Pancasila Masih Sakti?

Anoew – SumSel

Dear Baltyrans,

Belum lama ini kita merayakan hari kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober. Tapi, ada sedikit yang ngganjel di hati. Kok sepertinya hari yang sesungguhnya sakral itu kesannya berlalu begitu saja ya? Apa mungkin perlu diperingati secara khusus dan sedikit meriah seperti Agustusan?

Padahal dulunya si Pancasila ini nyaris semafut (pinjam istilahnya JC) gara-gara bersliwerannya Palu dan Arit Komunis, yang dengan suksesnya menggurita ke seluruh sendi bangsa. Kok ya sekarang bisa ”lewat” begitu saja? Terbersit pertanyaan dalam hati, apa jangan-jangan Pancasila ini sudah kehilangan kesaktiannya, atau lagi berada di ruang ICU? Sepertinya sampai sekarang ini Pancasila belum membawa bangsa ini menuju bangsa yang maju dan bermoral. Ingat kasus pembunuhan, korupsi, judi, perkosaan disertai pembunuhan dan semua hal-hal yang bertentangan dengan sila-sila dalam ideologi luhur itu. Sekali lagi muncul pertanyaan, apakah Pancasila itu sakti? Lalu bagaimana caranya supaya Pancasila tampak kesaktiannya?

Coba iseng-iseng, Anda tanya anak kecil hm…, klas V SD. Remaja juga boleh, orang dewasa lebih boleh lagi. Suruh dia menyebutkan sila ke satu sampai ke lima dari Pancasila, hapal luar kepala nggak? Atau kita acak. Coba sesekali pas di jalan raya atau tempat keramaian, berhenti dan tanya ke tukang koran, tukang semir sepatu, tukang becak atau pengamen juga boleh. Hapal nggak mereka?

Mungkin ada yang menganggap sinis, biasa saja, atau sebaliknya malah sangat ”mengamalkan” butir dari sila-sila itu. Menganggap sinis, bagi mereka yang merupakan korban kejahatan disertai kekerasan (sila kedua). Menganggap sinis, bagi mereka yang TIDAK merasakan kedamaian, berawal dari ketersinggungan hingga berujung bentrok bahkan ribut antar suku (sila ketiga). Menganggap sinis, bagi mereka yang merasa hak dan suaranya TIDAK didengar oleh para wakilnya (sila kelima).

Hm, jadi ada semacam uneg-uneg kalau ada orang melontarkan pertanyaan itu. Bingung?

Kapan dan dimana ya, sila kesatu itu sewaktu masih ada yang menganggap bahwa hanya agama atau Tuhan-nya saja yang paling benar, dan dengan mudah-nya menyalahkan agama lainnya?

Kapan dan dimana ya, sila kedua itu sewaktu terjadi pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung-jawab dan menginjak-injak keberadaban dan hak asasi orang lain?

Kapan dan dimana ya, sila ketiga itu sewaktu terjadi perang antar suku?

Kapan dan dimana ya, sila keempat itu sewaktu kelicikan masih membayang-bayangi setiap keputusan-keputusan yang diambil anggota dewan yang berhubungan langsung dengan nasib rakyatnya?

Kapan dan dimana ya, sila kelima itu sewaktu kemiskinan berbanding terbalik dengan rumah-rumah megah, mobil-mobil mewah yang berseliweran di jalanan, mall-mall dan rumah-rumah ibadah sebagai ajang pamer gengsi?

Kapan dan di mana ya kesemua sila itu?

Masih Saktikah Pancasila itu?

pancasila

Ah.., bagaimanapun juga kita patut bersyukur dengan adanya Pancasila yang pertama kali dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Bung Karno hingga membentuk 5 butir pasal ini. Karena tanpa Pancasila nggak akan ada Negara Indonesia. Tanpa Pancasila yang ada hanyalah sebuah negeri bernama Hindia Belanda. Pancasila adalah polesan pasca sumpah pemuda yang menyatukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Meskipun cara pengucapannya bisa berbeda-beda, tapi artinya tetaplah satu juga. Coba simak yang berikut ini:

Pancasila (Cirebonan)
Siji: Tuhan iku cuma ana siji, langka maning sing ngalah enang
Loro: Menusa kudu adil lan ana pikiran bari perasan, aja kaya wedus gembel
Telu: Sejen-sejen tapi tetep siji bangsa Indonesia je
Papat: Lamun ana masalah, rakyat Indonesia aja ngegrundel bae
Lima: bareng-bareng, aja gagal maning, gagal maning

Pancasila (Jawa)
Siji: Gusti Alllah ora ono kancane
Loro: Dadi wong kudu sing adil lan ojo kejem-kejem
Telu: Indonesia bersatu kabeh
Papat: karo tonggo-tonggo nek ono masalah diomongno bareng-bareng opo opo
Limo: mangan ra mangan waton kumpul

Poncosilo (Jawa kromo hinggil)
Kaping setunggal: Gusti ingkang Maha satunggal
Kaping kalih: Tiyang ingkang adil lan beradab
Kaping tiga: Persetunggalan Indonesia
Kaping sekawan: Kerakyatan ingkang dipimpin kaliyan hikmat lan kewicaksonoan dateng permusyawaratan kang diwakilkan.
Kaping gangsal:Adil kang sosial kangge sakabehe tiyang Indonesia

Pancasila (Sunda)
Hiji: Gusti Allah eta sorangan sareng ageng pisan, euy!
Dua: Ka sorangan teh sikapna kudu sami, ulah ngabeda-bedakeun..
Tilu: Indonesia kedahna mah janten hiji
Opat: Ra'yat Indonesia sae na pang mutuskeun sagala teh disepakatkeun heula. Kedah bageur lan bijaksana
Lima : Ceunah teh sikap sosialna kudu adil hiji sareng batur

Pancasila (Batak Toba)
Sada: Dang adong na pajago-jagohon di jolo ni Debata
Dua : Maradat tu sude jolma
Tolu : Punguan ni halak Indonesia
Opat : Marbadai … marbadai, dungi mardame
Lima : Godang pe habis saotik pe sukkup

Pancasila (Palembang)
Sute: Tuhan ne sute tu'laaa
Due: jeme harus khapat same rate
Tige: jeme Indonesiane bersatu padu
Empat: jeme Indonesiane diketuci ngai hikmah dimane ngedapatkan jawaban jadi gegale masalah
Lime: kesameratean hidup ne jelmekangok Indonesia

Pancasila (Ambon)
1. Torang samua tawu cuma ada Tuang Allah yaitu Tete manu…
2. Orang ambon samu harus tau adat
3. Acang deng obet harus bisa bakubae
4. Paitua deng maitua harus bae-bae di rumah rakyat
5. Samu harus bisa jaga diri karna ambon lapar makan orang

Pancasila (Manado)
1. Cuma boleh ba satu Tuhan
2. Selalu adil kong ja pake ontak
3. Torang samua satu, Bangsa Indonesia
4. Tu rakyat musti slalu bakumpul kong bicara bae-2 spy slalu ada kaputusan gagah yg semua trima deng nang hati.
5. voor seluruh rakyat Indonesia, nyanda ada tu jabaku kase beda-beda perlakuan.

Pancasilo (Padang)
Ciek: Bintang Basagi Limo
Duo: Rantai pangikek kudo
Tigo: pohon baringin gadang ta'mpek kito bacinto
Ampek: kapalo banteng bataduk duo
Limo: padi jo kapeh pambaluik nan luko.

Terbukti. Biar diucapkan dalam berbagai bahasa pun, artinya tetap bisa menyatukan perbedaan. Paling tidak.

Salam.
 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.