Meneropong Ekonomi Indonesia tahun 2010

Junanto Herdiawan – Jakarta

Setiap penghujung tahun, masyarakat akan diramaikan oleh berbagai ramalan. Mulai dari ramalan paranormal, ahli hipnotis, hingga ramalan para ekonom. Sebenarnya ramalan mereka sama saja, sama-sama tidak bisa sepenuhnya dipertanggungjawabkan. Tapi manusia tetap butuh ramalan, untuk pegangan di masa depan. Ada sebuah kecemasan eksistensial kalau kita tidak punya ramalan.
duit
Di bidang ekonomi, ramalan adalah hal yang wajar. Ia dibutuhkan untuk membuat prediksi pelaku pasar maupun dunia usaha. Kalau kita pengusaha, tentu membutuhkan angka-angka ekonomi masa depan yang bisa kita jadikan perhitungan dalam berdagang. Angka inflasi, atau pertumbuhan ekonomi, misalnya, adalah angka yang kerap dicari.
Dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan Oktober 2009, sebuah angka proyeksi ekonomi ke depan dikeluarkan. Angka ini mencoba membaca pertumbuhan ekonomi Indonesia baik untuk tahun 2009, maupun tahun 2010.
Proyeksi tersebut menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahun 2009 diperkirakan masih dapat mencapai 4,0-4,5%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di tahun 2010 diperkirakan dapat meningkat mencapai 5,0-5,5%. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan semakin meningkatnya ekspor seiring dengan pulihnya ekonomi global. Selain ekspor, konsumsi swasta, dan investasi juga mulai tumbuh.
Apabila kita melihat pada pertumbuhan ekonomi di daerah, tingginya pertumbuhan ekonomi nasional didukung oleh mulai bergeraknya perekonomian di daerah. Wilayah-wilayah penghasil komoditi ekspor seperti CPO, karet, nikel, dan batubara, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Sementara itu, kegiatan investasi di beberapa wilayah tercatat mulai membaik.
Terjadinya gempa di wilayah Sumatera Barat dan beberapa daerah di Indonesia diperkirakan dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Sektor unggulan yang selama ini membentuk ekonomi Sumatera Barat misalnya, seperti sektor pertanian, perdagangan, hotel, dan restoran, serta pengangkutan dan komunikasi, diperkirakan terpukul akibat gempa. Namun apabila dilihat secara nasional, pangsa perekonomian Sumatera Barat terhadap pertumbuhan nasional relatif masih kecil, yaitu sebesar 1,7% dari pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian dampak gempa bumi tersebut terhadap angka pertumbuhan ekonomi nasional tidak besar.
Sementara itu, inflasi diperkirakan akan mencapai 4,5±1% untuk tahun 2009. Dan untuk tahun 2010, inflasi IHK diprakirakan kembali ke pola normalnya dalam kisaran 5±1%. Mulai meningkatnya inflasi di tahun 2010 terkait dengan mulai meningkatnya kegiatan ekonomi dalam negeri, meningkatnya imported inflation sehubungan dengan kenaikan harga komoditas, serta ekspektasi inflasi. Selain itu, mulai meningkatnya inflasi di tahun 2010 dapat pula bersumber dari kenaikan harga barang yang dikendalikan pemerintah (administered prices), maupun harga makanan bergejolak (volatile food) dengan kisaran masing-masing.
Kita juga perlu mewaspadai beberapa faktor risiko terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2010 tersebut. Masih adanya ketidakpastian proses pemulihan perdagangan dunia, masih tingginya pengangguran, dan masih terdapatnya kecenderungan proteksionisme di beberapa negara pasca krisis global, menjadi risiko yang perlu dicermati. Di samping itu, risiko meningkatnya harga minyak dunia yang didorong oleh kegiatan spekulasi perlu terus dicermati karena akan meningkatkan risiko inflasi di tahun 2010.
asiadfa6_20090910
Terlepas dari proyeksi ekonomi di tahun depan, di balik angka-angka itu, tentu hidup jutaan aktor-aktor yang menjalankan kegiatan ekonomi. Para pelaku ekonomi itu tersebar dalam berbagai sektor dan bidang kehidupan. Oleh karenanya, meneropong ekonomi di tahun 2010 tak bisa dilihat dari angka makro semata. Ia memerlukan perenungan yang cukup dalam. Selain karena berbagai asumsi dan risiko di bidang mikro di dalam negeri, ekonomi di tahun depan akan sangat dipengaruhi pula oleh perkembangan ekonomi global.
Di sini, kita perlu menyadari bahwa membaca ramalan ekonomi juga mensyaratkan usaha keras untuk mencapainya. Tanpa usaha dan kerja keras, ramalan itu tinggal ramalan belaka. Salam 

Ilustrasi: store.businessmonitor.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.