Putih itu……

Rina S – Indonesia

Dear sahabat GCN ers di manapun berada….

Tulisan ini terinsipirasi dari seorang kerabat saya sendiri – tepatnya, sepupu dari bapakku, yang umurnya terpaut beberapa tahun di atas saya.

Tiga tahun lalu. Pagi itu saudara saya, sebut saja De, merasakan mulas di perutnya. Indikasi kelahiran anak ketiganya tinggal hitungan jam. Karena sudah berpengalaman (ini anak ketiga), ia tidak panik. Dengan tenang ia duduk di sofa, melihat jam dinding dan menghitung kontraksi permenit. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dokter kandungan yang biasanya memeriksanya setiap bulan belum datang. Jadi ia ditangani dokter yang tengah piket malam itu. Dokter mengulang memeriksa tekanan darahnya, untuk memastika De sehat, tidak kurang darah atau bertekanan darah rendah dan bisa melahirkan dengan normal karena kalau dilihat dari posisi bayinya diperkirakan bisa melahirkan dengan normal.

Setelah pemeriksaan tekanan darah untuk kedua kalinya didapat hasil yang sama alias normal, dengan kening berkerut dokter itu bertanya pada ibu muda ini. “Wajah ibu pucat sekali. Ibu gak apa-apa kan? Tenang bu, jangan panik.”

Lalu dokter itu memerintahkan susternya untuk memberi ibu muda ini air mineral dan menenangkannya dengan mengajarkan relaksasi nafas perut.

Kontraksi di perut De ini makin menjadi, wajahnya pucatnya tidak berubah. Dokter masih terlihat bingung. “Ibu yakin tak apa-apa? Wajah ibu pucat sekali,” ulang dokter.

Menyadari sesuatu yang salah itu bukan pada kesehatan tubuhnya, akhirnya saudara saya ini buka suara di tengah kesakitannya menahan kontraksi yang kian menjadi. “Kulit saya memang pucat dokter. Saya sehat.”

Kepucatan wajah De ini memang bukan tanpa sebab. Seperti pengakuannya, juga bagian kulit tubuhnya yang kontras dengan kulit di wajahnya, warna kulit De sebenarnya coklat. Sedari remaja De terobsesi dengan kulit putih karena cantik dalam benaknya adalah berkulit putih mulus. Karena keuangannya tidak memungkinkan untuk membeli perawatan kulit menjadi putih di salon dicarilah jalan pintas yaitu dengan menggunakan krim pemutih siang malam tanpa merek yang jelas. Tapi yang pasti harganya di atas rata-rata produk kosmetik pasaran. Dan yang pasti juga krim ini tidak bisa di beli di sembarang toko kosmetik, apotik atau supermarket. Krim ini hanya beredar dari mulut ke mulut dan di jual dengan pesanan khusus. Dan katanya pemutih yang dipakainya aman, setelah aku memberi tahu perihal banyak pemutih yang dilarang beredar badan POM. De tidak sendiri, banyak perempuan termasuk remaja yang terobsesi berkulit putih mulus lantas mencari jalan pintas alias cepat menjadi berkulit putih dengan krim yang tidak jelas keterjaminan keamanannya. dreamstimefree_2486882

Stereotif dan definisi cantik untuk perempuan Indonesia adalah berkulit putih. Atau berkulit putih sama dengan cantik. Pemahaman ini sudah mengakar sebelum maraknya iklan televisi yang hampir 99% menempatkan figure perempuan cantik sama dengan dalam hal ini putih mulus, semampai dan seksi. Namun dengan berlahan tapi pasti produk iklan terutama kosmetik ‘mengesahkan’ stereotif dan definisi cantik perempuan Indonesia dengan berkulit putih mulusnya.

Ini berbeda dengan stereotif cantik perempuan Jepang atau Amerika. Perempuan Jepang merasa sempurna kecantikannya dengan tanpa noda di wajahnya sedangkan perempuan Amerika merasa sempurna dengan kulit coklat terbakar mataharinya. Dan putih tentunya bukan juga standar kecantikan perempuan India.

Stereotif dan definisi kesempurnaan perempuan yang nyatanya berbeda bukan tanpa sebab. Perbedaan ini tidak juga sepenuhnya karena letak geografis. Lantas siapa yang pertama kali mengidentikan kecantikan perempuan Indonesia dengan kulit putihnya? Nyatanya ini tidak terlepas dari kultur dan pandangan generasi di belakang kita dalam memandang dirinya dan wong bule yang dulu menjajah negeri ini.

Sikap rendah diri sebagai bangsa terjajah sedikit banyak membuat generasi pendahulu kita mengagumi apa saja yang datangnya dari penjajah termasuk soal penampilan dan fisik. Perempuan berkulit putih halus seperti noni Belanda yang akhirnya diakui sebagai standar cantik karena kulit ini identik dengan kalangan priyayi. Kulit terawat yang tidak menyentuh pekerjaan kasar. Nah kalau cewek Ameriak merasa seksi jika kulitnya coklat ternbakar matahari kabarnya karena kulit jenis ini identik dengan seringnya yang empu nya kulit pesiar ke negara-negara tropis alias si empu nya kulit kaya.

