Potong Crew Cut untuk Bencana Negeriku

Cenil & Lik Gembus
Lembayung – SOLO the spirit of java
 
Ah…, senang rasanya menginjakkan kaki di kota gudeg ini setelah tiga minggu ikut dalam barisan kaum pemudik musiman. Setiap kota punya aroma dan nuansa tersendiri, tetapi udara Ngayogyakarta selalu begitu kuat dan pekat akan udara kebersahajaan. Prasojo, begitu kalau orang Jawa bilang. Membuat tinggal di kota ini selalu merasa rileks dan nrimo, mungkin agak kurang konstruktif untuk generasi muda, tapi baik untuk membentukan nilai pada alam bawah sadar.
 
Bergegas saya keluar dari peron Stasiun Lempuyangan, memanggil becak, menyebutkan nama daerah kost saya sambil meraba-raba apakah tas ransel saya masih tertutup dengan rapi dan tidak tiba-tiba sobek. Maklum, angkutan umum apalagi di saat menjelang dan habis hari raya selalu penuh dengan copet.
 
Becak saya perintahkan untuk berhenti sebelum waktunya. Belum sampai kost, tetapi saya berhenti di warung angkringan Lik Gembus, yang dari tikungan tadi sudah menembakkan euforia rileks yang luar biasa.
 
crew cut
Memasuki tenda angkringan saya kaget, Lik Gembus yang biasanya rambut ikalnya agak gondrong sedikit, kali ini saya lihat kok sudah potong cepak, model crew cut, terlihat bersih dan ganteng. ”Lhooo….., Lik!!! Saya kira tadi saya salah masuk mess-nya LA Galaxy, lha kok ada David Beckham di sini. Hahahaha… ” cerocos saya sambil mengulurkan tangan dan memeluk singkat Lik Gembus, tanda ucapan saling memaafkan pasca lebaran.
 
”Mbak Ceniiilll…., jan saya kira sudah lupa lho sama saya. Lha wong saya sudah jualan sejak seminggu yang lalu tapi panjenengan belum nongol sama sekali. Hehehehe…. lahir batin nggih, Mbak” ucap Lik Gembus sambil membalas pelukan saya dengan agak rikuh. Sementara saya agak mengernyit karena Lik Gembus bau campuran asap arang dan keringat.
 
Sambil duduk saya comot satu tahu bakso, dua tempe gembus, satu bakwan jagung, dan saya serahkan pada Lik Gembus untuk dibakar. ”Slomot, Lik!” begitu biasanya saya bilang untuk order pembakaran.
 
”Lik, apa di kampung sampeyan sudah mulai ada pilkada to?” tanya saya sambil memperhatikan rambut Lik Gembus.
 
”Lho, lha ya belum to Mbak. Lha memangnya kenapa to?” Lik Gembus balik bertanya.
 
”Itu, rambut sampeyan kok trondhol gitu, kayak orang-orang yang nadar jagonya menang pilkada. Biasanya kan langsung pada cukur cepak atau gundul. Hahahaha….” canda saya.
 
”Halah, Mbak Cenil ngawur lho. Lha wong kemarin pas saya pulang kampung itu, di desa saya ada acara nonton bareng di pos ronda. Nyetel film Mbak, itu lho film jaman duluuu…. judulnya SPEED, yang main Keanu Mbak, nggantheng tenan, saya kok pengen cukur model begitu. Hehehe…. Piye mbak, saya tambah cakep nggak?” tanya Lik Gembus sambil memperagakan gaya meluncurkan telapak tangannya dari puncak kepala menuju ke jidatnya.
 
”Weleh, sampeyan ya tahu Keanu Reeves juga to,Lik? Gaul tenan sekarang. “ jawab saya sambil ngakak melihat aksi berkali-kali Lik Gembus meluncurkan tangannya.
 
Kami terdiam beberapa saat…., Lik Gembus mengulurkan piring kecil yang di atasnya ada pesanan gorengan saya yang sudah dibakar, juga masih dalam diam.
 
“Anu Mbak…, sebenarnya cukur gundul itu kan juga bisa saja bukan karena merayakan kegembiraan to? Tapi juga bisa untuk mengungkapkan keprihatinan nggih? Seperti orang yang mulai jadi rahib itu?” tiba-tiba Lik Gembus bertanya dengan muka serius.
 
“Lho, memangnya ada apa to, Lik? Sampeyan baru sedih dan prihatin ya?” tanya saya juga dengan muka serius.
 
“Saya sebenarnya baru cukur kemarin sore Mbak…. Setelah melihat berita di TV tentang gempa Sumatera. Miris yo, seperti melihat kembali gempa di sini tiga tahun yang lalu. Rasa-rasanya kok bencana ndak ada habis-habisnya ya, Mbak?”  kata Lik Gembus sambil mengulurkan uang kembalian kepada seorang pembeli.
 
Saya terdiam…., masih merenungi perkataan Lik Gembus, mengeluarkan lagi kepingan-kepingan gambar gempa Sumatera yang kemarin dan tadi pagi saya lihat dari televisi.
 
“Tapi saya bangga dengan pemerintah kita lho Mbak, lha wong sudah siap segera mengirimkan bantuan dan tim untuk mencari para korban. Terus juga saudara-saudara kita juga segera membuat dompet amal untuk mengumpulkan bantuan bagi para korban gempa ini. Apa hati saya ndak mongkok, bangga rasanya melihat semua saling bahu membahu, membantu saudara sebangsa yang sedang dilanda bencana.” cerocos Lik Gembus dengan mata berbinar yang tepat tertuju pada dua bola mata saya.
 
 
Saya terdiam…., ucapan Lik Gembus yang sarat dengan nafas nasionalisme terkesan sangat menggebu dan kental menggelitiki pikiran saya.
 
“Mbak, apa nanti setelah urusan mencari korban ini selesai, pemerintah juga akan memberikan bantuan bagi warga yang kehilangan rumahnya atau rumahnya rusak ya? Seperti yang kayak di sini dulu kan begitu. Kan lumayan bisa meringankan beban mereka,ya Mbak? Tapi saya yakin kok Mbak, pemerintah pasti nanti akan memberikan bantuan buat mereka.”
 
Saya masih terdiam…., ingatan saya melayang ke masa tiga tahun yang lalu, ketika seorang teman yang biasanya pelit, tiba-tiba mengajak saya dan beberapa teman untuk dia traktir makan pizza.
 
pizza
 
Setelah acara makan selesai, saya masih ingat sekali kata-kata yang dia ucapkan, ” Sekedar bagi-bagi rejeki, wong kemarin habis dapat uang bantuan renovasi rumah dari pemerintah, padahal rumah bokap cuma retak sepanjang 60 senti di bagian teras. Ini aja cuma sisanya lho, sebelumnya aku sudah beli printer baru dari uang itu. Hehehehe….” terkesan bangga sekali nada bicaranya. Ucapan teman saya itu mengirimkan senyawa acid yang berlebihan dalam lambung saya, sehingga langsung merasa mual dan ingin muntah. Sepanjang sisa hari itu saya tak menyentuh makanan apa pun.
 
Saya tak mungkin menceritakan pada Lik Gembus kalau pemerintah masih terkesan setengah-setengah dalam penanganan pasca-bencana, bahkan mendata kerusakan pun tidak mereka lakukan dengan detail dan menyeluruh, sehingga bantuan yang seyogyanya bisa benar-benar tepat sasaran malah disalah-gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Manusianya pun adalah makhluk yang serakah yang mengerdilkan hati nuraninya demi kepentingan pribadi akan kesenangan semu. Mereka telah kehilangan senyuman hatinya, yang harusnya selalu ditebarkan kepada saudara-saudaranya dan ikut merasakan penderitaan dan kesulitan yang mereka alami. Manusia telah menjadi kaum oportunis yang seperti opor amis. Menjijikkan.
 
Saya tak mungkin menceritakan pada Lik Gembus, karena hanya segelintir orang saja yang masih mau begitu mempercayai dan mengagungkan pemerintah, membanggakan warganya dengan semangat nasionalisme yang selalu terlihat pada binar mata Lik Gembus. Saya iri sekali, saya menginginkan binar mata Lik Gembus ada pada saya. Saya ingin optimis kalau negara saya bisa menjadi luapan kebanggaan ketika saya bercerita pada anak cucu kelak. Saya ingin bangga menjadi orang Indonesia. Saya ingin tempaan berbagai bencana alam dan terorisme  membuat saya semakin percaya pada pemerintah dan semakin percaya pada solidaritas saudara sebangsa.
 
Malam itu saya pulang ke kost dalam diam.
 
Cheers, 
 
Lby (02/10/09; 11:25)
 
Catatan: Turut mengirimkan duka dan keprihatinan yang mendalam bagi saudara-saudaraku di Sumatera, tabahlah…., tabah… dan pasrah.
 
 
Foto-foto diambil dari:

 

Disclaimer:

Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.