Mission bikin sebel

Fire – Yogyakarta

Dulu pernah diajak teman yang baru menyewa VCD untuk nonton film Mission Impossible (versi bioskop bukan film tipinya lho) di tempatnya.Sialnya, ternyata terjemahannya dalam bahasa asing lainnya. Sehingga bagi diriku yang masih grotal-gratul ini, malah mumet, apalagi dengan tokoh dan jalan cerita yang beda dengan versi tipinya. Yang mana lakonnya, mana penjahatnya saja bingung, alurnya muter-muter kayak odong-odong.

Mending kalo nonton Rambo, nggak ngerti jalan ceritanya juga nggak pengaruh, hihihi. Selesai film dan masih tetep nggak mudheng saya bilang saja, "Wah ini sih bukan Mission impossible, tapi mission bikin sebel…"

mission impossiblePernah tidak dulu panjenengan sedang merasa jengkel pada anggota keluarga atau sahabat? Baik itu hanya berupa jengkel biasa (emang ada jengkel yang luar biasa?), ngambeg, mutung, gak wawuh, dan semacamnya. Apalagi kalo yang lagi judes dengan pasangannya, sehingga tampang pun dibikin berlipat pangkat empat fully-knocked-down, penuh dengan mendung menggantung yang ketebalannya mampu membatalkan ramalan cuaca dari BMG, hehehe….

Kadang saat-saat seperti itu, bakat trouble maker yang lama terpendam bisa muncul lagi. Ada saja pikiran-pikiran jail untuk menyengaja buat masalah dengan harapan memperoleh perhatian dari pihak yang sedang dijengkelin. Entah bagaimana prosesnya yang jelas otak tiba-tiba menjadi lebih kreatif dengan bermacam akal negatif yang termasuk kategori Tipikol (bukan Tipikor lho) yalah Tindak Pidana Kolokan, wakakak…

Ada saja fasilitas yang bisa diberdayakan dari sekedar bikin ribut atau membuat ulah. Ada temanku yang menyebutnya dengan istilah 'mbasangi', kurang tahu makna sebenarnya. Cobalah sempatkan diri untuk berkaca di cermin pada saat seperti itu siapa tahu di atas kepala sudah keluar tanduk, dan periksa apakah muncul ekor di belakang, ha haha.

Pokoknya disusun bermacam skenario agar bisa caper, tidak jelas apakah sekedar cari perhatian atau malah cari perkara. Hal-hal sepele dipermasalahkan menjadi bertele-tele. Dalam khazanah masa kecilku, salah satu taktik yang biasa dilakukan adalah ngumpetin barang. Cukup simpel tanpa perlu berhadapan langsung secara frontal dengan dampak yang signifikan lebih-lebih bila barang yang diumpetin sangat krusial. Lagian habis ngumpetin kan bisa sembunyi tangan, ha ha ha …

Namanya anak kecil, yang paling sering diumpetin tentu saja adalah mainan atau buku kesukaannya. Tapi waktu kecil, itu mutungnya nggak lama-lama, sebentar juga sudah baikan dan lupa. Naasnya, lupa juga dimana tadi ngumpetin barangnya. Alhasil, waktu yang empunya nanya, wah jadinya jothakan lagi, he he …. Makanya itu, kalo mau bikin sebel perlu kira-kira juga. Tidak asal mission accomplished, tapi ujung-ujungnya game over.

Meski begitu tetap saja ada orang-orang yang really impossible untuk dibikin sebel. Sudah dicoba berbagai trik tak mempan juga. Mungkin sudah terlalu imun, sehingga kalopun ngemut aki mobil juga cuma semriwing dikit serasa pagoda pastiles atau permen hexos.

Mungkin kadar sensitivitasnya sudah kapalen sampe stadium lima ini. Untuk yang seperti ini sih beneran mission impossible.

Baiklah teman-teman, bulan puasa ini jangan banyak bikin sebel orang ya, nanti di-rapel saja pas habis lebaran, lho? hi hi hi …..

About Fire

Profile picture’nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi.

Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *