aku tidak kuat menjalani hidup cuek dengan keadaan sekitar. Aku memutuskan untuk pindah kerja. Saat terakhir ku di kantor Yuni pun tak memberi aku salam perpisahan. Dan aku baru menyadari semua baju baju yang dulu pernah kuberikan padanya sudah tak pernah ia pakai lagi.

Juni 2008

Aku sudah pindah kerja. Di mana aku merasa lingkungannya baik dan lumayan. Aku mengalami masa sulit dalam hubungan ku dengan seseorang spesial saat itu. Dia tak menghiraukan aku, tidak membalas SMS ku, tidak menjawab telpon ku. Dalam masa rapuh itu aku butuh seorang teman. Sahabat ku Akon sangat jauh di Bangka. Aku tak bisa bercerita padanya.
Entah kenapa aku mengingat Emi. Si jutek itu. Aku memencet nomor telponnya, dan…

“hallo, Emi..ini Aimee. Ada di mana?” Tanya ku
“rumah, kenapa?” Jawabnya
“aku pengen ke rumah mu, mumpung malam minggu”
“oh..ya udah nginep ajah..aku juga bete dirumah, gak ada kerjaan” jawabnya.
“ok”

Klik…telpon terputus, dan aku masih canggung. Seakan gak ngerti mengapa aku menelpon Emi di saat aku seperti ini. Aku tak akrab dengannya. Untuk apa aku menginap di rumahnya.

Tapi aku tetap berkemas dan naik angkot ke rumah kontrakan Emi.

Tak lama aku sudah menonton tivi berdua dengannya. Sepertinya dia sedikit mengetahui tentang keadaan hati ku. Sebab dia juga tampak tidak khusuk menonton. Tatapan matanya ingin tau.

Akhirnya pertahanan ku jebol, dan aku terisak di hadapannya.
“Ada apa?” Tanyanya sedikit panik

Aku menjelaskan semua permasalahan hati ku kepadanya, se kotak tissue diangsurkan di hadapan ku, dan tangannya menggengam tangan ku. Tak pernah sebelumnya kami begini terbuka. Dia ikut menangis bersama ku.

Setelah kejadian itu, aku dan Emi menjadi makin akrab. Setiap malam minggu kami habiskan membuat bintang dari kertas origami. Dimana disetiap bintang itu kami tuliskan keinginan hati kami. Katanya membuat seribu bintang bisa terkabul keinginannya. Entahlah, yang jelas aku berhasil membuat bintang sebanyak dua fish bowl dan satu vas bunga. Sampai dia terkagum kagum dengan ku. Saking ingin menghibur diri dari duka lara percintaan. Beginilah dua orang wanita saling menghibur diri.

Oktober 2008

Hubungan ku membaik, dan aku akhirnya menikah dengan lelaki itu. Seiring waktu berjalan Emi juga ternyata punya gebetan baru. Dia sibuk dengan cowonya, aku sibuk dengan keluarga kecil ku.

Kami masih sering bertemu sesekali di tempat favorit kami, tempat makan Chowking Citraland di pojokan. Masih dengan menu yang sama, menu paling hemat 6000 ribu rupiah dengan membawa minum dari luar. Kalo ketauan sama pihak restoran, mungkin kami berdua bisa malu. Tapi kami cuek saja.

Kemudian entah bulan apa aku tak ingat persisnya, Emi mengabari ku jika dia sedang ada masalah dengan cowonya. Aku langsung menemuinya di tempat biasa. Chowking.
Disana dia sudah menangis dengan mata sembab dan makanan yang masih belum disentuh. Aku menghampirinya. Dan semua menjadi jelas…hubungannya dengan cowonya tidak disetujui pihak keluarga cowo. Sebab pastinya tidak jelas.

Sekarang aku yang kebalikan menjadi penguat baginya. Menemani dia dalam masa sulitnya. Walau pun dinasehati bagaimanapun tetap saja masalah hati harus diselesaikan sendiri oleh yang bersangkutan.

Herannya, dalam masa depresi, Emi masih punya ide gila.

“Aimee, besok temani aku ke paranormal” katanya
“whatttttt……paranormal?” teriak ku kaget.
“iya, kamu mau kan”
“ho oh” kok nurut ajah ya akunya…apa terpaku dengan kesedihannya?

Entah dia sedang tak normal, atau aku yang ikut ikutan tak normal, walau sesungguhnya aku lah orang yang seharusnya masih berpikiran normal, bahwa kenapa masalah cinta begini kami berdua malah naik bajaj berdua ke tempat para normal. Haikz….normal dan tak normal hanya paranormal yang tau mungkin??…ah…gak tau deh.

“ini kertas Hu, loe baker n kasih minum si cowo, nanti dia datang cari loe” kata si paranormal dengan logat daerahnya.

Aku dan Emi pandang pandangan. Bagaimana ini? Orang si cowo aja gak pernah datang lagi kok. Gimana cara kasih minumnya? Kalo udah bisa kasih minum kan brarti cowonya udah dating baekan gitu…ah paranormal yang aneh!

Tapi dasar si Emi, makin tak normal dengan otak patah hatinya. Dia bilang harus ke rumah cowonya untuk masukin tuh kertas Hu bakar ke minum cowonya. Hah???

