Setetes kebersamaan itu

Ocha-Jatim

Sore hari, sepulang dari kampus, di samping rumah kostku, kulihat ada seorang bapak yang sedang mengangkut barang-barang dapur rumah tangga.

Tampaknya ia sedang mengisi rumah petak yang berada persis disamping rumah kostku. Aku tak terlalu memperhatikannya, karena ingin segera melepas lelah di kamar, setelah seharian mengikuti kegiatan di kampus. Keesokan paginya, di depan rumah petak tersebut, ada 2 orang anak yang sedang bermain kelereng dan seorang ibu yang duduk di bangku sambil menjahit sebuah daster.

“Hmm…tetangga baru” pikirku.

Selang beberapa hari kemudian ternyata, rumah petak itu telah berubah menjadi warung makan, kulihat ada papan nama diatas tembok rumah itu “Warung Padang MUNGIL, buka 06.00-24.00.”.

“Wah lumayan nih, ada warung padang deket kost, gak perlu jauh-jauh cari makan, buka ampe jam 12 malam pula, cocok banget deh” dalam hatiku bergumam.

Dalam hitungan hari warung makan Pak Besar, mulai ramai, rata-rata yang mampir dan makan di warung Pak Besar adalah mahasiswa, maklum lingkungan di sekitar itu adalah kost-kostan.

warteg Aku dan teman-teman kost sering beli nasi di warung Pak Besar, karena keseringan kami inilah hingga akhirnya keluarga Pak Besar menjadi dekat dengan penghuni kostku. Mungkin karena warungnya yang persis bersebelahan dengan rumah kostku, sehingga Pak Besar kenal hampir semua anak kost yg tinggal di rumah ini.

Pak Besar pun sering memberi porsi yang lebih pada kami anak-anak kost, terutama aku, karena bisa dibilang kehadiranku di warung Pak Besar sama seperti minum obat yaitu 3x sehari. Karena rasa masakannya terutama sambalnya yang sesuai dengan lidahku, sangat pedas, tidak seperti masakan warung makan di sekitar kostku yang kurang pedas menurutku. Pak Besar pun hafal dengan kebiasaanku minum air es, yang selalu disebutnya “es kosong”.

Pak Besar adalah orang asli Padang yang merantau ke Jogja, bersama kedua anak dan istrinya. Menurut cerita beliau, dari dulu usahanya ya berjualan nasi padang, sudah sekitar 5 tahun, hanya lokasinya saja yang sering berpindah-pindah, karena Pak Besar belum mempunyai cukup uang untuk membeli lahan yang permanen.

Belum 3 bulan warung makan Pak Besar dibuka, Pak Besar sudah bisa membeli TV 21 inch, kemudian bulan depannya sudah ada seperangkat VCD Player dan 2 buah speaker besar yang dipajang di dalam warung, lumayan lah keuntungan warungnya begitu ucapnya kepadaku.

“Wah, gigih juga orang ini, beruntung sekali hanya dalam hitungan bulan bisa punya keuntungan sebegitu banyak” dalam hatiku.

Keberadaan warung Pak Besar semakin membantu kami anak-anak kost ketika bulan Ramadhan tiba, karena kami tak perlu jalan ke warung digelapnya malam. Setelah sholat tarawih, tinggal mampir sebentar ke warung Pak Besar check apa menunya untuk sahur nanti, dan tinggal tunggu saja di teras kost2an, anak-anak Pak Besar yang akan mengantarkan pesanan kami.. Anak-anak Pak Besar sangat rajin membantu orang tuanya, mereka pun juga pintar memasak walaupun masih berusia 12 tahun dan 10 tahun.

Ya… anak-anak Pak Besar sudah tidak bersekolah lagi, ini karena mereka selalu ikut kemanapun Pak Besar berpindah tempat, sehingga mereka lebih memilih membantu orang tuanya berjualan daripada tetap bersekolah. Kasihan sekali, dikota yang terkenal dengan kota pendidikan ini justru masih ada saja anak-anak yang putus sekolah.

Menginjak hari puasa ke 12, warung Pak Besar tutup, dan ini pun tanpa memberitahukan kami anak-anak kost yang setia menjadi pelanggannya. Hal ini tentu saja membuat kami menjadi kebingungan dan kesusahan. Kebingungan karena sebagai pelanggan setia, kami sudah terlanjur tidak menyiapkan lauk kering untuk sahur seperti yang biasa kami lakukan di bulan ramadhan tahun-tahun sebelumnya, kami hanya mengandalkan makan sahur dari warung Pak Besar, kami sama sekali tidak memperhitungkan apabila warung langganan kami itu tutup dengan tiba-tiba.

Kesusahan dalam arti, kami pun harus keluar kost pada dinginnya malam untuk mencari makanan sahur, 2 jam sebelum imsak kami sudah harus jalan menuju warung karena jika sahur mendekati imsak karena bias-bisa kehabisan makanan di warung terdekat. Sehari dua hari kami tunggu, warung Pak Besar tak juga dibuka, masih tertutup rapat. Anak-anak dan istrinya pun tak pernah kelihatan. Sungguh aneh, pikirku. Hingga empat hari setelah warung makan Pak Besar tutup, pagi-pagi sepulang sholat subuh dari masjid, aku mendapati Pak Besar sedang mengendap-endap membuka pintu warungnya. Aku dan teman kostku pun segera berlari untuk mendekati Pak Besar.

Tapi alangkah terkejutnya, respon Pak Besar yang sangat di luar dugaanku, ia justru langsung cepat-cepat menutup pintu warungnya setelah melihatku. Sangat tidak bersahabat, tidak seperti biasanya yang selalu murah senyum dan selalu menanyakan kabar kami ketika mampir di warungnya. Kuketuk pintunya berkali-kali, tak juga dibuka, ucapan salamku pun tak dijawabnya. Akhirnya kami pun sepakat meninggalkan warung Pak Besar pulang menuju kost-kostan.

Dua hari setelah kejadian itu, sepulang dari kampus aku melihat anak Pak Besar yang bungsu menangis di depan warung bapaknya itu. Ku dekati si bungsu, ku ajak bicara baik-baik, pertanyaan demi pertanyaan ku lontarkan padanya, tapi si bungsu diam saja tak mau berbicara padaku, yang dilakukannya hanya menangis dan menangis.. Ketika diriku beranjak ingin meninggalkannya, tiba-tiba si bungsu menarik tanganku, dan kemudian dari bibir mungilnya itu mengalir cerita tentang keadaan keluarganya.

Ternyata ditutupnya warung dan menghilangnya keluarga Pak Besar selama hampir seminggu ini karena menghindari kejaran para penagih hutang. Jadi ini cerita dibalik berpindah-pindahnya warung Pak Besar, karena berusaha menghindar dan menghilangkan jejak dari kejaran para penagih hutang. Pak Besar suka sekali pinjam uang disana sini, yang katanya untuk modal usaha, tapi nyatanya uang yg dipinjamnya itu untuk berjudi, entah itu judi mesin ataupun judi togel, pokoknya yang berbau-bau judi adalah kegemaran Pak Besar. Dan barang-barang elektronik yang pernah dibelinya untuk mengisi warung adalah uang dari hasil menang berjudi.

keplek

Nah suatu ketika Pak Besar kalah judi, dan ternyata para penagih hutang itu sudah mulai mengendus keberadaan Pak Besar. Di waktu yang hampir bersamaan, uang Pak Besar ludes untuk berjudi, dan barang-barang elektroniknya pun diambil sbg jaminan. Tapi semua itu masih belum bisa menutup hutang Pak Besar yang sudah beranak pinak bunganya. Akhirnya jalan satu-satunya adalah menghilang bersama keluarganya.

Aku menaruh iba pada anak-anak Pak Besar, hanya karena ulah orang tua, anak-anak tak berdosa ini pun harus ikut menanggung bebannya, harus ikut menghilang layaknya buronan saja, mereka pun sengaja mengunci diri di warung mungil itu supaya terkesan tidak ada penghuninya dan mengecoh para penagih hutang itu. Sungguh tragis, nasib anak-anak Pak Besar.

Setelah kisah hidup keluarga Pak Besar kuceritakan pada teman-teman kostku, kami pun sepakat mengumpulkan uang, bukan untuk menutup hutang-hutang Pak Besar, tapi inisiatif kami untuk sedikit menyenangkan anak-anak Pak Besar, dalam menyambut hari raya. Karena liburan hari raya yang sudah mendekat, yang artinya bahwa kami juga harus segera pulang ke kampung halaman masing-masing, maka kami tak perlu lama-lama mengkoordinir pengumpulan dana itu.

Setelah dana terkumpul, kami beranjak menuju pasar Bringharjo untuk belanja pakaian bagi keluarga Pak besar dan kebutuhan pokok, tujuan kami hanya ingin berbagi kebahagiaan menyambut Hari Raya. Tepat di hari ke 21 puasa Ramadhan, kami sepakat untuk segera memberikan pakaian, bahan kebutuhan pokok dan kue-kue kering ala kadarnya kepada istri Pak Besar dan anak-anaknya. Malam itu setelah sholat tarawih, kami ketuk pintu warung Pak Besar, dan beruntung mereka masih ada disana walaupun tanpa kehadiran Pak Besar. Kata istrinya, Pak Besar masih dalam pelariannya untuk menghindari kejaran para penagih hutang.

Malam itu rasa kebersamaan antara kami dengan keluarga Pak Besar tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata, perasaanku terhanyut didalamnya.. Tak bisa kulukiskan betapa indahnya takala melihat senyuman yang terukir di wajah-wajah mungil itu. Tak bisa kugambarkan bagaimana hangat dan bersahabatnya pelukan istri Pak Besar kepada kami. Tetesan air mata anak-anak dan istri Pak Besar sangat meluluhkan hati kami yang kala itu masih menyandang status sebagai mahasiswa dengan uang jajan bulanan kiriman dari orang tua.

Ternyata baru kali itu anak-anak Pak Besar merasakan baju baru untuk lebaran, merasakan nikmatnya kue kering khas lebaran karena dari yang sudah-sudah lebaran adalah waktu yang tepat untuk mengemis dan memulung bagi mereka, mengemis pada para jemaah yang pulang dari sholat Ied dan memulung koran-koran bekas alas sholat Ied. Baju baru, bahan kebutuhan pokok, kue kering dan beberapa lembar uang untuk menyambung hidup. Hanya sedikit yang bisa kami berikan, tapi mungkin berarti bagi keluarga Pak Besar.

Ramadhan terakhirku di kota Jogja beberapa tahun yang lalu itu menyisakan kenangan indah yang selalu kuingat sampai sekarang…

Entah bagaimana nasib Pak Besar dan keluarganya saat ini, semoga saja mereka selalu dalam lindungan-Nya..

 

Redaksi note :

artikel ini diikutkan dalam lomba  "Jejak Kesegaran Molto Ultra – Berbagi Kesegaran, Awal Dari Jejak Kebajikan"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.