Fenomena Mudik (Brompit) & Pendatang

Josh Chen – Global Citizen
 
Ramai-ramai mudik baru lewat…Jakarta sudah penuh sesak lagi! Macet lagi dan semrawut lagi!
 
Kembali jalanan dipenuhi dengan brompit (sepeda motor) yang berseliweran ganas di jalan raya…menyeramkan…
 
Hiruk pikuk jalanan ibukota menggeliat menjalankan roda ekonomi negeri ini kembali menjadi pemandangan dan sajian sehari-hari penghuni Jakarta dan sekitarnya. Para pemudik yang kembali dari kampung halaman, tak lupa membawa “oleh-oleh” untuk ibukota negeri, yaitu para pendatang baru. Pemerintah DKI kalang kabut menjalankan operasi yustisi, operasi KTP, dsb, untuk sebisa mungkin mencegah para pendatang baru menambah sesak ibukota.
 
Tiga topik yang ingin saya angkat dalam tulisan kali ini, yaitu:
  • Mudik dengan brompit
  • Pendatang baru di ibukota
  • Infrastruktur
 
Mudik Brompit
Tiap tahun kita melihat jumlah pemudik yang mengendarai brompit makin lama makin nggegirisi! Secara kasat mata tidak usah menggunakan angka statistik, kita melihat pemudik berbrompit-ria makin tahun makin banyak.
 
mudik brompit
 
Salah satu radio FM yang mengirim team jelang mudik lebaran tahun ini, sempat mewawancarai seorang bapak yang sedang menunggu feri penyeberangan Merak – Bakauheni. Omong punya omong, ternyata bapak tsb sedang dalam perjalanan mudik bersama istri dan anaknya ke MEDAN! Iya betul, bersepeda motor dari Jakarta ke Medan!
 
Quick facts seputar mudik dengan brompit:
 
 
2008 (H-7 to H+7)
2009 (H-7 to H+4)
Kecelakaan
85
121
Tewas
39
48
Luka berat
49
59
Luka ringan
86
123
Sepeda motor
100
96
 
Hasil kalkulasi terakhir mendapatkan angka-angka sbb: 60% kecelakaan motor
728 pemudik tewas, per hari 52 (H-7 sampai H+7) dan pada tanggal 26 September ada 133 kecelakaan, 77 tewas, 79 luka berat, 156 luka ringan. Dari para korban itu sebagian besar justru usia produktif, terdiri dari 36 anak, 116 orang di rentang usia 16-30thn, dan 109 orang di rentang usia 31-50thn.
 
Kenapa makin banyak orang mudik dengan brompit? Sekali lagi atas dan dalam nama kemiskinan! Apa benar demikian? Terlalu kompleks dijawab dan dibahas…
 
pemudikimotor2
 
Sebenarnya gampang saja. Bolak-balik saya gembar-gemborkan mengenai rokok, ini adalah salah satu pisau tajam bermata dua! Satu sisi menggerakkan roda perekonomian dengan efek berantai yang luar biasa, di sisi lain juga mengiris tajam roda ekonomi tadi. Mayoritas pemudik saya berani bilang, mereka adalah perokok. Tak ada hari tak merokok, mendingan tak makan daripada tak merokok. Sekedar gambaran, mengacu pada tulisan saya beberapa waktu lalu yang pernah tayang di salah satu situs (sekarang sudah tidak ada) di edisi Uih! Kota Terkotor, Boss Wanita & Pasca Kritis (Swedia, AS, China) pada tanggal 07 Januari 2008; saya sempat menguraikan:
 
Menurut survey dan penelitian satu lembaga, ternyata 19 juta keluarga miskin dalam tahun 2006 membelanjakan uang dalam kemiskinan mereka yang menghimpit untuk rokok sebesar Rp. 23 TRILIUN!!
 
Perokok Indonesia mencapai jumlah yang memprihatinkan sebesar mendekati angka 200 juta manusia, mungkin kedengaran extreme, tapi silakan perhatikan kaum lelaki masih mayoritas menghisap rokok, belum lagi kaum wanitanya. Pembelanjaan uang golongan miskin menurut penelitian adalah sebesar 40-62% dari total penghasilannya dari buruh, pemulung, pengumpul sampah dan bidang lain dari golongan miskin ini. Ke mana sisa uang anggaran mereka? Sisanya untuk makan, transportasi, dan sangat kecil jumlahnya untuk pendidikan dan kesehatan.
 
Itu data 3 tahun yang lalu! Saya belum sempat mencari dan mengubek data terakhir tahun 2009 yang jelas bukannya menurun tapi malah makin meningkat jumlah perokok di Indonesia.
 
Lho apa hubungan merokok dengan mudik berbrompit? Ya jelas ada! Coba saja para perokok itu mengurangi 50% saja jatah merokoknya dalam setahun. Tidak usah njelimet menghitung, saya berani berkata, bahwa satu tahun berikutnya, di perokok dan keluarganya dapat mudik dengan nyaman dengan angkutan umum yang jauh lebih layak dibanding berbrompit ke kampung halamannya, plus uang yang cukup untuk berlebaran yang pantas dan layak bersama sanak saudara di kampung halaman. Akan ada cukup uang untuk membeli oleh-oleh, pakaian baru, dsb. Yang pasti akan terjadi peningkatan kesejahteraan yang cukup signifikan.
 
Tapi apakah bisa? Jelas bisa jika memang mau. Tidak ada yang tidak mungkin jika seseorang sudah berniat untuk mencapai sesuatu. Sayangnya tidak ada sedikitpun itikad baik pemerintah untuk melakukan kampanye berhenti atau mengurangi merokok.
 
