Attenti al Cane

JELANG HARI PELANTIKAN PRESIDEN RI 

SERBA SERBI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (4)
 
Attenti al Cane
 
Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
 
WAKTU semasa kecil saya sering diajak ke rumah sahabat orang tua saya di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Kebetulan sekali rumah yang kami kunjungi bukan rumah mewah seperti rumah-rumah Menteng sekarang. Rumahnya sangat sederhana gaya tahun 50an dengan taman rumput yang cukup luas agak setengah terurus, dengan pagar kawat seadanya, bukan yang seperti sekarang setinggi tembok kraton. Yang saya masih ingat dari peristiwa itu adalah, tulisan dari plat besi yang tergantung dengan kawat setengah berkarat di pintu pagar. “ATTENTI AL CANE”.
 
Visual artikel (4)
Semula saya kurang paham semula bahasa apa itu. Artinya pun saya tidak tahu, yang saya paham tulisan itu artinya peringatan ada anjing galak. Memang ada gambar kepala anjing dalam plat tulisan tersebut. “AWAS ANJING GALAK”, kalau diterjemahkan ke dalam Indonesia. Sahabat orang tua saya itu sangat sayang pada anjing dan memiliki anjing yang tak begitu besar, tapi suaranya dan gong-gongnya yang menakutkan dan tak ramah bagi orang yang datang, termasuk saya. Sampai sekarang saya jadi orang yang penakut dengan anjing.

Bagai anjing galak, Indonesia sekarang menjadi tempat yang tidak menyenangkan untuk dikunjungi oleh seorang tamu negara. Presiden RI sering dibuat pusing ketika kedatangan tamu negara yang diundangnya, tidak diterima oleh rakyatnya. Banyak alasan tuan rumah tidak mau menerima atau menolak kedatangan seorang tamu, yang muncul berdasarkan penilaian tuan rumah akan perbuatannya yang tidak layak terhadap kepentingan tuan rumah.

Semasa Presiden Soekarno, jarang ada tamu negara yang ditolak kedatangannya. Malah sebaliknya, justru disambut gembira dan meriah karena sebagai sebuah penghormatan. Soekarno adalah tuan rumah yang sangat baik dan ramah terhadap tamu-tamunya. Dia menyambut kelewat ramah kedatangan Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev yang diajak jalan-jalan ke Yogyakarta dan Bali. Bahkan disodorkan buah duren yang bikin muntah orang bule. Semasa Presiden Soeharto, tamu negara punya waktu sedikit bertemu dan bercengkrama dengan tuan rumah. Sebaliknya pada masa Soekarno, hampir setiap saat sang tamu ditemani Soekarno sambil menjadi ‘tour guide’ yang handal dan menyenangkan.

Pernah waktu Wakil Presiden Amerika Serikat Richard Nixon datang ke sini tahun 1954, ditemani jalan ke dari Bogor ke Istana Cipanas. Mereka sempat mampir di sebuah warubg gubuk di Puncak dan menikmati makan seadanya. Peristiwa ini diekspos besar-besaran di AS.


Bahkan Putera Mahkota Kekaisaran Jepang Akihito bersama permaisuri Putri Michiko ditemani naik mobil dari Jakarta ke Bogor lewat jalan raya Bogor, sambil mampir di sebuah warung buah di Pasar Cibinong, untuk melihat sebuah nangka sebesar anak balita, atas permintaan Akihito dan disetujui Soekarno tentunya.

Waktu Presiden John Kennedy sudah pasti akan ke Indonesia tahun 1964, Soekarno buru-buru bikin hotel kecil disamping Istana Merdeka, untuk menginapnya Kennedy kalau dia datang kelak. Tapi keburu dia ditembak di Dallas akhir 1963, bangunan keburu jadi dan akhirnya dijadikan Wisma Negara. Tamu negara dari AS memang yang paling rawan ditaksenangi oleh pihak tuan rumah.

Misalnya, waktu Wakil Presiden AS Nixon datang (15 tahun kemudian dia datang lagi ke sini sebagai presiden AS), mobilnya dilempari batu oleh pemuda-pemuda komunis waktu dari bandara Kemayoran. Kebalikannya, waktu Nixon datang kembali sebagai presiden AS pertama yang datang ke Indonesia, dia disambut hangat. Mobil kepresidenannya yang melintasi dari Kemayoran ke kawasan Pasar Baru dan depan Sekolah Santa Ursula, di Lapangan Banteng, disambut oleh masyarakat, termasuk suster-suster dan murid-murid dari sekolah katolik tersebut. Saat itu Barack Obama yang tinggal di Menteng Dalam, tidak menyambutnya. Mungkin masih kecil tak diiijinkan oleh ayah tirinya yang orang Jawa.

Kedatangan Nixon sebagai wakil presiden yang dilempari batu, adalah satu-satunya catatan yang tidak menyenangkan bagi seorang tamu negara yang datang semasa Soekarno jadi presiden. Selebihnya, Indonesia tempat yang nyamaaaaan… didatangi.

 
1970-suharto-henry-01

Ketika Soeharto menjadi presiden, Indonesian menjadi tempat yang “panas” untuk dkunjungi. Bukan Soeharto yang tak ramah, tapi rakyatnya yang berbeda sikap dengan pemimpinnya. Tamu pertama yang tak disukai adalah Kaisar Ethiopia Haile Selassie. Dia adalah pemimpin Afrika paling senior dan paling dihormati. Dia datang ke Indonesia bulan Mei 1968 untuk memberi dukungan pada pemerintahan Soeharto yang masih baru. Soeharto senang didatangi oleh tokoh sekaliber Haile Selassie, yang juga menjadi “God living’-nya penyanyi reggae Bob Marley. Kenapa dia ditolak datang ke Jakarta? Sekelompok pemeluk agama di Indonesia menentangnya, karena Selassie punya jejak rekam buruk terhadap perlakuan umat Islam di negeranya. “Lebih baik kita mementingkan umat Islam di Indonesia dulu, baru di tempat lain”, kata Soeharto meredam kemarahan. Selassie tetap datang membawa seekor kuda untuk Soeharto.

Pada Januari 1974, Jakarta dilanda demontrasi besar dan terburuk sejak Soeharto menjadi presiden. Pemicunya adalah kemarahan mahasiswa terhadap kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Mereke berdemo sambil membakar dan menghancurkan simbol-simbol kapitalisme Jepang di Indonesia. Tanaka tetap datang bersama putrinya (mewakili ibunya yang wafat) dan menggunakan helikopter waktu pulang dari Istana Merdeka ke Halim Perdanakusumah untuk menghindari demontrasi anti-Jepang. Pertama kali tamu negara naik helikopter ke bandara dari Istana kepresidenan. Untuk alasan penolakan kedatangan ini, Soeharto ‘agak sepaham’ dengan menyampaikan pesan itu kepada Tanaka. “Jepang tidak mau mendominasi ekonomi negara lain”, jawab Tanaka diplomatis. Berbeda waktu kedatangan Haile Selassie yang penolakkannya ditentang sendiri oleh Soeharto.

 

istana-bogor

Kemudian muncul penolakan yang dipaksakan oleh negara lain terhadap tamu negara yang datang. Awal tahun 1994, Presiden Taiwan Lee Teng-hui datang ke Indonesia dan diajak bermain golf bersama Presiden Soeharto. Ini pasti membuat berang Cina. Soeharto tak mau didikte seperti itu, meski dia sudah baikan dengan Cina, tetapi masih menganggap Taiwan penting atas alas an ekonomi. Jadi penolakan tamu Indonesia bukan atas ketidaksukaan tuan rumah, tetapi negara tetangga.

Kemudian datang lagi tamu yang tak disukai ke Indonesia. Tapi datangnya secara rahasia dan baru diberitakan setelah dia pulang. Inilah kunjungan paling kontroversial seorang kepala pemerintahan ke Indonesia sejak 1945. Dialah Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin yang langsung pergi ke rumah Soeharto dari Cina pada bulan Oktober 1995. Bahkan sebulan kemudian mereka bertemu kembali di Hotel Waldorf Astoria, New York saat menghadiri HUT PBB ke 50.

Lho, koq Soeharto menerima PM Israel? Tenang….Rabin datang sebagai PM Israel untuk menemui Ketua Gerakan Non Blok, yang kebetulan aja dijabat oleh Soeharto. Seneng juga seorang PM Israel bisa datang ke Indonesia, sebuah negeri yang Israel kebelet ingin menjalin hubungan tapi ditolak terus oleh Indonesia selama Palestina tidak merdeka. Coba saja kedatangan itu bersifat kunjungan kenegaraan dan diberitakan sebelumnya, pasti akan ditolak, didemo, dihujat dan dimaki kedatangan pemimpin Israel itu ke sini, terutama oleh sekelompok penganut agama tertentu.

Pada November 2006, orang Indonesia terjangkit penyakit yang mewabah dunia, yaitu ‘Anti Kedatangan Bush’. Saat itu Presiden AS George W Bush ingin datang kedua kalinya ke Indonesia, dengan mengunjungi kota Bogor. Kedatangan Bush disambut demontrasi besar-besar bukan di Bogor saja, tetapi se Indonesia. Inilah tamu negara yang paling tidak disukai untuk datang ke Indonesia. Bahkan dimanapun Bush datang, pasti di demo oleh orang banyak.

Penyambutan

Jangankan di negara-negara Islam, justru di negara-negara barat masyarakatnya paling anti kedatangan Bush. Presiden Susilo Yudhoyono sebagai tuan rumah tidak begitu ambil pusing. “Mau diapain, orang yang datang memang tak disukai dimana-mana”. Makanya, sampai ada yang mau mencegah kedatangan Bush dengan cara yang sangat tidak lazim. “Saya ingin santet dia”, kata Ki Gendeng Pamungkas, seorang paranormal. Dia melakukan niatnya dengan baik, meski Bush baik-baik saja. (*) 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *