Trilogi Rasa

Maya Sari – Solo

DI PANTAI

Kusapu ombak yang membelai wajahmu
Ketika angin membawa kabar ke hilir
dinding-dinding pecah
jendela-jendela kaca terbelah
dingin menyentuh ubin rumah

kuseret perahu yang terdampar di pantaimu
kala pasak terbenam jauh
di kedalaman buih

dan pada gelombang yang menghantam karang
kukecup asinnya lautmu 

Solo, 19 Oktober 2008

 

Di Balik Jendela Kaca

Bersandar di dinding
Di balik jendela kaca
Memandang senja berhujan
Ada kamu yang terus bermain-main di benakku

Sampai di manakah kita kini
Ketika kelam membawa kita ke ujung langkah
Hanya kelu yang teriissa di retas lelahku
Bergulung dengan angan berdebu

Kusingkap butiran embun yang menembus jendela waktu
Ada langkah yang semakin berat
Tak cukupkah berikan keputusan bagi kita
Tuk tuntaskan semua dengan segera?

Bersandar di dinding
Di balik jendela kaca
Meresapi senja yang menua dalam hujan
Menghapus seluruh jejakmu dari ingatan waktu

 

Di Beranda
: untuk MZA

Menatap awan putih
Yang lalu turun menjadi tetes-tetes air
Kita sama terpaku
Di sini, di beranda kata
Tempat di mana kita tak pernah merasakan asing dan keringnya cuaca
Ketika hujan kata-kata itu jatuh
Luruh di pangkuan waktu

Masih lekat pandangmu di mataku
Ketika kububuhkan tanda titik di ujung kalimatku
Lalu kau gelengkan kepalamu
Dengan lembut, menghapus tiap tiap huruf yang kutulis
Lalu tersenyum kepada angin
Yang alirnya menerbangkan kata-kata usang

Sungguh, aku tak hendak mengaduh
Ketika tanah menyerap segala air yang tergenang di atasnya
Tapi jangan kau usik kata
Yang di dalamnya tengah kuikat sebuah makna

Tegak kau berdiri
Berlalu ditengah derasnya hujan kata-kata
Deru angin mengaburkan pandangku
Namun masih dapat kueja huruf-huruf yang kau tinggalkan dijejakmu
: Mencintai sepenuh hati

Tak mesti harus saling memiliki

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.