Aku Ber-Sandal Jepit, Maka Aku Ada

Junanto Herdiawan – Indonesia

Gedung pencakar langit di ibukota adalah simbol kemewahan. Mereka yang berkantor di sana akan merasakan nuansa kemewahan itu. Mulai dari ruangan dingin ber-AC, wallpaper nan indah, lukisan kelas maestro, sampai penampilan para pekerja yang mentereng. Namun di balik itu semua, kemewahan tak selalu berarti kementerengan. Setidaknya itulah yang terjadi di kantor saya. Saat hari beranjak siang di kantor, pemandangan para pekerja yang tampil mentereng, perlahan mulai berubah.

Sebut saja namanya Dewi. Ia rekan kerja saya yang cantik dan manis. Penampilannya tipe wanita karir. Baju bermerek, busana stylish, parfum semerbak, dan sepatu mengkilat, atau berhak tinggi. Ia lulusan S-2 dari universitas ranking teratas di Amerika. Pengetahuannya jangan diragukan. Pengalaman dan pergaulannya luas.sandal jepit 2

Tapi, saat bekerja di kantor, Dewi selalu menggunakan sandal jepit. Sepatu bermerek dan mengkilat dilepasnya, dan diganti dengan sepasang sandal jepit. Sembari mengenakan sandal jepit, ia mengetik, menganalisis, dan menjawab telpon. Di sekitar Dewi, banyak para pekerja kantor yang secara diam-diam atau terang-terangan, juga memakai sandal jepit. Saya sendiri selalu menggunakan sandal jepit. Baik untuk sholat ataupun untuk bekerja, sandal jepit memang nyaman. Kalau mau jujur, lihatlah di kolong-kolong meja para eksekutif di kantor mewah. Hampir dipastikan kita menemukan sandal jepit.

sandal jepit 1

Sandal jepit, selain memberi kenyamanan adalah juga sebuah kejujuran. Sandal jepit adalah sebuah nilai tradisional yang mencuat untuk mengalahkan hegemoni sepatu. Sandal jepit merupakan makna “Ada” bagi kita. Eksistensi kita tercermin dari kenyamanan kita dengan sandal jepit. Memakai sandal jepit, berarti juga mengakui hakikat bangsa ini yang sejak dulu dikenal sebagai bangsa agraris dan maritim. sandal jepit

Sejak dahulu, nenek moyang kita tidak pernah memakai sepatu. Mereka ke sawah ataupun melaut, tanpa beralas kaki (nyeker). Sepatu masuk ke negeri ini dibawa oleh para penjajah Belanda. Sepatu modern baru ditemukan di wilayah Eropa pada tahun 1800-an. Sejak saat itu, para petinggi pribumi mulai mengenal sepatu. Tapi rakyat kebanyakan, masih nyeker.

Dalam diri kita yang terdalam, kita masih bangsa agraris yang senang ke sawah. Baju bermerek, Sepatu hak tinggi, hanyalah topeng untuk menutupi diri kita sebenarnya. Sesampai di rumah, semua itu berganti dengan kaos, celana pendek, sarung, dan sandal jepit.
Sandal jepit adalah sebuah kejujuran. Itulah esensi “Ada” pada diri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.