Legend of Mount Lavinia Hotel

Syanti – Sri Lanka

Tubuhnya meliuk-liuk dengan indah, kaki dan tangannya bergerak dengan lincah mengikuti irama gendang yang bertalu-talu. …….tubuhnya yang tinggi semampai, biji matanya yang berwarna gelap sesuai dengan warna rambutnya yang berwarna hitam legam, tergerai dengan indahnya dan senyumnya sangat menawan, warna kulitnya agak gelap bagaikan warna merah tembaga.……..kecantikannya begitu exotic.

Pada tahun 1796 British berhasil merebut Trincomalle dari Belanda, Trincomalle adalah sebuah pelabuhan alam terbesar kedua di dunia, yang terletak di bagian timur Sri Lanka, pada waktu itu dikenal dengan nama Ceylon.

Trincomalle adalah daerah pertama yang menjadi kekuasaan pemerintah British, pada waktu itu oleh pemerintah British, Trincomalle dijadikan pusat pemerintahan British untuk India dan Ceylon. 

Pada tahun 1805 Thomas Maitland diangkat menjadi governor di Ceylon, Thomas Maitland berasal dari keluarga bangsawan Inggris. Ia mempunyai tanah yang luas lengkap dengan castlenya di Scotland.

Pada masa itu banyak bangsawan Ingris yang memilih untuk hidup sebagai bujangan, sementara mereka pada umumnya mempunyai kekasih-kekasih atau wanita-wanita simpanan….jadi teringat dengan novel Barbara Cartland yang banyak menceritakan, kisah cinta para bangsawan Inggris pada era tersebut.

Begitu juga dengan Thomas Maitland, yang mempertahankan statusnya sebagai bujangan. 

Thomas Maitland bergabung dengan British Army, sebelum diangkat sebagai governor di Ceylon, Ia bertugas di West India Caribean selama empat tahun. Thomas Maitland begitu terpesona dengan keindahan, tropical island Jamaica dan Martinique.

Setelah enam bulan Maitland mendarat di Ceylon, Maitland yang masih terpesona dengan kehidupan yang luxurious di Jamaica……berusaha untuk mencari tempat untuk dijadikan tempat tinggalnya yang mempunyai kemiripan dengan tempat tinggalnya di West India. 

Akhirnya Maitland, menemukan sebidang tanah yang luas di tepi pantai, dengan pemandangan yang sangat indah, terutama pada saat matahari terbenam. Tempat tersebut bernama Galkissa sekitar 10 km ke arah selatan dari Colombo.

Maitland memutuskan untuk mendirikan rumah tempat dinasnya di daerah tersebut, maka dia mendirikan sebuah mansion yang menghadap ke pantai. Mansion tersebut begitu indah, diberi warna putih sehingga kelihatan begitu kontras dengan background warna laut yang biru. Terutama pada senja hari menjelang matahari terbenam.

Pada suatu sore menjelang matahari terbenam seperti biasa Maitland, berjalan menyelusuri sepanjang pantai, diiringi oleh pelayannya yang bertugas untuk mengawal dan penterjemah untuknya. Maitland berjalan mengelilingi daerah tersebut, melalui rumah-rumah penduduk yang miskin.

Maitland, mendengar suara music tradisionil dari penduduk setempat dan matanya terbentur pada seorang gadis yang sedang menari diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu…….gadis itu begitu menarik dan sangat mempesona………tubuhnya meliuk-liuk dengan indahnya di bawah cahaya matahari yang hampir terbenam.

Sejak pandangan yang pertama, membuat Maitland tidak dapat melupakan gadis tersebut…..matanya yang elok, bibirnya yang sensual, yang selalu tersenyum sambil menari. Membuat orang yang memandangnya jatuh hati dan terpesona. 

“Siapa gadis itu?” tanya Maitland kepada pengawalnya. 

“Lavinia, penari dan merupakan bunga di desa ini” jawab pengawalnya. 

Sesungguhnya Gadis itu bernama Lovinia, tetapi penduduk ditempat itu memanggilnya Lavinia. Wajahnya yang cantik kepandaiannnya menari membuat dia sangat terkenal di kampungnya dan group tarinya sering dipanggil untuk menari ke kampung lainnya.

Lovinia mempunyai warna kulit yang agak gelap bagaikan merah tembaga. Menandakan dia berdarah campuran. Lovia merupakan campuran dari Portugis dan Ceylonist berkasta rendah. Karena pada masa itu suku Sinhala yang begitu bangga dengan kastanya…..pernikahan biasanya hanya terjadi pada kasta yang sama dan tabu buat mereka untuk menikah dengan “Suda” panggilan untuk orang berkulit putih.

Ibu Lovinia adalah seorang penari……di Sri lanka penari biasanya berasal dari kasta Navandanna (artisan)

Sedangkan ayahnya masih berdarah Portugis yang menetap di Ceylon (1505 – 1658 Sri Lanka berada di bawah kekuasaan Portugis). Penduduk di sekitarnya memanggil Lovinia dengan panggilan Lavinia, mungkin karena mereka sulit menlafal Lovinia…….berubah menjadi Lavinia. 

Lavinia menyadari status dirinya yang berdarah campuran dan sering dikucilkan oleh penduduk di sekitarnya. Karena itu Lavinia sering menyendiri di tepi pantai, terutama pada senja hari, sambil menikmati keindahan pada saat-saat matahari terbenam.

Keberadaan Lavinia di tepi pantai menarik perhatian sang governor…….Maitland memerintahkan pengawalnya memanggil Lavinia untuk menemuinya.

Lavinia menghampiri sang governor, sambil menundukkan mukanya. Maitland mengajukan beberapa pertanyaan kepada Lavinia melalui pengawalnya, yang bertugas sebagai penterjemah. Hati Lavinia diliputi rasa takut sambil menjawab pertanyaan, matanya memandang ke arah pasir di pantai sambil sebentar-bentar mencuri pandang ke arah sang governor. Penampilan Lavinia tersebut membuat sang governor merasa sangat tertarik pada Lavinia. 

Paandangan mata Lavinia, membuat sang governor tidak dapat melupakannya…gadis itu begitu cantik dan sangat menarik. Membuat sang governor tidak dapat memejamkan matanya, seakan-akan bayang-bayang akan gadis itu berada di sekelilingnya, senyumnya yang begitu menawan dan tubuhnya yang indah meliuk-liuk menari mengikuti bunyi gendang, tidak bisa hilang dari ingatannya…….inikah yang dinamakan jatuh cinta ?!?

Laviniapun tidak dapat melupakan pandangan “Suda” yang bermata biru, tatapannya yang teduh membuat Lavinia tak dapat melupakannya……tetapi dia tidak berharap banyak, karena dia tahu siapa dirinya. 

Maitland, menyadari sebagai governor dia tidak mungkin menikahi gadis yang berasal dari penduduk biasa, apalagi dari kelas rendah. Maitland yang hidup di bawah pemerintahan Victorian, sebagai governor dia terikat oleh berbagai peraturan.

Secara diam-diam sang governor sering menemui Lavinia di tepi pantai ……….ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Lavinia yang berdarah campuran dan berasal dari kasta rendah, merasa begitu bahagia mendapatkan cinta sang governor….karena dari kasta lain tidak akan sudi menikah dengan dia. 

Secara rahasia Thomas Maitland, memerintahkan pengawalnya untuk menyelundupkan Lavinia ke kamar tidurnya…….bahkan konon sang governor membuat terowongan rahasia dari mansion tempat tinggalnya ke sumur di rumah Lavinia, sehingga Lavinia bisa bebas keluar masuk ke tempat tinggal sang governor. 

Hubungan rahasia antara Lavinia dan sang governor yang sangat dirahasiakan…. akhirnya sudah bukan rahasia lagi, menjadi buah bibir penduduk setempat. Setelah enam tahun akhirnya hubungan rahasia mereka tercium oleh pemerintah Victorian.

Karena hal tersebut telah melanggar peraturan yang ada dan dianggap sangat memalukan untuk pemerintahan Victorian yang berkuasa saat itu.

Thomas Maitland dipanggil pulang berlibur ke London….tetapi ternyata dari London Thomas Maitland dipindah tugaskan ke pulau Malta sampai akhir hayatnya. Tanpa sempat kembali menemui kekasih hatinya…Maitland pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal

Sementara Lavinia, menunggu kedatangan kekasihnya, yang pergi tanpa sempat pamit……….dia menunggu dan menunggu sampai ajal memanggilnya.

Banyak orang percaya bahwa arwah dari Lavinia sering terlihat di sekitar rumah sang governor…..untuk mengenang Lavinia………Setelah British meninggalkan Sri Lanka, rumah dinas sang governor diubah menjadi hotel dan hotel tersebut dinamakan Mount Lavinia Hotel dan daerah tersebut berubah nama menjadi Mount Lavinia bukan Galkisa lagi….walaupun sebagian orang masih menyebutnya Galkisa.

Mount Lavinia Hotel, tidak banyak diubah masih sama bentuknya seperti waktu Thomas Maitland. Temboknya masih berwarna putih, pegawai di Hotel tersebut masih mengenakan seragam seperti seragam pegawai governor waktu itu. Hanya ada beberapa tambahan seperti swiming pool dan taman di halaman hotel tersebut didirikan patung seorang wanita cantik yang bernama Lavinia. 

Demikianlah legenda dari Hotel Mount lavinia…..yang banyak disukai para tourist local maupun dari manca negara.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.