Dengan kondisi sekarang pun, ditengarai perputaran uang selama masa mudik lebaran ini adalah sekitar Rp. 14triliun, dan itu 60% ke atas berputar di pedesaan dan pelosok-pelosok di seluruh Nusantara.
 
Pendatang Baru di Ibukota
Total penduduk Jakarta: 8.5juta, siang hari bisa mencapai sekitar 12juta, terpadat Jakarta Timur 2.8juta dan Jabodetabek: 24juta.
 
Profil pendatang baru:
  • 60% terdidik n terampil
  • 40% modal nekad
  • 80% dari Jawa
  • 20% luar Jawa
  • 70% informal
  • 30% formal
pendatang_baru_09
 
Kira-kira sanggupkah mereka bersaing dalam dunia kerja? Kita semua tahu jawabnya! Belum lagi daya dukung Jakarta yang makin minim untuk begitu banyak penduduknya. Mulai dari jalan raya, transportasi, infrastruktur, sarana dan prasarana, semuanya sungguh merupakan kepincangan.
 
Daya dukung Jakarta:
  • Kendaraan pribadi 98% melayani penumpang 49.7%
  • Umum 2% melayani penumpang 50.3%
  • Pertumbuhan 9-11%
  • Kerugian macet Rp. 13 triliun per tahun
 
Infrastruktur
Jauh panggang dari api, khayalan semata jika membayangkan kenyamanan infrastruktur di Indonesia, terutama jalan raya!
 
Tahun 1987, Perak – Gempol sepanjang 42km, China belum ada apa-apa. Di akhir 2003, jalan tol China mencapai 30.000km, sementara di Indonesia jalan di tempat. Tahun 1988 jalan tol pertama China dibangun menghubungkan Senyang dan Dalian sepanjang 400km, dan setelah itu tak terbendung lagi rata-rata sekitar 2.000km tiap tahun dibangun jalan tol yang menghubungkan kota-kota penting di China.
 
Sangat kontras dengan Indonesia, rencana strategis PU 2004-2009 1600km, hanya realisasi 127km (7.9%). Total jalan tol hanya 690km, 2397 masih pra-konstruksi. Padahal rencana akan dibangun 3.087km jalan tol, sekali lagi masih rencana…
 
Apa inti tulisan ini?
 
Kemiskinan selalu menjadi PEMBENARAN, alasan dan dasar serta ‘pengesahan’ atas hal-hal bodoh yang jamak terjadi di sekitar kita, seperti contohnya ya kejadian-kejadian seperti di atas. Padahal sering kali masyarakat kita sendiri yang melakukan pembodohan terstruktur dan kolektif diri mereka sendiri.
 
Pemiskinan diri sendiri memang sulit untuk disadari. Tanpa maksud menyerang, no offense at all, justru di golongan penghasilan rendah atau bahkan miskin yang lebih sering membuat diri sendiri menderita dan bertambah miskin dengan cara berpikir, dengan gaya hidup, dengan attitude, dengan pertimbangan yang sebenarnya bisa dilatih dan dipelajari.
 
It’s poor mindset!
 
Fenomena “poor mindset” ini tidak hanya melanda dan menimpa golongan miskin. Golongan dengan penghasilan menengah atas juga tidak lepas dari itu semua. Beberapa contoh yang sering terjadi di sekitar kita adalah:
 
• Pria yang tidak berkedip membeli pena Montblanc walaupun pria tsb memang mampu, tapi ngomel-ngomel waktu sekolah anaknya minta membayar Rp. 300rb untuk field trip di Mekarsari demi pendidikan.
 
• Wanita yang tidak berkedip ke salon untuk manicure dan pedicure yang sekali datang ratusan ribu, bisa-bisa 2 kali sebulan datang, atau mengecat rambutnya gonta ganti warna tiap 2-3 bulan sekali, sampai rambutnya kayak kucing belang, yang harganya jutaan, tapi ngomel dan komplain waktu les anaknya English atau Mandarin bayarnya Rp. 400rb/bulan, dibilang mahal dsb.
 
Dan masih banyak contoh lain, gonta-ganti handphone canggih, parfum mahal, dsb, tapi mengesampingkan prioritas pendidikan anak-anaknya, jamak terjadi di sekitar kita.
 
Dalam falsafah Jawa ada yang disebut dengan istilah “balung kere”. Kedengaran kasar, tapi makna yang terkandung dalam ungkapan itulah yang sangat dalam, mengajarkan kepada kita untuk berusaha keluar dari lingkaran kemiskinan, tidak hanya dalam hal finansial, tapi lebih utama dalam falsafah hidup, cara berpikir, prinsip hidup dan masih banyak lagi dalam keseharian kita. Balung kere adalah falsafah hidup yang pasrah bongkokan (pasrah total) terhadap garis nasib dan takdir, dan selalu berpikir negatif memandang hidup. Dengan spirit negatif inilah, apapun yang dilakukan tidak akan berbuah positif, lingkaran kemiskinan akan berputar terus dan bahkan diwariskan ke para keturunannya.
 
So, bagaimana dengan kita semua? Mari mulai mencoba untuk berpikir lebih “rich” sehingga terbentuk “rich mindset” instead of “poor mindset”, jangan biarkan “balung kere” menguasai kita, jangan biarkan genetik kita bermutasi menganut falsafah “balung kere”.
 
 
 
Ilustrasi:

beritajakarta.com

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.