Indonesia Incorporated

Josh Chen – Global Citizen

Beberapa waktu lalu Presiden SBY melontarkan satu term yang menarik: “Indonesia Incorporated”.

Apa itu?

Kapan istilah Indonesia Incorporated pertama kali dilontarkan, saya tidak jelas, tapi yang saya tahu, istilah ini mulai dipakai dan didengungkan di kisaran akhir dekade 90’an. Sudah agak lama memang, walaupun waktu itu saya juga tidak terlalu memerhatikan apa itu Indonesia Incorporated.

Indonesia Incorporated kembali santer didengungkan dan disebut-sebut lagi belakangan oleh Presiden SBY. Dalam berbagai kesempatan dan acara, SBY kerap menyebut istilah ini. SBY ingin mengajak dan merangkul semua komponen bangsa untuk ‘benam gas dalam-dalam’ untuk mengejar ketertinggalan kita. (note: ‘benam gas’ adalah istilah orang Medan untuk mengekspresikan ‘ayo cepat’).

Mengutip dalam salah satu pidato SBY: “Kita ibarat mengendarai mobil di jalan yang terjal, di sebuah perbukitan yang berliku-liku. Kita tidak boleh terus melihat spion. Tidak bisa terus melihat ke belakang, kita akan masuk jurang. Kita harus melihat ke depan, ke depan, agar selamat”.

Pertanyaannya adalah, apakah Indonesia bisa men-sinergi-kan segala sumber daya baik sumber daya alam dan sumber daya manusia sehingga pembangunan negeri ini selaras sejalan?

Sekedar ilustrasi dari negeri tetangga sebelah, Singapura. Memang negeri ini kecil dan “gampang” diatur, namun sepak terjangnya di kancah dunia terbilang luar biasa.

Temasek Holding adalah Singapore Incorporated, semua perusahaan milik negara berada di bawah satu komando di bawah bendera Temasek. Jejak langkah Temasek Holding di Indonesia:
• Indosat
• Telkomsel
• Bank NISP menjadi OCBC – NISP
• Bank Danamon
• Group retail
• Group konstruksi (membangun mall di kawasan Bubutan Surabaya)
• Dan mungkin masih banyak lagi di Indonesia yang tidak ‘tercium’

Tahun 2006 Temasek Holding berencana membeli salah satu operator terbesar dunia yaitu P&O. Perlu diketahui bahwa P&O sudah memiliki saham di Pelabuhan Peti Kemas Surabaya. Silakan berkunjung ke Pelabuhan Peti Kemas Surabaya, dan anda akan berjumpa dengan ‘kepala pelabuhan’ yang orang bule. Rencana Temasek Holding ingin membeli P&O adalah tak lain karena ingin all-out dalam bersaing dengan China yang makin hari makin ‘mengerikan’ sepak terjangnya.

Temasek bersaing dengan Dubai dan akhirnya harus ‘menyerah’ kalah dengan Dubai, padahal penawaran terakhir dari Temasek adalah Rp. 80 Triliun dan dibayar tunai. Bisa dibayangkan berapa harga yang dibayar oleh Dubai. Dengan Dubai sebagai pemilik baru P&O ini, justru AS yang menjadi heboh, karena ternyata P&O memiliki 6 pelabuhan di AS, sehingga otomatis 6 pelabuhan tsb menjadi milik Dubai. Bisa dibayangkan betapa ‘lucu’ bahwa sebuah negeri di Tanah Arab menjadi ‘tuan rumah’ di AS.

Sementara itu Malaysia sudah mulai meniru strategi Singapura dalam mewadahi keseluruhan BUMN menjadi Khazanah Holding.

Dan yang sekarang terjadi di Indonesia justru jauh sekali dari bayangan sinergi atau incorporated.

Polisi dan KPK sedang bermain adu panco, bersitegang saling menunjukkan kekuasaan mereka. Yang satu memeriksa yang lain. Kasus-kasus korupsi di depan mata mengoyak hati nurani kembali menjadi trend belakangan ini. Bank Century contohnya yang melibatkan kemungkinan oknum petinggi Polri (http://baltyra.com/2009/09/08/century-rasa-keadilan-dan-kisah-penyelamatan/) yang kemudian mbulet krunthelan dengan kasus Ketua KPK non-aktif Antasari Azhar yang indehoy dengan caddy dan kemudian berkembang menjadi kasus pembunuhan, eh, malah si Antasari ngudal-ngudal pengakuan sepanjang 4 halaman, bernyanyi merdu bahwa oknum petinggi KPK si Anu dan si Itu terlibat dalam kasus PT. Masaro Radiokom, sekian miliar dalam pengadaan alat telekomunikasi di salah satu departemen.

Itu sama saja ibaratnya maling menangkap rampok, atau rampok mengusut maling…sami mawon alias setali tiga uang…

Belum lagi maraknya kasus korupsi berjamaah untuk dana pendidikan di negeri ini yang sungguh menakjubkan. ICW (Indonesia Corruption Watch) menyusun laporan dari hasil penelusuran dalam kurun waktu 2004 – 2009. Laporan di bawah ini sungguh mengagumkan. Jumlah kasus terbanyak ada di Jabar, sementara jumlah kemplangan terbanyak dijuarai oleh Provinsi Banten.

ICW Report 01

ICW Report

Saya jadi bertanya kepada diri sendiri: apakah memang ilmu para petinggi, pejabat dan pemangku mandat rakyat itu sudah memiliki ilmu yang melebihi negeri tetangga Singapura dan Malaysia? Saya sungguh kagum, Indonesia Incorporated ternyata memang sudah diterapkan dan berjalan dengan mulus, rapi dan terkoordinasi rapi. Koordinasi rapi dari mulai lembaga wakil rakyat, departemen terkait, aparatnya yang memiliki slogan “Melindungi & Melayani” yang tepat 100%, kemudian lembaga KPK yang disusupi para oknum, dan justru ketuanya menjadi “suri tauladan”, kemudian dinas provinsi, kotamadya, kabupaten, dan ke bawahnya.

Sungguh kagum aku akan negeriku ini Indonesia Incorporated memang sudah diterapkan dengan sepenuh hati di republik ini…

Terima kasih sudah membaca…

Related articles:
http://baltyra.com/2009/08/06/terorisme-korupsi/
http://baltyra.com/2009/09/08/century-rasa-keadilan-dan-kisah-penyelamatan/

Laporan ICW 2009 dari Suara Pembaruan

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *