Mudik Dalam Pandangan Makroekonomi

Junanto Herdiawan – Jakarta

Mumpung baru selesai lebaran, belum terlambat untuk bercerita tentang mudik. Maklum, kadang saya juga ikut mudik kalau lebaran. Bagi bangsa Indonesia, mudik adalah sebuah ritual sosio spiritual massal yang selalu terjadi setiap tahun. Jutaaan orang bergerak dari kota ke desa untuk merayakan hari raya dengan pulang kampung, sekaligus bersilaturahmi dengan sanak saudara. Secara sosial, mudik adalah forum silaturahmi akbar di negeri ini, yang sangat penuh makna.
 
pemudik_lebaran
 
Namun di sisi lain, mudik adalah juga peristiwa ekonomi. Data menunjukkan bahwa saat mudik tahun 2009, terdapat 27 juta orang pemudik yang pulang kampung. Saat mereka pulang, sebenarnya bukan tubuhnya saja yang bergerak, tapi uangnya juga ikut pulang kampung. Coba bayangkan, bila satu pemudik membawa uang Rp 1 juta untuk dibelanjakan di kampungnya, maka akan ada Rp27 triliun uang yang mengalir ke daerah saat mudik. Jumlah yang banyak bukan?
 
Tradisi mudik sendiri rupanya juga bukan monopoli negeri kita. Di Filipina, setiap perayaan Natal, juga terjadi gerak mudik besar-besaran, termasuk mudiknya para tenaga kerja asing. Khusus mengenai para tenaga kerja asing itu,  jumlah uang (remitansi) yang mereka bawa masuk ke Filipina saat mudik, mencapai lebih dari 5 miliar dollar AS, dengan total pemasukan mencapai 16 milyar dollar AS dalam setahun.
 
Dengan uang bergerak begitu banyak, tentu mudik punya nilai ekonomi dong. Lantas, apa dampak mudik pada ekonomi Indonesia? Dilihat dari perspektif makroekonomi jangka pendek, mudik membawa gairah pada perekonomian Indonesia. Di tengah kelesuan ekonomi akibat krisis keuangan global,  mudik telah menggerakkan ekonomi Indonesia. Satu hal yang pasti, konsumsi dan belanja masyarakat meningkat. Cobalah lihat di TV dan jalan-jalan,  padat oleh para pemudik. Kegiatan ekonomi kerakyatan di sepanjang jalur mudik juga ikut meningkat. Tempat kuliner di daerah antri panjang para pemudik yang menunggu giliran makan.
 
mudik
 
Maraknya kegiatan ekonomi tersebut tercermin dari meningkatnya konsumsi masyarakat. Dengan penduduk melebihi 225 juta orang, konsumsi Indonesia memang sebuah kekuatan luar biasa.  Kalau kita lihat angka pertumbuhan konsumsi, pada tahun 2009 diperkirakan dapat mencapai 5,2%. Apabila kita melihat beberapa indikator lainnya, tampak sejumlah sektor seperti retail, produk konsumsi, tekstil, garmen, elektronik, otomotif, dan non-tradables, tumbuh dengan pesat seiring dengan jumlah penduduk yang besar. Selain itu, pertumbuhan penjualan motor, penyewaan mobil, dan impor barang konsumsi menunjukkan perbaikan.
 
Mudik, dalam jangka pendek memang nyata dampaknya pada ekonomi nasional. Tapi bagaimana dalam jangka panjang? Dilihat dari perspektif makroekonomi jangka panjang, mudik masih menyimpan banyak permasalahan. Salah satu permasalahan yang mengemuka adalah masih terlihatnya ketidakseimbangan pembangunan antara kota dengan desa. Hasil penelitian Kajian Ekonomi Regional Bank Indonesia menunjukkan bahwa motor penggerak ekonomi Indonesia masih berpusat di pulau Jawa. Sementara wilayah Kali Sulampua (Kalimantan, Sulawesi, dan Papua), meski pertumbuhannya mulai membaik, kontribusinya secara nasional masih belum signifikan. Padahal secara wilayah dan potensi, wilayah Timur Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa.
 
Kedua, munculnya kesenjangan wilayah kota, urban, dan desa. Apabila dilihat secara sektoral, pertumbuhan ekonomi Indonesia didominasi oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, komunikasi, dan jasa keuangan. Keseluruhan sektor itu menjadi ciri dari kekuatan kota dan urban. Artinya, pertumbuhan ekonomi masih dimotori oleh kekuatan kota. Sementara di wilayah regional atau daerah, pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh kekuatan tradisional berupa pemanfaatan sumber daya alam. Sektor-sektor yang menjadi penggerak masih berupa sektor pertanian dan pertambangan. Kontribusi kedua sektor tersebut belum optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara nasional.
 
suasana_mudik
 
Mudik di satu sisi memang memberikan keuntungan jangka pendek, namun apabila dilihat dari perspektif makroekonomi jangka panjang, tradisi mudik menyisakan beberapa permasalahan. Berbeda dengan Filipina, mudik di Indonesia belum memberi kontribusi yang signifikan dan berkelanjutan bagi ekonomi. Tumbuhnya konsumsi saat mudik, apabila tidak didukung oleh kemampuan berproduksi, pada akhirnya hanya menjadi fenomena sesaat.
 
Oleh karenanya upaya mendorong investasi, membangun infrastruktur, dan memperkuat sektor-sektor unggulan di daerah menjadi tantangan penting bagi kita semua. Kenichi Ohmae dalam bukunya Next Global Stage menulis bahwa di masa depan, pertumbuhan yang berbasis pada ekonomi regional sebagai growth center menjadi pilar dalam perekonomian berbagai negara.
 
Tanpa itu semua, mudik hanya akan menjadi tradisi tahunan yang memberi manfaat sesaat. Seperti pesta yang meriah di suatu malam, tapi bubar esok paginya tanpa makna.
 
Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.