Lotus File

Alexa – Jakarta

Ada suatu dialog dalam drama seri Korea “Boys Before Flower” yang sangat mengesankan:
 
“Why Lotus blossoms on the mud? Because the smell and the beauty would cover all over the mud.”
 
Yah tulisanku yang kali ini lebih tepat kabar-kabari yang ingin kusampaikan tentang orang-orang Indonesia yang “no matter what happen in our beloved Indonesia” berhasil mengukir prestasi yang mendunia.
 
Ternyata banyak sekali yang sudah mengukir prestasi dan karena keterbatasan tempat maka hanya beberapa yang bisa disampaikan:
 
ARDISTIA – “Kalau bisa di New York, berarti di belahan bumi lain pasti Bisa.”
Menyelesaikan pendidikan di Parsons School for Design (AS) tahun 2004, kemudian magang di Diane Von Furstenberg. Lalu menjadi freelancer pada the Gap and Ann Taylor. Bahkan pernah menjadi assistant technical designer untuk Tommy Hillfiger.
Akhirnya dia mulai merintis mereknya sendiri dan memasarkan melalui pergelaran busana di New York dan Paris serta memajang display di showroom bersama beberapa desainer lain.
 
bioregenartfront[1]
 
Bisnisnya berkembang saat dia memenangkan Uncover/Cover Biore + Gen Art 2007 suatu ajang pencarian Filmmakers, Fashion Designers, Musicians dan Visual Artist di Amrik. Ada 1,350 kandidat mendaftar untuk mendapatkan pengakuan, terpilih 24 finalis (@ 6 kandidat/kategori ) dan akhirnya Ardistia terpilih sebagai pemenang Fashion Designer, berarti Ardistia memenangkan US$ 20,000.- dan Paket Hadiah Lain dari Biore’.
 
Sejak kemenangannya itu sepanjang Maret hingga akhir tahun 2007 tak kurang lima belas surat kabar dan majalah ternama memuat profil dan karyanya, antara lain The New York Times, Vogue-Japan, Daily Candy, Fashion Week Daily, Coutorture. Catatan para pengamat mode: karya Ardistia merupakan karya ready to wear yang penuh detil dan rumit serta inovatif. Selain memiliki 14 butik berlabel Ardistia-New York serta memasok sejumlah toko besar dan butik-butik kelas atas.
 
Tips sukses dari Ardistia: Selain disain yang indah dan unik maka berangan-anganlah setinggi mungkin dan jalani itu! Jika ingin sukses harus memiliki keinginan besar, komitmen dan kerja keras.
 
Komitmen dan kerja keras membuat Ardistia terus menerus melakukan penelitian pasar dan menganalisa permintaan pasar yang menjadi target. Tujuannya untuk meyakinkan, apakah produknya cocok untuk kebutuhan.
 
I Nyoman Masriadi
Berkarya dari negeri sendiri tepatnya dari Jogjakarta, karyanya sudah mendunia. Masriadi adalah pelukis kontemporer kelahiran Bali yang menimba ilmu di ISI- Jogjakarta. Walaupun lukisan kontemporer namun lukisannya unik dalam memotret kehidupan sosial dan politik di Indonesia sehingga lukisan mencapai harga tertinggi di Balai Lelang internasional.
 
Mengalahkan pelukis China seperti Xin Haizhou, yang pernah menguasai pasar lelang dengan harga lukisan berkisar US$ 25.000 – 35.900 dan pelukis Pan Dehai antara US$ 38.500 – 51.300. Sementara lukisan Masriadi yang berjudul Home Champion ( Jago Kandang)- menyindir situasi persepakbolaan Indonesia dengan gambar latar belakang supporter yang mengusung Merah-Putih dan banner Indonesia – dibeli kolektor saat lelang di Sotheby’s Singapore senilai US$ 370.668.-
 
i-nyoman-masriadi
 
Sementara lukisannya yang berjudul Jangan Tanya Saya Tanya Presiden (Don’t Ask Me, Ask the President) dibeli kolektor saat lelang di Singapore dengan final price SGD$ 360.000.
 
Ridha Wirakusumah
 
Ridha W.
Baru saja diangkat sebagai Presiden Direktur BII pada tanggal 20 Maret 2009 lalu. Track recordnya selama ini adalah berkarya di dunia keuangan dan perbankan mancanegara. Sulung dari empat saudara ini melewati masa SMA sembari berjualan es mambo namun dia berhasil menyelesaikan pendidikan MBA di Ohio University – Amerika Serikat.
 
Memulai karir di Banker Trust dan Citibank di bagian Treasury dan Corporate Banking kemudian banyak mengembangkan karir di bidang consumer banking di GE Money , Thailand, Philipines dan terakhir sebagai Presiden & CEO GE Money Asia. Setelah itu ia pindah ke AIG Asia Pacific dan menjadi President dan CEO. Saat itu sempat ditawari menjadi Direktur Utama PT. PPA (Perusahaan Pengelola Asset) yang merupakan kepanjangan umur dari BPPN tapi dengan halus dia menolak dengan alasan melanjutkan pendidikan PhD. PAda akhirnya dia kembali juga ke Indonesia dan memegang jabatan tertinggi di BII.
 
Sebenarnya BII bukan merupakan suatu tempat yang challenging karena bank ini pernah terlempar dari sepuluh besar  dalam ukuran asset, selain itu yang sangat mengherankan adalah beberapa tahun berturut-turut manakala bank-bank besar berlomba menangguk untung yang besar- BII malah sering merugi, sehingga rasanya perlu banyak effort dan pembenahan jika ingin berkibar sebagai bank besar seperti yang dicanangkan shareholder baru – MayBank. Atau sebaliknya ini merupakan suatu challenge bagi seorang Ridha? Waktu akan membuktikan.
 
Yohannes Surya ( Go Get Gold )
Sudah banyak scientist Indonesia berkiprah di luar negeri – dari sedikit surfing online, paling tidak menemukan duapuluh lima orang Indonesia yang mengukir prestasi sebagai scientist dunia. Bahkan saya pernah menemukan suatu catatan di majalah mengenai seorang wanita Indonesia yang mengepalai laboratorium dari lembaga perlucutan senjata kimiawi dunia ( sayang tidak menemukan majalah itu lagi). Belum lagi kalangan teknokrat – sudah banyak teknokrat Indonesia berpartisipasi dalam proyek pembangunan di luar negeri terutama di daerah Timur Tengah.
 
Banyak tulisan mengenai Yohannes Surya atas perannya membawa harum nama Indonesia dalam kancah kompetisi Fisika/ Sains Internasional. Ada satu catatan penting yang membedakan scientist ini dengan scientist Indonesia lain, yakni walaupun dia sudah memiliki pekerjaan yang mapan di Amerika Serikat dan memiliki Green Card tetapi malah pulang ke Indonesia dengan tujuan mengembangkan ilmu Fisika di Indonesia termasuk membawa nama Indonesia ke kancah Internasional.
 
mestakung
Tahun 1998 dia mulai melakukan pencarian bakat pada sekolah2 menengah atas, melatih para pelajar itu dalam program training yang ketat dan terstruktur. Pada awalnya dibutuhkan modal sekitar Rp.200 juta untuk pelatihan dan pengiriman anak-anak berbakat itu dan Yohannes Surya baru menyadari bahwa dalam kehidupan nyata berlaku juga konsep Fisika Sederhana yang akhirnya diadaptasi sebagai konsep MESTAKUNG – semesta mendukung.
 
Intinya : pada kondisi kritis, tiap individu akan berinteraksi dengan individu lain. Kemudian indvidu tersebut secara bersama-sama mengatur dirinya sehingga membrojolkan (emerge) suatu kondisi yang baru; uang Rp. 200 juta itu didapatkan dalam waktu dua minggu.
 
Sejak 1998 hingga 2007 tercatat 54 medali emas; 33 perak dan 42 perunggu yang diraih pelajar Indonesia asuhan Yohannes Surya dalam berbagai kompetisi Sains/ Fisika. Bahkan tahun 2006 – Jonathan Pradana Mailoa berhasil meraih peredikat “The Absolut Winner” – Juara Dunia dalam International Physics Olympiade (IphO) XXXVII di Singapore.
 
Tidak hanya membina pelajar – Yohannes Surya juga membimbing para pengajar Fisika di berbagai sekolah dari Sabang hingga Merauke ( dari kota-kota besar hingga pelosok-pelosok pedesaan ).
 
Sudah tiga tulisan saya di Baltyra mengenai individu dan perusahaan yang membanggakan Indonesia kepada dunia – dan sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dituliskan. Tapi hal tersebut saya cukupkan sampai disini saja karena saya ingin memulai tulisan mengenai bagaimana berkarya dan berjaya di negeri sendiri.
 
Salam
 
    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.