Lara Djonggrang

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Sebenarnya acara makan malam di Café  Lara Djonggrang ini, dilakukan setelah jjs di Kota Tua,kesannya kebetulan banget setelah muter-muter di Kota Tua, buka puasanya di Café Lara Jonggrang, yang nuansanya Kuno dan Etnic juga, terletak di daerah Cikini, Jakarta Pusat.

Kami sampai di Café, pukul 18.30, bener deh…ini café suasananya temaram dan agak remang-remang, kesannya dibuat sedemikian kuno dan nyeni. Pasti turis-turis asing dan para expat demen mampir ke sini. Isi ni café dipenuhi koleksi barang-barang antic, lebih mirip Galery barang antic pikirku.

Lara Jonggrang 03

Koleksinya ada yang asli tapi banyak juga yang repro, penataan interiornya Oke punya deh! Buat yang hobby barang-barang antic bakal demen banget hang out kesini, kalau aku suka juga tapi hanya sekedarnya, cukup mengamati tapi tidak untuk memiliki, bagiku barang antic terlalu mahal dan memerlukan perawatan yang intens. Café ini masih satu Group dengan Tugu Hotel, ownernya sama.

Di pintu masuk kami sudah disambut dengan display menu dengan konsep Jawa Kuno, bisa dilihat di foto, aku sibuk motret suasana dalam café, termasuk kursi-kursi antic dari batu yang kesannya kita dibuat flash back ke jaman kerajaan tempo doeloe.

Lara Jonggrang 02

Lara Jonggrang 10

Lara Jonggrang 01

Café ini terdiri dari berbagai tema ruang, yang di konsep berbeda nuansanya di setiap ruang. Aku masuk ke ruang dalam yang cukup besar, dengan lighting yang temaram dan wangi aromatheraphy membuat suasana di dalam bener-bener kuno. Aku melihat ke arah langit-langit ruangan, hm….kesannya aku sedang berada dirumah jaman dulu. Koq mirip langit-langit di rumah nenekku yang di Palembang ya? Rumah nenekku dibangun pada tahun 1932, kayu-kayu yang jadi bahan bangunannya bener-bener kayu yang solid. Aku pikir ini pasti mindahin langit-langit dari Rumah Tua yang asalnya dari salah satu desa di Jawa, ternyata dugaanku tidak meleset.

Saat aku tanya ke Pramusaji café, langit-langit dan sebagian gebyok yang ada di café itu memang diambil dari satu rumah di Jawa, aku nggak sempat nanya dari kota apa tepatnya. Berhubung waktu sholat Maghrib sudah hampir habis, aku putuskan untuk sholat dulu, wah…café ini boleh juga! Mereka menyediakan musholla kecil yang ada ditengah café, tempatnya bersih dan terang, nggak mojok dan sempit seperti di tempat-tempat lain, bahkan seringnya nggak ada musholla kalau yang namanya Café.

Lara Jonggrang 09

Setelah sholat, kami baru menyantap hidangan yang telah di pesan, cara penataan hidangannya juga unik, aku nggak sempat nulis apa nama-nama hidangan yang disajikan, bagiku yang penting bisa aku potret dulu sudah lumayan, aku terkesan sama penyajian 5 macam aneka sambel!

Lara Jonggrang 05

Lara Jonggrang 07

Asli jadi inget penyajian makan di rumah nenekku di jaman tempo doeloe, kalau sekarang sudah jarang ditemui, dulu saat aku masih kecil, nenekku bercerita, kalau menyediakan sambel di rumah buat makan kakekku, minimal ada 3 macam sambel yang disiapkan, duh..duh…kalau sekarang sudah makan dengan satu jenis sambel aja sudah beruntung!

Lalu ada aneka macam sate, dari sate seafood sampai sate kambing, tatanannya antic, dengan model tempat bakaran sate dari tanah liat. Lalu ada tahu dan tempe goreng, pasti nih…namanya juga wong Jowo. Untuk minuman kami pilih berbeda, aku pesen hot cappuccino, lumayan pahit lha wong lupa masukin gula, gimana nggak pahit! Sedang yang lain pada milih minum Juice.

Lara Jonggrang 06

Lantunan suara merdu dari “Emi Fujita”  bikin suasana tempat ini tambah romantis. Aku sempat bertanya ke Pramusaji, dari album apa kumpulan lagu-lagu itu, dibilang kalau lagu-lagu itu sudah di format dalam hard disk computer café, lantas aku tanya apa bisa di copy ke flash disk ku (pembajakan nih judulnya!) ternyata setelah dicoba, format ke flash disk ku nggak bisa, alias program lagu-lagu itu sudah di protect! Hihihi…..kacian deh loe…iya deh ntar aku cari di DS (Duta Suara) kompilasi old love songs dari Emi Fujita, kereeen banget dah!!!

Setelah makan usai, kami mengikuti “Café Tour” yang dipimpin oleh Guide Café, yang tugasnya sebenernya pramusaji juga, tapi merangkap guide café. Banyak juga foreighner yang berkunjung ke café ini, mereka juga terlihat mondar mandir masuk ruangan demi ruangan mengikuti “Café Tour”, boleh juga nih…pikirku.

Kami dibawa berkeliling ke ruang-ruang yang ada didalam café, guide nya menjelaskan asal usul dari barang-barang antic yang ada dalam tiap ruang dengan dibumbui kisah-kisah mistis yang mengikutinya. Hmm…..serem juga neh! Makanya aku nggak hobby mengkoleksi barang antic, ya…seperti ini effect nya. Aku nggak bisa mengingat secara detail kisah-kisah dari tiap ruangan, soalnya aku merhatikan sambil lalu, kalau ada yang minat ingin tahu bisa datang langsung ke sini.

Lara Jonggrang 08

Ada satu ruangan dalam café yang diberi judul “Ruang Soekarno”, katanya sih rumah tempat café ini berdiri, salah satu ruangannya dulu pernah ditempati oleh Bung Karno, di dalam ruang tersebut banyak barang yang berhubungan dengan Sang Proklamator tersebut, sayangnya saat kami mau masuk, ruang itu sedang dipakai buat pertemuan plus makan-makan rombongan tertentu, so..batal deh untuk tau apa isinya, kami Cuma bisa ngintip sedikit, kek nya ada lukisan dan patung di dalamnya. Lalu kami masuk ke ruangan yang nuasanya serba merah, rupanya ini ruangan model kamar tidur China tempo dulu, di sana ada kisah ranjang tidur yang dulunya sempat terpendam puluhan tahun dalam tanah. Duuh….asli kalau tidur di atas itu ranjang pasti mimpinya serem banget.

Lalu ada ruangan yang menggambarkan suasana Pasar tempo dulu di daerah Banjarnegara, lengkap dengan aneka lukisan dan potret pasar jaman dulu. Dibuat seperti kita berada dalam satu warung kuno lengkap dengan aneka macam barang-barang kuno yang salah satunya…sssttt…jujur aku ogah berat motretnya, bisa kebayang dan masuk dalam imaginasi horror!

Ada satu boneka kayu mirip boneka loro blonyo, ukurannya kira-kira 30 cm, dengan model seorang ibu memakai kebaya dengan rambut disanggul, sebenernya boneka ini sekali liwat biasa aja, tapi aku dan Evita, sohibku rupanya punya satu perasaan yang sama “ada sesuatu yang gaib” dari sorot mata boneka ini. Jadi inget sama film horror yang setannya diperankan oleh satu boneka “Chungky”, buat penggemar film horror pasti tau deh! Kami segera berlalu dari ruang pasar Banjarnegara itu, kabarnya sampai saat ini pasar model barter tanpa uang itu masih ada di salah satu pelosok kota di Jawa, jual belinya dilakukan dengan cara saling tukar menukar barang dagangan.

Terakhir kami masuk ke Masterpiece Room dari Café Lara Djonggrang, yaitu ruangan yang menaruh satu patung dari Lara Djonggrang, seorang putri cantik yang mau dinikahi oleh Bandung Bondowoso, tapi dengan syarat Bandung Bondowoso harus membuat 1000 patung dalam tempo satu malam, saat mendekati pagi patung-patung sudah mencapai 999, Lara Djonggrang yang sebenarnya tidak suka dengan Bandung Bondowoso, memutuskan untuk membuat suasana malam seolah-olah sudah pagi dengan menabuhkan aneka ragam kentongan, tujuannya untuk menggagalkan syarat yang sudah diajukan. Perbuatannya ini jelas-jelas membuat Bandung Bondowoso marah besar, dan mengutuk Lara Djonggrang untuk menjadi Patung yang ke 1000.

Lara Jonggrang 04

Aku memotret patung Lara Djonggrang dengan kamera ponselku, walau hasilnya nggak maksimal, tapi cukup lumayan buat ditampilkan dalam artikel ini. Dalam ruangan Masterpiece ini ada satu lukisan yang lagi…lagi…aku tidak bersedia memotretnya! Apa itu? Ada satu lukisan seorang “Madame” turunan China yang dulunya sempat dipersunting oleh salah satu Sultan di Jawa, lukisan ini temanya lukisan Potret setengah badan, seorang nyonya besar, yang memakai kebaya warna merah dengan rambut disanggul, aku sebenarnya seorang penikmat lukisan, aku cinta dengan lukisan, tapi saat memperhatikan lukisan ini, yang kabarnya dilukis oleh salah seorang pelukis terkenal tempo dulu, bener-bener terkesan 3 dimensi.

Sorot mata dari si Nyonya Besar seolah-olah hidup dan bisa melirik ke arahku, sambil berbisik, “Dhe…ntar panjenengan sowan ke café ini lagi ya!”, huehehehehehehe…….dasarrrr!

  

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.