“wait…wait…aku masih lurus nih…blom gila? Gak gak…aku gak ikut ikut kali ini” kata ku.
“iya, gpp kok…dosa aku yang tanggung, kamu nemenin ajah, jadi umpan kalo perlu” katanya dengan sengit

Akhirnya entah setan mana yang menggerakkan, aku dan Emi menuju rumah si cowo. Kami takut sekali kalo cowo itu ada dirumah atau minimal adiknya. Akhirnya aku diumpan kan ke sarang macan. Menjadi pengetuk pintu, jika yang membuka cowonya atau adiknya. Aku akan pura pura salah cari alamat. Haduh…apa salah dan dosa ku. Harus jadi umpan begini. Kalo aku dikenali sebagai temannya Emi..mampus lah!!

Ting tong….ting tong…gak ada yang buka. Tampaknya tak ada orang di rumah. Aku memberi isyarat pada Emi.

Emi bergegas memasukkan anak kunci ke pintu dan klik…pintu terbuka. Aku mengawasi gang. Dan Emi melakukan manuver. Entah apa yang ia kerjakan di dalam sana. Pokoknya aku tak tau dan sudah keringat dingin. Tak kepikiran untuk mikir dia ngapain aja…yang jelas mulut ku komat kamit biar gak ketangkap satpam. Walau sesungguhnya satpam adalah teman Emi juga, karena satpamnya taunya Emi adalah pacar sang penghuni. Jika Emi datang bertandang sesungguhnya bukan hal yang aneh. Karena memang Emi sering datang sendiri ke rumah itu. Namun aku tetap gemetar karena aku tak pernah melakukan aksi seperti ini.

Misi selesai……….pintu dikunci kembali.

“kau gila! Aku gak mau ikut kamu lagi” teriak ku masih gemetar.

Dia tersenyum, kupegang tangannya…sama sama gemetar. Ternyata gila gila, dia juga takut. Rasain!!

Sambil jalan pulang keringat dingin ku masih menetes di dahi. Emi orang gila, atau aku yang ikut gila. Entah siapa yang gila mengajak siapa. Tak tau..Tapi bulan berganti tahun..namunnyatanya cowo Emi tak pernah kembali. Emang mungkin sudah tak berjodoh. Di apain juga gak bakal balik.

Sekarang kami masih sering berdua ke chowking pojok citraland. Jika kami bercerita tentang misi gagal kami, kami hanya bisa tertawa terbahak bahak. Masa gila setahun lampau, makin membuat kami semakin dekat. Semoga nasib pertemanan aku dengannya tidak seperti aku dan Yuni.

Teman adalah seseorang yang datang kepadamu, ketika seluruh dunia pergi. Walau banyak juga yang berkata, teman adalah orang yang tak pernah menghalangi jalan anda, kecuali ketika anda salah jalan.

Walau aku tau, jalan Emi salah saat melakukan misi yang ternyata gagal. Entah kenapa aku tak menghalanginya. Mungkin aku berpikir, biar dia puas. Jalani aja menurut dia walau hasilnya gak pernah terbukti berhasil.

Teman datang dan pergi, musuh selalu bertambah. Itu ungkapan yang benar. Satu lagi jangan menilai orang dari luar saja. Buktinya Emi yang jutek terbukti menjadi teman dikala aku sedih dan butuh tempat kabur, satu satunya orang yang mengulurkan tissue kepada ku kala aku menangis. Yuni yang semula ku kira manis, sekali aku tegur bisa membuat ia menjauhi ku begitu lama. Apakah ini berhubungan dengan posisi ku yang memang ia inginkan. Walau setelah aku berhenti, Ani lah yang menggantikan ku.

friendshipYuni, adakah kau pernah merasa..aku sesungguhnya tak pernah ingin kau memusuhi ku. Di pernikahan mu aku datang, namun mengapa saat aku mengundang mu di pernikahan ku, jangan kan datang, selamat pun tak kau ucapkan? Begitu dalam kah kau membenci ku?

Dalam lubuk hati terdalam…sesungguhnya aku masih teman mu.

Jika, suatu hari kita bertemu dan aku menyapa :“Hai, apa kabar mu?”
Akankah kau menjawab ku…teman??
 

Share This Post

Posted by Friday, 11 September 2009 on 07:56.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

11 Responses to “Aku dan Temanku”

Pages: « 2 [1]

  1. 10
    Sirpa Says:

    hadir

  2. 9
    lindacheang Says:

    Aimee : namanya juga relasi. ada baik, ada jelek, ada yan jadi teman sampe sahabat ada yang tetap memusuhi tanpa alasan jelas.

  3. 8
    alexa Says:

    Wah Aimee pengalamannya dengan Yuni cukup “mengerikan” sampe pindah kerjaan gitu tapi sahabatnya jadi tergantikan dengan Emi ya…seru juga cerita paranormalnya..kqkqkq

  4. 7
    Lida Says:

    Mee…kabar kmu gimna?

  5. 6
    Ocha Says:

    Aimee, stlh dekat dg Emi, cerita gak tentang penilaian pertamamu ttg juteknya itu?? He3… Tnyt si jutek Emi lebih bersahabat drpd Yuni yg manis ya…

  6. 5
    rya Says:

    hoi Aimee, ikak di bangka dimane e wo, sungailiat ok. sekarang tinggal dimane?

  7. 4
    saras jelita Says:

    Amiee…friends are Diamond thanks for sharing ya! lov u dear

  8. 3
    Ning jatim Says:

    Aimee, jadi ikutan terbawa ceritamu, memang ada kok teman yang seperti itu. dan setelah lama berlalu biasanya akan baik lagi, apalagi sudah tidak bekerja di tempat yang sama. semoga si Yuni baca article ini ya…..

  9. 2
    saras jelita Says:

    MT selamet yahhh…

  10. 1
    MT Says:

    tumben bisa pertama

Pages: « 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)