Gombalisme

Cinde Laras – Indonesia

 gombal-warning

"….Dasar laki-laki gombal ! Sukanya merayu ! Mulut manis ! Ternyata dia punya pacar di kota lain…. Hu..hu..hu…", tangis Nona tiada henti. Mona memeluk sahabatnya dan mencoba menenangkannya.
*
Penggalan cerita di atas memberikan kesan pada kita betapa GOMBALISME sudah menjadi sebuah fenomena dalam masyarakat kita. Apa definisi GOMBAL itu sebenarnya ? GOMBAL sejatinya adalah sobekan kain yang biasanya didapat dari sehelai baju atau produk kain lain yang telah terpakai. Biasanya carikan kain ini digunakan untuk melap suatu benda agar tampak lebih bersih. Kata GOMBAL yang dilekatkan pada seseorang mencerminkan sifat atau watak dari orang tersebut yang memiliki kecenderungan ’selalu ingin tampak lebih baik di mata orang lain’ dengan menggunakan kata-kata atau perilaku yang berlebihan atau tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya bila berhadapan dengan pihak lain itu, dalam kasus di atas si pelaku mempergunakan keahlian meng’GOMBAL’nya untuk menaklukkan si pacar.

gombal

*
Kebiasaan menggombal, ternyata juga banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis. Bahkan tanpa menggombal, sepertinya suatu kesepakatan akan mustahil dapat tercapai.
"Ini sudah murah…. Biasanya saya jual harganya 750 ribu. Ini karena kita kenalan baik saya kasih harga 700 ribu saja. Di toko lain harganya 800 ribu. Ini murah, lho…", kata Cik Gi Lie pada saya waktu saya mau beli suatu produk di toko kelontongnya. Cik Gi Lie berusaha menggombal dengan mengatakan hanya di tokonyalah saya bisa mendapatkan produk sejenis itu dengan harga lebih murah. Alasannya karena sudah kenal baik dengan saya. Padahal di toko lain belum tentu saya mendapatkan barang dengan harga yang sama. Bisa-bisa malah jauh lebih murah. Itu namanya Lambe Bakul.
*
Dalam keseharian, saya cenderung memasukkan basa-basi dalam golongan GOMBALISME seperti ini. Tak terhitung berapa kali saya telah menggunakan kata-kata GOMBAL kala saya bertemu seorang tetangga yang kebetulan melintas di depan rumah….
"Selamat pagi, Bude…. Kok cantik sekali mau pergi kemana pagi-pagi ?", kata saya suatu saat pada Bude X, tetangga saya. Si Bude tetangga yang berusia 50 tahun, badannya gemuk dan kulitnya hitam. Dalam balutan setelan jeans yang ketat, lemak yang ada di sekujur tubuh Bude X jadi tercetak sangat jelas memenuhi semua permukaan setelan bajunya. Tentu saja sebenarnya jadi tampak lebih mirip lontong. Maka mustahil bila saya mengkategorikannya sebagai bentuk yang cantik…. Artinya, pagi-pagi saya sudah meng’GOMBAL’ pada Bude X !.
*
Lain waktu, saya mencium anak saya yang terkecil ketika dia habis bangun tidur. Anak-anak memang lucu, seperti apa pun keadaan mereka.
"Aduh…, anak ganteng…. Anak cakep…. Udah bangun, ya ?," kata saya sambil mengajaknya ke kamar mandi. Saat itu anak rambut anak saya awut-awutan, hampir seluruh rambut yang ada di bagian atas kepalanya berdiri seperti jambul woody woodpecker. Bekas ilernya yang sudah mengering tampak di sudut bibirnya sampai mencapai dagu. Di sudut mata kiri dan kanannya juga masih ada kotoran menempel membuat matanya agak sulit terbuka. Sebenarnya lebih pas kalau saya menyebut penampilan anak saya dengan istilah ‘njijiki’ dari pada ganteng atau cakep. Untungnya dia anak saya sendiri, jadi bagi saya keadaannya yang seperti itu pun tampak ganteng dan cakep saja. Lagi-lagi, ini juga sejenis GOMBAL. Betul-betul GOMBAL yang manis….
*
Lalu bagaimana GOMBALISME dalam soal asmara ? Wah, yang ini jangan ditanya lagi ! Saya bisa pastikan bahwa tanpa GOMBAL-meng’GOMBAL’ pasti tidak ada satu pun di antara kita yang masih pacaran atau yang sudah menikah tetap langgeng dalam berhubungan satu sama lain. Bayangkan kalau suami anda seorang yang menganut paham anti GOMBALISME, pasti anda menjadi istri yang paling tersiksa di dunia.
"Bu, kamu kok jelek sih sekarang ? Perutnya buncit, giginya ompong, rambutnya jarang…. Apa nih yang bisa dilihat ?," atau….
"Kamu kok bau sih, Ma ? Kayak nggak pernah mandi aja…. Mandi lagi sana, pake minyak wangi yang banyak….", atau….
"Eh, aku suka deh lihat Hetty. Dia itu sexy banget deh, Ma. Nggak kayak kamu yang membosankan".
Amit-amiiit. Saya sungguh-sungguh tidak akan terima kalau suami saya berkata-kata yang jujurnya seperti itu. Artinya, nun jauh di dasar hati saya, saya juga menginginkan kata-kata GOMBAL dari mulut suami saya. Dan pasti dia juga menginginkan hal yang sama. Saya suka digombali, dan suami juga suka menggombali saya. Begitu pun sebaliknya….
*
Kesimpulan dari yang telah saya tuliskan di atas adalah ternyata GOMBALISME memberikan pengaruh yang nyata pada hidup kita semua. GOMBALISME adalah unsur yang penting dalam menjaga stabilitas suatu hubungan. Dan bila kita bisa memanfaatkannya dengan benar, GOMBALISME dapat kita jadikan sebagai alat untuk mencapai kedamaian. Akhirul kata, ‘HIDUP GOMBAL !, HIDUP GOMBALISME !’

Note :

Kak Cinde, asli saya ketawa sambil mengupload artikel ini. Manusia sekarang memang sukanya digombalin. Terima kasih untuk artikel ini.

Artikel ini mengingatkan saya kepada seorang teman, Gadis Gombal Mukiyo. Dis, dikau memang yang termanis, walau saya adalah orang yang ke 15892234823 yang bilang begini, gombal to tapi terima kasih untuk persahabatan gombal selama ini.

 

Ilustrasi foto:

katabijak.wordpress.com

http://media.photobucket.com/image/gombal/savikovic/gombal.jpg

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *