Pit Onthel

EQ – di atas sadhel

Selamat pagi, dear readers…

Jogja masih terlalu pagi ketika saya mulai beredar di Malioboro, kira-kira beberapa bulan yang lalu. Ada yang membuat saya sengaja meluangkan waktu sepagi itu untuk menyambangi Malioboro.Bukan Malioboronya, tapi Benteng Vredeburg yang terletak tepat di seberang Istana Negara atau Gedung Agung.

Pagi itu suasana depan Benteng sudah tampak hiruk-pikuk, ramai, gegap gempita oleh banyak orang yang berlalu lalang dalam kostum-kostum yang “tidak biasanya”. Halaman parkir Benteng, daerah kekuasaan mas Jacko tampak dipenuhi oleh beberapa mobil, bis turis dan truk besar. Juga, nah ini dia, sepeda-sepeda tua, pit onthel!

Memang, karena hari itu ada acara yang namanya KIRAB PIT ONTHEL. Untuk itulah kenapa saya tertarik datang pagi-pagi buta, sebelum acara kirab dimulai. Bukan mau ikut kirab, tapi mau ikutan nonton para piters itu dan berfoto-fotoria sebelum acara.

Banyak hal yang menarik di seputar acara Kirab Pit Onthel.

Acara yang diadakan pada hari Minggu tersebut adalah atas prakarsa POJOG (Paguyuban Onthel Jogja) dalam rangka ulang tahunnya yang ke 2, temanya adalah “kembali bersepeda, save the planet “. Saat itu POJOG mengundang sekitar 120 klub onthel dari seluruh Indonesia, di antaranya adalah dari daerah Ponorogo, Batang, Muntilan, Bogor, Indramayu, Semarang, Blambangan, Madiun, Makasar, Bali dan masih banyak lagi. Sementara anggota POJOG sendiri berjumlah lebih dari 400 orang. Tak heran, memang Jogja juga merupakan kota sepeda yang cukup padat. Hal ini dapat dilihat setiap hari, di setiap ruas jalan, sepeda bercampur baur dengan kendaraan lain. Tak dapat dipungkiri bahwa sepeda juga seringkali menjadi sumber semrawutnya jalan raya, hal ini disebabkan oleh peraturan lalu lintas ( yang menurut saya sangat tidak masuk akal ), yang menyatakan bahwa sepeda dan semua kendaraan tidak bermotor, tidak terkena peraturan lalu lintas sebagaimana kendaraan bermotor, salah satunya adalah peraturan traffic light, artinya sepeda “diijinkan” melanggar lampu merah.

clip_image002

Poster selamat datang POJOG

Kembali ke Kirab Pit Onthel, salah satu klub yang sempat saya ajak ngobrol adalah klub “OEMAR BAKRI”, dari Ponorogo, Jawa Timur. Dan sebagaimana layaknya orang Ponorogo yang terkenal dengan waroknya, maka kostum anggota klub “ Oemar Bakrie” saat itu adalah pakaian khas warok. Memang, dress code-nya adalah pakaian klub masing-masing yang bagaikan pesta kostum.

clip_image004

Upacara yang dihadiri oleh wakil dari setiap klub, lengkap dengan kostum mereka.

Di Ponorogo sendiri terdapat 30 klub yang masing-masing klub memiliki anggota sekitar 100 orang. Masing-masing orang memiliki lebih dari sebuah sepeda onthel. Menurut bapak Sarmoe’in, yang memiliki 3 buah sepeda, klub “Oemar Bakrie” didirikan pada tahun 1997, dan diketuai oleh bapak Imam, yang memiliki 6 buah sepeda. Bagi para pecinta sepeda onthel, kendaraan tersebut bukan lagi sekedar alat transportasi, melainkan lebih kepada “klangenan”. Piaraan tercinta, bagaikan burung perkutut layaknya.

clip_image006

Anggota Klub “Oemar Bakri” sedang berpose untuk saya

clip_image008

Pak Samoe’in dengan piet onthel kesayangannya.

Sepeda atau pit diciptakan peertama kali oleh Karl Von Drais pada abad 19 di Jerman. Kata piet atau pit dalam bahasa Jawa yang berarti sepeda, diambil dari bahasa Belanda “fiets “, sedangkan sepeda dianbil dari bahasa Perancis “velocipede”. Sedangkan sebutan onthel mengacu dari cara menjalankan kendaraan tersebut, yaitu dengan dionthel atau dikayuh ( untuk sepeda motor, disebut pit montor, karena dijalankan dengan motor, atau pit kumbang, karena memiliki suara yang mirip dengan suara kumbang, berdengung saat mesinnya dihidupkan, sebagian menyebutnya brompit, dari bahasa Belanda )

Karena ini artikelnya mas Karjo, jadi saya tidak akan banyak membahas sejarah sepeda, seperti biasanya.

Dalam acara Kirab Pit Onthel tersebut, rute yang ditempuh sepanjang 45 km. Dengan bersepeda (tentu saja) dan jelas berkeringat, karena udara panas Jogja yang menyengat.

Dalam acara tersebut juga digelar aneka pameran yang berhubungan dengan sepeda tua sebagai hobi. Diantara adalah pameran sepeda kuno, pameran pernak-pernik sepeda, juga berbagai macam game dan bazaar.

Seperti pada masa sekarang, sepeda onthel juga memiliki merek-merek favorit. Diantanya adalah Gazelle dan Diamant buatan Jerman. Kedua merek tersebut termasuk kelas wahid yang mempunyai harga jual selangit. Lihat saja sebuah sepeda onthel merek Gazelle diberi harga jual 60 juta IDR !! sedangkan sebuah sepeda merek Diamant, dijual dengan harga 25 juta IDR.

clip_image010

Sepeda onthel merek Diamant buatan Jerman, orisinal, lengkap, harga 25 Juta IDR.

Merek-merek lain yang juga terkenal adalah Victory dan Simplex, meskipun harganya di bawah Gazelle dan Diamant, namun juga tidak bisa dibilang murah, sebab kisaran harganya masih di seputar 2 – 5 juta. Ada juga sebuah sepeda onthel untuk anak kecil yang ditampilkan pada pameran sepeda onthel.

clip_image012

Sepeda onthel untuk anak kecil. Tidak dijual karena merupakan koleksi pribadi.

Anggota klub-klub sepeda onthel sebagian besar adalah kaum pria, bapak-bapak yang sudah berumur di atas 40 tahunan. Entah mengapa hampir tidak ada kaum wanita yang menjadi anggota klub sepeda onthel, padahal sebenarnya, dalam kenyataan sehari-hari di Jogja, pengendara sepeda wanita lebih banyak dibandingkan dengan pengendara sepeda kaum pria. Mungkin karena memang di dalam klub, sepeda onthel dianggap hobi dan koleksi. Sebagaimana keris dan burung perkutut, maka pecintanya kebanyakan adalah kaum pria.

Selain sepeda, juga dijual berbagai macam onderdil dan pernak-perniknya. Ada yang orisinil ( asli ), ada yang buatan jaman sekarang, tentu saja dengan harga yang berbeda.

clip_image014

Salah satu pojok jualan, lesehan, khas Jogja.

Sepeda yang diikutsertakan dalam kirab pun tak kalah meriah dan unik-unik bentuknya. Tidak sekedar sepeda biasa yang dipakai untuk sepedaan kian kemari, namun juga direngga-rengga, dihias-hias, di beri aksesori di beberapa tempat tertentu. Bahkan ada juga yang diberi hiasan tengkorak, hiiii…..ada-ada saja !

clip_image016 clip_image018

clip_image020 clip_image022

Aneka macam cara untuk menghiasi sepeda onthel yang ikut dalam kirab

Acara kirab dimulai pada jam 9 pagi, diawali dengan upacara singkat, yang dikuti oleh wakil masing-masing klub. Pidato singkat dari ketua panitia, kemudian langsung dibubarkan untuk bersiap melakukan konvoi atau kirab keliling kota Jogja. Saya terus terang saja tidak mengikuti mereka, karena di Jogja saya memang tidak suka naik sepeda ( lebih tepatnya saya tidak punya sepeda ).

Kirab dikawal oleh beberapa mobil polisi dengan sirene uing-uingnya. Satu buah ambulance untuk pertolongan pertama jika sekiranya ada yang sakit. Juga sekelompok pengendara sepeda motor tua dari kelompok MACI ( Motor Antik Club Indonesia ). Suasana keberangkatan sangat meriah. Saya kemudian berangkat menuju rumah. Pulang !

Sebenarnya saya sangat setuju dengan ide kembali bersepeda untuk menyelamatkan bumi dari polusi yang berlebihan. Namun untuk membuat jalur khusus kendaraan tak bermotor di Jogja ( khususnya ), jelas tidak mungkin banget !! Jalanan sempit akan menjadi semakin sempit, dan yang jelas jalur tersebut hanya akan dihuni para pedagang kali lima atau pedagang makanan seperti es cendol, bakso, bakmi, dan sebagainya. Itu sudah pasti, karena itu juga yang terjadi saat ini,.pedagang mempergunakan jalur untuk pejalan kaki dan trotoar guna memarkirkan gerobak jualan mereka atau menggelar dagangan.

Bahkan juga untuk sarana parkir kendaraan roda dua, sementara itu jika peraturan lalu lintasnya masih seperti sekarang ini, saya yakin kecelakaan lalu lintas akan meningkat, karena ulah para pengendara sepeda yang suka seenak hati slonong boy, meskipun di tengah perempatan yang ramai dengan kendaraan. Hanya dengan berbekal tengok kanan-tengok kiri, lantas dengan mantap beibeh tancap gas, eh, meluncur mulus tanpa perduli pengendara kendaraan lain yang misuh-misuh kaget. Kadang-kadang ada beberapa pengendara sepeda yang berhenti saat lampu merah. Hanya saja berhentinya tidak di belakang marka jalan, melainkan di tengah-tengah perempatan, alias ditengah jalan, dengan lagak sok yakin gak bakalan ditabrak. Herannya para polisi ya cuek pol melihat kejadian tersebut.

Pernah saking sebelnya saya tanya pada salah satu polisi jaga. Jawaban beliau enteng, “lha gimana ya mbak, peraturan lalu lintasnya hanya berlaku untuk pengendara kendaraan bermotor je” ( siapa sih yang bikin peraturan lalu lintas seperti itu ? Aneh banget. Apa mereka tidak tahu bahwa kendaraan tidak bermotor juga mempergunakan jalan yang sama dengan kendaraan bermotor, jadi satu dengan pengguna jalan lainnya, artinya khan harus ada peraturan untuk membuat mereka tertib berlalu lintas ). Masih ngeyel, saya, karena tidak puas, “lha kalau terus terjadi kecelakaan, atau sepeda itu ditabrak kendaraan bermotor, gimana pak ?”

Apa kata pak polisi? SIM dan STNK-nya ada mbak ? Gubrak !!!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.