Polisi M. Top

Lembayung – SOLO the spirit of java

Sebenarnya warga Solo tidak terlalu terkejut mendengar berita penggrebekan Densus 88 terhadap teroris yang sepak terjangnya selama ini selalu meresahkan warga.

Sejak peristiwa bom JW.Marriot yang pertama dulu, daerah di sekitar Solo dan Jogja memang sering terlihat bersliweran anggota polisi khusus itu. Hal ini semakin terlihat intens ketika bom JW.Marriot dan Ritz Carlton beberapa bulan yang lalu. Kota Solo sering ada razia oleh kepolisian, terutama di daerah Sukoharjo yang memang sudah ditandai sebagai daerah “penting” bagi pergerakan teroris di Solo.

Penggerebekan tadi malam tidak seperti yang diperkirakan warga sebelumnya, bukan di daerah Kabupaten Sukoharjo, tetapi hanya 15 km dari Kota Solo, tepatnya di kampong Kepuh Sari RT.03/11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo. Terjadi pengepungan sebuah rumah kontrakan atas nama Abib Susilo dan Putri Munawaroh, yang dimulai sejak pukul 23.00 semalam (16/09).

Warga sekitar melihat bahwa sejak sore hari sudah terlihat beberapa mobil pemadam kebakaran dan ambulan bersliweran di daerah itu. Baku tembak yang dimulai sejak pukul 23.00 itu sempat terhenti sejenak tetapi semakin pagi, Densus semakin mempertinggi intensitas penembakan dan tepat ketika baku tembak akan berakhir terdengar suara takbir berkumandang dari dalam rumah yang kondisinya sudah rusak berat itu.

Aksi pengepungan rumah ini yang merupakan milik Totok warga Sumber yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Solo ini, diduga merupakan pengembangan dari Rohmat Puji Prabowo di Pasar Gading Solo kemarin (16/09) pukul 14.30. Belum ada keterangan dari pihak kepolisian tentang keterkaitan Rohmat yang sehari-hari menjadi pedagang di Pasar Gading itu dalam jaringan teroris di Indonesia. Jadi memang perhatian Densus terlihat sangat terkonsentrasi di Solo.

Saat ini belum ada berita kepastian tentang jumlah korban dari rumah yang dikepung oleh Densus 88 itu. Hanya saja, tadi pagi sekitar pukul 08.00 terlihat ada empat ambulan yang keluar dari lokasi pengepungan. Siapa Abib Susilo dan Putri Munawaroh, dan siapa dua orang lagi yang lain yang ikut diangkut oleh masing-masing mobil ambulan itu, ketika tulisan ini dibuat belum ada berita resmi yang dirilis oleh kepolisian.

teroris wanted

Salah satu drama pengantar sahur yang terjadi malam dan dini hari tadi patut mendapat apresiasi dari kita, karena teroris yang cenderung sedang tiarap pada bulan ramadhan ini yang notabene diduga tidak akan mengganggu kegiatan puasa-mudik-balik para umat Islam dan bahkan diduga melakukan perekrutan pun tidak, hanya mereka menggunakan kesempatan ikut dalam mobilisasi massal untuk bergerak dan mencari tempat yang lebih aman.

Polisi memanfaatkan situasi ini untuk menciduk teroris, sekali lagi tanpa terendus oleh teroris itu sebelumnya. Hanya saja, mereka yang ada di dalam rumah itu ketika terjadi penembakan, tak ada yang berteriak “Saya Noordin M Top! “ Mungkin si kangmas Noordin M Top sudah cukup bermain-main dengan Densus sehingga tak menitipkan namanya untuk disebutkan oleh anak buahnya.

Sebagai warga negara yang ingin terjamin keamanan dan tak ingin merasa resah lagi, bolehkan kita berharap suatu saat nanti ketika Noordin M Top telah tertangkap (hidup atau mati), kita akan ganti berteriak , “Polisi M Top! Polisi Memang Top.” Tapi tunggu dulu…., tahun berapa itu…..

Cheers,

Lby (17/09/09; 09:37)


Related article: http://baltyra.com/2009/08/15/top-yang-bukan-markotop/

Ilustrasi foto: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.