Artinya, sedikit banyak pencitraan ini berkait dengan role model yang selama ini ada di benak nenek moyang kita. Imbasnya juga, kebanyakan lelaki (tapi tidak semua) senang perempuan berkulit putih. Kalau ditanya alasannya. “Terlihat bersih,” katanya. Atau para lelaki ini korban iklan? Ehm…

Kalau mencermati iklan kosmetik di televisi (perkaitan dengan perawatan wajah) dari waktu ke waktu ada perbedaan kesan dan trik marketing walaupun pesannya tetap sama; cantik = putih atau sebaliknya.

Awalnya iklan pemutih hanya diidentikan dengan kecantikan. Artinya perempuan disebut dan diakui cantik jika berkulit putih. Sebagai bukti bahwa dia cantik, tampil seorang lelaki yang langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Sebagai perbandingan, akan ditampilkan juga sosok perempuan tidak cantik (alias tidak berkulit putih padahal tampilan facenya cukup manis) yang kehadirannya ‘tidak terlihat’ mata tokoh lelaki walaupun dia berdiri di hadapannya.

Selanjutnya, pesan iklan produk pemutih ditambah ke soal kepercayaan diri. Seorang perempuan percaya diri karena kecantikannya dalam hal ini berkulit putih. Iklan ini biasanya dibarengi dengan gambaran perempuan berkulit coklat yang tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya alias minder. Dan untuk mengatasi keminderannya dia kemudian menggunakan produk pemutih yang diiklankan. Dan seketika ia akan menjadi percaya diri dengan penampilan barunya, berkulit putih. Dan jadi pusat perhatian lawan jenisnya.

sure white

Pergeseran putih sama dengan cantik ke kepercayaan diri. Dengan tujuan sama-sama menarik perhatian lawan jenis.

Penambahan pesan pada iklan produk pemutih ini tentu bukan tanpa alasan. Karena konsep cantik sama dengan berkulit putih plus berambut panjang dan tubuh semampai yang diciptakan industri hiburan dan kosmetik kerap mendapat pertentangan. Berlahan konsep cantik yang hanya dinilai dari ‘kulit luar’ perempuan (cantik sama dengan putih) mulai dipahami sebagian kecil masyarakat sebagai konsep yang keliru. Seiring kesadaran perempuan akan nilai kesetaraan dan relasi kebebasan dengan lingkungan di sekitarnya. Bahwa nilai (cantik ) prestasi tidak dinilai dari sudut pandang yang patriarki.

Penyiasati ini, tim kreatif periklanan tidak kehabisan ide. Kali ini yang dibidik hal yang jadi kebanggan perempuan masa kini, prestasi seorang perempuan. Pesan iklan pemutih terbaru kini bukan berujung pada ‘menarik perhatian lawan jenis tapi pengidentikan putih (cantik) dengan sebuah prestasi yang di raih perempuan. Entah itu dengan menggunakan model iklan yang sudah cukup dikenal prestasinya di masyarakat luas (aktris, selebritis atau seniman) atau ide cerita dari iklan tersebut. Rasanya tidak perlu saya tunjuk contoh iklannya karena itu sama dengan saya mengiklan produk itu bukan? Cukup anda tidak memindahkan chanel tv ketika iklan produk pemutih lewat atau memperhatikan sejenak iklan yang di muat di majalah.

Alhasil, konsep putih sama dengan cantik, percaya diri dan prestasi ini tercetak dalam benak kebanyakan perempuan (terutama remaja) Indonesia. Percaya diri dan prestasi tidak cukup dengan kerja keras. Karena prestasi tidak sekedar buah karya, tapi tontonan yang disanjung dan dipuji. Lalu apa menariknya jika menonton sesuatu yang tidak indah (cantik)? Tak sabar menunggu putih sampai sebulan dicari pemutih yang bisa memutihkan dalam satu hari kalau mungkin sekali oles. Dan ini tak lepas dari logika iklan ‘serba mungkin dan cepat.’

Tak heran jika krim pemutih tanpa merek apalagi komposisi yang terdapat di dalamnya, masih beredar luas di masyarakat walaupun badan POM kerap kali (hampir secara periodik) mengadakan inspeksi terhadap produk pemutih ilegal. Walaupun berharga tinggi tetap laris, entah produk impor, lokal, legal atau ilegal. Produk illegal, yang diyakini lebih cepat memutihkan, umumnya beredar dari mulut ke mulut dan pembelian hanya di tempat-tempat tertentu. Resiko kanker tak diambil pusing karena efeknya tidak seketika.

Semoga makin disadari semua pihak bahwa kecantikan atau prestasi perempuan tidak identik dengan berkulit putih. Agar perempuan Indoensia menjadi dirinya sendiri dan apa adanya. Mari berkarya…..

Salam hangat,

www.momsbooksclub.blogspot.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.