Tuesday, 29 September 2009
Junanto Herdiawan – Indonesia
Bagi para pemudik sekaligus pecinta kuliner, mencicipi hidangan Nusantara adalah sebuah kewajiban kalau “pulang kampung”. Seorang kawan yang baru pulang mudik menceritakan pengalamannya mencicipi Rawon Nguling di Probolinggo dan Malang. Menurutnya, itu adalah Rawon ter-enak Sedunia, khusus di Jawa Timur.
Bahkan katanya, pak SBY pun kalau pulang kampung selalu mencari Rawon Nguling ini. Rasa, tentu tak bisa diperdebatkan, karena masing-masing orang punya jagoan Rawonnya sendiri. Tapi rawon nguling memang patut diperhitungkan dalam kancah per-Rawon-an Nasional. Saya jamin anda bisa ter-nguling nguling mencicipi kelezatan dan kesegarannya.
Selain di Probolinggo dan Malang, Rawon Nguling kini bisa ditemukan pula di Jakarta. Dengan sistem franchise, Rawon Nguling telah mengembangkan sayap di beberapa kota. Di Kelapa Gading, baru-baru ini baru dibuka satu kedai Rawon Nguling. Jadi, kalau kangen dengan hidangan Jagoan “Rawon Dengkul Sapi” yang lembut itu, silakan cicipi di dekat rumah anda. Rasanya persis sama, hanya suasana yang berbeda.
Pertama kali mencicipi Rawon Dengkul di Jawa Timur, saya sungguh terperanjat. Dengkul, atau bagian lutut sapi yang lembut, dimasak dalam kuah rawon yang hitam tidak terlalu kental. Inilah keunikan dari Rawon Nguling, kuahnya relatif lebih encer dibanding rawon lainnya. Tapi rasanya, sungguh menyenangkan. Dengkul sapi kenyal-kenyal empuk menyatu dalam kuah hitam yang gurih. Ada juga “Rawon Buntut” yang lembut. Rasa buntut yang tasty dan gurih menyatu dengan kuah Rawon yang nendang. Hmmmm sungguh lezat.
Rawon memang kerap dijuluki sebagai Sop Hitam (Black Soup) dari Jawa. Sop memang biasanya disajikan dalam kuah bening atau encer. Namun di Jawa Timur, sop disajikan dalam kuah hitam legam.
Kehitaman Rawon diperoleh dari bumbu utamanya, yaitu kluwek. Semangkuk rawon, kuahnya berwarna hitam kelam, aromanya khas, dan kluweknya menaburkan rasa kacang yang mantab. Untuk membuat rawon dituntut ketepatan tinggi guna menyeimbangkan bumbu-bumbu seperti: kluwek, kemiri, daun jeruk, daun salam, sereh, dan bawang merah. Oleh karenanya, “Not all Rawon are created equal”. Tak ada rawon yang rasanya sama. Semua memiliki rasa khas masing-masing. Kitapun memiliki jagoan rawon masing-masing.
Satu ciri khas dari Rawon adalah penyajiannya bersama sambal dari cabe dan bawang, serta tauge pendek. Tanpa tauge pendek, rawon bukanlah rawon. Tauge “tanggung” inilah yang menimbulkan rasa “crunchy” dan manis dalam suapan rawon.
Rawon adalah pusaka kuliner bangsa yang patut dilestarikan. Saat ini kreativitas baru muncul bagi tumbuh kembangnya aneka rasa rawon. Rawon kini tak tampil konvensional lagi. Kini, ada rawon iga sapi, rawon buntut, rawon paru, rawon lidah, rawon limpa, dan sebagainya. Semuanya tercampur dalam kilauan kuah hitam dengan kegurihan yang sungguh tak terlupakan. Selamat Mencicipi.
October 21st, 2010 at 12:59
Wah mantap memang Rawon Ngulingnya. Kuahnya maknyuss..
Salam Kenal ..
October 1st, 2009 at 11:36
Mas Junan, dirimu sudah berhasil membuat aku, glak glik gluk glek..hehehehe…mauuu dongg…
September 30th, 2009 at 21:51
Temans, memang kalau soal rawon masing-masing punya jagoannya ya. Ada yang suka kenthel kayak Alexa. Bahkan ada yang suka nggerogotin kluweknya saking senengnya makan kluwek, seperti SU itu ya. Tapi ada juga yang suka encer, kayak mas GC atau MT.
Nah rawon nguling ini memang versi kuah encer tapi nendang rasanya. Tidak seencer tampaknya memang.
Soal kreativitas, Malang memang pusat litbang dari rawon, baik dari sisi kuah maupun isi. Namun saya pikir mbak tingting yang paling kreatif, karena rawon diperkaya dengan wortel dan buncis hehehe. Bebas saja, tapi kayaknya enak tuuh yaa….
Salam
JH
September 30th, 2009 at 12:37
Aku cinta kluwek. Aku cinta rawon.
September 29th, 2009 at 21:00
Lani , baru makan Pindang Kudus di Semarang aja dah ngomong enak, apalagi yang asli di Kudus nya, bisa tambah klepek2.
Tenang bentar lagi tak siapin liputannya.
September 29th, 2009 at 17:14
ga makan rawon lagi, sih. jadi enggak bisa ikutan membayangkan apa enaknya rawon, ya?
September 29th, 2009 at 15:13
JC… kl disini pindang, biasanya dari ikan….
September 29th, 2009 at 14:57
Ocha: nasi pindang itu mirip rawon tapi pake santen enceeeerrrr…pake kluwek juga, plus ada tambahan godhong so, daun melinjo…
Lebih tepat nunggu si Buto Kudus bikin liputan wis…hehehe…