PETRUS

 Anoew – Indonesia

 

*) teruntuk uneg-uneg seorang rekan,  FC
 
 Enam hari menjelang Lebaran para perampok semakin ganas beraksi. Dalam sehari Selasa (15/9) kemarin, dua aksi perampokan terjadi di dua kota. Bahkan, dua perampok yang mengendarai sepeda motor dengan sadis menembak mati tiga korban. Namun mereka gagal menggasak sejumlah uang yang dikawal tiga orang tersebut. Ketiga korban adalah Agus Sutrimo dan Arif Wirahaji, satpam Bank Danamon, serta satu lagi polisi Brigadir Murdiono, anggota Brimob Polda DIY. Selengkapnya dapat dibaca di:
http://dutamasyarakat.com/artikel-23387-perampok-brutal-bunuh-2-satpam-1-polisi.html

 
Dear GCNers,
 
Situasi keamanan di Indonesia sekarang ini sungguh sangat memprihatinkan, dimana hampir tiap hari kejadian kriminalitas selalu menghiasi surat kabar dan media televisi negeri ini. Para pelaku kriminal itu mungkin terpaksa berbuat demikian dikarenakan perut lapar,  akibat tekanan ekonomi yang semakin sulit, atau desakan kebutuhan hidup lainnya. Di luar kelompok tersebut terdapat juga penjahat yang menjadikan kegiatan merampok dan mencopet ini sebagai profesi tetapnya, tanpa perduli berapa kali telah masuk bui. Apalagi sekarang ini semakin mudah didapatkan senjata api ilegal dan disalahgunakan oleh mereka. Tak cukup hanya untuk sekedar menakuti korbannya, mereka juga membunuh bila dirasa perlu seperti cuplikan berita di awal tulisan ini.
 
Tanpa mengecilkan fungsi aparat yang telah bekerja maksimal meskipun kadang masih kecolongan, masih saja terjadi tindak kejahatan di kota-kota besar, bahkan bisa saja terjadi di depan kita, di tengah keramaian. Apakah ini berarti angka kejahatan tak bisa diturunkan, atau setidaknya dicegah? Kita mendambakan Indonesia aman. Aman berpergian kemana pun tanpa rasa was-was, aman berinvestasi di sektor apa pun, dan terlebih lagi adalah rasa aman bagi investor asing yang berniat menanamkan modalnya di negeri ini. Toh ujung-ujungnya buat kemajuan bangsa ini juga.
 
Mungkin berkaitan dengan iklim yang dirasa kurang nyaman untuk berinvestasi disertai dengan begitu seringnya terjadi tindak kejahatan, demo-demo anarkis, dan birokrasi yang berbelit-belit, kantor pusat Sony di Jepang berkehendak segera menutup PT Sony Chemical Indonesia (SCI) yang berlokasi di Batam, setelah sebelumnya menutup pabrik barang elektronik di Cibitung-Bekasi pada tahun 2003 silam. Juga PT. Tong Yang Indonesia yang memproduksi sepatu berlabel Adidas dan Nike itu tak lagi mendapat order dari luar negeri, hingga terpaksa menutup pabriknya dan berencana memindahkan homebasenya ke negara lain. Memang tidak sedikit akibat pengaruh krisis global yang membuat banyak pabrik goncang, tak terkecuali perusahaan tersebut di atas maupun perusahaan-perusahaan lain. Akibatnya adalah, para buruh yang menggantungkan hidupnya pada pabrik terkena imbas yang tak mengenakkan dan terpaksa mencari pekerjaan lain yang belum tentu jelas masa depannya. Bagi mereka yang berpikiran lurus mugkin segera beralih profesi menjadi tukang ojek, berdagang kecil-kecilan atau malah menciptakan lapangan pekerjaan baru. Tapi yang berpikiran bengkok, mungkin akan bertindak lain.
 
Petrus
Sekitar tahun 1980-an sewaktu era Suharto berkuasa dulu ada peristiwa yg bernama Petrus alias penembak(an) misterius, di mana ini adalah suatu program pembersihan pelaku kejahatan  di seluruh penjuru tanah air (terutama di kota-kota besar). Dalam buku otobiografinya yang terbit tahun 1988 oleh Ramadhan, KH.: Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, alasan beliau waktu itu adalah untuk menghilangkan ketakutan yang dialami rakyat melalui ancaman-ancaman yang datang dari orang-orang jahat yang kerap melanda masyarakat.
 
Ada pendapat yang mengatakan bahwa sebenarnya Petrus di jaman Orba dulu itu masuk kategori black operations, yang tentunya illegal dan tak berdasar hukum. Beberapa jendral di bawah restu Soeharto diperintahkan untuk menghabisi para penjahat-penjahat jalanan, dengan tujuan menciptakan rasa aman. Cara kerjanya cukup simple, yaitu recruitmen dari tiap satuan TNI & Polri dan dipilih beberapa orang yang berkemampuan di atas rata-rata untuk kemudian diberi pengarahan oleh ”Sang Pembina”.
 
pistolDengan berbekal data itu lah maka para pasukan khusus itu bergerak memburu targetnya, dan satu-persatu penjahat kelas teri maupun kambuhan kelas berat akan dijemput di rumah masing-masing untuk dieksekusi di tempat sepi. Setelah itu mayatnya sengaja dibiarkan tergeletak di pinggir jalan, di sungai, di rel kereta atau di sawah dengan kondisi dahi berlubang. Terbukti setelah itu, situasi keamanan membaik dan tingkat kejahatan menurun drastis di hampir seluruh kota-kota besar pelosok negeri.
 
Dear GCNers,
 
Membunuh makhluk hidup itu sebenarnya nggak mudah dan memerlukan keahlian khusus lho..! Nggak percaya? Cobalah sekali-kali pergi ke rumah jagal dan saksikan proses pembunuhan kambing atau sapi potong mulai dari hidupnya sampai menjelang proses penjagalan.
 
Dengarkan ratapan si kambing atau lenguhan si sapi yang diseret dan meronta liar ketika terikat kaki-kakinya. Lihatlah geliat liar bola matanya tatkala dia sadar betapa ajal akan segera menjemput paksa. Saya nggak yakin semua orang mampu melakukannya. Hanya mereka ”orang-orang  pilihan” yang mampu. Nah, pilu kan?!
 
Apalagi untuk membunuh manusia yang meratap di bawah todongan pistol yang menempel dingin di kening, “ampun pak…, ampuuuun pak…., anak saya masih kecil-kecil pak….”  Hm!
 
Saya punya kenalan seorang rekan dari anggota militer yang pernah terlibat program Petrus secara langsung dan berbagi cerita, bahwa suatu saat ada seorang target yang menangis bercucuran, "paaaaak…., bapak boleh bunuh saya, tapi tolong sampaikan pesan terakhir saya kepada istri dan anak saya di rumah, pak…", ratapnya pilu. “Tolong serahkan dompet berisi uang yang nggak seberapa ini dan cincin kawin saya ini, jadi biar bisa dimanfaatkan oleh istri saya… Tolong ya paaaaak…”, lanjutnya.
 
Rekan saya mengangguk kaku, tanpa mengatakan sepatah katapun. “Terimakasih paaaak.., sekarang silahkan bapak tembak saya. Saya siap mati..” Lantas target itu berlutut dengan kedua tangannya di belakang, dagu mendongak tapi mata terpejam dan bibir merapat. Meski pun sempat miris mendengar ratap tangis si penjahat, tetap dengan tenangnya rekan tadi membereskan tugasnya. Dor! Cukup dengan satu tembakan di kening target, selesai. Tentang dompet dan cincin kawin titipan almarhum, kurang begitu jelas ceritanya.
 
Pengakuan darinya, bahwa sampai sekarang pun dia masih ingat satu persatu wajah orang-orang yang pernah dia eksekusi, dan tak jarang dalam tidurnya masih sering “didatangi” wajah-wajah yang berlubang akibat tarikan pelatuk pistolnya itu. Dihantui rasa bersalah dan tanggung-jawab atas nyawa para targetnya, maka dia berniat ”membersihkan diri” agar terbebas dari semua itu dan dapat tidur tenang.
 
Maka dimulailah perjalanan dia dari mengunjungi makam korban satu per satu (setelah mencari informasi dari keluarga korban) untuk meminta maaf, berpuasa satu bulan penuh di luar bulan Ramadhan, sampai kepada ahli spiritual supaya diberi petunjuk bagaimana caranya agar bisa lepas dari rasa bersalah yang terus menghantuinya tersebut.
 
”Berhasil?”, tanya saya. Dia menggeleng lemah.
 
Mata saya menerawang jauh, membayangkan arwah mereka mungkin masih gentayangan karena telah dicabut semena-mena oleh si malaikat Petrus, lalu penasaran ingin menuntut balas. Sedangkan rekan saya tadi mungkin membayangkan seandainya mendapatkan ”pengampunan” dari para korban yang mati di ujung pistolnya, tentu hidupnya akan jadi lebih tenang dan bisa berdalih bahwa apa yang dia lakukan itu semata-mata karena ”tugas negara”.
 
Sambil meluruskan kaki yang pegal, saya bertanya bagaimana cara dia beroperasi mulai dari proses penjemputan hingga eksekusi. Tersadar dari lamunannya dia menoleh, lalu menjawab,  “kami selidiki dulu target buruan itu dengan menyamar, dan tak jarang harus jadi pemulung atau pengemis hanya terlebih dulu sekedar untuk mengintai kegiatan  dan kebiasaan apa yang sering dia lakukan”, tuturnya kemudian sambil menyeruput kopinya. “Setelah itu baru lah kami bergerak”, lanjutnya.
 
”Dari mana bisa tahu nama dan alamat target? Adakah terjadi kemungkinan seperti…, katakanlah salah sasaran???”, kejar saya penasaran.
 
Sejenak dia menghembuskan asap rokoknya ke atas, membentuk huruf “O” dengan mulutnya sehingga bulatan-bulatan huruf kecil itu melayang berkejaran di udara. ”Berbekal data dari intelejen itu lah kami bergerak, sehingga target nggak mungkin meleset seperti misalnya, orang baik-baik yang memang hobi bertatto, tapi bukan penjahat. Yang demikian tentunya nggak bakal kami ciduk”.
 
Saya mengangguk-angguk mahfum. “Dan, diantara kami sesama anggota tak ada satupun yang saling mengetahui target masing-masing, sesaat sebelum kami bergerak”, lanjutnya sambil mematikan rokoknya di asbak.
 
PETRUS
Sungguh rapi, mengagumkan dan khas intelejen, ujar saya dalam hati. Kembali saya manggut-manggut dan bertanya, ”bagimana kalau kondisi ini berbalik?” Dia menatap saya lekat-lekat, sejenak kemudian dia mengangkat kedua bahunya. Acuh tak acuh.
 
Kembali kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saya jadi teringat sebuah film Jepang yang berjudul Death Note. Film ini mirip dengan film Hollywood yang berjudul "The Eraser" (Arnold Schwarzenegger, James Caan and Vanessa Williams) yang menceritakan tentang seseorang bernama Light.
 
Si Light ini diserahi sebuah buku catatan di mana dia diberi kuasa penuh untuk membunuh orang lain sesuai dengan apa yg ditulis di buku tersebut. Awalnya Si Light yang dikenal dengan julukan “Kira” ( killer dalam logat Jepang ) ini hanya membunuh penjahat-penjahat keji dengan tujuan membersihkan dunia dari para penjahat.
 
Dikarenakan dikejar-kejar polisi dan Interpol, dia panik dan mulai membunuh semua orang yang berusaha melacak keberadaan “Kira” tanpa peduli lagi siapa orangnya. Termasuk pacar dan ayahnya sendiri. Tragisnya, Si Jagoan Neon ini akhirnya malah mati akibat “death note”-nya sendiri.
 
Seandainya kisah si Light ini ada di alam nyata…
 
Tapi sepertinya kita tidak bisa mengharapkan pemerintah untuk membangkitan kembali Petrus dari alam kuburnya pada situasi sekarang ini, karena sangat jelas bahwa pemerintah sudah pasti enggan untuk terang-terangan melanggar hukum.
 
Apalagi sekarang di mana-mana semakin nyaring terdengar teriakan para aktivis HAM yang berpendapat jika Petrus dihidupkan kembali berarti bangsa ini akan mundur beberapa langkah dalam penegakan hak paling dasar yang dimiliki manusia itu.
 
Padahal belum tentu pelaku kejahatan yang disertai pembunuhan itu memikirkan HAM korbannya, seperti cuplikan berita berikut ini:
 
By Republika Newsroom
Rabu, 03 Juni 2009 pukul 23:27:00
KAYUAGUNG – Seorang petani Muksim, warga Jalur Warno, Dusun II, Desa Cahaya Bumi, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, tewas akibat ditembak lima kawanan perampok bertopeng menggunakan senjata api (senpi) rakitan, Rabu dini hari. Selengkapnya bisa dibaca di : http://www.republika.co.id/berita/54359/Petani_di_OKI_Ditembak_Mati_Perampok


 
Atau seperti cerita seorang rekan di Jakarta belum lama ini :
1. Samping Sekneg (Sekretariat Negara) arah jalan Juanda. Dua orang preman dengan santainya mengeluarkan kapak warna merah dari jaketnya dan mengedor-gedor mobil Fortuner di depan mobil gue, sepertinya minta hp atau duit. Tetapi karena lampu keburu hijau si preman memukul kaca supir dengan kerasnya dengan kampak, dan dengan sigap keduanya mematahkan kaca spionnya. Gue yang cuma melihat dan bukan jadi korbannya sudah takut bukan main, apalagi si korban!

2. Perempatan Coca Cola dari arah Pulogadung ke Senen. Ketika sedang lampu merah, lebih dari enam orang tiba tiba berlarian ke sebuah mobil BMW dan mengepungnya, lantas mereka mengeluarkan bermacam macam senjata tajam dari jaket mereka. Saat itu banyak pengendara lain (termasuk gue) dan dua bus penumpang penuh, tapi nggak ada yang berani melakukan tindakan apa pun. Mereka berteriak teriak sambil mengacungkan senjatanya ke pengemudi di dalam mobil yang ketakutan.

 
Pengemudi sudah berusaha untuk menarik perhatian orang lain dengan menjerit-jeritakan klakson, dan menabrak mobil didepannya, tapi nggak ada yg mau menolong. Sampai akhirnya kaca mobil tersebut dikampak oleh preman preman tadi, dan mereka memaksa masuk. Sepertinya si pengendara memberikan sesuatu ke gerombolan preman tersebut. Setelah lampu menyala hijau, mereka bubar seperti tidak ada kejadian apa apa, sedangkan beberapa meter dari tempat tersebut ada pos polisi.

3. Lampu merah Gajah Mada, juga dikepung seperti cerita nomor 2, tapi tidak sempat dipecahin kacanya, karena permintaan mereka dipenuhi si pengendara.

4. Lampu merah Pulomas sama dengan cerita nomor 3

5. Jalan YOS Sudarso didepan IBII ceritanya sama dengan cerita nomor 2.

"Intinya, kita aja yang menyaksikan takutnya bukan main, apa lagi yang mengalami kejadian itu secara langsung! Bukan masalah nilai kaca spion yg dipatahkan atau hp yg diambil, tapi traumanya itu!", tulisnya via chatting di YM.
 
Hm…, jadi timbul pertanyaan, "itu aparat polisi pada ngapain?" Padahal kita bayar pajak ini-itu juga termasuk untuk rasa aman dan nyaman berkendara di tempat umum, bukan?!
 
Mungkinkah Petrus diberlakukan Kembali?
 
Dear GCNers,
 
Ada sebuah pepatah yang berbunyi "Apa sih yang nggak bisa dibeli dengan uang? Nyawa manusia pun ada harganya!” Ingat kasus pembunuhan Hakim Agung Syafrudin Kartasasmita dengan Tommy yang menjadi tersangka dalam mengotaki pembunuhan itu? Atau pembunuhan Boediharto Angsana, bos PT Asaba? Atau kasus tukar guling yang dirasakan sangat merugikan pihak lain? Atau beberapa kasus korupsi yang dibekukan? Dan masih banyak contoh bila mau disebutkan satu per satu di sini. Suka nggak suka, mau nggak mau memang itu terjadi di negeri ini.
 
Mungkinkah gerakan Petrus ini ditimbulkan lagi? Ayo kita lihat seberapa besar kemungkinan program ini ditimbulkan kembali, terlepas apakah itu akan berdampak baik atau bahkan buruk sekalipun.
 
Satu. Petrus hanya dimungkinkan terjadi jika ada seorang atau organisasi yang punya duit dan power cukup besar, plus punya akses jaringan ke militer dan “berkeinginan luhur” membasmi penjahat jalanan. Badan organisasi yang membawahi mereka bisa dari mana saja, entah itu swasta atau malah mungkin (?) pemerintah pusat. Adakah?
 
Dua. Sebaliknya, mungkin kisah Petrus di tahun 80-an tak mudah diulang lagi. Ada satu sisi yang perlu kita ketahui, yaitu perekonomian saat itu masih lebih baik dibandingkan sekarang, sehingga Petrus saat itu tepat sasaran yakni diberangusnya preman-preman, perampok dan bromocorah. Sedangkan saat ini, perekonomian membaik (?) dan tingkat kesejahteraan cenderung meningkat (?) tapi pengaruh krisis global yang melanda dan sempitnya lapangan pekerjaan bisa berembrio ke arah kejahatan.
 
Dilema?
 
Menurut saya program Petrus ini bisa dilakukan jika kondisi suatu negara dalam titik kriminalitas tinggi, di mana diperlukan suatu shock teraphy untuk melumpuhkan keberanian / kenekadan para penjahat tersebut. Katakanlah, bunuh satu ekor untuk menakut-nakuti segerombolan monyet pengganggu, sampai keadaan dirasakan aman.
 
Saya bukan berarti tidak setuju atau setuju dengan Petrus. Seandainya pun diberlakukan kembali program itu, untuk saat ini sepertinya lebih cocok sasarannya kepada orang-orang yang telah memiliki kekayaan yang cukup namun masih tetap menjarah harta rakyat. Ini akan sangat tepat, misalkan saja suatu hari banyak anggota dewan (khusus yang mencuri uang rakyat) atau pejabat yang berkorupsi merugikan negara, pengemplang duit rakyat dan semacamnya akan hilang satu persatu akibat korban Petrus.
 
Kenapa?
 
Karena terbukti pelaku korupsi selama ini tak jarang yang dihukum bebas dengan dalih bukti tidak kuat, atau dihukum ringan karena factor di atas itu tadi yaitu, “apa sih yang nggak bisa dibeli dengan uang?”
 
Ada sebuah film dari Samuel L Jackson yg berjudul "A Time to Kill" yang menceritakan keluarga kulit hitam, di mana anak perempuannya diperkosa dan dianiaya oleh dua pemuda berandalan kulit putih sampai anak perempuan itu menderita cacat permanen (nggak bisa punya anak karena rahimnya rusak). Kedua berandalan itu malah dihukum sangat ringan dan akhirnya justru dibebaskan. Kontan ayah si anak perempuan itu murka dan menyambut kedua berandalan yang baru saja divonis bebas itu dengan berondongan senapan otomatis. Di akhir cerita si ayah itu tadi dibebaskan dari segala tuntutan hukum dalam dakwaan membunuh, berdasarkan asas "rasa adil dan masa depan yang tidak bisa diraih kembali".

Ada yang pernah nonton ? Kalau menurut saya film ini bagus sekali.

Hikmahnya adalah ketika perangkat hukum (aparat hukum dan hukum itu sendiri) sudah tidak potensif lagi dalam penegakan hukum, maka tindakan ekstrim (seperti balas dendam) pun akhirnya bisa di terima sebagai sebuah solusi.

 
Pro dan kontra untuk Petrus pasti ada, tergantung dari mana kita menyikapinya.
 
sniperTidak selamanya kebaikan itu baik
Tidak selamanya buruk itu buruk
Masing-masing kebaikan ada keburukan, dan sebaliknya.
* Dao, Laozi *
 
Salam Damai.
 
Sumber:
– Vivanew.com

 

 


About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.