Di Antara Shadow Play & Bakti Ani Pada Negeri

Alexa – Jakarta


Note Redaksi:

Seperti yang sudah-sudah, weekend ini akan dikeluarkan lagi artikel lama dari arsip. Artikel ini sudah pernah tayang bertepatan dengan peringatan peristiwa 30 September setahun lalu di 2009.


Kastawi (70) tidak pernah memimpikan memiliki hidup yang begitu berwarna; sayangnya bukan warna pelangi yang indah namun warna hidup yang sangat “merah” ada lumuran darah di sana, ada noda hitam  yang harus disimpan selama nyaris 35 tahun dilatar belakangi  “sejarah merah” bangsa ini.

Berstatus sebagai narapidana dengan vonis 3.5 thn di LP Wonosobo karena kasus menggarong pada tahun 1965. Ia dan tiga napi lain suatu Subuh didaulat oleh militer untuk “kerja bakti” di Hutan Situkup, Ndempes, Kaliwiro – Wonosobo. Subuh itu ia digelandang memasuki hutan Situkup, ia dan tiga temannya diminta mencangkul dan membuat dua lubang berukuran Panjang x Lebar x Dalam @2 m. Pukul 07.00 pekerjaan selesai ia dibawa kembali ke LP untuk sarapan dan menjemput 21 orang penghuni LP untuk dibawa ke hutan itu, ada 10 anggota Kodim mengawal rombongan itu ke Situkup.

Duapuluh satu orang yang dianggap terlibat G30S PKI dan dibon (dipindahkan) dari Yogyakarta pada 26 Februari 1966. Di antara 21 orang itu tersebutlah nama Ibnu Santoro – seorang dosen UGM yang baru saja pulang dari Amerika – belum sempat merampungkan kuliah sudah dipanggil kembali ke Indonesia.

Di hutan itu ke duapuluh satu orang itu disuruh duduk berhadap-hadapan dan diwajibkan menyanyi lagu Genjer-Genjer, kemudian mereka dinasehati agar insyaf akan ke PKI-annya. Setelah diminta berjanji untuk tidak kembali PKI, selanjutnya ….doooor, senapan ditembakkan ke mereka. Dengan senjata laras panjang, dua anggota Kodim memberondong 21 orang itu dalam jarak 0.5m, delapan Anggota Kodim lainnya berjaga-jaga.

Seorang wanita tidak mempan ditembus berondongan peluru itu, akhirnya klewang disabetkan ke tubuhnya tapi sabetan klewangpun tak mampu melukai tubuhnya bahkan hingga empat klewang patah dibuatnya. Akhirnya perempuan itu diikat tambang dan dijebloskan ke lubang yang dibuat Kastawi hidup-hidup. Sempat dia berucap pada Kastawi yang disuruh menimbun lubang itu dengan tanah …”Mas, jangan keras-keras, sakit.”

Kastawi dan dua temannya bekerja menimbun lubang yang sudah berisi ke duapuluh satu jasad itu sembari gemetaran dengan bersimbah airmata. Mereka terus bekerja karena jika tidak beres pekerjaannya maka mereka diancam akan ditembak dan dikubur dalam lubang yang mereka gali itu. Dua pohon kelapa ditanam pada masing-masing lubang sebagai pertanda. Dan Kastawi serta kedua temannya harus menyimpan rahasia itu rapat-rapat hingga…

Tahun 2000, saat sang penguasa itu sudah lengser ke prabon dan era keterbukaan sudah dimulai maka beranilah Kastawi bertutur tentang sejarah kelam itu. Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65/66)di bawah pimpinan Esther Indahyani Yusuf – seorang wanita muda yang aktif membela Hak Azasi Manusia pada 16 November 2000 itu melakukan penggalian di hutan itu dan menemukan kerangka dalam posisi saling bersilang dan bertumpuk tanpa penghormatan kepada sesama manusia – diperlakukan seperti tumpukan binatang.


Shadow Play

Tahun 2001, peristiwa ini difilmkan oleh Hilton Cordel Productions dengan judul SHADOW PLAY.


24 Juli  2009 saat Omar Dhani mantan Menteri/ Panglima Angkatan Udara meninggal seperti membuka kenangan lama. Kompas menurunkan dua tulisan obituari menandakan pentingnya sosok ini dalam perputaran sejarah Indonesia. Omar Dhani diadili dalam Sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Dituding bersama AURI terlibat dalam G30S PKI; selain dituduh karena Lanud. Halim PK yang berada di bawah wewenangnya menjadi tempat latihan Gerwani juga diberatkan karena mengeluarkan perintah harian Menteri/ Panglima AU setelah mendengar adanya G30S PKI dari siaran RRI. Divonis mati pada bulan Desember 1966, pada 2 Juni 1995 mendapat Grasi dan sejak 16 Agustus 1995 sudah bisa menghirup udara bebas.

Kehidupan seorang yang menyandang stigma Tapol umum diketahui sangat berat. Stigma itu tertempel pada KTP dengan tanda E ( alias eks ); derita terus berlanjut bagi keturunannya- akan sangat sulit bagi keturunan eks tapol G30S PKI untuk mencari pekerjaan dan berbisnis di sektor Plat Merah dan sektor strategis. Aku pernah membaca di majalah Tempo lawas – seorang putra Omar Dhani pernah bekerja beberapa bulan di suatu perusahaan perminyakan.

Saat dilakukan screening test timbul kecurigaan karena mencantumkan tempat kelahiran di Pnom Penh kendatipun saat itu tidak mencantumkan Omar Dhani sebagai ayahnya. Akhir pemeriksaan lebih lanjut menemukan bahwa ayah kandungnya adalah Omar Dhani maka ia diminta meninggalkan perusahaan perminyakan itu.

omar-dhani

Saat sedang bernostalgia di Lanud Iswahyudi bersama rombongan mantan KASAU tahun 2001, ia ditanya apakah menaruh dendam pada Pak Harto. Omar Dhani menjawab dengan lirih…”Tidak. Uripku saiki luwih kepenak timbang dheweke ( tidak, hidupku jauh lebih enak daripada dia – Pak Harto).”


Pada Jum’at 14 Maret 2003 ada pertemuan eks tapol dengan ketua MA – Bagir Manan. Mereka meminta kepastian status hukum 20 juta warganegara Indonesia korban eks tapol dan napol dimana 1.9 jutanya pernah ditahan. Sangat diperlukan kejelasan status karena mereka mengalami diskriminasi dalam segala bidang – sayang pertemuan ini tidak ada kelanjutannya.

17 Agustus 2009 – upacara peringatan kemerdekaan Indonesia yang ditayangkan seluruh stasiun televisi menggambarkan seorang gadis remaja menyodorkan nampan perak kepada Presiden untuk menerima Sang bendera Merah Putih yang akan dikibarkan. Mengingatkanku akan sosok putri Ibnu Santoro – si tertuduh G30S PKI yang sekian belas tahun lalu akhirnya berdiri di depan Pak Harto dan melakukan hal yang sama dengan gadis itu…menjadi anggota Paskribaka Istana pada peringatan kemerdekaan Indonesia – 17 Agustus dan menyodorkan nampan perak ke bawah hidung si Penabal status Tapol. Bagaimana mungkin, bagaimana bisa? Sementara kita tahu bagaimana stigma PKI saat itu seolah menjadi dosa yang diwariskan pada tujuh turunan.

Apakah karena kebesaran hati seorang Suharto? Semua kelebatan bayang-bayang itu membawaku pada cerita berikut….


Ibnu Santoro si dosen UGM yang jadi korban pembunuhan hutan Situkup itu merupakan putra sulung Mrs. Sarbini – nenekku. Ya Ibnu Santoro terhitung sebagai pamanku…tepatnya dia kakak dari ibuku;  kami menyebutnya Pakde Ib. Tahun 1960an mendiang dikirim tempatnya mengajar (UGM) untuk melanjutkan studi di Amerika. Saat itu belum banyak alternatif beasiswa sehingga hanya segelintir orang yang dikirim ke LN untuk belajar. Belum lagi kuliah kelar, pakde Ib dipanggil pulang maka bersama isteri dan gadis kecilnya  yang baru berusia 3 tahun (selanjutnya disebut Gadis) terpaksa kembali ke Jogja.

Baru beberapa hari kembali ke Jogja – Pakde Ib ditawari menjadi anggota barisan cendikia PKI, selembar formulir pendaftaran kosong diberikan kepadanya. Dan formulir itu masih dalam keadaan kosong saat suatu malam serombongan tentara dalam truk menyantroni rumahnya dan menciduk (istilah yang popular waktu itu) mendiang di depan isteri, nenek-ku dan Gadis yang sedang bermain-main dengan sepupu-sepupu Gadis yang lain.

Beberapa waktu berlalu – pencarian panjang dan mahal nenekku dan keluarga tidak membuahkan hasil, jangankan penuduhan resmi melalui Pengadilan, sekedar mengetahui keberadaan Pakde Ib-pun tak bisa. Akhirnya keluarga besar berembuk, yang masih tersisa (anak dan isteri Ibnu Santoro) harus diselamatkan, terutama tentu Gadis si putri semata wayang. Maka dibuatkan identitas baru – Gadis sekarang menjadi putri dari Sarbini – kakekku. Kemudian mereka diungsikan dan hidup di kota lain jauh dari hiruk pikuk stigma PKI itu.

Walaupun sepupuku yang seumuran dengan Gadis masih mengingat jelas saat-saat mengerikan pencidukan Pakde Ib – thank God ada mekanisme dalam diri Gadis kecil yang membuat ia sama sekali tidak memiliki memori akan hal itu. Gadis hanya diberitahu bahwa ayahnya sudah meninggal sejak kecil karenanya ia diakui sebagai putri Mrs. Sarbini dan suami agar urusan di kemudian hari tidak sulit.

Di kota itu Bude Ib dan Gadis mulai merenda hidup baru yang sangat bersahaja – saat itu Bude Ib menjelang 30 tahun, cantik dan mungil. Tidak heran banyak pria yang menghampiri tapi Bude Ib terlalu gentar untuk membuka lembar cinta yang baru – fokusnya hanya bekerja, bekerja dan bekerja demi masa depan Gadis.  Jangankan bercinta – berpikir untuk PDKT pun tidak pernah terlintas di benaknya, stigma PKI (yang terngiang dalam benaknya sendiri)  telah mampu meluluhlantakkan asa seorang wanita muda.

Kendatipun Gadis dibesarkan dalam keprihatinan- dia tumbuh menjadi gadis cantik , lincah dan cerdas. Gadis sebaya dan berteman dengan Sri Mulyani remaja (Menkeu RI)- kecerdasan mereka membuat mereka selalu bersaing dalam pelajaran. Rangking satu dan rangking dua selalu merupakan posisi yang mereka tempati bergantian. Tapi Gadis selain mengukir prestasi dalam pelajaran juga aktif di kegiatan remaja lain dan prestasinya bergaung hingga nasional bahkan internasional. Nah yang berkesan itu saat dia terpilih menjadi anggota Paskribraka di Istana dan menyodorkan nampan ke bawah hidung Pak Harto – orang yang tentunya tidak sudi berurusan dengan Gadis jika mengetahui jati diri si Gadis remaja. Kiranya kebesaran dan kasih sayang Allah atas perjuangan Bude Ib yang telah membawa Gadis pada situasi yang “luar biasa” ini.  Gadis juga sempat mukim di kota tempat dia dilahirkan di Amerika sana selama setahun atas beasiswa – di mana dia mengunjungi kampus bapaknya, menyapa professor-professor yang dulu mengajar bapaknya juga teman-teman Pakde Ib yang mukim di kota itu.

Sampailah Gadis memasuki masa akhir SMA – saat itu sistimnya adalah mendaftarkan langsung pada universitas negeri yang diinginkan dan karena Gadis berasal dari jurusan IPA – ia boleh memilih major IPA dan IPS. Tidak sulit bagi Gadis untuk menembus universitas dan jurusan manapun – baik IPA maupun IPS nah di situlah nurani Gadis berbicara. Gadis yang sudah tahu asal usul sebenarnya menjadi gamang memasuki fakultas ekonomi UGM yang sudah menerimanya, teringat akan nasib bapaknya yang penuh darah.

Akhirnya dia mengambil major di bidang IPA yang juga menerimanya sementara Sri Mulyani memilih jurusan Ekonomi. Gadis dalam waktu singkat berhasil menyelesaikan kuliahnya dan menemukan jodoh seorang pemuda yang memiliki profesi yang sama dengan yang disandang Gadis.

Saat ini Gadis mendarma baktikan dirinya dalam kesejahteraan Indonesia dengan cara yang berbeda dengan yang dilakukan Sri Mulyani. Sebut daerah konflik ataupun daerah bencana manapun di Indonesia maka pasti ada sosok Gadis di sana. Tapi tidak berarti kiprah Gadis harus menunggu hingga terjadi bencana karena hari-hari Gadis dilalui dengan berkarya untuk membuat tiap orang makin menyadari perlunya mereka meningkatkan kualitas hidupnya.

Tidak hanya sentuhan kepada sesama manusia yang dilakukannya tapi juga penelitian demi penelitian ilmiah terus dilakukan – yah itu dengan prioritas meningkatkan kualitas hidup orang Indonesia. Tulisannya sudah masuk jurnal ilmiah nternasional, pendidikan S2 di Belanda telah ditamatkan  dan saat ini sedang dalam proses mendapatkan beasiswa S3.

sri-mulyaniSuatu saat kutanyakan kepada Mbak Gadis-ku pernahkah dia membandingkan posisi dia saat itu dengan posisi Sri Mulyani? Dengan tegas dia menjawab:

“Dik, hidup tiap orang itu masing-masing sudah ada jalannya. Pastinya pengakuan dunia internasional atas prestasi Ani – Menkeu sangat membanggakan. Tapi hidup seorang Menteri Keuangan itu berat dan penuh intrik-intrik  sebab yang dia hadapi bukan hanya masalah keuangan negara tapi juga orang-orang dan pihak-pihak yang penuh kepentingan dan memaksakan diri untuk diprioritaskan. Bagiku  darmaku adalah memprioritaskan hidup dan nyawa orang per orang – kamu tahu khan saking sibuknya aku – aku sampe gak update berita dan kamu katain culun. Mungkin pekerjaanku ini yang disebut Rame in Gawe – Sepi Ing Pamrih. Aku sangat mensyukuri hidupku Dik, dan tidak ingin menukar dengan hidup orang lain.”

Catatan: Omar Dhani dan keluarga, Gadis dan ibunya merupakan sosok yang berhasil survive memperjuangkan masa depannya tapi bagaimana dengan yang lain? Yang menjadi korban atas stigma terlibat G30S PKI – ada 20 juta warga negara Indonesia dan 1.9 juta bahkan pernah mengenyam tahanan. Stigma itu terus mengikuti dan menciptakan diskriminasi bagi mereka dalam menggapai kesejahteraan sebagai mahluk hidup di bumi Indonesia.



*************
Bahan bacaan:
1.“Pahlawan Dirgantara itu Telah Tiada” – F.Djoko Poerwoko – Kompas, 25 Juli 2009,
2.”Omar Dhani Berpulang”, – Kompas, 25 Juli 2009,
3. “Remain of slain ex communist activities found in Wonosobo, Jakarta Post, 21 November 2000,
5. Tulisan Femi Adi – mahasiswa Yogyakarta – disajikan oleh A.Umar Said tentang Korban di Hutan
Wonosobo

80 Comments to "Di Antara Shadow Play & Bakti Ani Pada Negeri"

  1. uchix  28 October, 2012 at 16:39

    Kakekku jadi salah satu korban peristiwa tsb dan sampai sekarang tidak tahu dimana makamnya.
    Pamanku (adik ibu) umur 7 bulan waktu itu dan saat sudah besar mau lanjutin sekolah susah ngurus surat2 karena ada cap itu apalagi di kampung, sekarang jd wiraswasta
    Puji syukur Tuhan selalu buka jalan, gak bisa sekolah ya kerja yg gak perlu sekolah
    Semoga yg lain jg tetep semangat, selalu ada jalan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *