Wedang Tahu

satu lagi dari Semarang

Josh Chen – Global Citizen

Baru saja melangkahkan kaki keluar dari taxi dan memasuki lobby hotel di Jl. Gajah Mada Semarang, sudut mata melihat ada satu ‘penampakan’ yang akrab sekali. Kepalaku menoleh melihat keluar, dan ternyata sebuah pikulan wedang tahu bertengger manis tepat di depan lobby hotel.

Tak menunggu lama, aku segera keluar lobby dan berpesan kepada si penjual untuk menunggu sebentar, karena aku harus menyelesaikan proses check in siang itu.

Kami sekeluarga menghabiskan salah satu long weekend yang baru lewat ke Semarang, kota kelahiran tercinta dan kok ya ndilalah di hari pertama ini disambut oleh wedang tahu. Entah sudah berapa belas tahun aku tidak pernah menikmatinya lagi semenjak keluar dari Semarang tahun 1996.

Memang pernah sekali aku mencoba tahu kua di Medan, yang mirip dan konon paling top dan mak nyus, tapi ternyata menurut lidahku, masih saja kalah dengan wedang tahu Semarang. Tentu saja orang Medan akan berkata sebaliknya…bisa dimaklumi, makanan di mana tempat kita dilahirkan, dibesarkan dan menghabiskan masa awal kehidupan kita, tentu dan pasti paling top.

Setelah proses check in selesai, aku memesan 3 mangkok, masing-masing untuk aku dan istri serta semangkok untuk anak-anak, karena aku berpikir mungkin kadar pedas jahe dari kuahnya terlalu pedas untuk mereka. Tak lama 3 mangkok pesanan diantar ke lobby. Tentu saja sebelum diseruput, tak lupa aku mengeluarkan camera dan menjepret wedang tahu ini dalam berbagai posisi.

Wangi jahe menguar tajam dari mangkok…bagaikan film hitam putih di depan mata, kenangan masa kecil mengalir deras. Dentang gembreng kecil yang tergantung di pikulan serasa melodi manis datang dari masa lalu. Ingatan manis akan kedua almarhum orang tua menyergap.

Suapan pertama sungguh luar biasa. Belaian lembut tahu di lidah sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata. Bau khas kedelai menembus indera penciuman. Sengatan manis bercampur pedas-hangat jahe menggelitik indera pengecap…sungguh luar biasa…

Seruput-suap demi seruput-suap berpindah dari mangkok ke mulut…

Sambutan luar biasa tak disangka di hari pertama berlibur di kota kelahiran tercinta…
 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *