Kuwait, kota nelayan di Padang Pasir

Junanto Herdiawan – Indonesia

Seorang kawan yang mengelola komunitas, <http://www.baltyra.com>, meminta saya untuk menuliskan kembali perjalanan ke Kuwait beberapa waktu lalu guna dibagi dengan rekan-rekan di komunitas. Untuk itu, saya mencoba mencatat beberapa hal menarik tentang Kuwait City. kuwait tower

Bagi saya, Kuwait adalah oase indah di tengah teriknya padang pasir Timur Tengah. Saat Saddam Hussein menginvasi Kuwait beberapa tahun lalu, alasannya pasti sangat kuat. Kekayaan yang amat sangat dari penduduk Kuwait memang membuat kesenjangan dengan negara tetangganya. Saat saya menapaki jalan-jalan di kota Kuwait City, rasa itu terhampar nyata di sana. Di tengah debu gurun dan teriknya udara padang pasir, Kuwait adalah metropolis di tengah kekeringan. Gedung mewah, mall megah, dan bangunan modern mewarnai setiap sudut negeri itu.

Menurut Said, teman seperjalanan yang juga warga Kuwait, Kuwait adalah negara yang kaya minyak. Mereka mengeskpor minyak dan mengimpor segalanya. Meski mengimpor segalanya, dengan ekspor minyaknya, Kuwait masih mencatatkan surplus sebesar lebih dari 10 miliar dollar AS di neraca perdagangannya. Dari surplus itu, 6 miliar dollar AS diinvestasikan lagi oleh Pemerintah. Dan yang 4 miliar dollar AS dibagi-bagikan pada penduduknya yang hanya berjumlah sekitar 2 juta orang. Setiap anak di Kuwait akan menerima uang sebesar 60,000 dollar AS saat menginjak usia 16 tahun. Hmmmm, tak heran kalau bikin iri kan hehehe….

Dhow dinner di Al Hashemi II Tapi siapa sangka kalau Kuwait dulu, di abad 18, hanyalah sebuah perkampungan Badui Arab yang gersang. Jauh sebelum minyak ditemukan, masyarakat Kuwait hidup di sekitar teluk arab dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Kuwait terkenal sebagai bangsa maritim, nelayan, dan pembuat kapal kayu (dhow) yang baik. Mereka berlayar ke Baghdad dan Damascus untuk berdagang. Pelabuhan Kuwait terkenal sebagai pelabuhan dagang yang cukup sibuk di teluk Arab. Sisa-sisa kejayaan bangsa nelayan ini masih dapat dilihat kalau kita mengunjungi Museum Maritim Kuwait yang terletak di kawasan Hotel Radison SAS.

Selain memajang berbagai jenis kapal kayu dan peninggalan bersejarah, di sana juga dibangun kapal kayu (dhow) ukuran besar yang sangat impresive. Kapal ini tercatat sebagai kapal kayu terbesar di dunia menurut Guiness World Records. Kapal itu juga berfungsi sebagai restoran terapung yang mewah, yang dinamakan Al Hashemi II. Nama ini diambil dari keluarga nenek moyang pemilik hotel Radisson Kuwait, Husain Marafie. Kapal kayu Al Hashemi II dibangun di atas laut. Kayunya didatangkan dari Kamerun dan Pantai Gading yang terkenal dengan jenis kayunya yang kuat. Kapal itu luar biasa besar. Tingginya sampai 50 meter, pakunya saja sudah seberat 80 ton. Total berat kapal adalah 2500 ton. Al Hashemi II terdiri dari dua deck. Deck atas digunakan untuk melihat view laut. Grand Ballroom yang megah terdapat di deck bawah. Ballroom ini berfungsi sebagai tempat menjamu makan para tamu dan bisa memuat hingga lebih dari 1000 orang.

Cicipi makanan di restoran Al Hashemi ini. Anda akan menemukan tema dan nuansa Timur Tengah yang khas. Menariknya, bila menu di jazirah Arab banyak didominasi oleh Kambing, Domba, atau Onta, maka di Kuwait pilihan ikan juga sangat banyak. Sebagai negara maritim, ikan memang menjadi makanan favorit warga Kuwait. Berbagai jenis ikan disajikan, baik yang digoreng, maupun yang diasap. Tentu disajikan dengan saus dan kondimen khas Timur Tengah.

ikan hammour

Soal menu pembuka, hidangan di restoran Al Heshemi ini menyajikan berbagai variasi menu pembuka khas Timur Tengah. Anda akan mendapatkan Fuul, mutabar, dan houmos, yang menjadi makanan pembuka standar di sana. Houmos adalah chickpeas masak yang dicampur dengan bawang putih dan lemon, di tengahnya ada genangan minyak zaitun.. Kesemuanya itu dimakan bersama dengan roti pita, sesuai dengan selera kita. Kita bisa membuat Felafel, atau sandwich Timur Tengah dari berbagai pilihan hidangan pembuka itu. Ambil sepotong roti pita, isi dengan chickpeas, tomat, dan timun. Jadilah sandwich Arab.

grapevive dan sajian al hashemi ii Selain itu, ada juga menu lain yang sangat saya gemari, yaitu daun anggur. Daunnya dibumbu cuka, digulung dan di dalamnya ada nasi dan daging. Hampir mirip dengan arem-arem bentuknya. Lain-lainnya, kebab, keebah, bertebaran bersama dengan menu pembuka lainnya.

Kalau anda mau melihat bagaimana ikan-ikan didapatkan, kunjungi juga Kuwait Fish Market. Di pasar ikan ini, berbagai ikan dari teluk Arab dijejer dengan rapi. Ada ikan kerapu yang segede alaihim, ada ikan hammour yang dagingnya lezat, dan banyak lagi jenisnya.

Dari Pasar Ikan, kunjungan ke Kuwait belum lengkap kalau belum mengunjungi Kuwait Tower di daerah Sharq. Menara ini didirikan pada tahun 1979 oleh perusahaan Swedia. Keseluruhannya ada tiga menara. Yang tertinggi mencapai 187 m. Di menara tertinggi, selain ada observation deck yang bisa melihat kota Kuwait, di situ juga terdapat restaurant, coffee shop, and banquet room. Di Kuwait Tower, anda dapat menyaksikan foto-foto invasi oleh tentara Irak di Kuwait. Bagaimana tentara Irak memorakporandakan kota Kuwait tergambar jelas dari foto-foto yang dipajang di sepanjang dinding Kuwait Tower.pasar ikan

Selain berkunjung ke Kuwait Tower, tempat lain yang dapat dikunjungi adalah The National Museum, yang menyimpan koleksi Seni Islam milik keluarga Al Sabah, penguasa Kuwait. Bisa juga kita mengunjungi Tareq Rajab Museum, juga menyimpan koleksi seni Islam. Kemudian ada Sadu House yang merupakan museum seni dan kerajinan dari masyarakat Badui Arab. Museum menunjukkan bagaimana peradaban suatu negara. Meski peradaban Kuwait tak sepanjang Iran, atau Turki, museum di Kuwait tetap menarik untuk dilihat. Kalau anda tidak mau dijuluki "wisatawan mall", cobalah berkunjung ke beberapa pilihan tour di atas. Nah, kalau masih ada waktu, barulah mampir melakukan mall-tour di Kuwait hehehe… Salam.

sajian appetizer

Starbucks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.