Singapura Dalam Lensa: Food Republic Vivo City Harbour Front

Josh Chen – Global Citizen

Masih di seputar Singapore…

Hello lagi GCNers/Baltyrans,

Setelah menyaksikan pertunjukan spektakuler di Sentosa Island yaitu The Songs of the Sea dan menjepret sunset di sana, http://baltyra.com/2009/09/04/singapura-dalam-lensa-sunset-at-sentosa-island/ kami balik ke mainland Singapura dan mengisi perut di foodcourt di Harbour Front. Sebelumnya kami sudah mencium bau yang menguar keluar dari tempat yang berjudul Food Republic Vivo City…

Akhirnya malam itu kami mengganjal perut di sana…

Pertama menapaki Food Republic Vivo City Harbour Front, sudah membuat aku mesem sendiri. Ternyata plesetan bukan hanya orang Indonesia yang bisa, tapi di sini aku lihat juga ada plesetan lucu…salah satu stand di dekat pintu masuk ke Food Republic Vivo City, terlihat penjual bakpao yang di plang namanya tertulis 包今天dengan gambar tenggok yang mirip dengan topi jaksa di China tempo doeloe. Mudah ditebak, ini adalah plesetan dari nama Judge Bao yaitu 包青天. Dengan beda suara sedikit di huruf tengah, yang pertama berbunyi cin (pinyin: jin), dan yang kedua berbunyi jing (pinyin: qing).

Foto 1: Bao Jin Tian

Arti keduanya jauh berbeda…yang pertama literally berarti: ‘Bakpao hari ini’ dan yang kedua adalah nama orang.

Malah kemudian aku berpikir, jangan-jangan yang punya malah orang Indonesia… hehehe…soalnya setahuku kekreatifan plesetan, orang Indonesia adalah jawaranya…

Tak berlama-lama kami memesan makanan dan menikmati di deretan bangku kayu tua dan dekorasi antik plus eksotik. Setelah santapanku selesai, tak sabar segera mengayunkan langkah berkeliling untuk membuat beberapa jepretan.

Foto 2 – 14: Vivo City, Interior, Ornamen

Mencermati foto-foto di atas, sungguh membuat daya khayal melambung, serasa hidup di jaman kisah To Liong To. Bebatuan yang antik di bawah kaki mengingatkanku akan Grand Indonesia yang lantainya beraspal dan ber’paving. Deretan meja dan kursi tua yang terawat baik mendominasi masing-masing stand di situ.

Ornamen dan dekorasi masing-masing tempat jualan makanan berbeda-beda, dan semuanya kelihatan sangat antik.

Bahkan di sela-sela jepret sana jepret sini, aku sempat candid seorang pria tua yang guratan mukanya penuh kisah hidupnya…

Foto 15: Old Man

Setelah istri dan anak-anak selesai bersantap juga, kami mulai melangkahkan kaki untuk mencari MRT kembali ke hotel. Sambil berjalan keluar, tiba-tiba istri menunjuk sesuatu…ternyata yang ditunjuk adalah plang yang berwarna hijau tua, dengan angka-angka berukuran besar. Ternyata plang-plang itu adalah petunjuk nomer rumah jaman doeloe, lengkap dengan nama jalan, nomer gang dan nomer lorong serta nomer rumah.

Di samping itu, ada yang hanya menyebutkan nama rumah tsb beserta nomernya, seperti nampak plang dengan nomer 4 yang menunjukkan hanya nomer rumah dan identitas rumah tsb.

Foto 16 – 18: Plang Nomer Rumah

Ternyata makin dicermati dan dinikmati setiap keping benda di situ, semakin asik. Ada roda kereta pedati jaman doeloe. Bentuknya benar-benar mengingatkanku akan kereta pengangkut barang ekspedisi di cerita dan film silat serial.

Foto 17: Roda Kereta Kuno

Ada lagi jajaran sepeda tempo doeloe yang dengan manis menclok di ketinggian berjajar rapi, berwarna warni cantik.

Foto 18: Sepeda Tua

Dan di dekat pintu masuk teronggok sesuatu yang mengingatkanku akan film Chinese Ghost Story (Leslie Cheung & Joey Wong), di mana tandu pengantin ini digunakan dalam salah satu adegan film itu.

Foto 19: Tandu Pengantin

Eeeehhh..ternyata di pinggir pintu keluar terdapat sebentuk gong dan gembreng tempo doeloe…

Foto 20: Gong & Gembreng

Menjelajahi Food Republic Vivo City dengan lensa camera sungguh mengasikkan, rasanya masih belum cukup saja. Dan kemudian malah aku teringat akan tulisan seorang teman mengenai Eat & Eat di Kelapa Gading, beserta setumpuk foto di artikel tsb. Food Republic Vivo City dan Eat & Eat sungguh sama persis. Sungguh mirip…entah siapa meng-copy siapa, mengadopsi system, design dan konsep foodcourt dengan sentuhan jaman koeno lintas dinasti di China.

Semoga bisa dinikmati…terima kasih sudah membaca.
 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *