Drupadi, Wanita Dengan Lima Suami

Urip Herdiman Kambali – Jakarta
 
: Anastasia
 
Drupadi
 
1/
 
Perang Bharatayudha telah berlangsung berhari-hari. Air mata dan darah telah tumpah membasahi bumi. Tak terhitung lagi berapa banyak jiwa yang melayang.
 
Drupadi gelisah di dalam tendanya. Ia selalu menantikan berita yang ditunggu-tunggunya, sejak perang ini dimulai. Berita yang diharapkan datang dari Bhimasena. Berita kematian Dursasana!
 
2/
 
Banyak raja, pangeran dan ksatria maju berlomba memperebutkan Drupadi, putri hitam manis nan jelita. Tetapi tak satupun yang berhasil mengangkat gandiwa itu hingga akhirnya seorang brahmana muda tampil. Dengan mudah diangkatnya gandiwa itu dan dilepaskannya anak panah.
 
Tepat sasaran, pas di hati.
 
Drupadi tersenyum senang dan melangkah menghampiri sang brahmana muda untuk mengalunginya dengan untaian bunga.
 
Seorang brahmana muda memenangi lomba memanah untuk kaum ksatria? Banyak mata yang terperanjat tak percaya, tetapi sang putri tidak peduli.
 
3/
 
Giliran Drupadi yang terperanjat saat berdiri di depan seorang ibu yang cantik dengan lima ksatria muda di sisinya. “Maafkan aku, aku terbiasa mengatakan pada anak-anakku untuk membagi rata semuanya untuk berlima. Aku tidak tahu kalau yang dibawa Arjuna adalah seorang putri cantik,”
kata Kunti lembut dengan sedikit gugup.
“ Aku tidak bermaksud agar kau menikah dengan kelima putraku. Maafkan aku….”
 
Kelima ksatria itu memandang Drupadi dengan terpesona. Drupadi – inkarnasi dari Nalayani, istri seorang resi dalam kehidupannya terdahulu – pun membalas pandangan lima ksatria yang ada di hadapannya. Yudhistira, Bhimasena, Arjuna sang pemenang, dan si kembar Nakula – Sadewa.
 
Dan dewa cinta pun lewat dalam sekejap mata, melepaskan anak-anak panah cintanya. Tepat sasaran, pas di hati.
 
4/
 
Waktu terus berlalu, dunia selalu berubah, dan hidup harus jalan sebagaimana adanya. Satu tahun bersama Yudhistira, satu tahun bersama Bhimasena, satu tahun bersama Arjuna, satu tahun bersama Nakula, dan satu tahun bersama Sadewa. Lalu kembali lagi pada Yudhistira, begitu seterusnya. Dalam suka, dalam duka.
 
5/
 
Yudhistira pucat. Ia kehilangan semuanya di meja judi. Negerinya, tahtanya, adik-adiknya. Mereka semua ditelanjangi hingga tinggal cawat. Ruang pertemuan bergemuruh dengan tawa seratus Kurawa. Dan para sesepuh terpana tidak berdaya mencegah penghinaan itu. Tinggal seorang Drupadi, berdiri kaku di satu sudut, menyaksikan kekalahan suami-suami tercintanya.
 
6/
 
Apakah ia ikut dipertaruhkan dalam perjudian itu?
Apakah ia, Drupadi, ikut dipertaruhkan dalam perjudian itu?
Apakah Drupadi dipertaruhkan sebelum Yudhistira kalah?
Ataukah ia dipertaruhkan setelah Yudhistira kalah dan kehilangan hak atas dirinya sendiri?
Apakah seseorang yang telah kalah masih berhak mempertaruhkan adik-adik dan istri bersama mereka?
 
Beberapa orang yang hadir berdebat tentang status Drupadi. Tetapi suara-suara itu tenggelam dalam keriuhan.
 
7/
 
Dursasana tersenyum menyeringai. Matanya liar menatap tubuh sang putri.
 
Drupadi gemetar. Ditatapnya kelima suaminya. “Tidak, tidak ada yang bisa kuharapkan dari mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang telah kalah. Mereka hanyalah pecundang,” pikirnya.
 
8/
 
Dursasana menjambak rambut Drupadi.
Drupadi memekik, sanggulnya terurai.
Dursasana memegang ujung kain.
Drupadi memejamkan mata, kedua telapak tangannya menutupi wajah.
Dursasana tertawa terbahak-bahak.
Drupadi mengatur nafas, memusatkan seluruh pikirannya.
Dursasana menarik ujung kain.
Drupadi merapal mantra, membaca doa.
Hanya berdoa. Hanya berdoa…
 
9/
 
Tubuh rampingnya berputar seperti gasing mengikuti tarikan kain yang dihentakkan oleh Dursasana dengan kasar. Doanya terdengar oleh Krishna, inkarnasi kedelapan Batara Wishnu, di kejauhan.
 
Dan kain itu tidak pernah habis-habis. Sungguh. Satu kain habis, satu kain lain telah menutupi tubuh Drupadi. Entah berapa lama hal itu berlangsung.
 
Tak ada lagi suara tawa Kurawa yang menghina. Ruangan perjudian menjadi senyap. Dursasana terduduk kelelahan di samping tumpukan ribuan kain. Drupadi menitikkan air matanya.
 
“Aku tak akan pernah menyanggul rambutku lagi sejak hari ini, sebelum membasahinya dengan darahmu yang akan tumpah di medan perang!” katanya dengan bergetar. Drupadi bersumpah di depan seluruh hadirin, sembari menunjuk Dursasana.
 
“Aku akan merobek-robek dadamu, dan meminum darah segarmu,” sumpah Bhimasena penuh kemarahan. “Dan agar istriku, istri kami berlima, bisa membasahi rambutnya dengan darahmu.”
 
10/
 
Drupadi membebaskan Pandawa setelah kekalahan di perjudian pertama. Tetapi Yudhistira kembali memenuhi undangan berjudi untuk yang kedua kali. Dan sekali lagi ia kalah dari Sangkuni.
 
11/
 
Akhirnya, berita itu datang di hari ketujuhbelas.
 
Bhimasena berlari menemui Drupadi di tendanya di tepi padang Kurusetra. Dipegangnya semangkuk cairan berwarna merah darah yang masih segar. “Sudah kurobek-robek dada Dursasana dengan kuku Pancanakaku, kuminum darahnya, dan kubawakan darah ini untuk membasahi rambutmu,” kata Bhima tanpa basa-basi.
 
Drupadi duduk bersimpuh di depan Bhima. Rambut hitamnya yang panjang terurai. Dan Bhima pun menuangkan darah segar untuk membasahi rambut Drupadi. Darah Dursasana!
 
 
Jakarta, 17 – 29 September 2009
 
Urip Herdiman K.


Ilustrasi foto:

gallerykunderemp.blogspot.com

 

One Response to "Drupadi, Wanita Dengan Lima Suami"

  1. Ratih  26 November, 2018 at 20:17

    Ngeri

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.