Mandiin Buaya pake Sabun Colek

Alexa – Jakarta

Penabalan Indonesia sebagai negara terkorup nomor 7 di antara 146 negara pada tahun 2005 ternyata bukannya membuat para penguasa kita malu, malah berusaha keras meningkatkan peringkatnya. Dan upaya itu dicapai pada tahun 2007 saat Indonesia naik kelas menjadi negara terkorup nomor 5. Saya tidak tidak tahu peringkat tahun 2009 ini, tapi nampaknya saat ini sedang diupayakan untuk mencapai peringkat nomor satu.

Ini terlihat dari upaya dikebirikannya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) – setelah sang Ketua KPK Antasari Ashar terjerat kasus perebutan caddie golf cantik Rani Juliani yang berakibat pada penghilangan nyawa sang rival Nasarudin. Maka KPK terus diobok-obok Polisi dengan berusaha mempidanakan dua ketua KPK dengan alasan yang tidak jelas. Tadinya persangkaannya adalah kesalahan procedure administrasi tapi ketika ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan bahwa hal tersebut bukan merupakan tindak pidana maka Polisi berusaha mencari pasal pidana. Tampaknya SBY akan berpihak pada Polisi sebagai bonus atas keberhasilan Polisi mengakhiri petualangan teroris nomor satu di Indonesia – Noordin M Top. Saat ini sudah dibuatkan Perpu berisi penunjukkan ketua sementara KPK yang makin menihilkan independensi KPK.

Rencana pengkebirian Pengadilan Tindak Pidana Korupsi melalui per Undang-Undangan yang sedang digodok DPR makin memperlihatkan adanya tujuan untuk penihilan upaya pemberantasan Korupsi.

Koalisi Masyarakat Antikorupsi mengirimkan surat ke Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa – Ban Ki Moon, menyusul upaya melemahkan Komisi pemberantasan Korupsi dan Pengadilan Tipikor. Ban Ki Moon diminta menegur keras Presiden SBY dan ketua DPR Aung Laksono guna mentaati ketentuan Konvensi Internasional Pemberantasan Kourpsi (UNCAC) terkait indikasi pelemahan lembaga pemberantasan korupsi itu. Padahal Indonesia sudah meratifikasi Konvensi itu yang memuat aturan krusial mengenai pengakuan terhadap Pengadilan dan Lembaga Anti Korupsi Independen.

Koalisi Masyarakat Antikorupsi menginginkan adanya mekanisme Internasional dari PBB, permintaan itu sebenarnya sangat menyedihkan dan memalukan sebab sekaligus mengindikasikan bahwa korupsi di Indonesia makin dipupuk dan didukung pertumbuhannya dan tidak ada mekanisme dari dalam yang diyakini dapat mencegah korupsi.

Menyedihkan ya kondisi yang saat ini kita hadapi bersama – saat ini saya ingin mengajak Baltyran melihat pendekatan secara bisnis dan menganalogikan Indonesia sebagai suatu pasar yang besar sekali dimana ada koruptor, pebisnis maupun rakyat jelata merupakan penghuni sekaligus pelaku pasar.

Dan mengacu pada teori yang disebutkan oleh Tung Desem Waringin (motivator ternama yang tinggal di BSD) perihal cara mendapatkan pendapatan Sepuluh Milyar maka ada beberapa varian untuk mencapainya, antara lain:

1. Menjual sebuah produk/ service senilai Rp. 10 Milyar,

2. Menjual 5 buah produk/ service senilai @ Rp. 2 Milyar, sehingga total penjualan Rp.10 Milyar,

3. Menjual 1000 produk/ service senilai @ Rp. 1 juta, sehingga total penjualan Rp. 10 Milyar, atau

4. Menjual sejuta produk/ service senilai @ Rp. 1.000.-

Bisa diasumsikan bahwa koruptor memilih cara pertama atau paling tidak cara kedua sebagai cara tercepat untuk mendapat Rp. 10 Milyar; baik saya maupun Baltyran sekalian tentunya paham bahwa tidak setiap “pengusaha” memiliki privilege dan akses atas kesempatan mendapat Rp. 10 Milyar hanya dalam satu atau dua proyek.

Berikut ini merupakan kisah pengusaha yang harus menjual produk senilai @ Rp.1000.- untuk mendapatkan Rp. 10 Milyarnya:

b29-01Pada tahun 1970-an hingga tahun 1980-an siapa yang tak mengenal sabun B29. Saking terkenalnya sabun itu – rasanya hanya brand itu yang beredar sebagai sabun untuk keperluan rumah tangga…istilah orang Ambon: “seng ngada lawaaan.” Namun pada tahun 1980an pula mulailah masuk brand-brand multinasional seperti Rinso dan Dino. Dan saat ini ibu rumah tangga di perkotaan hanya mengenal merek-merek antara lain Rinso, Daia, Surf, sementara Sabun B29 tersingkir dan hanya dijual di kalangan pinggiran kota atau kota-kota kecil.

Apakah kondisi ini membuat PT. Sinar Antjol harus tiarap dan rehat dari hingar bingar suara mesin pabrik. Sekali layar telah dikembangkan, pantang layar disurutkan kembali, maka mulailah dilirik kemungkinan untuk mengembangkan pasar di belahan dunia lain.

Dan Ethiopia menjadi pilihan- kenapa Ethiopia? Ini sesuai dengan karakter sabun B29 yang sederhana dan cocok untuk masyarakat yang masih sederhana. Apakah ada prospek pasar di sana? Jelas ada sekian juta penduduk Ethiopia yang perlu sabunan bukan? Kawasan Afrika selama ini kurang dilirik oleh perusahaan multinasional karena dianggap negara yang miskin dan sering bermasalah dalam perdamaian. Padahal dari 53 negara yang berada di benua Afrika, hanya 10 negara yang bermasalah, sementara negara-negara lain sedang menggeliat untuk membangun.

Rencana dan strategi dikembangkan. Biaya promosi yang tadinya dipakai untuk beriklan di televisi dan radio di Indonesia dipergunakan untuk biaya investasi di Adis Baba – Ethiopia. Sementara untuk peralatannya tidak ada investasi baru karena hanya memakai mesin-mesin pabrik yang sudah tua dan dipindahkan dari Indonesia.

b29

Tidak memerlukan waktu yang lama bagi sabun B29 untuk mengambil pangsa pasar di Ethiopia. Sabun B29 multipurpose dijual dengan harga 3.5 bir/equivalent Rp.3.500.-/ buah sangat laku keras dibandingkan dengan sabun mandi B29 yang dijual 1.25bir/equilvalent Rp. 1.250.-/buah. Ini karena alasan praktis – sabun multipurpose – sesuai dengan namanya bisa digunakan untuk mandi, mencuci sekaligus keramas, sementara jika membeli sabun mandi berarti mesti membeli jenis sabun yang lain.

Saat ini sabun B29 sudah menguasai 40% dari pangsa pasar sabun di Ethiopia – eksistensinya perusahaanyapun sangat dihargai karena banyak menyerap tenaga kerja wanita disana ( saya pernah melihat tayangan televisi mengenai masalah tenaga kerja wanita di Afrika dan muncullah perusahaan ini sebagai salah satu role model).

Total omset B29 di Ethiopia sekitar US$ 1 juta / bulan berarti setahun bisa mencapai US$ 12 juta – jika diasumsikan mereka mendapat margin sekitar 20% maka penghasilan PT. Sinar Antjol dari pasar Ethiopia ini sekitar US% 2.4 juta/ tahun dengan asumsi 1US$ = Rp.10.000.- maka dalam rupiah penghasilan/ tahun PT. Sinar Antjol sekitar Rp. 24 Milyar.

Memang perlu berlelah-lelah untuk mendapatkan penghasilan itu; jarak Jakarta – Adis Ababa, mesin-mesin pabrik yang terus berputar tiap hari sepanjang tahun, belum lagi kerja keras membangun jalur distribusi dan menyesuaikan diri dengan iklim usaha di Ethiopia. Begitu keras kerja yang harus ditempuh sehingga saya yakin tiap akhir hari owner maupun manajemen dari PT. Sinar Antjol akan tidur terkapar kelelahan.

Tapi pilih mana – tidur nyenyak karena kelelahan menggapai rezeki yang halal atau tidur tak nyenyak karena hati dibuat kebat-kebit karena tahu harta diperoleh secara tidak halal. Sibuk berupaya menghalalkan cara yang sudah; otak selalu diputar untuk menemukan cara pembenaran tindakannya. Silahkan rekan Baltyran menjawab sendiri.

Saya sendiri jadi bertanya-tanya:

Apakah kita perlu memandikan sang buaya dengan sabun colek B 29…setelah rasa malupun tak punya, bahkan kebringasan makin menjadi. Supaya tahu artinya “bertahan untuk hidup”, supaya tahu orang lain mengumpulkan sen demi sen untuk mendapatkan puluhan Miliar, supaya tahu arti seribu milpun akan kutempuh tuk mendapatkan rezeki.

A Note:

Kesimpulan dari tulisan ini adalah:

Dalam dua dimensi Indonesia sudah membuat “prestasi” pada dunia – sebagai negara terkorup dan sabun B29 meraup pangsa pasar di Ethiopia. Dalam menulis artikel ini akhirnya saya menemukan lotta pieces of Indonesia making a mark to the world maka ini merupakan awal dari beberapa temuan saya yang lain.

 

Bahan Pustaka:

1. www.aksesdeplu.com

2. www.liputan6.com

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *