Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Meneropong Ekonomi Indonesia tahun 2010

Tuesday, 6 October 2009

Viewed 2792 times, 2 times today | 24 Comments |

Junanto Herdiawan – Jakarta

Setiap penghujung tahun, masyarakat akan diramaikan oleh berbagai ramalan. Mulai dari ramalan paranormal, ahli hipnotis, hingga ramalan para ekonom. Sebenarnya ramalan mereka sama saja, sama-sama tidak bisa sepenuhnya dipertanggungjawabkan. Tapi manusia tetap butuh ramalan, untuk pegangan di masa depan. Ada sebuah kecemasan eksistensial kalau kita tidak punya ramalan.
duit
Di bidang ekonomi, ramalan adalah hal yang wajar. Ia dibutuhkan untuk membuat prediksi pelaku pasar maupun dunia usaha. Kalau kita pengusaha, tentu membutuhkan angka-angka ekonomi masa depan yang bisa kita jadikan perhitungan dalam berdagang. Angka inflasi, atau pertumbuhan ekonomi, misalnya, adalah angka yang kerap dicari.
Dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan Oktober 2009, sebuah angka proyeksi ekonomi ke depan dikeluarkan. Angka ini mencoba membaca pertumbuhan ekonomi Indonesia baik untuk tahun 2009, maupun tahun 2010.
Proyeksi tersebut menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahun 2009 diperkirakan masih dapat mencapai 4,0-4,5%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di tahun 2010 diperkirakan dapat meningkat mencapai 5,0-5,5%. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan semakin meningkatnya ekspor seiring dengan pulihnya ekonomi global. Selain ekspor, konsumsi swasta, dan investasi juga mulai tumbuh.
Apabila kita melihat pada pertumbuhan ekonomi di daerah, tingginya pertumbuhan ekonomi nasional didukung oleh mulai bergeraknya perekonomian di daerah. Wilayah-wilayah penghasil komoditi ekspor seperti CPO, karet, nikel, dan batubara, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Sementara itu, kegiatan investasi di beberapa wilayah tercatat mulai membaik.
Terjadinya gempa di wilayah Sumatera Barat dan beberapa daerah di Indonesia diperkirakan dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Sektor unggulan yang selama ini membentuk ekonomi Sumatera Barat misalnya, seperti sektor pertanian, perdagangan, hotel, dan restoran, serta pengangkutan dan komunikasi, diperkirakan terpukul akibat gempa. Namun apabila dilihat secara nasional, pangsa perekonomian Sumatera Barat terhadap pertumbuhan nasional relatif masih kecil, yaitu sebesar 1,7% dari pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian dampak gempa bumi tersebut terhadap angka pertumbuhan ekonomi nasional tidak besar.
Sementara itu, inflasi diperkirakan akan mencapai 4,5±1% untuk tahun 2009. Dan untuk tahun 2010, inflasi IHK diprakirakan kembali ke pola normalnya dalam kisaran 5±1%. Mulai meningkatnya inflasi di tahun 2010 terkait dengan mulai meningkatnya kegiatan ekonomi dalam negeri, meningkatnya imported inflation sehubungan dengan kenaikan harga komoditas, serta ekspektasi inflasi. Selain itu, mulai meningkatnya inflasi di tahun 2010 dapat pula bersumber dari kenaikan harga barang yang dikendalikan pemerintah (administered prices), maupun harga makanan bergejolak (volatile food) dengan kisaran masing-masing.
Kita juga perlu mewaspadai beberapa faktor risiko terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2010 tersebut. Masih adanya ketidakpastian proses pemulihan perdagangan dunia, masih tingginya pengangguran, dan masih terdapatnya kecenderungan proteksionisme di beberapa negara pasca krisis global, menjadi risiko yang perlu dicermati. Di samping itu, risiko meningkatnya harga minyak dunia yang didorong oleh kegiatan spekulasi perlu terus dicermati karena akan meningkatkan risiko inflasi di tahun 2010.
asiadfa6_20090910
Terlepas dari proyeksi ekonomi di tahun depan, di balik angka-angka itu, tentu hidup jutaan aktor-aktor yang menjalankan kegiatan ekonomi. Para pelaku ekonomi itu tersebar dalam berbagai sektor dan bidang kehidupan. Oleh karenanya, meneropong ekonomi di tahun 2010 tak bisa dilihat dari angka makro semata. Ia memerlukan perenungan yang cukup dalam. Selain karena berbagai asumsi dan risiko di bidang mikro di dalam negeri, ekonomi di tahun depan akan sangat dipengaruhi pula oleh perkembangan ekonomi global.
Di sini, kita perlu menyadari bahwa membaca ramalan ekonomi juga mensyaratkan usaha keras untuk mencapainya. Tanpa usaha dan kerja keras, ramalan itu tinggal ramalan belaka. Salam 

Ilustrasi: store.businessmonitor.com

Share This Post

Posted by Tuesday, 6 October 2009 on 00:49.

Categories: Ekonomi & Politik. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

24 Responses to “Meneropong Ekonomi Indonesia tahun 2010”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 24
    Kornelya Says:

    Pa Juan, prediksi kita tidak memperhitungkan kekuatan invisible hand. Pada hal faktor ini bisa menjadi malaikat atau vampire dalam roda perputaran ekonomi. Aku ngga berharap muluk-muluk, berapapun pertumbuhan ekonomi negara, dikampungku kami hanya butuh irigasi dan harga pupuk yang murah. Selebihnya let’s a lone, we will survive. Salam Apple Pie.

  2. 23
    Eunice Says:

    Semoga ramalannya tepat. Soalnya ramalan untuk tahun 1997 baik, tiba-tiba saja ada tsunami ekonomi yg bikin gonjang-ganjing

  3. 22
    nevergiveupyo Says:

    dewi aichi : weeee…koq masih takut pada inflasi?? diakrab-i aja… bukan hal tabu koq kata Oom ekonom itu…
    trus kalau masalah niat. ga ada satupun petani di negeri ini yang ga pengen hasil pertaniannya ga melimpah (ga meningkat produktifitasnya) dan ga meningkat pula pendapatannya.
    secara jujur kita harus akui bahwa beberapa periode terakhir fokus untuk riset dan pengembangan teknologi tepat guna-tepat manfaat “kalah pamor” dibanding ingar-bingar riset pemenangan calon kepala daerah/calon legislatif dan “riset-2″ sejenisnya.
    padahal para peneliti untuk bidang tadi tuh ada. dan masih berminat…tapi yaaa…. inilah…

    * benere saya juga skr msh blom ngerti bener ttg inflasi lo tant. padahal yg ngasih penjelasan dah mpe berbusa2… receptor-nya kyknya yg bermasalah ya… hihihihihi

    JH : maaf lho…sekedar mem-forward saja koq saya…

    lindacheang : tanya dikit dong… resiko itu apakah bisa hitung berdasarkan melimpahnya informasi yang kita punya??
    (untuk contoh kasus : subprime mortgage di US. bukankah semua indikator ekonomi saat itu semuanya bagus?? lalu tiba2… bangggg….!!)

  4. 21
    Junanto Herdiawan Says:

    Waah udah ramai, maaf baru masuk lagi. Mbak Sophie, saya bukan pakar loh, cuma sekedar berbagi yang saya tahu, udah gitu terbatas banget lagi. Jadi mohon maaf kalau pas-pasan.

    Jadi, tks pada Nev yang sudah menambah pencerahan. Bener sekali bahwa ekspektasi inflasi itu penting. Itu semacam “self fulfilling prophecy”. Jadi kalau kita khawatir inflasi bakal tinggi, misal 10%, trus semua masyarakat meyakini 10%, kejadian lah itu.

    Setuju juga sama JC, inflasi itu seperti lubrikasi buat ekonomi. Lubricant itu kan fungsinya melumasi biar gak seret ya. Kalau gak ada inflasi, kayak di jepang tuh yang malah deflasi, repot juga bank sentralnya. Inflasinya negatif. Ekonomi jadi seret. Nah yang terpenting adalah tingkat inflasi itu sesuai dengan perekonomian.

    Selamat berinvestasi buat linda, dewi dan cindelaras. Tks juga buat rya, sumonggo, dan ilhampst.

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)